GROWING

GROWING
26


__ADS_3

"Kita sudah sampai, Nyonya.."


Stevie Wallerima terhenyak. Sepasang mata tua berwarna kelabu miliknya, menatap pemandangan yang ada di sisi kiri dan hadapannya. Dalam benaknya, tak pernah terpikirkan kalau ia akan menginjakkan kakinya di sekolah yang seperti bangunan tua berhantu ini.


"Silahkan, Nyonya.." Derrian, asisten pribadinya itu, membukakan pintu dan membantu wanita tua yang sudah merawat dan membesarkannya dengan kasih sayang.


Stevie Wallerima menghirup nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Ia merasakan sebuah aura positif yang mengalir dan menyelimutinya.


Dari jarak beberapa ratus meter, ia mendapati beberapa orang dewasa dan siswa berseragam putih hitam yang seakan sedang bersiap menyambut kedatangannya.


"Selamat pagi Ibu Stevie. Sungguh suatu kehormatan bagi sekolah kami, bisa kedatangan tamu penting seperti anda.."


"Ibu Nuriyanti, anda terlalu berlebihan.." Jawab Stevie Wallerima merendah.


"Selamat pagi, Ibu Stevie..!!"


"Pagi anak-anak..." Dan ia membalas salam para siswa SMK Ellite Rovario dengan hangat dan ramah sekali. Hanya saja sayangnya, ia tak melihat sosok itu ada diantara puluhan siswa yang ada di hadapannya itu.


Bu Nuriyanti pun mengajakan Stevie Wallerima ke dalam ruang guru. Bu Fatma dengan sigap membuat dua cangkir teh manis hangat, dan setoples kue kering yang tadinya dibeli Dafa untuk cemilannya.


"Jadi, dimana anak bermata biru itu?"


Bu Nuriyanti malah melempar tatapannya pada anak-anak muridnya yang sedang berdiri memenuhi depan pintu ruang guru.


"Tadi Dafa sudah datang, Bu. Tapi pergi lagi. Katanya sih mau --" Eka melirik temannya yang lain.


"Mau apa, Eka?" Inu menegaskan agar muridnya itu tak bicara sepotong-potong.


"Dafa tadi bilang mau ke sebelah, Pak Inu. Mau menemui Pak Martin Luther." Sheila akhirnya yang menjawab.


Bu Nuriyanti dan Inu saling bertukar tatapan. Sepertinya mereka berdua tahu apa yang sedang dilakukan oleh anak laki-laki itu di sekolah sebelah.


Berselang 10 menit, Dafa pun kembali menampakkan batang hidungnya. Sambil marah-marah tidak jelas, ia masuk ke ruang guru dan dengan kondisi tali sepatu pantofelnya yang terlepas kemana-mana.


"Aku gak suka dengan kakek-kakek tua menyebalkan itu!"Tukasnya. "Tapi untungnya aku udah berhasil mendapatkan surat pindahnya.." Sambungnya sambil meletakkan sebuah map ke atas meja.


"Dafa..."


"APAAN!!?" Dafa malah memelotot pada Stevie Wallerima. "Mau ngapain Nenek Stevie pagi-pagi kesini? Mau ngerubuhin sekolah ini juga?! Iya...!?"


Semua guru dan teman-temannya tampak terhenyak sekali mendengar perkataan Dafa itu. Mereka takut kalau Stevie Wallerima akan marah apalagi sampai menuntut yang tidak-tidak.


Namun ternyata, Stevie Wallerima malah menanggapinya dengan senyuman tipis di wajahnya itu.


"Dafa tidak boleh ngomong seperti itu sama Ibu Stevie ya.." Kata Bu Nuriyanti mengingatkan.


"Jadi Nenek Stevie kesini mau apa? Enggak tahu apa kalau aku ini sekarang lagi kesal banget sama si kakek yang punya toko roti itu!?"


"Bagaimana kabarmu, Dafa?" Tanya Stevie Wallerima sambil memegang tangan Dafa. Dan lagi-lagi, ada sebuah kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya saat itu.

__ADS_1


"Kan tadi aku sudah bilang, kalau aku ini lagi kesal!"


"Dafa..." Dipandanginya lekat-lekat wajah polos yang selalu menggambarkan semangat dan harapan itu. "Bagaimana persiapanmu dan yang lainnya?"


"Aku sudah siap sekali tentunya, Nenek Stevie!" Jawab Dafa antusias. "Pokoknya akan kuperlihatkan pada semua orang bahwa SMK Ellite Rovario adalah sekolah kejuruan terbaik yang pernah ada!"


"Kau tahu kan kalau perlombaan besok itu adalah perlombaan tahunan dan terbesar. Dan akan banyak sekali yang hadir disana.."


"Apa ada dua ratusan penonton, Ibu Stevie?" Tanya Eka dari muka pintu ruang guru.


Stevie Wallerima menggeleng pelan. "Sampai hari terakhir, tiket yang sudah habis terjual sebanyak 3500 tiket. Dan rencananya panitia akan menjual tiket tambahan lagi saat di lokasi nanti.."


Eka menelan ludah. Ia lalu bertukar tatapan dengan teman-teman dan sahabatnya.


"Aku gak bisa membayangkannya.." Ujar Julian pelan.


"Akan ada banyak media lokal dan asing yang meliput." Stevie Wallerima menyambung lagi. "Selain itu, akan ada 9 juri dari beberapa negara tetangga."


"Kerenn..!!" Mata Dafa membulat penuh. Dalam benaknya, ia sudah membayangkan kalau ia akan masuk tv hingga bisa terkenal ke seluruh negeri.


"Aku gak tahu kenapa Dafa bisa sampai sesemangat itu.." Ucap Gabriel. "Mungkin selama beberapa malam ke depan, aku tidak akan bisa tidur nyenyak..."


"Permisi, Dafa ada yang mencarimu.." Tukas seorang siswa.


Seketika Dafa bangkit dari duduknya. Menyambut pria tua dengan setelan jas hitam yang membawa satu koper besar dan dua buah tas jinjing dengan sangat kerepotan.


"Sama-sama, Den.."


Dafa pun membawa masuk ketiga tas miliknya itu ke dalam ruang guru. Sedikitpun tak ada perasaan segan ataupun risih pada tatapan guru dan teman-temannya itu.


"Apa itu, Dafa?" Bu Nuriyanti akhirnya bertanya juga.


"Kalau koper ini isinya, baju-baju aku."


"Baju...?" Dahi Inu berkerut.


"Mulai malam ini, aku akan menginap disini, Pak Inu. Biar sekolah ini aman dari penjahat dan penganggu."


"Dafa..." Bu Nuriyanti menghela nafas pendek. Ia sungguh tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi anak laki-laki polos dan apa adanya itu. "Tapi bagaimana dengan Bundamu? Apa kau sudah memberitahunya?"


Dafa pura-pura tidak mendengar. Baginya, lebih baik memberesi barang-barangnya itu daripada harus membicarakan bundanya yang cuma bisa membuat hatinya jengkel, dan capek sendiri.


"Dafa, Bu Nuriyanti bertanya padamu.." Bu Fatma memegang bahunya.


"Aku lagi marahan sama bunda. Sudah tiga hari aku sama bunda gak saling bicara."


"Dafa kok begitu?"


"Kalau aku gak boleh tinggal disini, aku mau cari rumah sendiri aja!!" Mata Dafa memelotot dan suaranya pun meninggi.

__ADS_1


"Bukan tidak boleh, Dafa. Hanya saja ---"


"Nenek Stevie..." Dafa menghadapkan wajahnya pada Stevie Wallerima. Dan otomatis, membuat Bu Nuriyanti harus terpaksa menghentikan kalimatnya.


"Kenapa, Dafa?"


"Aku lihat kan mobilnya Nenek Stevie itu bagus. Sepatu sama jam tangan yang dipakai paman itu juga pasti harganya mahal. Apa Nenek Stevie itu orang kaya?"


Julian menatap keempat sahabatnya dengan satu alis terangkat. "Dia itu bicara apa sih?"


"Memangnya kenapa, Dafa?"


Dafa membawa satu tas jinjingnya. Meletakkannya di atas meja, dan membukanya.


"Ini semua adalah hadiah ulang tahunku. Rencananya aku akan menjual semuanya untuk sekolah ini.."


Dan mereka semua pun tersentak bukan main mendengarnya. Terlebih saat Dafa mulai mengeluarkan satu persatu isi dari dalam tas ranselnya itu.


"Semuanya masih baru kok. Cuma yang cat minyak sama buku gambar ini gak aku jual ya..."


"Itu bukannya samsung galaxy note 8 ya?" Tanya Eka nyaris tanpa berkedip.


"Jam tangan itu --- Daniel Wellington..." Gabriel pun bereaksi yang sama seperti sahabatnya itu.


"Aku sudah membongkar celenganku. Dan sekarang uangku sudah mau habis.." Wajah Dafa berubah lesu. "Nenek Stevie beli ya --- aku mohon..."


"Dafa..."


"Apa Nenek Stevie tidak mau membantuku?"


"Bukannya Nenek tidak mau, Dafa. Hanya saja, Nenek ---"


"Dafa..." Bu Nuriyanti menyambung. "Tidak seharusnya kau menjual hadiah ulang tahunmu sendiri."


"Kenapa memangnya, Ibu Kepala Sekolah?"


"Seseorang memberikan hadiah-hadiah itu kepadamu, itu artinya kau harus menghargai setiap pemberian dari mereka.."


"Tapi Bu Nuriyanti, saat ini -- kalian semua adalah bagian dari kehidupanku. Jadi, aku tidak bisa tinggal diam melihat teman-temanku harus mengubur dalam-dalam mimpi dan impiannya."


"Dafa..."


"Aku kan sudah pernah bilang, sekalipun aku harus memberikan nyawaku untuk bisa menyelematkan sekolah ini, maka akan kulakukan.."


"Dafa..."Mata Bu Nuriyanti berkaca-kaca.


"Baiklah kalau Nenek Stevie tidak mau membantuku. Aku akan berusaha sendiri. Besok habis pulang sekolah, aku akan mencari kerjaan. Dan dari uang itu, nanti akan kukumpulkan untuk menebus sekolah ini dari pihak bank.."


...##### ...

__ADS_1


__ADS_2