
"Aku gak tahu -- Dad..."
PLAKKK...!!
Danu kembali menampar pipi anak semata wayangnya itu. Emosinya sudah mendidih hingga ubun-ubun. Ia tak menyangka kalau Kinno akan melakukan hal paling memalukan terhadap Dafa.
"Kau tahu kan siapa Tante Anindita?!!"
"Dad ---"
"Sekarang kau keluar!! Cari Dafa sampai dapat, atau kau jangan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini!" Emosi Danu, sudah mengalahkan akal sehatnya.
Kinno tertunduk lesu. Kenapa semua orang, bahkan Martin Luther sendiri pun membela Dafa sampai segitunya.
Tanpa boleh menggunakan kendaraan pribadinya, Kinno berjalan seorang diri di tengah kegelapan malam. Tak tentu melangkah. Hanya mengikuti kata hatinya.
Di kantung celananya pun dia hanya menyimpan uang tak lebih dari sepuluh ribu.
Mau meminta bantuan dari teman-temannya pun mustahil untuk dilakukannya. Karena handphonenya saja pun sudah diambil oleh ayahnya.
'KAU ADALAH MANUSIA TERJAHAT DI DUNIA INI!!'
Kinno terhenyak. Dadanya merasa sesak tiap kali ia mengingat ekspresi Dafa kali itu.
Apakah Dafa benar-benar membencinya...?
Dia duduk di salah kursi taman dekat perumahannya. Pikirannya ruwet. Kepalanya pun pusing sekali. Ditambah lagi, sekarang dia sedang kelaparan dan kedinginan.
__ADS_1
Apakah ini juga yang dirasakan Dafa saat ini?
"Apa yang sedang kau lakukan disini malam-malam?"
Kinno menegakkan kepalanya. Ia agat terkejut melihat sesosok nenek tua dengan pakaiannya yang serba hitam itu, tahu-tahu sudah berdiri di hadapannya.
"Tenanglah. Aku bukan hantu seperti yang sedang kau pikirkan." Ujar si nenek tua seraya duduk di sebelahnya.
Hening menyelimuti keduanya.
Kinno berpikiran bahwa nenek tua itu cuma seorang pengemis yang akan meminta belas kasih darinya.
"Kenapa kau melakukannya, Kinno?"
Kinno membuka matanya lebar-lebar. Saat ia menoleh, ternyata apa yang sedang dilihatnya itu, lebih membuatnya syok.
"Nenek tahu namaku?" Kinno menelan ludah.
Si nenek tua tersenyum saja. "Aku bahkan mengenalmu lebih jauh, dari yang kau ketahui..."
"Apa nenek adalah neneknya Dafa?" Kinno mulai panik. "Nek, aku minta maaf. Bukan maksudku untuk ---"
DEG...!
Seketika Kinno terdiam. Kedua matanya cuma bisa menatap wajah nenek tua itu.
'Pergi kau!!'
__ADS_1
'Aku tidak mau pergi, Kinno. Soalnya aku takut kalau kau akan diganggu oleh anak-anak nakal itu lagi...'
Si nenek tua tersenyum. "Lihatlah lebih jauh dan dalam lagi, Kinno..."
'Kita berjanji untuk terus bersama-sama hingga tua. Berbagai cokelat dan permen. Kasur. Mainan. Pohon oak. Dan juga lubang cacing bersama ~~~'
Kinno tersadar kembali dengan wajah pucat pasi. Ia memperhatikan si nenek tua yang sudah bangkit dari duduknya, dan menjauh sebanyak dua langkah.
"Kau sudah pernah kehilangan dirinya. Dan sekarang, apa kau mau kehilangan lagi untuk kedua kalinya?"
"Mustahil...!" Kinno menggeleng. "Dia sudah -- kebakaran -- aku melihatnya sendiri! Tidak mungkin kalau dia..."
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Kinno. Ketahuilah, bahwa akulah yang telah membawanya pergi sangat jauh..."
"William..."
"Ingatlah Kinno, jika kau tidak bisa menjaganya lagi --- maka jangan salahkan sang waktu, jika dia akan diambil kembali, dari sisimu..."
"Dimana dia sekarang, nenek!! Tolong beritahu aku!! Aku mohon...!!"
Si nenek tua mengetukkan tongkatnya ke tanah, tempatnya berpijak, sebanyak dua kali.
"Bukalah hati kecilmu. Dan rasakan kehadirannya... Selamat tinggal, Kinno. Semoga kau bisa menepati janjimu terdahulu..."
"NENEK TUNGGU...!!"
...##### ...
__ADS_1