
Satu tahun berlalu. Nata kini sudah mempunyai 10 cabang Nata Pattiserie yang tersebar di seantero Pulau Jawa dan Bali. Rencananya bahkan ia akan membuka cabang barunya lagi di Kalimantan, Sumatera, dan bahkan Irian.
Tidak ada yang tidak kenal dengan usaha kue milik Nata ini. Rasa lezat dan cita rasanya yang premium, sungguh tak bisa dilupakan begitu saja oleh setiap lidah yang pernah merasakannya.
Siapa memang yang akan menyangka, usaha kecil-kecilan yang hanya bermodalkan beberapa ratus ribu saja, dengan menggunakan dapur rumahnya yang kecil dan sederhana, akan tumbuh menjadi sebuah usaha yang terus maju dan semakin berkembang pesat.
Kesibukkannya pun semakin bertambah. Malam pun ia jadikan siang. Hampir tak ada waktu beristirahat untuknya. Karena otaknya terus berfikir dan bekerja. Ia harus menghasilkan lebih banyak dan banyak lagi uang.
Kinno, seseorang yang dengan setia selalu mendampinginya pun, menjadi berlipat kesibukannya. Ia bahkan sudah lupa dengan statusnya sebagai mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta.
Dimana ada Nata, disitu pasti Kinno. Mereka berdua selalu terlihat dalam berbagai kesempatan. Mulai dari acara potong tumpeng dalam setiap pembukaan outlet baru. Hingga saat makan malam di warung tenda pun, mereka selalu terlihat berdua. Sangat kompak dan solid sekali.
Sandra. Wanita ini pun sekarang secara resmi sudah mengundurkan diri dari tempatnya bekerja. Padahal puluhan tahun ia susah payah untuk mencapai posisi manager di perusahaannya itu. Bersaing dengan rekan-rekan sejawatnya, maupun anak-anak baru dengan lulusan fresh graduate dari perguruan tinggi ternama.
Teman-teman kantornyalah yang menyarankannya agar ia lebih memusatkan perhatiannya pada bisnis milik Nata. Bahkan sampai direktur di perusahaannya itu pun juga ikut memberi saran padanya.
"Kau tahu kan Nata itu masih sangat muda. Umurnya pun baru 20 tahun. Dan kau setega itu untuk membiarkannya seorang diri mengurusi semua bisnisnya itu? Bantulah ia, Sandra. Karena selain kau, siapa lagi yang bisa ia percaya?"
Hari berganti minggu. Dan minggu berganti tahun. Siapa sangka, waktu akan berjalan dengan begitu cepatnya. Kini, Nata sudah mempunyai 8 cabang baru lagi, yang ia buka di beberapa titik di ibu kota.
Pundi-pundi keuangannya pun terus bertambah. Omsetnya perbulan kini bukanlah ratusan ribu atau bahkan cuma jutaan. Tapi ratusan juta pun sanggup ia kumpulkan.
Namun Nata tetaplah Nata yang sederhana dan apa adanya. Penampilannya tidak pernah berubah. Kaos favorit yang sering digunakannya adalah kaos berwarna biru muda. Kaos murah yang harganya bahkan tak lebih dari seratus ribu rupiah.
Tidak ada jam tangan berharga puluhan juta yang melingkar di pergelangan tangannya. Sepatu kets putih pemberian Sandra dua tahun lalu pun, masih setia menjadi teman kakinya. Mobil yang terparkir di garasi rumahnya pun, cuma sedan kuno milik Sandra, sebuah mini bus tipe lama, dan lima mobil katering miliknya.
Malam ini malam minggu di penghujung bulan November yang dingin. Nata, Sandra, Hassel, dan Kinno terlihat sedang menikmati makan malam mereka yang hangat dan bahagia. Mbok Sumirah juga sebetulnya diajak duduk bersama dengannya, tapi wanita tua itu menolak dan tetap sibuk kesana kemari dengan lincahnya.
"Tante..." Nata membuka suara lagi.
Sandra melempar senyum sambil menyeruput teh panas dengan madu hitam kesukaannya.
"Aku ingin membuka Nata Pattiserie di Singapura. Menurut Tante, gimana?"
Uhukkss..!! Sandra tersedak. Apa yang ditakutkan akhirnya terjadi juga. Tapi ia ingat akan satu hal. Ia tak boleh melarang sedikitpun apa-apa saja yang akan dilakukan Nata. Karena ia sendiri yang sudah membuat janji tersebut.
"Hmmm, tapi -- sewa di Orchard mahal sekali."
"Hassel punya tabungan, kak.." Hassel memotong.
Nata cuma diam. Ia tahu ini adalah sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Sebab, membuka satu outlet di Orchard, itu sama saja nilainya dengan membuka 5 cabang di jakarta. Jelas sekali sewa tempat di pusat perbelanjaan paling terkenal di negara itu sangat-sangat mahal.
Tapi Nata tidak mau cuma diam di tempat. Dalam artian, dia tidak mau Nata Pattiserie hanya dikenal di Indonesia saja. Ia ingin dunia luar tahu, bahwa Nata Pattisirie adalah sebuah bisnis kue miliknya, yang tidak ada duanya.
"Apa mall disini sudah kehabisan ruang kosong?" Sandra menjawab hati-hati sekali.
__ADS_1
Nata tertunduk. Tekadnya sudah bulat. Tapi dia tidak mau pinjam uang ke bank. Karena dulu, ia pernah coba pinjam, tapi semua bank lokal menolaknya. Padahal saat itu Nata sedang sangat membutuhkan uang.
"Aku tahu siapa orang yang mungkin saja bisa menolongmu." Tukas Kinno.
Nata menegakkan kepala. "Sungguh?!" Ia kelihatan antusias.
Kinno mengangguk. "Apa kau mau bertemu dengannya?"
"Hmm..! Kapan?!"
"Besok pagi, gimana?"
"Oke."
...##### ...
Kediaman Stevie Wallerima...
Pagi yang cerah dan hangat. Seperti biasanya, Stevie Wallerima sedang menghabiskan waktunya di halaman depan rumahnya Membiarkan dirinya terpapar sinar matahari. Dengan ditemani kicau burung dan aroma manis dari rerumputan hijau yang basah.
"Derrian.."
"Saya, Bu Stevie."
"Duduklah di sebelahku.."
"Menikahlah. Sampai kapan lagi kau akan menunggu?"
Derrian terhenyak. Tentu ini bukan kali pertama ia mendengar kalimat itu dari seorang Stevie Wallerima.
"Mungkin tahun ini adalah tahun terakhirku." Stevie Wallerima menatap sang surya. "Tidak ada lagi seseorang yang membuatku harus terus bertahan di dunia ini." Wajahnya terlihat sedih. "Kedua orang yang sangat berarti dalam hidupku -- mereka sudah pergi, jauh --- sekali..."
"Ibu Stevie masih kuat. Jangan pernah melawan kehendak Tuhan."
"Apa kau menghinaku?!" Stevie Wallerima memelotot. "Untuk mengangkat cangkir teh saja, tanganku rasanya sudah tidak sanggup."
Kedua orang beda generasi itupun terdiam. Ada banyak pikiran yang merasuki pikiran masing-masing.
"Kenapa Tuhan masih belum juga mencabut nyawaku..." Ujar wanita tua renta itu lirih. "Menikahlah. Jangan pedulikan diriku lagi. Carilah isteri yang baik. Yang bisa melahirkan keturunanmu. Cintailah ia sampai kau tua nanti. Hiduplah yang bahagia, Derrian. Jangan seperti diriku yang merana ini."
"Ibu Stevie.."
Percakapan keduanya terhenti karena sebuah fortuner hitam berhenti persis di depan rumah mungil tak berpagar itu.
Stevie Wallerima agak terkejut saat melihat siapa yang turun dari dalamnya. "Kinno...? Ya Tuhan..."
__ADS_1
"Selamat pagi, Nenek."
Stevie Wallerima lantas memeluk pemuda itu erat-erat. "Kinno, Nenek fikir kau sudah lupa."
"Maaf nek, aku sibuk sekali belakangan ini..."
Stevie Wallerima melepaskan pelukkannya. Menungkupkan tangannya pada tangan Kinno. "Kenapa kau tidak pernah memberi kabar pada semuanya?"
"Itu --- hmmm.." Kinno agaknya salah tingkah. "Oh ya nek, temanku ini ingin bertemu sama nenek."
"Teman..?" Dahi Stevie Wallerima berkerut. Lalu ia menyadari ada satu sosok lain yang ikut bersama dengan Kinno.
"Nata, kenalkan Nenek Stevie. Nenek, ini Nata."
Nata menyodorkan tangan kanannya. "Selamat pagi, Nenek Stevie.."
Stevie Wallerima terhenyak. Terlebih saat ia menyambut uluran tangan pemuda berkulit putih pucat itu.
'Selamat pagi, Nenek Stevie!! Wahh, Nenek Stevie kelihatan makin cantik!'
Tubuh Stevie Wallerima bergetar. Bayang-bayang akan sosok itu, kembali memenuhi ruang memori di kepalanya.
"Dafa..."
Nata lantas menarik tangannya. Dia menoleh pada Kinno. "Apa aku memang sebegitu miripnya dengan dia?"
Kinno pun menjelaskan maksud dan kedatangannya pada Stevie Wallerima. Semuanya ia ceritakan dengan sangat detail dan jelas sekali. Sampai Nata malu sendiri dibuatnya. Karena menurut Nata, yang diceritakan Kinno itu ada yang terlalu berlebihan dan mengada-ada.
"Apa pantas, temanmu yang seorang pengusaha kaya raya, meminta bantuan pada orang tua renta seperti diriku?"
"Ayolah nek. Nenek kan dulu juga pernah menolong Dafa. Padahal kan, Dafa itu juga orang yang sangat kaya." Kinno bersikeras.
Stevie Wallerima jelas terhenyak. Tapi yang dikatakan Kinno itu memang ada betulnya. Hanya saja Nata dan Dafa adalah dua orang berlainan, dan juga kondisi yang tidaklah sama.
"Kalau begitu, aku pamit pulang dulu ya, nek."
"Nata, tunggu dulu-lah..!" Kinno menahannya.
Nata menggeleng. "Maaf kalau kedatanganku sudah menganggu waktu Nenek Stevie. Permisi."
Nata berjalan duluan kembali menuju mobil. Barulah menyusul Kinno yang tetap saja ingin menahan Nata agar pembicaraannya dengan Stevie Wallerima, tidak terputus begitu saja.
"Sudahlah, Kinno. Tidak usah terlalu dipaksakan."
"Tapi, Nata..."
__ADS_1
"Kalau aku jadi dia, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Apalagi, aku ini kan cuma orang asing di matanya.."
...##### ...