GROWING

GROWING
62


__ADS_3

Stevie Wallerima tiba di kediaman Anggita Suryatama, disaat ada sekerumunan orang terlihat memenuhi halaman dan teras depan rumah keluarga miliyuner itu.


"Ada mobil polisi juga, Nyonya.." Ucap Derrian.


Disitu firasat Stevie Wallerima jadi tidak enak. Bahkan semalam pun dia bermimpi kalau Dafa seolah datang dengan mengucapkan sebuah salam perpisahan padanya.


"Nenek Stevie, Dafa hilang..!!" Tita langsung bergegas menghampirinya.


"Ya Tuhan -- hilang bagaimana maksudnya, anak-anak?"


"Dafa tidak ditemukam di kamarnya, Nenek Stevie!" Eka kini yang menyahut.


Stevie Wallerima merangsek ke barisan terdepan. Disitulah dia melihat kedua pemuda itu sedang baku hantam dan saling menyalahkan.


"Pasti Rafa pelakunya, Yah!! Pasti dia!!"


"Kau tidak bisa menuduhku tanpa bukti!!" Rafa membalas sengit tuduhan Sam.


"Ayah sama nenek ingat kan, kejadian waktu Rafa menenggelamkan Dafa di rawa?!"


"Rafa, tolong jawab pertanyaan Ayah." Ardiansyah memegang kedua lengan anak bungsunya itu. "Dimana kamu sembunyikan Dafa?"


"Aku bersumpah Demi Allah, aku gak tahu, Ayah!"


"Rafa..!" Anindita yang sejak tadi diam, kini emosinya tak terbendung lagi.


"Kau lihat mereka semua! Kau tahu kan tujuan mereka datang kesini, untuk apa?!"


"Aku gak tahu, ayah! Aku gak tahu!"


"Rafa --- Nenek mohon kepadamu --- janganlah kau mengulangi kesalahanmu itu kembali.."


"Baik, kalau kalian tidak percaya padaku." Rafa pun menyodorkan tangannya pada para polisi yang datang pagi itu. "Bawa saja aku. Karena aku benar-benar gak tahu Dafa dimana."


"Rafa...!" Ardiansyah memekik. "Sekarang kau masuk!"


"Ayah! Kenapa ayah masih --"


"Diam kau, Sam!" Ardiansyah membentak anak sulungnya.


Keadaan pagi itu, yang seharusnya penuh dengan kebahagiaan dan keceriaan, harus sirna lantaran menghilangnya Dafa.


"Tadi Dafa mendatangi kamarku -- dia mengetuk pintu kamar mandiku.." Ucapan Kinno itu langsung membuatnya jadi pusat perhatian.


"Dafa juga datang ke rumahku." Gabriel menimpali.


"Kau jangan melucu, Gabriel!" Tukas Julian tajam.


"Aku berani bersumpah, kalau Dafa memang datang ke rumahku. Hanya saja --" Gabriel melemparkan pandangannya pada Kinno. Pun begitu sebaliknya. "Dia seperti dalam kondisi basah. Dan dia terus mengatakan.."


"Dingin..." Ujar Kinno dan Gabriel berbarengan.


Petugas kepolisian yang datang pun, meminta mereka semua untuk bersabar. Dikarenakan status menghilangnya Dafa belum mencapai batas waktu 1x24 jam, maka Dafa pun belum bisa dimasukkan dalam daftar pencaharian orang hilang.


Danu dan Anindita tidak tinggal diam. Keduanya langsung menghubungi orang-orangnya untuk melakukan penelusuran di setiap pelosok ibu kota.


Sementara itu Anthony tampak terpukul sekali dengan peristiwa ini. Dia bahkan belum sempat bertegur sapa dengan anak kandungnya itu. Tapi kini, dia sudah harus dipisahkan lagi dengan sebuah takdir yang teramat tidak adil.


"Anthony.." Stevie Wallerima bisa mengerti betul apa yang dirasakan oleh pria itu. "Dafa adalah anak yang baik. Yakinlah kalau Tuhan akan selalu melindunginya."


Air mata Anthony jatuh tak terbendung. Belasan tahun ia telah menganggap bahwa anaknya itu telah meninggal dalam kebakaran hebat di panti asuhan. Dan di beberapa kesempatan, keduanya selalu dipertemukan -- hanya saja dia masih belum menyadarinya. Kalau anak bermata biru yang selalu membawa sikap optimis dan harapan pada orang lain itu -- ternyata adalah anak kandungnya. Darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


"Aku gak bisa tinggal diam! Aku akan mencarinya! Pasti Dafa belum keluar dari kota ini!" Ujar Kinno.


"Aku ikut!" Eka menawarkan diri.


"Kami semua akan ikut denganmu!" Timpal Tita.


"Derrian.." Panggil Stevie Wallerima.


"Saya, Nyonya.."


"Ikutlah dengan anak-anak itu. Bantulah mereka menemukannya.."


"Baik, Nyonya."


"Tuan Anthony, apa saya boleh ikut dengan Derrian?"


Anthony tak memberi respon. Kepalanya tetap tertunduk.


"Ikutlah, James. Kabari jika kalian menemukan sesuatu.." Ucap Stevie Wallerima.


"Baik, Nyonya Stevie. Permisi."


...##### ...


"Permisi, apa anda pernah melihat anak laki-laki di foto ini?" Tanya Inu pada seorang bapak yang sedang menunggui kios korannya.


Namun sayang, ia hanya mendapat sebuah gelengan kepala sebagai jawabannya.


Tapi Inu tetap takkan menyerah. Meski tiga bulan berlalu sudah -- tapi ia yakin kalau ia akan bisa menemukan Dafa kembali, secepatnya.


"Gimana, Pak Inu?" Tanya Kinno.


"Nihil.." jawab Eka pelan. "Kita harus cari kemana lagi? Ya Tuhan..."


"Apa kita datangi orang pintar saja?" Usul Julian.


"Maksudmu?" Sheila balik menatap sahabatnya itu.


"Ya orang pintar. Orang yang bisa meramal dan melihat sesuatu yang ghaib."


"Kau gak gila kan, Jul?" Tukas Gabriel. "Di zaman milenial kayak gini, kau masih percaya yang kaya begituan?"


"Kau tahu tempatnya, Jul?" Tita memotong.


"Tita..!!?" Eka sampai memelotot.


"Kenapa, Eka? Kita kan cuma meminta bantuan darinya -- siapa tahu aja orang itu emang bisa memberikan petunjuk.."


Sabtu sore itu juga, mereka semua berangkat menuju daerah Sukabumi. Menurut informasi dari neneknya Julian -- orang pintar itu rumahnya ada di daerah sana. Tapi itupun neneknya Julian pernah mendatangi rumahnya dua puluh tahun yang lalu.


Mereka sampai ketika langit sudah gelap. Dengan bertanya ke penduduk sekitar, akhirnya mereka berhasil menemukan rumah si orang pintar yang dimaksud.


Dari luar, rumah bertembok tembikar itu tampak kelihatan sepi sekali. Namun sayup-sayup terdengar suara tv dan orang yang sedang tertawa pelan dari dalamnya.


"Permisi, Assallamualaikum.." Julian mengetuk pintu rumah sederhana itu.


"Waalaikumsalam, sebentar..." Seseorang menyahut dari dalam.


Mereka saling bertukar tatapan dengan wajah penuh kecemasan dan harapan. Semoga saja memang benar, orang pintar itu bisa membantu mereka menemukan Dafa.


Sesosok wanita muda berpenampilan sederhana membukakan mereka pintu.

__ADS_1


"Kau yakin dia orangnya?" bisik Gabriel.


"Kami mau bertemu dengan Abah Gun." Ucap Julian sesopan mungkin.


"Abah Gun ya? Beliau baru saja istirahat. Sedang tidak enak badan.."


"Ajak mereka masuk, Euis.." Sebuah suara terdengar dari dalam. "Euis..."


"Iya, Abah."


Wanita muda itupun mempersilahkan tamu-tamu dari Jakarta itu untuk masuk.


Sesosok pria tua dengan jaket tebal dan sarung putihnya, sedang duduk sambil menonton tv.


"Assallamualaikum, Bah. Aku dan ---"


"Duduklah pada tempat yang kalian rasa nyaman." kata Abah Gun.


"Maaf kalau kedatangan kami semua meng ---"


Abah Gun menempelkan telunjuk pada bibirnya. Lalu ia menatap Inu dan kemudian keenam remaja yang turut serta dengannya.


"Maaf sekali, Abah tidak bisa membantu.." ujar kakek tua itu dengan wajah ramah dan tenang.


"Abah sudah tahu?!" Suara Kinno meninggi. "Bah, tolonglah kami semua. Tolonglah kami untuk bisa menemukannya. Karena --"


"Ada sebuah cahaya yang menghalangi pandangan Abah.." Abah Gun antara tersenyum dan tidak.


"Mbah --- tolonglah. Sebab kami tidak tahu lagi harus bagaimana?" wajah Kinno semakin lesu.


"Anak itu adalah anak yang sangat baik dan berhati mulia.." Abah Gun melanjutkan kalimatnya. "Sinar itu terang sekali. Seumur hidup Abah, Abah belum pernah melihat sinar yang seperti itu."


"Abah tahu dimana teman kami itu?!" Sheila ikut angkat bicara.


"Teman kalian itu --" Abah Gun mengalihkan pandangannya ke arah pintu rumahnya. Lalu senyumnya mengembang. Disertai dengan sebuah anggukkan pelan. "Saya mengerti. Terima kasih..."


Mereka semua sontak ikut menoleh ke arah pintu. Namun sayangnya, mereka tak melihat siapa-siapa disana.


"Teman kalian baik-baik saja."


"Abah yakin?!" Mata Eka membulat.


Abah Gun mengangguk. "Doa dari anak-anak yatim dan semua orang yang pernah ditolongnya -- itulah yang akan selalu menyertainya."


"Tapi dia dimana, Bah?! Tolong beritahu aku..!"


"Kinno..." Julian memegang bahunya.


"Maaf sekali, karena Abah sendiri tidak bisa melihat keberadaannya."


"Abah tidak bisa melihat, tapi Abah bilang kalau dia baik-baik saja!" Tita agak emosi.


"Nenek tua itulah yang memberitahunya.."


"Nenek tua?!" Seketika Kinno menoleh ke pintu. "Dimana nenek tua itu?! Dimana dia?!"


Abah Gun tersenyum dengan wajah tenang. "Pulanglah. Doakan saja terus teman kalian itu. Dan mintalah pertolongan dan petunjuk pada Gusti Allah."


"Dafa..." Kinno memukul lantai tempatnya berpijak dengan kepalan tangannya. "Dimana kau sebenarnya?!!"


...##### ...

__ADS_1


__ADS_2