GROWING

GROWING
38


__ADS_3

Siapa yang akan menyangka, kalau usaha kecil-kecilan yang dijalani Nata itu akan terus berkembang, dan mengalami kemajuan.


Mulai dari berjualan kue kecil-kecilan yang cuma dijual Hassel kepada teman-temannya di sekolah. Lalu mulai membuka toko kue kecil di garasi rumahnya, sampai kini garasi sederhana yang tadinya cuma dipakai untuk menyimpan barang-barang tua milik Sandra, kini beralih fungsi menjadi pusat produksi dari Nata Catering.


Harganya yang terjangkau, dengan kualitas dan cita rasa yang tidak diragukan lagi, menjadikan Nata Catering sebagai bisnis rumahan yang mulai banyak dilirik orang.


Terlebih kabar ini menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut, mengalahkan penyebaran suatu virus endemik penyakit di sebuah daerah terpencil.


Orang yang tadinya membantu Nata dalam mengoperasikan cateringnya ini cuma berjumlah 5 orang, kini sudah mencapai 20 orang.


Dan meskipun begitu, Nata sendiri masih suka terjun langsung mengawasi usaha kecilnya itu, meski dengan segala keterbatasan yang dimilikinya.


Pagi itu Nata sedang duduk-duduk di teras depan rumahnya. Sementara Hassel tumben sudah bangun sepagi ini, padahal bocah itu kan sedang libur menghadapi awal bulan ramadhan.


Katanya sih Hassel mau puas-puasin main dulu, sebelum puasa besok. Soalnya pas puasa dia mau tidur seharian di kamarnya, sambil nyalain AC.


"Besok kalau Hassel gak kuat puasa, mau sampai jam 8 pagi aja ahh.." Celoteh bocah itu sambil menghitung uang miliknya. Sebenarnya uang itu bukan miliknya asli. Tapi dia itu mengambilnya dari lemari tempat Nata menyimpan uang biasanya.


"Ohhh, berarti hadiahnya batal dong.."


"Kalau hadiahnya mahal kayak PS Vita atau iPod touch, Hassel gak papa deh sampai pingsan besok.."


"Mana ada orang puasa terus pingsan, Hassel..." Muncul-muncul Sandra langsung mencubit gemas pipi anaknya itu.


"Sakit tahu, Mi...!!"


Sandra kontan memelotot. Bagaimanapun juga suara Hassel itu selain cempreng, juga sangat tidak enak di dengar. Dia takut kalau sampai menganggu tetangga lainnya.


"Hari ini ada rencana kemana?" Tanya Sandra pada Nata.


"Mau belanja buat persediaan puasa lah, mami!! Pakai nanya segala lagi.."


Sandra memutar bola matanya. Kalau saja ada cabe rawit di dekatnya, sudah pasti ia akan langsung menjejali mulut anaknya itu dengan cabe pedas tersebut.


"Aku nanti mau ke bank, Tante."


"Bank mana, Nat?"


"BCA yang paling dekat saja sepertinya.."


Hassel lompat dari kursinya. Lalu ia membisiki Nata dengan raut mencurigakan.


"Awas aja kalau kau sampai melakukan sesuatu yang ceroboh lagi, Mami kurung kau dalam toples selai!"


"Hassel masuk dulu deh. Habisnya pusing kalau terus mendengarkan kecerewetan ibu-ibu si penggosip satu ini..."


"Hassellll...!!!" Sandra berteriak keras sekali. Rasanya kepalanya itu mau pecah tiap kali harus menghadapi ulah konyol anaknya itu.


"Den Nata silahkan diminum susunya.." Sesosok wanita tua datang dengan membawakan dua gelas susu putih hangat.


"Terima kasih ya, Mbok."


"Den Hasselnya mana?"


"Halah, anak kayak dia gak usahlah dikasih susu lagi, Mbok. Bisa-bisa badannya semakin melar kayak anak kuda nil.." Tukas Sandra langsung meneguk habis jatah segelas susu milik Hassel.


"MAMIIII...!" Hassel muncul dengan wajah cemberut dan kesal. "Kok susu Hassel dihabisin sih?!"


"Kau sudah kelebihan lemak.." jawab Sandra enteng.


"Mami tahu gak, adzab untuk orang yang suka mencuri susu milik anak malang seperti diriku ini?!"


Sandra menarik tangan Hassel, dan menjewer telinganya pelan. "Dan kau tahu adzab untuk anak yang selalu melawan ibunya?"


"Sakit, Mami...!!"

__ADS_1


"Nanti tubuhnya ditimpa pohon pisang, terus hanyut kebawa lumpur lapindo!"


"Hassel..!! Main yukkk..!!"


Hassel menepis tangan Sandra. Dan ia pun berlari secepat kilat, menghampiri teman-temannya.


"Teman-teman, ayo kita kabur sebelum dikutuk oleh ibu naga yang mulutnya bisa menyemburkan api itu..!!"


"Kyyaaa!! Kita kaburrr...!!"


Sandra hanya bisa menahan sabar, meski kepalanya pagi itu nyut-nyutan karena ulah anak semata wayangnya.


"Nata..." Sandra menatap lekat-lekat Nata. Meraih tangannya dan menggenggamnya cukup erat. "Jadi --- uhmmm..."


Nata refleks menarik tangannya. Dia sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Sandra. 


"Kau tidak harus sekolah di sana, Nata. Kita cukup datang dan melihat-lihatnya saja.."


Nata merasa sesak tiap kali Sandra harus memulai topik pembicaraan itu lagi. Dia sadar diri dengan segala keterbatasannya. Dan dia tidak mau kalau sampai mendapat hinaan dan ejekkan dari teman-temannya yang lain.


"Kalau gitu, Tante berangkat ke kantor dulu ya.."


Nata mengangguk. Raut wajahnya memperlihatkan sebuah ekspresi kesedihan mendalam.


"Tante.."


"Ya, Nata..?"


"Kemarin aku sudah melunasi uang sekolah Hassel.." 


Sandra meraih pundak Nata. Mencengkeramnya dengan hati bergetar. "Hassel sudah memberitahu Tante semalam. Terima kasih, Nata.."


'Ya Tuhan, meskipun pada awalnya aku sangat ragu dengannya --- terima kasih -- karena Engkau telah menghadirkan Nata di tengah-tengah keluarga kecilku ini...'


...##### ...


"Bukan William, Pak Kumis!! Tapi namanya Kak Nata..!!" Hassel lansung pasang badan menghadapi security bank yang menyambutnya dengan sangat hangat dan ramah itu.


"Ohh iya-iya, maafkan saya ya, Dik."


"Awas ya kalau sampai salah lagi, nanti Hassel aduin ke kepala manager, biar bapak security yang kumisnya tebal ini gak dapet libur lebaran!!"


Padahal baru saja mereka melangkah masuk ke dalam bank swasta itu. Namun karena ulah konyol Hassel, mereka langsung menjadi pusat perhatian nasabah dan juga staff bank lainnya.


"Pokoknya nanti pas puasa, Hassel gak mau ya nganterin Kak Nata ke bank yang selalu penuh ini! Bisa-bisa nanti puasa Hassel batal lagi ---"


Dugghh..!


Mata Hassel memelotot. "Duhh, orang ini jalan gak lihat-lihat ya?!"


Orang itu cuma berdiri sambil memandangi Hassel dengan tatapan mengerenyit.


"Hassel, kalau kau masih marah-marah nanti enggak aku ajak, ke KFC ya..!"


"Biarin aja, Hassel juga punya uang sendiri kok.."


Meskipun mengesalkan, namun bocah itu selalu saja sabar menuntun dan menemani Nata kemanapun ia akan pergi. Mengambilkan selembar formulir menabung yang harus diisi. Dan juga menuliskannya, dengan tulisannya yang acak-acakkan.


"Mau nabung berapa nih?"


Nata membuka tas selempang kecilnya. Mengeluarkan suatu bungkusan yang ia bungkus dengan kantong plastik hitam.


"Kalau tidak salah ada sekitar delapan juta --"


"Sini deh Hassel hitung lagi.." Hassel pun membantu menghitung uang Nata dengan mimik dan gayanya yang sangat lucu dan menggelikan. "Yang ini tujuh ratus puluh ribu. Terus -- dua ribu tujuh ratus sepuluhan.." Dan dengan cekikikkan bocah nakal itu mengambil beberapa lembar uang kertas nominal lima puluh ribuan dan memasukkannya ke dalam tas selempang kuning, miliknya.

__ADS_1


Seorang security lain dan petugas bank yang mengawasinya sampai harus dipelototinya supaya tidak memberitahukan ulah liciknya ini pada Nata. Untungnya saja, semua security dan staff di bank itu sudah mengenal keduanya.


"Duhh, pekerjaan ini sangat melelahkan.." Hassel berpura-pura.


"Kan biasanya juga tante teller yang menghitungnya.."


"Yaudah deh kalau Kak Nata maksa. Nih..."


Antrian pagi itu terbilang cukup panjang juga. Dan sepanjang antrian itulah Hassel tak pernah berhenti untuk terus mengoceh, membicarakan segala macam hal. Mulai dari teman sekolahnya yang dia kerjain dengan memasukkan kodok ke dalam tas ranselnya, sampai ketika dia dan teman-temannya lomba pipis dengan jarak pancurannya yang terjauh.


"Selamat pagi Pak Nata..."


"Pagi.." Nata membalas sapaan ramah teller itu.


"Hassel bagaimana kabarnya? Sudah mulai libur sekolah ya?"


"Seperti itulah sekolahku, Tante. Padahal aku itu anak yang sangat rajin dan pintar. Tapi sayang sekali karena guru-guruku harus meliburkan sekolah..." Hassel berbicara dengan gayanya yang sok dewasa. "Padahal nih ya, mau jadi apa anak-anak sepertiku kalau terlalu banyak libur.."


"Ohh -- begitu.." si teller menanggapi sambil menahan tawa geli. "Semua uangnya ada tujuh juta empat ratus delapan puluh ribu ya, Pak Nata.."


Dahi Nata berkerut. Namun ia langsung bisa menebak siapakah pelakunya.


"Hassel..."


"Hassel mau mengejar orang yang mengambil uang Kak Nata dulu ya!!"


Nata pun cuma bisa menghela nafas. Entah sudah berapa kali kejadian ini terus berulang. Seandainya aja Sandra tahu, pasti Hassel akan dimarahi habis-habisan dan diberi hukuman tak tanggung-tanggung.


Nata memanjangkan tongkatnya. Dan ia menolak bantuan security maupun staff bank tersebut dengan ramahnya.


"Awas...!"


Syuuttt...


Deggg...!


Nata merasakan sesuatu saat tangannya dan tangan orang yang menahannya itu saling bersentuhan.


"Kau baik-baik aja kan?"


Nata mengangguk kikuk. "Terima kasih."


Orang itu terus menuntun Nata hingga mencapai anak tangga terakhir. Dan anehnya Nata sama sekali tidak menolak bantuan dari orang tersebut.


"Anak kecil tadi itu adek, kau?"


"Begitulah.." Nata agak terkejut menjawabnya. "Apa kau melihatnya?"


"Dia lagi jajan batagor sama es doger di depan.."


Sudah bukan hal aneh lagi mendengar jawaban seperti itu. Tempo hari saat Nata dan Hassel pergi ke bank, dan Hassel meninggalkannya lagi -- tahu-tahu bocah itu sudah duduk manis di KFC sambil menikmati kentang goreng dan ayam goreng tepung kesukaannya.


"Kau pasti penculik yang mau menculik Kak Nata ya..?!"


"Hassel, nanti akan aku adukan ke mami loh ya.."


"Kak Nata gimana sih?! Kan Hassel cuma mau menolong!"


Orang itu setengah membungkuk ke arah Hassel. "Ngomong-ngomong uangmu banyak juga ya.."


"Kak Nata, dia mau menghipnotis Hassel...!!" Bocah itu dengan wajah lucu namun menyebalkan langsung bersembunyi di belakang Nata.


"Well, adikmu sudah kembali. Kalau begitu, aku juga harus pergi.."


"Terima kasih..!"

__ADS_1


"Kembali.."


...##### ...


__ADS_2