
Dua mobil itu memasuki halaman SMK Ellite Rovario dengan beriringan. Semua siswa langsung memperhatikan dan bertanya-tanya tentang siapakah sosok yang ada di dalam mobil mewah tersebut.
Namun begitu sesosok pria gemuk pendek dengan kepala setengah botaknya itu yang keluar, mereka langsung berfikiran bahwa ini bukanlah kabar bagus untuk mereka semua.
Lalu beberapa orang yang datang dengan berjalan kaki setelahnya itu, langsung membuat para siswa dan guru SMK Ellite Rovario merasa bahwa inilah hari itu...
Hari dimana sekolah yang sangat mereka cintai ini, akan menemui kehancurannya...
"Selamat pagi, Pak Kepala Yayasan..." Sapa ramah dan hangat Bu Nuriyanti pada Kepala Yayasan.
"Ya..!" jawab pria gemuk pendek itu singkat dan ketus.
Bu Nuriyanti pun mengajak tamu-tamu pentingnya itu ke ruangannya. Menjamu mereka dengan secangkir teh manis hangat dan juga sekaleng biskuit.
"Kedua pria itu pasti orang dari bank.." Gabriel berbisik-bisik.
Eka cuma diam saja. Dia pun sudah tahu karena kedua orang pria itu, berpenampilan sama dengan kedua orang yang juga pernah mendatangi rumahnya, dan mengatakan akan menyita rumahnya kalau hutang kedua orang tuanya tidak segera dilunasi.
"Kalau aku lihat wajah orang itu, ingin rasanya aku memukuli dia sampai babak belur!" Tukas Julian dengan orang yang dimaksud itu adalah Kinno.
Tidak sedikit murid-murid SMK Ellite Rovario yang mengintip dan mendengarkan dari luar ruang guru. Mereka sangat penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan orang-orang dewasa itu.
"Bisa kita percepat saja?" Tanya si kepala yayasan dengan wajah kesalnya.
Martin Luther memandangi Bu Nuriyanti dan rekan-rekannya dengan wajah angkuh. Pria tua itu sudah tak sabar ingin segera merebut sekolah ini dan juga tentunya Dafa. Karena baginya Dafa adalah sesuatu yang sangat indah, mahal, berharga, dari apapun yang ada di dunia ini. Apalagi dia sudah mendapat dukungan penuh dari Silvana Anindita.
"Semoga saja aku tidak bertemu dengan anak sialan itu lagi..." Gumam kepala yayasan.
Kedua pria berkemeja biru muda dengan name tag tergantung pada saku kemejanya itu, sama-sama mengeluarkan setumpuk berkas dari dalam tas jinjing yang mereka bawa.
"Maaf, kami tidak bisa memulainya tanpa kehadiran Bapak Dafa disini."
Semua orang tersentak bukan main mendengarnya. Tak terkecuali dengan para siswa SMK Ellite Rovario yang sejak tadi menguping dari luar ruangan.
Salah satu dari petugas bank itu pun terlihat menghubungi seseorang dengan ponselnya.
"Gara-gara anak kurang ajar itu, kepalaku sampai sakit dan asmaku kambuh selama seminggu!" Ujar si kepala yayasan lagi.
"Baiklah kalau begitu ---" si petugas bank itu mulai bicara kembali. "Ibu Nuriyanti dan Bapak Inu Atmaja..?"
__ADS_1
Mendengar namanya disebut, Inu langsung menegakkan kepalanya.
"Saya Nuriyanti.."
"Lalu Bapak Inu Atmaja?"
"Pak Inu..!!" Bu Fatma semangat sekali memanggil rekannya itu. Ia bahkan sudah menarik sebuah kursi untuk rekannya tersebut.
"Anda Bapak Inu Atmaja?"
Inu mengangguk lalu duduk persis di sebelah Bu Nuriyanti.
"Baiklah kalau begitu. Silahkan anda berdua tanda tangani beberapa lembar dokumen yang sudah kami sertakan ini.."
"Tanda tangan..?" Suara Bu Nuriyanti terdengar bergemetar.
"Maaf, kalau saya boleh tahu --- untuk kepentingan apa ya?" tanya Inu.
"Baiklah Ibu Nuriyanti dan Pak Inu, ada yang harus kami jelaskan dulu disini.." Si petugas bank itu mulai bicara kembali. "Menurut hasil putusan sidang lelang -- untuk selanjutnya, SMK Ellite Rovario ini -- sepenuhnya dipegang dan dikuasai penuh oleh Bapak Dafa Ardiansyah.."
"DAFA...!!" Hampir semua orang itu memekik terperanjat bukan main, saat mendengar nama seseorang yang sangat mereka kenal di sebut oleh petugas bank itu.
"Tunggu dulu!!" Martin Luther menginterupsi. "Bukannya anda telah menandatangani surat perjanjian itu?!"
Kepala Yayasan tertawa sinis. "Anak itu memang brengsek. Tapi dia memberiku lebih banyak uang dan penawaran.."
"Bagaimana mungkin?!"" Martin Luther kelihatan emosi sekali. "Keputusan sidang itupun sudah jelas kalau akulah yang ----"
"Yang memenangkannya?" Sebuah suara muncul dari muka pintu.
"DAFA..?!" Teman-temannya sontak memekik.
Dafa muncul dengan sweater biru muda, celana jeans navy, topi putih, dan juga tas ransel biru mudanya kesukaannya itu.
"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya, kalau aku akan melakukan apa saja demi sekolahku ini, Bapak Martin Luther yang sangat kuhormati..."
"Mustahil...!" Martin Luther masih tak bisa mempercayai hal ini.
"Tidak ada yang mustahil di dunia ini, Pak Martin Luther.."
__ADS_1
Kepala Yayasan berusaha untuk tidak mempertemukan matanya dengan mata biru milik anak laki-laki itu.
"Dafa..." Inu seperti kehabisan kata-kata pagi itu.
"Maaf ya kalau aku hampir aja terlambat melakukan ini semua.." Kata Dafa dengan wajah yang selalu memancarkan aura positif pada guru-guru dan teman-temannya itu. "Apa Kepala Yayasan yang lama sudah menandatanganinya?"
"Kau ini berisik sekali! Kau tidak lihat apa yang sedang kulakukan ini, hah?!"
"Hihi, Pak Kepala Yayasan sepertinya habis ini anda mau liburan ke gunung ya? Jangan lupa obat penumbuh rambutnya, dibawa ya.."
"Pak Inu -- Ibu Nuriyanti, silahkan kalian menandatanganinya.." Petugas bank itu kembali mengingatkan kedua orang tersebut.
"Dafa, ini ---"
Dafa mengangguk. "Iya, Bu Nuriyanti. Sekolah ini sekarang menjadi milik kita bersama.."
"Dafa.." Sebulir air mata Bu Nuriyanti jatuh sampai menetes pada kertas dokumen itu.
Agak memakan waktu juga bagi ketiga orang itu untuk menandatangi semua berkas dan dokumen-dokumen tersebut.
Sementara itu Dafa masih terus berdiri dengan kedua tangan melipat di depan dadanya. Memperhatikan Kinno dan Martin Luther yang sejak tadi tak berani mengangkat kepalanya sedikitpun.
"Baiklah. Dengan ini, SMK Ellite Rovario sudah resmi berpindah tangan kepada Bapak Dafa Ardiansyah dan Ibu Nuriyanti sebagai penanggung jawab sepenuhnya."
"Aku akan pergi. Rasanya pengap sekali disini!" Tukas kepala yayasan.
"Terima kasih bantuannya ya, Pak Kepala Yayasan..!! Semoga kita bisa bertemu kembali ya..!!"
Martin Luther, Kinno, dan dua guru lain yang turut serta dibawa pagi itu pun perlahan bangkit dengan perasaan bercampur aduk. Bagaimana bisa sekolah yang sudah tidak memiliki nafas kehidupan itu, seolah bangkit dan kini sudah berdiri tegak kembali.
"Ingatlah kalau aku baru akan memulainya, Kinno..."
Kinno lantas membalikkan tubuhnya kembali. "Dafa..." suaranya pelan dan bergetar.
Sementara itu awan gelap datang bergulung-gulung, dengan angin dingin yang berhembus cukup kencang.
Dan disanalah -- di dekat kolam taman sekolah yang sudah tidak ada ikannya itu --- si nenek tua, berdiri dengan payung hitam yang melindungi tubuhnya dari guyuran hujan yang turun dengan sangat lebat sekali.
'Kembalilah jika kau sudah tidak sanggup lagi, cucuku --- beristirahatlah walau kau tidak pernah menginginkannya...'
__ADS_1
...##### ...