GROWING

GROWING
41


__ADS_3

"Ibu Anggita...!!! Pak Ardiansyahhh...!!!"


Suara Trinity menggelegar memecah suasana pagi yang tenang dan damai di rumah berlantai empat itu.


Wanita berumur 30 tahunan itu berlari menaiki anak tangga dengan melompatinya sebanyak dua-dua.


"Ibu Anggita..!!"


Dengan sangat kasar dia membuka pintu kamar Anggita Suryatama. Dan mendapati wanita tua itu sedang mengobrol ringan dengan anak laki-lakinya, di balkon kamarnya.


"Kau tahu kan ini bukan lapangan bola?" Ujar Anggita Suryatama sambil menyeruput secangkir teh hijau tanpa gula.


"Tahu nih, Tante Trinity. Udah tahu suaranya lebih-lebih dari klakson tronton, masih aja teriak melengking.." Sam muncul dengan tubuh bersimbah peluh.


"Dafa, Bu Anggita..!!"


Seketika raut wajah ketiga orang itu berubah drastis mendengar nama itu disebut.


"Dafa ---"


"Cucuku kenapa, Trinity..!!"


Trinity masih mengatur nafasnya yang tidak beraturan. "Pagi ini --- Dafa dan teman-temannya akan berangkat ke Paris.."


"Paris?!!" Ardiansyah terbelalak.


"Kau jangan bercanda, Trinity!" Suara Anggita Suryatama tegas.


"Saya langsung mendapat informasi ini dari Derrian, Bu Anggita.."


Ardiansyah sontak bangkit sambil menghubungi seseorang melalui ponselnya. "Sabtu besok itu kan, pernikahan Anindita dan Danu. Apa Dafa tidak tahu?!!" Tukas Ardiansyah. 


"Kau sedang menghubungi siapa?"


"Inu, Bu! Aku cuma mau memastikan kalau ---"


"Aku rasa Tante Trinity telat mendapat kabar." Rafa muncul masih dengan mengenakan baju tidurnya.


"Apa maksudmu, Rafa?" Tanya Anggita Suryatama.


Rafa memperlihatkan sebuah foto pada ponselnya. Dan rupanya, foto itu adalah foto yang dikirim langsung oleh Inu saat Dafa dan teman-temannya baru sampai di hotel dimana mereka menginap selama berada di Paris sana.


"Carikan tiket pesawat sekarang juga, Trinity!!" Perintah Anggita Suryatama.


"Tapi, Bu ---"


"Kalau kau tidak mau berangkat, biar Ibu yang akan menyusulnya sendiri!!"

__ADS_1


"Ibu..."


...######...


"Den Dafa dan beberapa teman serta gurunya sedang berada di Paris, Tuan -- Nyonya.."


Anindita yang sedang menikmati santapan makan malamnya, seketika terperanjat bukan main.


"Mbok tahu beritanya darimana?" Danu masih mencoba tenang.


"P-A-R-I-S...?" Kinno terbata pada posisinya. "Jadi --- berita itu benar?"


Danu sontak menoleh pada anaknya itu. "Kau sudah tahu dan kau tidak memberitahukannya pada kami?!"


Kinno menegakkan kepalanya. "Itu ---" lidahnya terasa kaku sekali.


"Den Dafa yang pamit langsung pada saya, Nyonya.."


"Aku gak bisa diam disini, Mas! Aku harus menemui manusia keparat, yang sudah mencuci otak anakku itu!"


"Anindita!!" Danu menahan tangan Anindita. "Kita tidak boleh gegabah. Tolonglah..."


"Tapi, Mas..."


"Duduklah.." Danu meminta dengan sangat. Barulah setelah Anindita duduk dan tenang kembali, Danu kembali bertanya pada Mbok Parni. "Berapa lama mereka disana, Mbok?"


"Den Dafa tidak bilang, Tuan. Den Dafa cuma mengatakan Rabu depan baru akan kembali."


"Kita masih ada waktu untuk menyusulnya, Mas..!"


"Anindita.."


"Kita berangkat malam ini juga! Pokoknya aku harus membawa anak itu kembali sebelum Sabtu besok...!"


...##### ...


"Seharusnya aku tidak mementingkan egoku, James.." Anthony menghela nafas pendek. Perasaan bersalah itu masih saja menghantuinya. "Dan sekarang, dia sudah benar-benar membenciku."


Pak Tua James mengisi penuh lagi cangkir teh milik Anthony.


"Tapi Tuan, saya rasa Dafa bukanlah tipe seorang anak yang suka memendam kebencian lama-lama."


Anthony menatap lekat-lekat wajah asisten pribadinya itu. "Apa itu artinya aku masih belum terlambat?"


Pak Tua James meletakkan teko tehnya. Lalu ia menancapkan pandangannya pada layar tv di hadapannya.


"Kalau saya boleh jujur Tuan ---" Pak Tua James seperti sedang menerawang jauh. "Ketika saya berada dekat dengan anak itu -- saya seperti merasakan sesuatu -- dari matanya -- suaranya -- senyumannya -- dan juga semangat pantang menyerahnya itu..."

__ADS_1


Pikiran Anthony melambung jauh. Dia mencoba membuka memori ingatannya kembali. Dimana saat ia sedang memegamgi perut isterinya yang tengah mengandung buah hati pertama mereka.


'Kalau dia perempuan, aku yakin pasti dia akan secantik dirimu, sayang...'


'Dan kalau dia laki-laki -- aku yakin dia pasti akan mewarisi kehebatan darimu..'


Sebulir air mata jatuh dari sudut mata Anthony. Sungguh, memori akan kenangannya dengan orang yang paling dicintainya itu, hanya akan membuat luka baru di kehidupannya kini.


"Tuan, mereka menang...!"


Anthony terkesiap. Matanya tak berkedip saat melihat Dafa dan teman-temannya itu sedang melompat-lompat kegirangan sambil mengangkat tinggi-tinggi piala kemenangan yang terbuat dari kristal berkilauan itu.


"Dia berhasil membuktikannya, James. Dia sukses mengecoh dan mempecundangi -- aku -- dan -- yang lainnya..."


...##### ...


Mereka, orang-orang paling berkompeten dan ahli di bidang kuliner sedang mengadakan pertemuan di sebuah restoran berbintang di kawasan Sudirman, Jakarta.


Tampak diantaranya, Joe, Vallentino, Pak Tua Haris, Sicilia, Kimmy, Anthony Grooberry, Tomo, dan empat orang lainnya.


"Maaf sudah menunggu lama..." Stevie Wallerima muncul dengan gaun terusan berwarna pastel lembut. Disampingnya, berdiri sesosok pria tampan yang tampak selalu menemaninya kemanapun ia pergi.


"Kenapa anda mencuri start duluan, Ibu Stevie!" Kimmy tampak kesal sekali.


Vallentino menarik sebuah kursi di sebelahnya. Mempersilahkan wanita tua itu untuk duduk.


"Aku akan menggelontorkan dana untuk membangun sekolah itu." Tukas Pak Tua Haris langsung to the point.


"Haha, rupanya kau tidak mau sampai kecolongan lagi, Pak Haris.." Ujar Sicilia dengan nada setengah meledek.


Stevie Wallerima  pun cuma bisa tersenyum saja menanggapi celotehan rekan-rekannya itu.


"Jadi, apa rencana anda selanjutnya, Ibu Stevie?" Tanya Anthony menyelidik.


"Kurasa aku tidak akan melakukan apapun." Stevie Wallerima menanggapi ringan. "Karena sampai kapanpun, aku akan tetap mendukung anak itu dan teman-temannya."


"Meski itu artinya kau akan mengkhianati Pak Martin Luther?"


"Ohhh --- come on, Kimmy..!" Joe agak nya tidak setuju dengan pernyataan rekannya barusan.


Namun Stevie Wallerima tetap kelihatan tenang dan biasa saja.


"Martin Luther adalah sosok hebat yang tidak pernah ada penggantinya. Dan tidak mungkin hanya karena masalah kecil ini, dia dan aku saling bermusuhan." Urai Stevie Wallerima. "Tapi sepertinya dia itu perlu membuka mata dan hatinya.."


Semua orang-orang itu langsung bertukar tatapan satu sama lain 


"Apa maksud anda, Ibu Stevie?" Joe agaknya tidak paham.

__ADS_1


"Dunia ini akan terus berputar, Joe. Tidak selamanya Kinno akan terus berada di atas." Suara Stevie Wallerima agak terdengar berat. "Dan aku --- tidak akan pernah melupakan ucapan wanita tua itu ---" Ditatapnya satu persatu wajah rekannya itu. "Tentang kemunculan 'Dia' -- 'Sang Penantang' itu.."


...##### ...


__ADS_2