GROWING

GROWING
68


__ADS_3

Anggita Suryatama duduk termenung dekat jendela kamarnya. Empat tahun berlalu sudah, sejak cucunya itu menghilang tanpa pernah diketahui keberadaannya.


Sedih dan luka itu masih tetap akan ia rasakan sampai ajal menjemputnya.


"Ibu Anggita.." Trinity memanggil sepelan mungkin. Takut kalau wanita tua itu akan terkejut nantinya.


Anggita menoleh. Wajahnya sedih dan sendu sekali. "Apa anak-anak itu sudah datang?"


Trinity mengangguk. Ia membetulkan kerudung putih Anggita Suryatama. "Kita turun sekarang?" Yang ditanya pun cuma memberi sebuah anggukan lemah.


Disaat-saat seperti inilah luka dan rasa sakit itu akan kembali menguasai dirinya. Ia tidak tahu lagi harus berbohong sampai kapan kepada anak-anak panti itu.


'Ya Allah Rabbi, berilah hamba kekuatan untuk menghadapi mereka. Jangan biarkan air mataku menetes sore ini. Kuatkan dan tegarkanlah hamba..'


Anggita Suryatama pun sampai di teras belakang rumahnya. Dia melihat di halaman belakang rumahnya itu sudah ramai sekali oleh anak-anak panti, keluarga, dan juga beberapa kerabat terdekatnya seperti Stevie Wallerima dan Anthony.


"Bagaimana kabarmu, Anggita..?" Tanya Stevie Wallerima sambil memeluk sahabatnya itu.


"Seperti beginilah keadaanku.."


Meski Stevie Wallerima, Anthony Grooberry dan Martin Luther beragama kristen, namun mereka tetap hadir pada acara buka puasa bersama sore ini di kediaman Anggita Suryatama.


Mereka bukan memandang status sosial Anggita Suryatama yang merupakan pengusaha terkaya nomer satu di negeri ini.


Tapi mereka semua hadir sore ini -- dipersatukan oleh satu sosok. Sosok yang tak akan mungkin pernah tergantikan, oleh siapapun jua. Dan sosok itu, tak akan mungkin, pernah bisa mereka lupakan, sampai ajal menjemput.


Dafa.


"Nenek Anggita..!!"


Anggita Suryatama melempar senyum pada kelima sahabat yang kini telah tumbuh menjadi sosok yang hampir saja tak bisa dikenalinya.


"Nenek Anggita apa kabarnya?" Tanya Sheila sambil mencium tangan dan pipi wanita tua itu.


"Nenek..." Eka pun melakukan hal yang sama. Lalu bergantian dengan ketiga sahabatnya yang lain.


"Kalian..." Mata Anggita Suryatama berkaca-kaca. Ia membayangkan seandainya saja Dafa masih ada di tengah-tengah mereka, sudah pasti ia bisa melihat Dafa tumbuh berkembang menjadi seorang pemuda berwajah tampan dan gagah.


Tak cuma kelima sahabat itu saja yang tampak hadir dalam acara buka puasa bersama pada Jumat sore ini, melainkan ada beberapa staff pengajar SMK Ellite Rovario yang turut meramaikan suasana.


"Nenek Anggita, Kak Dafanya mana?" Tanya Anak laki-laki kurus itu.


Saat yang paling tidak diinginkan itupun akhirnya tiba juga. Satu persatu anak-anak panti itu mulai mendatangi dan mengerubunginya.


"Kak Dafa sudah sembuh kan, nek?" Tanya Aisyah.


"Terus, sekarang Kak Dafanya dimana?" Adit menimpali.


"Anak-anak..." Suara Anggita Suryatama terdengar bergetar.


"Anak-anak Kak Dafanya masih belum sembuh, jadi dokter masih harus merawatnya.." Bu Nuriyanti mengambil alih. "Maafkan saya, Ibu Anggita.." Bisiknya pada wanita tua itu.


"Sebetulnya Kak Dafa tidak sakit kan?" Puteri maju ke depan. Kalimatnya itu sungguh menyentak semua orang di dekatnya. "Kak Dafa pasti marah dan tidak mau bertemu lagi dengan kami.."


"Puteri kenapa berbicara seperti itu?" Tanya Bu Aini sambil memegangi tangan Puteri.


"Pasti karena kami nakal, tidak rajin belajar, dan sering mencuri air di sekolahnya, dan juga ---" Air mata Puteri jatuh tak terbendung. "Kak Dafa --- Kak Dafa pasti tidak mau bertemu dengan kami lagi. Karena kami hanya bisa membuatnya kesusahan.."


"Apa benar, nenek?" Suara Tanto ikutan serak. Anak laki-laki itu sepertinya tak bisa menutupi rasa sedih dan kecewanya. "Padahal kan Tanto sudah belajar rajin dan ranking pertama di kelas.." Sambungnya sambil mengusap air matanya.


"Anak-anak..." Anggita sendiri pun tak bisa membendung lagi rasa sesak di dadanya itu. "Maafkan Nenek..."


"Jadi betul kan?! Kak Dafa enggak ---"


"Sebentar lagi Dafa akan kembali kok.." Suara Kinno menghentikan kalimat Aisyah. Dan kemunculannya dengan setelah koko putih, membuat mata semua orang terbelalak melihatnya.


"KINNO...!!" Eka dan Tita memekik histeris.


Kinno melempar senyum santai. Ia mendekati anak-anak panti dengan wajah berbinar.


"Sepanjang aku mengenal Dafa, dia itu tidak pernah marah apalagi sampai membenci seseorang." Kata Kinno sambil menghapus air mata Puteri.


"Tapi Kak Dafanya dimana sekarang?" Tanya Tanto memaksa.


"Dafa ada. Dan sekarang dia dalam kondisi sehat dan baik-baik saja."  Kinno melemparkan pandangannya pada teman-teman, guru, dan keluarganya.


"Tidak seharusnya kau memberikan harapan palsu pada mereka.." Ujar Sam lirih.


"Jadi, Kak Dafa gak marah sama kami?" Tanya Puteri.


Kinno menggeleng. "Karena bagi Dafa, kalian adalah hartanya yang paling berharga. Bagian dari keluarga dan kehidupannya."


"Kapan Kak Dafa kembalinya?!" Tanya Adit.


"Secepatnya. Karena sekarang, Dafa lagi bersiap-siap."


"Kalian dengar kan?! Kalau Kak Dafa tidak marah dan benci sama kita!!" Adit berseru histeris.


Anak-anak panti itu kembali ceria kembali. Mereka bersama-sama berkerumun di dekat mushola pribadi Anggita Suryatama.


"Kenapa kau harus mengatakan kebohongan itu, Kinno?" Tukas Sam.


"Kalau aku bohong, puasaku tentu akan batal." Jawab Kinno.


"Kinno..."


Kinno menatap Anindita dan Danu. Lalu ia memberikan sebuah anggukkan pada keduanya.


"Percayalah. Dafa akan kembali ke tengah-tengah kita. Tidak akan lama lagi."


"Kinno..."


Kinno membaur dengan sangat cepat. Meski sudah bertahun-tahun dia tak pernah pulang dan memberikan kabar sedikitpun pada keluarga dan teman-temannya, tapi sedikitpun ia tak kelihatan canggung.


"Gimana rasanya bisa jadi tangan kanan seorang Nata Darmawan?" Tanya Gabriel penasaran.


"Biasa saja." Kinno angkat bahu.


"Biasa saja, gimana?! Memangnya aku gak pernah lihat kamu berpergian kemanapun naik pesawat kelas satu, menginap di hotel mewah, dan makan-makanan enak.." Eka menyikut perut Kinno.


"Bukannya kalian juga sama?" Kinno balik memandang kelima sahabatnya itu.


"Kenapa kau tidak ajak sekalian Nata?" Martin Luther dan isterinta ikut bergabung. "Hitung-hitung sebagai pendekatan. Siapa tahu saja, sosoknya itu bisa makin mendongkrak reputasi SMK Ellite Rovario."


"Hahaha, anda bisa saja Pak Martin Luther." Anthony tertawa renyah.

__ADS_1


"Loh, memang benar kan?" Mata Martin Luther membulat. "Coba, sekarang -- siapa sih yang tidak kenal dengan Nata? Seorang pemuda dari Indonesia yang berhasil menembus White House. Dan bahkan beberapa kali menghadiri jamuan makan malam dengan orang-orang penting di seluruh belahan dunia?"


"Kira-kira, nanti aku bisa minta foto dan tanda tangannya gak ya?" Eka senyum-senyum sendiri.


"Yahh, kita berdoa aja semoga kau tidak didepak oleh para pengawal pribadinya.." Ledek Julian dan diakhiri gelak tawa mereka semua.


Pukul 17.30, semua anak-anak panti sudah memenuhi mushola. Dengan dibantu Inu dan Sam, anak-anak itu bisa duduk dengan sangat rapih dan tertib sekali.


"Coba, siapa yang puasanya udah bolong?" Tanya Sam pada anak-anak itu.


"Aldi, Kak Sam..!!" Teriak Tanto yang langsung mendapat sorakkan dari teman-teman pantinya.


"Aldi kan masih kecil dan lagi sakit!!" Jawab Aisyah ngotot. "Kau ini gimana sih?!"


"Pokoknya, yang puasanya full satu bulan, nanti akan dapat hadiah dari Nenek Anggita!" Ucap Sheila semangat. Membuat anak-anak itu bersorak gembira.


"Hadiahnya apaan sih, Kak?!" Tanya Opie Penasaran. "Jalan-jalan ke Dufan ya, Kak?"


"Iya! Kak Dafa kan pernah janji mau ngajakkin kita semua ke Dufan. Tapi belum jadi juga.." Ucap Aisyah.


"Bu Anggita, ada tamu yang ingin bertemu dengan Ibu Anggita." Bisik Trinity.


Kinno langsung menoleh. Dan dikejauhan ia melihat dua sosok yang sangat dikenalnya baik.


"Tante Sandra!!" Kinno langsung menghampiri kedua sosok itu.


"Jadi dia udah datang ya? Tita, rambut gue berantakan gak? Enggak kusut kan?!" Eka panik luar biasa. Namun Tita dan yang lainnya ikut menghampiri kedua sosok asing itu.


"Tante, ini yang namanya Nenek Anggita." Kinno memperkenalkan.


"Selamat sore, Ibu Anggita."


"Selamat sore, Sandra."


"Maaf kalau kedatangan saya dan anak saya mengganggu acara kalian.." Sandra agak gugup. Dia sampai tidak sadar kalau kerudung putih yang dipakainya terlalu ke belakang. Hingga dahinya kelihatan lebar.


"Sama sekali tidak menganggu, Sandra. Justru saya sangat senang, bisa kedatangan seseorang yang ---"


"Natanya mana, Tante? Nata ikut, kan?!"


"Kak Kinno gak sopan banget!" Hassel memasang wajah cemberut. "Udah tahu nenek itu lagi ngomong sama mami, tapi malah dipotong!"


"Nata ikut kan?! Pasti sekarang dia lagi bersembunyi untuk memberikan kejutan kan?"


"Kinno..." Danu sampai mendesis kesal melihat tingkah anaknya itu.


"Nata tidak ikut, Kinno." Jawaban Sandra itu membuat emosi Kinno naik.


"Aku sudah bisa menduganya!! Aku sudah tahu pasti dia tidak akan berani datang kesini!!"


"Kinno!!" Danu sedikit membentak.


"Ternyata benar dugaanku, Dad! Nata tidak berani menginjakkan kakinya ke rumah ini, karena dia takut kepada kita semua!!"


"Apa maksudmu, Kinno?" Tanya Ardiansyah tak paham.


"Karena Nata itu adalah Dafa, Om Ardiansyah!!"


Semua orang terbelalak dibuatnya. Keheningan langsung menyelimuti mereka. Menggantikan suasana hangat penuh keceriaan sebelumnya.


"KAK KINNO JANGAN SEMBARANGAN BICARA!!" Hassel jadi emosi. "KAK NATA DIOPERASI KARENA KECELAKAAN!! KAK KINNO JANGAN SOK TAHU!!"


"Tapi aku lihat kalau Nata sering membuka website SMK Ellite Rovario di laptop dan tabletnya! Dan juga aku pernah lihat, dia membuka akun facebook kalian!!" Kinno melemparkan pandangannya pada kelima sahabatnya. "Kalian harus percaya denganku!!"


"Kinno..." Eka sampai sedih melihat tingkah Kinno.


"Nata sangat menyukai lumba-lumba. Di kamarnya, di laptopnya, di buku hariannya, selalu saja ada stiker lumba-lumbanya!"


"Kinno, hentikan.." Danu mulai kehilangan kesabaran.


"Dad!! Aku dan Dafa sudah kenal sejak kecil. Jadi aku tak mungkin salah!! Aku tahu kalau Nata itu adalah Dafa!! Dan aku ---" Kinno meraih ponselnya. Rupanya dia sedang mencoba menghubungi Nata.


Berkali-kali ia mencoba, Nata tetap tak menjawabnya. Ia terus mencoba dan mencoba.


"Angkat..!! Ayolah, Nata!! Please...!!"


"Kinno, sudahlah..." Anggita Suryatama bersuara juga.


"Enggak, nek!! Aku tahu dan aku yakin seratus persen kalau Nata itu adalah Dafa!!"


Tlinggg..!!


Ponsel Sandra bergetar. Panggilan video call dari nomer Nata.


Klik.


'Tante, gimana acaranya?'


"Tante baru saja datang, Nata. Tapi Kinno.."


Kinno pun langsung merebut ponsel Sandra dengan kasar sekali.


"Kenapa kau tidak datang?! Apa kau terlalu takut untuk bertemu mereka?! Jawab aku, Nata!! Benar kan, kalau kau itu Dafa?!"


"Kinno, cukup!!" Suara Danu benar-benar tinggi.


"Pak Ardiansyah...!!" Seorang wanita yang belum terlalu tua datang dengan tergopoh.


Namun yang lebih membuat mereka semua terkejut adalah, beberapa anggota kepolisian yang mengekor di belakangnya.


"Ada apa, mbak?" Tanya Ardiansyah heran.


"Selamat sore, Pak Ardiansyah!" Sapa komandan polisi itu dengan suara tegas.


"Iya, sore. Maaf, ada keperluan apa ya ---" Ardiansyah tentu saja bingung karena rumahnya didatangi oleh para polisi itu.


"Ehh, ada pak polisi!! Kita samperin yuk..!!"


"Anak-anak!!" Inu langsung mencegah anak-anak panti itu untuk mendekat. "Sheila, tolong kau dan yang lainnya atur anak-anak itu."


"Beres, Pak Inu..!" Julian yang menjawab.


"Maaf kalau kedatangan kami tidak pada waktu yang tepat.."


"Ya Rabb, cobaan apalagi yang akan kau timpakan pada keluarga hamba?" Anggita terus saja memegangi tangan Trinity. Wajahnya kian meredup tiap detiknya.

__ADS_1


"Ini mengenai anak anda, Dafa."


"DAFA!!?" Orang-orang dewasa itu memekik histeris.


"Kalian sudah menemukannya?!" Anindita merangsek ke depan. "Dimana anak saya? Dimana Dafa?!"


Komandan polisi itu menerima sebuah bungkusan hitam dari salah satu anak buahnya. Lalu ia mengeluarkan beberapa barang yang sudah dikemas dalam masing-masing plastik transparan.


"Apa anda mengenali boneka teddy ini?"


Ardiansyah menelan ludah. Ia tak cukup punya keberanian untuk menerima boneka itu.


"Ayah, bukannya boneka itu -- pemberian Kinno ya?" Ujar Sam yang langsung membuat Kinno mendekat.


Kinno meraih plastik itu dan mengeluarkan isinya. Boneka teddy kecil dengan pita biru di lehernya. Meski kondisinya sudah kotor dan terkoyak, tapi Kinno tidak akan mungkin melupakannya.


"Apa betul, sebelum anak anda menghilang, ia mengenakan setelan piyama dan juga sandal --"


Ardiansyah merampas bungkusan itu. Seperti yang dilakukan Kinno, ia pun mengeluarkan isi dari dalam kantung itu.


"Dafa..." Ardiansyah jatuh terduduk lemas.


"DIMANA DIA?! DIMANA ANAKKU!!" Anindita berteriak-teriak bagai orang kesetanan.


"Begini Pak Ardiansyah -- Ibu Anindita, ada seorang warga di pedalaman hutan Kalimantan sana, menemukan tulang belulang yang terkubur lengkap dengan pakaian, sandal, boneka teddy, dan juga botol minuman ini.."


"APA KAU BILANG?!" Anggita Suryatama pun sampai menjerit. "Tulang belulang?! Ya Allah...!!" Wanita tua itu tak kuat menerimanya, hingga ia harus jatuh pingsan.


"Tulang --- belulang.." Wajah Anthony Grooberry berubah pucat sekali. Tubuhnya nyaris ambruk, sebelum akhirnya Pak Tua James berhasil menahannya. "Gak mungkin, James.. Anakku..."


"DAFA GAK MUNGKIN MATI!! ANAKKU ITU KUAT!! DIA GAK MUNGKIN MATI...!! BEDEBAH KALIAN SEMUA!!"


"Istighfar, Anindita.." Danu terus memegangi lengan isterinya itu.


Ponsel Sandra yang masih dipegang oleh Kinno pun, terlepas begitu saja dari tangannya. Padahal video call antara Nata dan Kinno masihlah tersambung.


Adzan maghrib sudah berkumandang. Namun bukannya nikmat berbuka yang mereka semua rasakan, namun sebuah berita duka yang amat menyayat hati dan perasaan.


Mereka semua terdiam dalam rasa sedih luar biasa. Masih tak percaya dengan berita memilukan ini.


Bagaimana mungkin, sosok baik dan polos seperti Dafa, harus berakhir tragis seperti ini...?


"Rencananya besok pagi tulang belulang dari anak anda akan tiba di Jakarta."


'Tante -- halo, tante -- apa yang sebenarnya sedang terjadi disana?'


"Ada polisi di rumahnya Ibu Anggita, Nata."


'Polisi?'


"Iya. Yang Tante dengar, mereka sudah menemukan Dafa."


'Oh ya? Syukurlah kalau begitu..'


"Tapi cuma tulang belulangnya aja, Nata...!" Sandra sampai mendesis dan sedikit menjauh.


'Tulang -- apa, tante?!'


"Dafa sudah meninggal, Nata. Dia ditemukan terkubur di hutan pedalaman Kalimantan."


'Innalillahi..., kalau begitu besok aku akan segera pulang. Tolong sampaikan salam belasungkawaku sama Kinno dan keluarganya.'


"Akan Tante sampaikan pada mereka."


Klik..!


"Mami, terus kita gimana?" Hassel menatap Sandra lekat-lekat.


Sandra menghela nafas pendek. "Kita disini dulu sampai semuanya tenang ya."


Hassel pun mengangguk. Ia agak kasihan juga melihat Kinno dan keluarganya yang begitu terpukul. Apalagi idul fitri sudah di depan mata. Hari yang seharusnya bisa membuat mereka bahagia penuh suka cita -- bersama dengan jutaan umat muslim lain, meraih kemenangan setelah sebulan penuh lamanya mereka berpuasa -- namun harus mereka lalui dengan sebuah berita duka yang teramat menyakitkan.


Kinno tiba-tiba bangkit. Berlari kencang sambil berteriak-teriak bagai orang kerasukkan.


"DAFA!! TUNGGU AKU!! TUNGGU AKU!! TUNGGU AKU DISANA...!!"







Sementara itu di tempat yang lain...


Jglek...! Kreeeykkk....!!


"Tahanan nomer 507. Rafa Ardiansyah. Ada kunjungan tamu untuk anda."


Rafa mengerjap. Mengucek matanya yang dirasa masih lengket sekali. Ia tidak tahu sekarang jam berapa. Tapi yang pasti, saat ini adalah tepat tengah malam. Karena saat ia keluar dari selnya, keadaan sel lain sangatlah sepi.


Rafa jelas bingung. Siapa yang mengunjunginya di waktu tengah malam seperti ini. Terlebih, sejak ia resmi menjadi seorang tahanan, tak pernah ada satupun dari pihak keluarganya yang datang untuk menjenguknya. Sama sekali tidak ada.


Saat sampai di ruang kunjungan, Rafa menatap sejenak sosok pria yang tadinya sedang duduk lalu berdiri saat melihat kedatangannya.


"Selamat malam, Rafa."


"Selamat malam.." Rafa menjawab uluran tangan itu dengan sedikit ragu.


Lalu pria itu mempersilahkan Rafa untuk duduk.


"Baiklah, saya akan langsung pada intinya." Pria berjaket kulit hitam itu mengeluarkan sebuah amplop. "Besok subuh, kau sudah bisa keluar dari penjara ini."


Rafa sontak terbelalak mendengarnya.


"Namun kebebasanmu itu, adalah sebuah kebebasan bersyarat. Kau harus mengikuti semua perintah yang ada di dalam amplop ini. Dan satu hal yang harus kau ingat, semua gerak-gerikmu masih akan dipantau. Jadi, jangan coba-coba untuk melakukan sesuatu hal yang mencurigakan. Kau mengerti?"


Rafa mengangguk tak yakin. Bahkan setelah pria itu meninggalkannya, dia masih duduk dengan pikiran bercabang kemana-mana.


Dua orang petugas polisi mendatanginya. Memberikannya sebuah tas jinjing sedang berisikan pakaian, makanan dan juga uang.


"Kau tidak perlu kembali ke sel. Tidurlah disini. Karena sebelum subuh, kita harus sudah meninggalkan penjara ini." kata si petugas setengah berbisik.

__ADS_1


...##### ...


__ADS_2