GROWING

GROWING
71


__ADS_3

Udara dingin dan basah langsung menyambutnya ketika ia menginjakkan kakinya kembali di Terminal Leuwi Panjang. Dulu -- entah berapa tahun yang lalu, ia ingat saat dirinya dan Kinno pernah juga datang ke tempat ini. Bertualang seorang diri, menggunakan bis antar kota dan hanya dengan membawa tas ransel biasa miliknya.


Namun sayang, kenangan itu malah membuat hatinya terasa sakit. Untuk apa dia terus mengingat-ingat orang itu. Mungkin saja orang itu, juga sudah tidak ingat lagi padanya.


Nata bukan tipe orang ceroboh. Tapi ia sedikit pelupa. Setibanya di Bandung, seharusnya ia langsung beli makan dan mencari penginapan. Tapi beda ceritanya kalau tas kecil yang berisikan dompet dan tiga handphonennya raib entah kemana.


Di saku celananya cuma tersisa uang empat ribu saja. iPhone 6S plus yang selamat karena ia simpan di saku celana lainnya pun, tak bisa ia gunakan karena baterainya habis.


Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Dan jalanan pun semakin sepi. Di zaman seperti, masih adakah orang yang akan berbaik hati padanya..?


Dia duduk di tepian jalan sambil menatap gerobak nasi goreng di seberang sana. Ada seorang nenek dan pemuda yang sedang melayani dua pembeli. Tumisan harum bumbunya, bisa ia rasakan hingga membuat perutnya makin bergemuruh.


Setengah jam berlalu. Nata masih saja duduk dan entah akan melakukan apa. Dia melihat jam tangannya. Sudah hampir lewat tengah malam. Pantas saja udara makin dingin dan sepi.


Nata bangkit dan menyeberang jalan. Dia tahu yang akan dilakukannya adalah suatu hal yang sangat memalukan. Tapi kan, tidak ada salahnya juga untuk mencoba.


"Permisi.."


"Hapunten Aa, sudah tutup." Kata si pemuda itu sopan.


Nata melirik pada tempat nasi yang ditutupi lap merah itu. Dia lihat masih ada banyak nasi yang di dalam wadah itu. Tapi ya, dia tidak bisa memaksa. Mungkin malam ini, dia akan cari masjid atau terpaksa tidur di terminal saja.


Nata menyeberang kembali. Dengan uang empat ribu, sepertinya masih cukup untuk membeli gorengan dan air mineral gelas.


"Aa, maaf..!!"


Nata yang sudah sampai di posisinya semula, lantas menatap pemuda penjual nasi goreng itu.


"Nasi gorengnya pedas atau tidak?" Tanya si pemuda dengan logat sundanya yang kental.


Nata agak ragu untuk menjawabnya. "Bagaimana ya...?"


"Sudah, hayu atuh ikut.."


Nata pun mengikuti pemuda itu. Dia bimbang dan malu. Tapi yahh, mungkin dia akan jujur dan berterus terang aja.


"Silahkan duduk, kasep.." kata si nenek tua itu sambil menuangkan teh ke dalam gelas dan menyodorkannya pada Nata.


"Begini nek -- itu -- gimana ya --" Nata garuk-garuk kepala. "Aku sebetulnya gak punya uang.." Nata menelan ludah. Dia sudah bisa menebak pasti reaksi kedua orang itu akan seperti itu. Syok dan kaget. "Tapi aku punya uang empat ribu sama jam tangan ini. Ini jam tangan asli kok. Aku gak bohong."


"Sudah, duduk saja dulu.." Nenek tua itu malah memaksa Nata untuk duduk. "Buatkan ya Dan.."


"Iya, nek.."


Nata duduk dengan sungkan. Ia langsung meneguk segelas teh tawar hangat itu sampai habis. Si nenek tersenyum lalu mengisi penuh kembali gelas itu.


"Di Bandung ada saudara, nak?"


Nata menggeleng. "Aku cuma mau jalan-jalan aja, nek. Soalnya udah lama juga aku gak kesini."


"Tas kamu bisa hilang, dijambret?"


Nata angkat bahu. "Kayaknya sih diambil pas aku tidur. Terus tadi bangun, turun buru-buru."


Sepiring nasi goreng telor sudah dihidangkan di depannya. Nata mengucapkan terima kasih berulang-ulang. Sampai-sampai si nenek dan cucunya itu salah tingkah.


Gak sampai lima menit, Nata sudah menghabiskannya. Sampai ke cabe rawit di acarnya pun ia habiskan tak bersisa.


"Nak Nata malam ini tinggal saja di rumah Nenek."


"Boleh, nek?!"


"Tapi mohon dimaklumi kalau rumah Nenek jelek dan kotor."


Nata sama sekali tidak berfikir tentang bagaimana kondisi rumah itu. Yang terpenting adalah, dia mendapat tempat berlindung setidaknya untuk malam ini.


Dia terus mengikuti nenek dan cucunya itu dengan perasaan riang. Rasa kantuk yang menyerangnya tadi, kini sudah sirna.


"Nenek sama Dani sudah lama jualan nasi goreng?"


"Sudah lima tahun, Nak." Jawab nenek. "Karena nenek sudah semakin tua dan tidak sanggup lagi mencuci, jadi Dani terpaksa berhenti sekolah dan kami mulai berjualan nasi goreng dengan modal sekedarnya.."


Sepanjang perjalanan itu, dilalui ketiganya dengan obrolan hangat. Dani yang tadinya canggung, kini mulai bisa membuka diri.


"Masih jauh ya, nek?"


"Lumayan, nak.."


Hampir setengah jam mereka terus berjalan menembus malam yang dingin. Masuk ke dalam gang-gang. Hingga akhirnya mereka memasuki sebuah perkampungan.


"Rumah nenek yang itu."


"Fiuhh, akhirnya sampai juga ya.."


Nata langsung duduk pada kursi kayu panjang di depan rumah kecil yang dindingnya terbuat dari tembikar itu. Tapi dia langsung bangkit dan membantu Dani menurunkan perabotan dari atas gerobak, karena rasa tak enak.


"Assallamualaikum.." Nata mengucap salam saat melangkah masuk ke dalam rumah itu.


Nenek Yuyu mengambilkan ceret air dan gelas. Sedang Dani mengambilkan tikar dan menggelarnya.


Nata agak kaget, karena ada seorang anak laki-laki -- mungkin seusia Hassel -- sedang tidur meringkuk di depan tv.


Nenek Yuyu memegang dahi anak laki-laki itu.


"Gimana Doni, nek?"


"Masih demam, Dan."


Dani menghela nafas. Ia mengangkat anak laki-laki yang ternyata adiknya itu ke dalam satu-satunya kamar yang ada di rumah ini.


"Dia adikku. Doni. Lagi sakit dari kemarin. Mangkanya dia tidak ikut."


"Sudah dibawa ke dokter?"


"Minum obat warung juga biasanya langsung sembuh."


Nenek Yuyu keluar dari kamar sambil membawakan selimut dan dua bantal. "Sudah malam, kalian istirahat dulu. Besok lagi ngobrolnya."


Dani menawarkan sarungnya. "Kalau kau kedinginan, bisa pakai sarungku lagi."


"Terima kasih."


"Gak bau kok."


"Selimut ini juga tebal kok."


"Oke."

__ADS_1


Nata merebahkan tubuhnya. Akhirnya ia bisa juga beristirahat seperti sekarang ini. Rasanya sangat nikmat dan enak sekali.


"Oh ya Dan, kau punya charger iPhone?"


Dani membalik badan. Dia memperlihatkan hape sony ericsson jadul miliknya sambil tersenyum kecut.


"Kayaknya temen ngajiku punya. Besok pagi aku pinjamkan sama dia."


Nata memiringkan tubuhnya. Menghadap pada tembok. Mengutuk kenapa ponsel miliknya itu baterainya bisa cepat habis. Padahal ia gunakan, cuma untuk mengirim wa kepada Sandra dan Hassel saja.


Perlahan matanya mulai terpejam. Rasa kantuk sudah menguasainya. Hingga akhirnya ia sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya...





"Nata.. Nata..!"


Nata bangun tiba-tiba. Dia kaget bukan main. Sebab dalam mimpinya tadi, dia mimpi sedang dipukuli sama Kinno.


"Dani.." Nata mengucek mata.


"Tadi aku ke rumah temanku. Nih chargernya."


"Terima kasih ya, Dan..!"


Nata pun bergegas mencharger iPhonennya. Begitu iPhonenya bisa dinyalakan, ia langsung mengirim wa pada Sandra. Mengabarkan kalau ia dalam keadaan setengah baik-baik saja.


'Uhueekkss..!!'


Nata tersentak. Celingak-celinguk sendiri. Namun Dani berlari masuk ke dalam kamar sambil membawakan baskom.


Dia penasaran dan ikut melihat. Dilihatnya Doni yang sedang muntah-muntah sampai mengejan seperti itu. Namun saat muntahnya berhenti, tubuh kurus Doni mengejang hebat dengan matanya yang memelotot nyaris keluar.


"Bawa ke rumah sakit aja, Nenek!!" Nata mendekat.


"Gak papa kok, Nat. Biasanya juga sembuh sendiri."


Nata memegang pipi Doni. Wajahnya pun berubah tegang sekaligus panik. "Ini panas banget loh, Dan! Kalau gak di bawa ke rumah sakit bisa-bisa adikmu ini --"


Doni kembali muntah. Namun muntahannya kali ini berupa cairan berwarna kuning pekat bercampur noda merah.


"Kita bawa saja ke rumah sakit, Dan. Bawa buku tabunganmu juga." Ujar Nenek Yuyu sambil mengambil simpanan uang dari dalam kaleng bekas susu, yang disimpannya dalam lemari pakaian.


Dengan menaiki sebuah mobil angkutan, mereka membawa Doni ke rumah sakit terdekat.


Selama diperjalanan, Doni terlihat anteng. Meski sesekali dia masih kejang dan mulutnya mengeluarkan cairan.


Sampai di rumah sakit, ada begitu banyak sekali pasien yang ingin berobat. Apalagi mereka berobat dengan menggunakan fasilitas bpjs dari pemerintah.


Dani sudah mendapatkan nomer antrian, tapi itu antrian entah yang keberapa. Memanfaatkan surat tanda tak mampu pun tak bisa digunakan di rumah sakit ini.


"Kalau ibu mau jalur umum biasa, silahkan melakukan pendaftaran, dan membayar uang jaminan." Jelas si perawat.


"Uang daftar sama jaminan jadi berapa, sus?" Tanya Dani.


"Uang pendaftaran, empat ratus lima puluh ribu. Dan uang jaminannya lima juta."


Dengan tangan gemetar, Nenek Yuyu mengeluarkan semua uang yang dibawanya. Kalau di total, jumlahnya hanyalah sekitar enam ratus ribuan.


"Baik kalau begitu. Silahkan diisi dulu formulirnya ya, bu."


Nenek Yuyu menatap lekat-lekat Dani. "Nenek pinjam dulu uang tabunganmu ya, Dan."


"Tapi nek, uang simpananku cuma tiga ratus ribu saja."


Nenek Yuyu mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. "Kau jual saja gelang dan kalung Nenek ya."


"Nenek.."


"Dan, kita ke bank saja sekarang. Sekalian aku mau ngurus kartu atm-ku yang hilang." Ajak Nata.


Kedua pemuda yang sama tinggi itupun, bergegas menuju bank. Untungnya, bank pemerintah terbesar itu berada persis di seberang rumah sakit.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?"


"Kartu atmku hilang, pak. Dan ini temanku, dia mau narik uang di teller."


"Hilangnya dimana ya, Mas? Dan apa sudah melapor ke pihak kepolisian?"


"Pak, sekarang adik temanku ini lagi sakit dan ada di rumah sakit di seberang itu! Dia lagi butuh uang untuk berobat!" Suara Nata meninggi.


"Saya mengerti, Mas. Tapi memang seperti itu prosedurnya. Kalau Mas kehilangan kartu -- bla.. bla.. bla.."


Setelah mendengarkan penjelasan yang sangat tidak penting itu -- dan adu argumen dengan satpam dan seorang petugas bank, Nata akhirnya mendapat nomer antrian juga.


Di barisan antrian teller, Dani pun juga sudah mengisi form penarikkan tunai dan tinggal menunggu gilirannya saja.


Nata duduk dengan gelisah. Di depannya ada empat orang customer service yang kesemuanya sedang melayani para nasabah maupun calon nasabah.


Tiap waktu begitu berharga. Kalau dia lama-lama disini, apa yang akan terjadi dengan Doni?


"Tiga puluh dua.."


Nata bangkit dan bergegas ke depan. Seorang wanita muda berparas cantik menyambutnya ramah.


"Kartu atm-ku hilang. Gimana mau ngurusnya?"


"Baik. Bisa saya lihat ktpnya?"


"Hilang juga, mbak. Semuanya hilang."


"Apa bapak sudah melapor ke kepolisian?"


"Semalam itu aku baru tiba di Bandung. Perut lapar keroncongan. Mana kepikiran buat ke kantor polisi!! Lagian, bisa-bisa nanti aku yang malah dimintain uang lagi sama mereka!"


Kring.. Kring..


"Maaf, dimohon menunggu sebentar.." Kata si wanita itu sambil menerima telepon yang entah dari siapa. "Maaf Pak Nata, saya tinggal dulu sebentar. Permisi."


Nata mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja. Sepuluh menit berlalu sudah. Dan dia masih saja didiamkan seperti kambing congek.


"Duhh, lama amat sih!! Cuma mau ngambil uang aja susahnya minta ampun!" Celetuk Nata dengan suara yang sengaja dikeraskan.


"Selamat pagi Bu, ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


"Saya cari cucu saya, Dani. Dani..."


Nata dan Dani kompak menoleh. Keduanya mendapati Nenek Yuyu dengan mata memerah dan basah.


"Nenek..?!" Nata menghampiri Nenek Yuyu.


"Nak Nata, Doni kejang lagi. Badannya semakin panas."


"Nek, uangku cuma tersisa lima puluh ribu. Dan aku gak bisa ngambil karena tanda tanganku beda."


Emosi Nata memuncak. Terlebih saat dia melihat customer service yang tadi sedang melayaninya, sudah kembali dengan jalan santai berlenggak lenggok kayak anak soang.


"SEKARANG GINI AJA DEH, INI AKUN INTERNET BANKING AKU. AKU BISA GAK NGAMBIL UANG TANPA ATM?!"


"Ohh, baik pak. Silahkan duduk, akan saya jelaskan terlebih dahulu."


"DUDUK LAGI?!" Suara Nata makin meninggi. "MBAK TAHU, KALAU ADIKNYA TEMAN SAYA SEKARANG LAGI SEKARAT DI RUMAH SAKIT! KALAU SAMPAI DIA MENINGGAL, APA KALIAN MAU BERTANGGUNG JAWAB?!"


"Maaf pak, ada apa ini?" Seorang pria tinggi gemuk datang menghampiri.


"Aku mau ambil uang, tapi kartu atmku hilang. Ada cara lain gak?"


"Tentu bisa pak. Tapi bapak cuma dibatasi mengambil maksimal lima juta saja."


Nata memutar bola matanya. "Kau punya kartu atm kan?" Nata menoleh pada Dani.


"Punya. Tapi aku lupa pinnya. Karena tidak pernah kugunakan."


"Nomer rekeningmu mana, biar aku transfer ke rekeningmu aja." Nata memencet layar iPhonennya. "Kau lupa pinnya kan? Sekalian aja kau urus. Cepat duduk disini..!"


"Tapi..." Dani kelihatan ragu dan gugup sekali. Apalagi ada banyak pasang mata yang sedang melihatnya.


"Kau kan asli Bandung. KTP Bandung, sekalian aja urus semua. Barusan sudah aku transfer dua puluh lima juta."


Dani membelalak. Begitu juga dengan Nenek Yuyu dan orang-orang di sekitarnya.


"Kenapa masih bengong?! Kalau rekening punya dia aku gak perlu surat polisi dan ***** bengek segala macam, kan?"


Customer service itu kini yang kelihatan salah tingkah. Apalagi saat ini, dia didampingi dengan manager cabang juga.


"Sudah masuk, transferan dari Bapak Nata Darmawan." Kata si customer service itu.


"Kalau aku transfer lagi bisa?"


"Bi -- sa. Tapi untuk tarik tunai dibatasi karena kartu atm ini jenisnya silver."


"Rubah ke platinum. Akan kutransfer sekalian seratus juta!"


Semua customer service yang sedang melayani para nasabah sampai menoleh ke arahnya.


"Kenapa? Gak bisa lagi, hah?! Ini kan uangku, bukan uang kalian!"


"Anda -- Nata Darmawan?" Si manager cabang bank itu akhirnya mengenali.


"Ya. Memang kenapa?"


"Maafkan kekeliruan yang terjadi, Pak Nata." Pria gemuk itu menyalami Nata dengan sangat ramah.


"Hah, jadi dia itu Nata Darmawan?!"


"Aku rasa si Puput dalam masalah besar!"


"Sudahlah, aku gak perlu ramah tamah dari kalian. Aku kesini itu cuma mau ambil uang! Uang milikku sendiri!!"


Dengan berbelit-belit dan harus sampai emosi dulu, akhirnya Nata bisa mendapatkan kembali kartu atmnya. Seandainya saja dia masih memegang satu kartu identitas saja, pasti dia tidak akan mengalami peristiwa menyebalkan ini.


Customer service itu belum tahu berhadapan dengan siapa. Seorang Nata Darmawan, dengan statusnya sebagai nasabah prioritas karena jumlah uang simpanannya di bank tersebut yang mencapai nominal miliyaran rupiah.


"Nata uangmu di tabunganku bagaimana?"


"Nenek, terus Doni gimana?" Nata tak menghiraukan Dani. Karena saat ini yang terpenting adalah kesembuhan Doni.


Tak perlu dijelaskan, Nata sudah mendapatkan jawabannya saat tiba kembali di rumah sakit.


"Astagfirullah..." Emosi Nata kembali mencuat. "Dan, bawa adikmu ke dalam!"


Dani menurut saja. Dia menggendong adiknya kembali ke bagian dalam rumah sakit.


"Kenapa Doni digeletakkin diluar?!" Nata menggebrak meja pendaftaran.


"Karena ada pasien lain yang sudah --"


"Tadi kan, nenek sudah bilang untuk menunggu karena aku mau ambil uang. Kau pikir aku gak punya uang ya?!" Nata  membanting sekantung uang tunai di hadapan para suster itu. "Kalian pikir Doni itu orang miskin yang tidak layak untuk mendapatkan perawatan?!"


Para suster itu jadi salah tingkah semua. Mereka pura-pura sibuk menyusun formulir. Dan ada juga yang mengambilkan kasur dorong untuk Doni.


"Kamar VIP! Layani Doni sebaik mungkin..!!"


"Baik, pak!"


iPhone Nata berdering. Panggilan masuk dari Sandra.


"Tante sudah di Rumah Sakit Kasih Bunda, kau dimana, Nata?"


Belum sempat menjawab, suara nyaring Hassel terdengar memanggil namanya.


"Mangkanya Kak Nata jangan suka sok pergi sendirian!!"


"Kok kalian bisa cepat sekali kesini?"


"Iya dong! Kan yang nyetir bukan mami. Jadinya bisa ngebut!"


Nata menahan para suster itu. "Tante, kita bawa saja Doni ke rumah sakit lain yang lebih baik pelayanannya."


"Pak Nata, rumah sakit ini juga menyediakan --"


"Dani, kau tidak keberatan kan?"


Dani dan Nenek Yuyu kelihatan bingung sekali.


"Kalian, tolong bawa Doni ke mobil." Nata menyuruh para pengawal pribadinya yang datang bersamaan dengan Sandra. "Dani sama Nenek, sekarang ikut sama aku ya.."


"Tapi Doni bagaimana, Nak Nata..?"


"Nenek Yuyu jangan cemas. Nanti, kita akan bawa Doni ke rumah sakit yang lebih bagus dan baik. Pokoknya semua biayanya biar aku yang tanggung."


"Terima kasih, Nak Nata. Semoga Gusti Allah membalas semua kebaikan Nak Nata.."

__ADS_1


"Aamiin."


...##### ...


__ADS_2