GROWING

GROWING
67


__ADS_3

Kinno terbangun tengah malam, karena ia merasa ingin buang air kecil. Selain itu, kerongkongannya pun dirasa kering sekali.


Saat ia keluar dari kamarnya, ia mendengar suara pelan televisi dari ruang tengah. Ia menghampirinya. Mendapati Nata yang tengah tertidur dengan posisi duduk dan kepala di atas meja.


Kinno menggeleng heran sekaligus takjub. Beginilah Nata yang dikenalnya sebagai seorang pekerja keras.


Klik!


Kinno mematikan televisi. Lalu ia merebahkan tubuh Nata, dan menyelimutinya. Namun, saat dia akan mematikan laptop milik Nata, ia nyaris tak berkedip dengan apa yang dilihat di layar laptop itu.


Kinno menggeser kursor dari satu tab ke tab lainnya. Wajahnya berubah serius dan tegang.


'Kenapa dia membuka website SMK Ellite Rovario..?'


Kinno terus menscroll hingga ke bagian bawah. Lalu tepat di halaman itulah, matanya membelalak dan jantungnya berdegup kencang.


'Dafa?! Dia mencari tahu informasi tentang Dafa? Untuk apa dia melakukannya?'


Lalu Kinno makin terkejut saat dia membuka satu persatu tab yang ada di jendela chrome laptop Nata.


'Julian? Gabriel? Tita? Sheila? Eka? Dia --- darimana dia tahu tentang mereka?'


Kinno lantas menatap Nata. Hatinya makin bergemuruh. Firasatnya makin kuat, tentang sosok Nata yang sesungguhnya.


"Nata --- apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan? Kenapa kau melakukan ini semua kepadaku dan yang lainnya...?"







Keesokkan paginya...


Tok.. Tok..


"Kalau mami jangan masuk!! Ini kamar khusus anak laki-laki yang sedang menuju kedewasaan..!!" Suara Hassel melengking dari dalam.


"Ini aku, Kinno."


Cklek..!


"Kalau masuk, cepat tutup pintunya dan kunci lagi. Hassel gak mau kalau ibu-ibu tukang rumpi itu sampai masuk ke kamar ini.."


Kinno menyengir saja. Sebenarnya kalau enggak terpaksa banget, ia juga malas ketemu sama Hassel. Tapi berhubung ini adalah perintah dari Nata, mau tak mau ia harus melaksanakannya.


"Kata Nata baju laundrynya --"


"Tuhh, taruh disana aja..!" Hassel menunjuk pada lemari kayu besar di dekat jendela.


Ini bukan kali pertamanya Kinno masuk ke dalam kamarnya Nata dan Hassel. Tapi tiap kali dia masuk, dia begitu penasaran sekali dengan laci-laci di lemarinya Nata. Selipan-selipan buku tebal yang entah apa isinya. Sampai ke bawah kasur yang tiap malam selalu ditiduri oleh Nata.

__ADS_1


Kinno rasa dan yakin, bahwa di kamar ini -- dia bisa menemukan sebuah petunjuk. Petunjuk yang akan mengarahkannya pada sebuah pembuktian. Bukti bahwa Nata itu, sebenarnya adalah Dafa.


Tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sebuah bingkai foto diatas meja belajar milik Hassel. Tidak terlalu besar. Namun cukup menonjol dan menyita perhatiannya.


"Foto ini ---" Kinno meraih bingkai foto berlist biru dengan gambar lumba-lumba mengelilinginya. "Apa orang yang seluruh wajahnya diperban ini adalah Nata?"


"Ya siapa lagi, coba?" Tukas Hassel sambil memasang dasi birunya. "Tolong pakein dong, kak..!"


Kinno merasa seperti mendapat sebuah lampu hijau. Inilah saatnya untuk dia mengorek lebih dalam segala informasi dari Hassel.


"Kenapa kok wajahnya sampai diperban?"


"Namanya juga habis operasi plastik. Emangnya Kak Kinno pikir, Kak Nata lagi main mummy-mummy'an?!"


"Operasi plastik?" Dahi Kinno berkerut.


Hassel menarik diri. Menjauh dari Kinno dengan raut wajah tak suka. "Jangan suka mau tahu deh...!"


Kinno memutar otak. Dia tahu kalau Hassel itu bukan anak laki-laki bodoh yang bisa ia kelabui begitu saja. Jadi ia sendiri pun harus mengatur strategi agak Hassel mau membuka mulutnya.


"Gimana kalau kau, aku ajari menyetir mobil?"


"Kalau bom-bom car ogah!!"


"Mobil beneran, Hassel." Kinno meyakinkan. "Tiket premium Dufan, makan di McD, KFC, Pizza Hut sepuasnya..?"


Hassel menatap tajam pada Kinno. "Seriusan?"


Kinno mengangguk. Namun Hassel punya cara sendiri untuk berjanji ala-ala pria dewasa. Dia menyodorkan kelingkingnya.


"Janji antar pria --"


"Kalau sampai bohong, Kak Kinno nanti wajahnya jadi jelek, hitam, dan gendut..!"


"Oke!"


Hassel kini menyodorkan telapak tangan kanannya.


"Hmmm..?" Kinno heran.


"Tanda jadi dululah.." Ujar Hassel ringan.


Kinno mengeluarkan dompetnya. Isinya cuma ada selembar uang lima puluh ribuan saja. Sisanya cuma kartu identitas, sim, kartu kredit dan debit, miliknya.


"Gak mau kalau gocap doang! Emangnya cukup beli apaan segitu?"


Kinno garuk kepala. "Nanti siang deh ya, aku kan harus ke atm dulu."


"Hassel bisa ke atm kok. Nih ya nomer rekening Hassel.."


Demi tujuannya, Kinno pun terpaksa menuruti keinginan Hassel. Melalui mobile banking, dia mentransfer sejumlah uang ke rekening pribadinya Hassel.


Hassel membelo saat melihat layar ponselnya. Sebuah sms notifikasi dari bank tempatnya menyimpan rekening. Memberi tahu kalau baru saja ada transferan masuk sejumlah --- satu juta tiga ratus ribu rupiah.


"Cukup?"

__ADS_1


"Oke. Kalau cuma satu informasi sih cukup."


"Jadi?"


Hassel merapihkan buku-buku pelajarannya. "Iya. Itu Kak Nata habis operasi plastik. Soalnya waktu itu kan wajahnya Kak Nata serem banget!!" Ujarnya sambil bergidik ngeri.


"Seram bagaimana maksudnya, Hassel?"


"Seratus lagi dong..."


Kinno langsung mentransfer uangnya lagi ke rekening Hassel. Meski dengan perasaan jengkel, tapi tidak ada jalan lain yang harus dilakukannya.


"Waktu habis kecelakaan itu, wajahnya Kak Nata rusak parah! Pokoknya kayak monster! Seram banget!"


"Kecelakaan?" Kinno berfikir sejenak. "Apa itu juga yang menyebabkan Nata mengalami kebutaan?"


"Sudah ya, sekarang Hassel mau sekolah dulu. Nanti siang lagi kalau mau cerita yang seru-seru. Oke?"


Kinno duduk di tepi kasur Nata. Matanya masih saja memandangi bingkai foto itu. Ia mencoba menghubungkan semua kejadian ini dengan semua firasat-firasatnya dan juga kesamaan yang dimiliki oleh Nata dan -- Dafa.


Kinno menangkap sesuatu yang menyembul sedikit dari tumpukkan buku-buku tebal di atas meja belajar Hassel.


Jika buku-buku lain, sampulnya berwarna cokelat. Maka tidak dengan satu buku itu. Ia meraih buku itu. Namun ia baru sadar, kalau ternyata buku bersampul biru dengan gambar lumba-lumba pada cover depannya itu bukanlah sebuah buku pelajaran, novel, ataupun diary. Tapi itu adalah album foto.


"Kak Nata..." Kinno mengusap sampul depan album foto itu. "Stiker lumba-lumba kecil di laptopnya --- kaos biru muda miliknya --- topi putih miliknya --- dan stiker-stiker di kamar ini.." Kinno merasakan panas dan sesak yang sangat luar biasa.


'Kau tahu tidak, kenapa aku sangat suka lumba-lumba?'


'Tidak. Menurutku lumba-lumba itu adalah ikan yang sangat menjijikkan.'


'Kau jangan begitu, Kinno! Suara lumba-lumba itu sangat indah dan menyenangkan!'


Hatinya bergetar saat mengingat kejadian belasan tahun lalu itu. Dengan hati yang goyah, ia membuka halaman pertama album foto itu.


'Semangat ya, Kak Nata!! Karena Hassel, mami dan Mbok akan selalu mendukung Kak Nata...'


Kinno membaca pelan tulisan tangan Hassel itu. Matanya nyaris tak berkedip saat melihat satu persatu foto-foto di bawah tulisan itu.


Kini ia sudah beralih ke halaman berikutnya. Lalu halaman selanjutnya. Dan selanjutnya lagi. Dan lagi. Dan lagi. Hingga akhirnya ia tiba di halaman terakhir album foto itu.


Kinno tidak terlalu terkejut dengan foto terakhir itu. Foto dimana memperlihatkan Nata dengan wajahnya yang seperti sekarang ini.


Namun yang membuatnya terkejut sekaligus syok adalah tulisan Hassel pada bagian bawah foto itu. Dia bahkan harus sampai membacanya berulang-ulang, demi memahami arti dari tulisan itu.


'Sekarang Kak Nata tidak usah khawatir. Karena mereka tidak akan mengenali Kak Nata lagi...'


Pikiran Kinno melambung jauh kemana-mana. Semua kejadian yang ia lalui dengan kedua orang itu -- seolah diputar ulang kembali.


'Maukah kalian terus mendoakanku, supaya aku bisa terus menolong banyak orang yang membutuhkan...?'


'Yeahh, terkadang aku tidak suka dengan sepatu bertali seperti ini. Sangat menjengkelkan..!'


'Kinno, terima kasih karena kau telah mau bersabar menemaniku selama ini. Kinno, kau adalah orang paling baik yang pernah kukenal di dunia ini..'


Kinno menutup album foto itu. Tanpa terasa, sebulir air mata jatuh dari sudut matanya.

__ADS_1


"Kau pikir kau bisa membodohiku, Dafa --- kau pikir dengan kau mengubah wajahmu, aku tidak tahu kalau itu adalah kau..."


...##### ...


__ADS_2