
"Ehemmm..!"
Inu berdehem dari depan pintu kamar tidurnya. Memperhatikan Dafa yang sejak kemarin tidak mau berbicara sedikitpun padanya.
"Ada pasar malam loh di lapangan depan sana.."
Dafa tidak peduli sedikitpun. Mau Monas dipindah ke depan kosan ini sekalipun, dia tidak akan tertarik dibuatnya.
"Ada komidi putar -- ada juga yang jual gulali..."
'Hhhahh...!' Dafa menghela nafas pendek. Dilapnya peluh di dahinya itu dengan lengannya.
"Emangnya Pak Inu punya uang?"
Inu bersorak gembira dalam hati, karena akhirnya Dafa mau juga meresponnya.
"Tentu saja, Dafa. Saya ini kan, sudah gajian."
Dafa menggaruk kepalanya. Seingat dia, guru-guru di sekolahnya kan tidak mungkin gajian lagi, mengingat sudah tak ada satupun lagi dari siswanya yang membayar uang SPP bulanan.
"Kau gak percaya?" Inu pun memperlihatkan isi dompetnya. Namun rupanya Dafa pun tak mau kalah. Ia juga memperlihatkan simpanan uang hasil jualannya di dalam kaleng bekas biskuit. "Kita pergi habis maghrib gimana?"
Dafa menggeleng. "Aku gak bisa, Pak Inu."
"Kenapa, Dafa?" Ekspresi Inu berubah lagi.
"Soalnya aku ada pesanan nasi kotak buat pengajian temannya ibu kos besok pagi. Jadi malam ini aku harus menyiapkan semuanya.."
Inu menatap lekat-lekat anak laki-laki polos itu. Tidak seharusnya Dafa bekerja keras melakukan itu semua, sementara anak didiknya itu masih mempunyai satu keluarga utuh yang kondisi keungannya bahkan sangat berlebihan.
"Aku mau pergi dulu ya.." Katanya setelah mengenakan topi putih murah yang dibelikan Inu pada saat keduanya mengunjungi bazar malam minggu lalu.
"Kau mau kemana?"
"Aku mau ke pasar dulu. Mau beli telor, daging, sama yang lainnya.."
"Saya antar ya.."
"Gak usah, Pak Inu. Soalnya belanjaan aku banyak. Pasti nanti enggak bisa keangkut di motornya Pak Inu.."
Inu ikut aja apa yang dikatakan Dafa. Jadinya, mereka berdua naik angkot yang langsung menuju pasar. Jaraknya tidak begitu terlalu jaih. Kalau tidak macet, mungkin 15 menitan mereka sudah sampai di pasar itu.
Selama di dalam angkot, Inu terus memperhatikan Dafa yang duduk berhadapan dengannya. Tadinya Dafa duduk di sebelahnya, tapi gak tahu kenapa, Dafa tiba-tiba pindah.
Kaos yang dipakai Dafa bukanlah kaos mahal miliknya. Tapi kaos itu adalah kaos Inu yang sebenarnya masih muat, namun sudah agak pudar warna putihnya dan melar di bagian lehernya.
Sandal yang dipakai Dafa pun cuma sandal jepit yang dibelinya, di warung depan kosan. Padahal Inu tahu koleksi sandal dan sepatu Dafa itu, mahal-mahal harganya.
"Kita udah sampai, Pak..!"
Inu terhenyak. Apakah sebegitu lamanya ia melamun, sampai-sampai tidak sadar kalau angkot yang mereka tumpangi sudah berhenti persis di depan sebuah pasar induk?
Bau amis, busuk, dan lainnya langsung menyergap indera penciuman Inu. Dulu ia dan bapaknya di kampung, hampir setiap pagi ke pasar untuk menjual hasil kebun. Tapi pasar di kampung sangat berbeda dengan kondisi pasar di ibu kota ini.
"Ayo Pak Inu, cepetan..!!" Dafa setengah menarik tangan Inu.
Inu tak bisa berkata apa-apa. Dafa memiliki bunda yang sangat kaya raya. Dia juga masih mempunyai ayah dan nenek, yang merupakan pengusaha sukses dan kaya di negeri ini.
Tapi kenapa anak itu harus capek-capek melakukan hal ini semua?
Bukankah, ia tinggal meminta saja pada mereka dan dalam sekejap keinginannya itu akan langsung dipenuhi?
"Ayamnya lagi mahal Mas, dari peternakkannya.." Ujar si bapak penjual ayam potong.
"Ahh si bapak mah gimana?! Kamarin aja saya beli masih tiga puluh lima ribu. Kok sekarang, sampai empat puluh?"
"Saya kasih tiga delapan deh, buat langganan..."
"Ahh masih mahal. Makasih deh, Pak.."
"Ehh Mas, tiga enam deh -- mau ambil berapa nih?"
Dafa membuka selembar kertas catatan yang dilipatnya. Mulutnya berkomat-kamit seperti sedang melapal mantra. Inu sampai tersenyum geli melihatnya.
"Aku mau 50 ekor, pak.."
"Tapi kayaknya campur ya, Mas. Ada yang sedang sama besar.."
"Tuh kan si Bapak...!" Dafa memelotot kesal. "Ini uangnya. Nanti aku ambil ya.."
"Beres, Mas.."
Inu benar-benar takjub sekaligus kagum. Bukankah Dafa itu terkurung di dalam rumahnya sendiri selama 10 tahun, dan tanpa pernah melihat dunia luar apalagi sampai berinteraksi dengan orang lain.
__ADS_1
Tapi yang ia lihat saat ini, Dafa yang sama sekali tidak merasa canggung apalagi segan kepada para pedagang yang umurnya jelas berbeda jauh, darinya.
Menawar dengan kata-katanya yang polos dan ceplas ceplos. Tanpa pernah takut perkataannya itu menyinggung si penjual.
"Kak, belanjaannya mau aku bawain?"
Dahi Dafa berkerut saat melihat dua bocah kecil itu berbicara dengan wajah lusuh dan lelahnya.
"Arifnya mana?"
"Mas Arif lagi sakit, Kak. Jadinya gak bisa ke pasar. Kami yang menggantikannya."
"Kalian siapanya Arif?"
"Aku adiknya Mas Arif -- Yusron. Dan ini temanku."
Dafa pun memberikan sebagian kantong belanjaannya kepada kedua bocah yang umurnya masih 7 tahunan itu.
Sebuah angkot merah langsung membunyikan klakson dan berhenti di depan Dafa. Rupanya angkot itu sudah menjadi langganannya tiap kali Dafa habis berbelanja dalam jumlah besar di pasar itu.
"Ini buat kalian beli makan ya. Sama beliin obat buat Arif."
"Banyak banget, Kak!!?"
"Segitu kok dibilang banyak. Sudah ya, aku pulang dulu. Terima kasih untuk bantuannya.."
"Terima kasih juga, Kak Dafa..!!" Jawab kedua bocah itu kompak.
...##### ...
"Benar yang ini kosannya Pak Inu?" Tanya Stevie Wallerima pada kelima remaja yang ikut dalam mobilnya itu.
"Aku coba tanya sama ---" Kalimat Eka terputus seketika ketika melihat satu sosok yang baru saja keluar sambil membawa satu dus besar menuju pos kecil yang berada persis di dekat pintu pagar hitam setinggi dua meter itu.
"Gak perlu tanya kan --" Ucap Julian dengan nada meledek.
Mereka pun turun dari dalam mobil, dan langsung menuju pos kecil itu. Sesosok pria paruh baya langsung menyambut dan menanyakan maksud dan kedatangan mereka.
"Ohhh kalau Pak Inu belum pulang. Tapi kalau Mas Dafa ada.." Jelas Pak Usman sambil membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan mereka masuk.
"Itu apaan, Pak?" Tanya Eka penasaran.
"Oalaahh, ini Mas Dafa minta saya memberikan pada tukang sampah sama pemulung yang sering lewat di sekitaran sini."
Pak Usman mengangguk sambil memberikan satu kotak nasi yang ternyata cukup berat isinya.
Begitu dibuka, Stevie Wallerima cuma bisa diam tertegun melihat isinya.
"Kayaknya enak-enak ya makanannya.." Celoteh Gabriel.
"Mas Dafa itu baik sekali, orangnya." Pak Usman mulai berbicara lagi. "Setiap kali habis dapet borongan nasi kotak, pasti Mas Dafa selalu bagi-bagi. Kalau bukan ke orang-orang yang saya tadi bilang, Mas Dafa biasanya selalu ngirim ke panti asuhan di depan jalan sana.."
Stevie Wallerima kembali menutup dus nasi itu. "Dafanya ada kan, Pak?"
"Ada, Bu. Mari saya antarkan.."
Saat mereka semua memasuki bagian dalam kosan yang dimana lorong utama yang langsung menuju ke ruang makan dan dapur, mereka semua melihat beberapa orang yang terlihat sedang menumpuk dus kotak nasi lalu mengikatnya dengan tali plastik.
Dan ada juga yang sedang membawa piring dan baskom kotor menuju dapur belakang. Serta ada pula yang terlihat sedang memeriksa keseluruhan dus kotak nasi, yang berjumlah dua ratusan kotak itu.
"Mas Dafanya mana?" Tanya Pak Usman.
Namun sebelum pertanyaan itu terjawab, sosok Dafa muncul dari toilet belakang. Dengan wajah mengkilat berminyak dan lusuh sekali penampilannya.
"Kalian?!"
"Hai, Dafa...!" Tukas Tita riang.
"Lagi repot banget ya?" Sheila menimpali.
"Iya nih. Sampai-sampai aku gak sekolah. Sebentar ya, aku mau sholat ashar dulu sekalian mandi. Mbak, tolong buatin minum untuk mereka ya.."
"Tidak usah merepotkan, Dafa.." Kata Stevie Wallerima dengan perasaan campur aduk melihat penampilan anak laki-laki itu.
"Gak merepotkan kok, Nenek Stevie.." Jawab Dafa dengan senyum yang tak pernah menghilang dari wajahnya. "Kalian udah makan belum? Makan sekalian ya --- Nenek Stevie sama Paman Derrian juga ya.."
Kelima sahabat itu saling bertukar tatapan. Sebenarnya mereka itu sangat lapar dan tidak bisa untuk mengatakan tidak enak atas hidangan-hidangan yang kini tersaji di atas meja makan, di hadapan mereka.
"Silahkan duduk, Bu.." Kata seorang wanita paruh baya sambil menarik salah satu kursi makan untuk Stevie Wallerima.
"Terima kasih." Stevie Wallerima membalas dengan senyumannya.
"Mas sama mbaknya pada mau makan sekarang?" Tanya wanita itu lagi.
__ADS_1
"Hmm.." Eka menoleh pada teman-temannya.
"Kalau Dafa sendiri sudah makan, bu?" Tanya Sheila balik.
"Mas Dafa kalau lagi banyak kerjaan begini suka lupa makan. Padahal semalaman dia itu sampai gak tidur..." ujar wanita lainnya yang terlihat lebih muda.
Stevie Wallerima merasa sesak mendengarnya. Dia tahu bahwa melakukan pekerjaan sepele ini tidaklah seberapa hasilnya. Dan seandainya saja Dafa mau menerima beasiswa penuh yang ditawarkannya pada waktu itu.
"Kalian gak sama Pak Inu?" Dafa sudah muncul lagi. Namun teman-temannya, Stevie Wallerima dan Derrian malah menatapnya dengan tatapan terbelalak.
"Ini bajunya Pak Inu. Katanya sih udah gak muat. Mau dibuang gitu. Kan sayang banget padahal masih bagus. Jadinya aku pakai aja.."
"Dafa, semuanya sudah siap?" Ibu kos datang dengan tergesa. "Ehh ada tamu rupanya.."
"Semua udah beres, da siap diangkut, bu.."
Ibu kos pun menyuruh anak buahnya untuk mengangkut dus kotak nasi itu ke dalam mobil.
"Ini sisa kekurangannya ya, Fa. Ibu makasih banget loh sama kau.."
"Hihiii, aku juga makasih ya Bu Kosan yang baik.."
Pesanan borongan hari itupun akhirnya selesai juga. Sungguh hari yang sangat panjang dan melelahkan bagi Dafa dan keenam orang yang turut membantunya.
Setelahnya Dafa pun memberikan bayaran pada keenam orang itu. Dia juga memberikan masing-masing sekilo gula dan juga minyak goreng kemasan ukuran dua liter.
"Selesai juga deh..."
"Capek, Dafa..?" Tanya Stevie Wallerima.
Dafa menggeleng lalu mengangguk. "Cuma sedikit aja kok, Nenek Stevie.." ujarnya riang. Dia pun bangkit menuju kulkas. "Kalian mau es buah? Tadi pagi aku bikin, nih.."
"Wahhh segar banget keliatannya ya..." Tukas Tita antusias.
"Aku aja yang ambilin gelasnya, Fa.." Kata Sheila seraya mengambil gelas pada rak piring di dekat pintu perbatasan antara ruang makan dapur belakang.
Mereka pun menikmati es buah dingin dan segar buatan Dafa, yang tidak ada duanya itu.
Mengobrol ringan, membicarakan banyak hal, hingga tak terasa hari sudah mau menjelang maghrib.
"Ibu Stevie? Anak-anak?" Inu muncul tak menyangka kalau dia akan melihat orang-orang itu di kos-kosannya.
"Pak Inu habis beli apa?" Dafa langsung melontarkan pertanyaan itu.
"Ehmm --- ini ---" Inu kelihatan kikuk. "Saya membelikan ini untukmu.."
"Untukku?" Dahi Dafa berkerut. Ia membuka tas kertas yang disodorkan Inu padanya. "Kaos?" Ia menatap Inu dengan tatapan menyelidik. "Pak Inu membelikan ini untukku?"
"Ehhhmm -- iya, Fa. Kebetulan saya ---"
"Pak Inu sebetulnya punya uang darimana?!" Pertanyaan Dafa itu bukan hanya menghentak kelima teman dan Stevie Wallerima. Tapi juga beberapa penghuni kos lain yang sudah berseliweran di dekat mereka.
"Itu --- saya --- ada pekerjaan sampingan.."
"Kerja apa?" Dafa duduk dan mendorong tas kertas itu ke tengah-tengah meja.
"Kerja ---" Inu menelan ludah. Sejujurnya ia gugup sekali karena ada banyak pasang mata yang kini memperhatikannya.
"Satu kaos ini harganya Tiga ratus ribu. Belum tas ransel yang kemarin Pak Inu belikan untukku dari bazar malam, Pak Inu pasti bohong kan?!" Suara Dafa meninggi.
Seketika suasana riuh para penghuni kosan lainnya, mendadak tak terdengar.
Dafa pun bangkit dari duduknya. Menghampiri Inu lalu merogoh saku celananya. "Ini juga! Pak Inu bisa beli hape mahal ini darimana? Terus jam tangan itu juga!"
"Itu --- saya --- ha --- diah.." Suara Inu nyaris tak terdengar.
"Hadiah?!" Dafa membentak. "Dari bunda atau Om Danu?!"
Mata Inu membelalak. "Bukan, Dafa! Saya berani bersumpah kalau semua ini bukan dari mereka.."
Dafa masih terus menatap Inu lekat-lekat.
"Aku enggak tahu apa yang sedang direncanakan Pak Inu sama Om Danu.."
"Dafa ---"
"Tapi Pak Inu harus ingat, aku paling tidak suka dengan orang yang suka berbohong.."
"Dafa, saya..."
"Pak Inu tidak usah cemas, karena nanti --- saat uangku sudah terkumpul banyak --- aku akan pergi dari sini. Dan aku --- takkan pernah menganggu dan merepotkan kehidupan Pak Inu lagi.."
'Ingatlah Inu, bahwa tidak akan ada lagi pertemuan setelahnya. Karena perpisahan itu, amatlah pahit rasanya...'
__ADS_1
...##### ...