
Sebuah pemandangan mengejutkan terjadi di SMK Ellite Rovario. Bukan cuma para pekerja yang tampak berlalu lalang di setiap sudut sekolah itu. Tapi juga kendaraan berat dan besar yang keluar masuk halaman sekolah, sambil menurunkan bahan-bahan bangunan.
Para siswa dan guru sangat terkejut tentunya. Apalagi saat mereka ingin memasuki sekolah mereka sendiri, mereka harus melewati pintu gerbang sekolah yang dijaga ketat oleh empat pria bertubuh tinggi besar.
"Ada apa ini sebenarnya, Bu Nuriyanti?" Tanya Bu Fatma.
"Siapa orang-orang itu? Apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan?"
Bu Nuriyanti mengunci mulutnya rapat-rapat. Sebab ia sendiri pun tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekolahnya ini.
Tak berapa lama Inu pun tiba. Namun kelihatannya seperti ada yang tidak beres dengan Inu dan Dafa pagi ini.
"Tunggu Dafa, saya belum selesai bicara!" Inu bahkan nyaris menjatuhkan motor sport mahalnya itu demi memegangi tangan Dafa.
"Lepasin!!" Dafa berteriak dengan mata memelotot.
Inu pun kelihatannya tak main-main. Ia makin menguatkan cengkeramannya pada lengan Dafa.
"Kalau Pak Inu tidak suka, silahkan keluar dari sekolah ini!"
Inu tersentak bukan main. Terlebih dengan ekspresi Dafa yang seperti itu.
"Dafa..." Bu Nuriyanti memegang bahunya dari belakang.
Dafa menoleh. Ia mengedarkan pandangannya pada teman-teman dan guru-gurunya yang lain.
"SIAPAPUN YANG TIDAK SUKA, SILAHKAN KELUAR DARI SEKOLAHKU INI!!"
"Dafa.." Eka yang biasanya selalu ceria itupun tampak berbeda sekali saat melihat ekspresi Dafa.
"INI ADALAH SEKOLAHKU! TIDAK AKAN KUBIARKAN SIAPAPUN BERBUAT SEENAKNYA PADA SEKOLAH INI!!"
"Dafa, kami semua tentu akan selalu mendukungmu. Hanya saja ---"
Dafa menepis tangan Inu. Dia memperlihatkan ekspresi jijik pada sosok wali kelasnya itu.
"Baguslah kalau Bu Nuriyanti mengerti." potongnya dengan tegas. "Pak Bambang..!!" Dafa memanggil seorang pria dengan helm kuning dan sepatu bootsnya itu.
"Ada apa, Mas Dafa?"
"Tutup gerbang sekolah itu. Dan jangan pernah siapapun selain dari murid dan para pengajar di sekolah ini -- masuk ke dalam!"
"Dafa.." Inu nyaris kehabisan kata-kata.
"Meskipun mereka memaksa, jangan pernah Pak Bambang biarkan mereka masuk! Kalau perlu usir dengan cara kasar!"
"Dafa!!"
"JANGAN PERNAH MEMBENTAKKU!!" Suara Dafa melengking. Matanya pun memelotot pada Inu. "KAU TIDAK ADA HAK MELARANGKU!!"
"Da --"
"Pak Inu.." Bu Fatma meraih lengan rekannya itu. Lalu ia membawanya menjauh dari Dafa. "Biarkan saja dulu ia melakukan apapun.."
"PERGI KAU SETAN..!!"
Bu Fatma dan Inu lantas menoleh kembali. Keduanya mendapati Dafa tengah melempar batu ke arah Kinno dan teman-temannya yang tengah memperhatikannya dari sisi lainnya.
"Pak Bambang!"
"Saya, Mas..."
"Aku gak mau tahu, pokoknya hari ini juga -- Pak Bambang harus membangun lagi tembok pembatas ini! Kalau perlu sampai tinggi sekali. Supaya aku tidak bisa melihat wajah orang-orang brengsek itu!"
Siapapun yang melihat perubahan Dafa pagi itu, tampaknya tak akan percaya. Sosok yang biasanya selalu tersenyum hangat pada siapapun yang dijumpai, mendadak sirna bak hilang ditelan bumi.
Nada suaranya kini terdengar tegas, lugas, dan ketus. Begitu juga dengan raut wajahnya yang kini terlihat sangat dingin dan tak bersahabat.
Jam pelajaran pertama dan kedua sudah berlalu. Jam istirahat pun sudah habis sejak 10 menit yang lalu. Dan Dafa tak terlihat menghabiskan waktu istirahatnya itu dengan teman-temannya.
Ia malah terlihat duduk menyendiri di bangku taman sekolah. Dan ketika ada salah satu temannya mendatanginya, ia akan langsung pergi menjauh tanpa mengatakan apapun.
Pelajaran ketiga ini diisi oleh Bu Fatma. Setiap siswa kelihatan begitu antusias, ketika Bu Fatma mengatakan kalau akan ada surprise di setiap jam praktek masak nantinya.
Namun di saat seperti itu, sesuatu tiba-tiba terjadi. Sesuatu yang tentunya sangat menggemparkan, hingga membuat seisi kelas melemparkan pandangannya keluar kelas, dan guru-guru yang sedang mengajar pun sampai keluar kelas.
Tidak seperti teman-temannya yang lain, yang kelihatan begitu penasaran sekali dengan siapa sosok yang sedang membunyikan klakson mobilnya sambil berteriak-teriak itu -- Dafa kelihatan tenang sekali. Dia tetap mencatat segala materi yang baru saja dijelaskan oleh Bu Fatma.
Bu Nuriyanti dan Pak Inu datang dengan tergopoh.
"Jadi itu bundanya Dafa?!" Bu Fatma terkejut.
"Kalau begitu biar saya yang akan membujuknya.." Ucap Inu.
Pria dengan potongan rambut terbelah pinggir dan agak klimis itu, mendekati Dafa dengan perasaan gugup.
"Dafa --"
"Dia bukan bundaku!" Sahut Dafa tanpa menoleh. Dan tentu pernyataannya itu membuat teman-teman dan gurunya terhenyak. "Aku tidak punya orang tua memalukan seperti dia!"
"Dafa.." Bu Nuriyanti pun ikut turun tangan. Diraihnya tangan Dafa yang dingin dan bergemetar itu. "Apa Dafa tahu, bagaimana perjuangan bunda pada saat sedang mengandung Dafa? Lalu proses melahirkan Dafa ke dunia ini -- dan --" Air mata Bu Nuriyanti mengalir perlahan. "Bagaimana perjuangan bunda selama ini, dalam merawat dan membesarkanmu?"
Dafa mengerjap. Ekspresinya pun datar sekali. "Aku tidak pernah memintanya."
Deg...!!
"Aku tidak pernah meminta bunda untuk melahirkanku ke dunia ini. Jadi jangan salahkan aku."
"Dafa..." Bu Nuriyanti makin menguatkan genggaman tangannya. "Tapi Dafa sayang kan, sama bunda?"
Dafa menggeleng dengan wajah datar dan polosnya.
"Aku paling tidak suka dengan orang pembohong. Dan aku tidak akan pernah menemuinya sampai aku mati nanti.."
'BUKA PINTUNYA...!! SAYA INI BUNDANYA DAFA!!! BIARKAN SAYA LEWAT DAN MENEMUI ANAK SAYA...!!'
Dafa menarik tangannya. Menutup buku pelajarannya dengan tatapan lesu.
"Dafa.."
"Kalau kau mau, saya bisa menemani.." Ujar Inu pelan.
Dafa menatap guru dan teman-temannya. "Keluargaku disini cuma kalian.." Katanya dengan suara sedikt goyah.
"Dafa.."
"Tapi --- kalau kalian tidak mau aku disini, aku bisa pergi..."
"Dafa..." Sheila bicara meski sebenarnya ia tak lebih kuat dari guru-gurunya itu. "Apapun dan bagaimanapun juga -- perempuan yang kini tengah ada di depan gerbang dan memaksa untuk masuk itu, adalah bundamu.." Sheila menarik nafas dalam-dalam. "Dan kami semua disini, berjanji akan terus melindungimu.."
"Kau bohong.."
__ADS_1
Sheila terhenyak bukan main saat Dafa menjawabnya dengan singkat, lugas dan tanpa ekpresi.
DIIINNNN...!! DUUUEENNGGG...!!
Semua mata kontan menoleh ke arah luar. Suara barusan itu sungguh amat keras dan mengejutkan.
"Bu Nuriyanti gawat!! Bu Anindita menabrakkan mobilnya ke pintu gerbang!!" Teriak seorang guru dari muka pintu.
Dafa sontak berdiri sambil menutup kedua telinganya. Lalu ia masuk ke dalam sebuah lemari tua yang ada di sudut belakang kelasnya.
"Aku gak mau pulang! Aku mau ikut ayah sama Kak Sam aja... Aku gak mau pulang...!!! ARRGGGHHHH....!!!"
Suasana kelas menjadi semakin hening dan menegangkan. Terlebih saat Dafa baru saja berteriak, dari dalam lemari dengan sangat keras sekali.
Tok.. Tok..
"Dafa..."
"AKU GAK MAU PULANG...!! AKU GAK MAU PULANGGG....!!!"
Bu Nuriyanti benar-benar bingung. Dia dan rekan-rekannya tak tahu lagi harus melakukan apa untuk bisa membujuk anak muridnya itu supaya mau keluar dari dalam lemari itu.
"BERISIKKK...!! JANGAN GANGGU AKU...!!"
Dafa berteriak lagi. Padahal tak ada satupun dari teman maupun gurunya yang bersuara.
Menit pun berganti. Anindita masih tetap berusaha keras untuk bisa menerobos masuk ke dalam halaman SMK Ellite Rovario.
Sedang Dafa masih terus menggumam tidak jelas dari dalam lemari.
Tok.. Tok..
Telinga Dafa bergerak-gerak. Bola matanya bergulir tak beraturan.
"Ada dua anak kelinci menyeberangi sungai ~~ hap ~~ hap ~~ melompat riang dengan lincahnya..."
Kreeiiikkk...
Pintu lemari itu terbuka. Dafa muncul dengan berlinangan air mata.
"Kak Sam..."
Sam mengulas senyum. "Hai adik kecilku.." Kata Sam sambil memegang kepala Dafa.
"Hiks --- Kak Sam masih ingat lagu itu?"
Sam mengangguk. "Bagaimana aku bisa lupa, lagu yang kita bikin berdua saat itu, Dafa.."
Senyum Dafa sudah kembali. "Aku masih punya tulisannya di rumah loh, Kak Sam.."
"Oh ya..? Bagaimana kalau nanti kita ambil bersama?"
Dafa menggeleng. "Aku gak mau pulang ke rumah bunda lagi. Soalnya nanti aku ---" Dafa tiba-tiba diam mematung. Dia terus diam meskipun Sam terus memanggil dan mengguncang tubuhnya.
"Dafa..!"
Dafa tersadar juga. Namun dia malah menepis tangan Sam dengan kasar sekali. Dan tanpa mengatakan apapun, dia keluar dari kelasnya. Menuju ke arah gerbang depan sekolahnya.
Tiiinnn....!!
"BIARKAN AKU MASUK ATAU KUPANGGIL POLISI BIAR KALIAN SEMUA MEMBUSUK DI PENJARA!!"
Sementara itu Anggita Suryatama, Ardiansyah dan Trinity, tampak memperhatikannya dengan tatapan miris dari jarak beberapa meter.
Sekitar sepuluh menit yang lalu, Sam naik dengan memanjat pagar. Dia nekat melakukannya karena tahu adiknya itu sedang mengurung diri di dalam lemari yang sempit dan tak berlubang angin itu.
Sreekkss..!
Selembar seng bergeser membuat celah tak seberapa besar. Dan disitulah sosok Dafa muncul dengan ekspresi wajah datarnya.
"Dafa..." Anindita agaknya terkejut dengan sosok yang muncul pada celah di hadapannya itu. Ia terdiam sejenak, sebelum akhirnya emosinya kembali memuncak. "Dafa, buka pintunya ya, sayang...! Bunda boleh ya, masuk..."
Dafa tak meresponnya sedikitpun. Ia tetap saja diam bak patung yang terpahat sempurna.
"Bunda akan menjelaskan semuanya, sayang. Bunda masuk ya..."
Tak sedikit teman-teman dan guru-gurunya yang memperhatikan Dafa dari belakangnya.
"Buka ya, sayang..."
Pak Bambang dan anak buahnya lantas menoleh pada Dafa. Mereka seperti ingin meminta kepastian apakah Anindita akan dibolehkan masuk atau tidak.
Anindita masuk ke dalam mobilnya. Lalu dia kembali dengan membawa boneka lumba-lumba kesayangan anaknya itu, dan juga sekotak cokelat mahal yang ia beli waktu sedang mengunjungi butiknya di Orchad Singapura.
"Lihat sayang, apa yang Bunda bawa.. Cokelat --- kau kan pernah bilang kalau kau suka cokelat ini..."
Bola mata Dafa bergulir pada kotak cokelat itu. Entah kenapa saat ini, dia malah mual dan tak bersemangat dengan makanan kesukaannya itu.
"Bunda juga sudah beli es krim banyak sekali di rumah. Nanti kita makan bersama sambil ---"
"Pergi..." Dafa memotong. Membuat Anindita menghentikan kalimatnya.
"Dafa, Bunda ---"
"PERGI KATAKU...!!" Teriakkan Dafa itu sungguh menyentak semua orang yang ada di dekatnya.
"Dafa.."
"Untuk apa lagi anda datang ke sekolah ini...?"
"Dafa..."
Dafa melihat jam tangannya. "Waktuku tidak banyak. Cepat katakan, apa maksud dan tujuan anda datang ke sekolahku ini?"
"Dafa...!!" Mata Anindita membulat. Seiring dengan suaranya yang meninggi.
"Kalau tujuan anda cuma untuk mengacau dan membuat keributan, maka jangan salahkan aku kalau mereka akan mengusir anda dengan sangat kasar..!"
"Dafa..."
"Jangan pegang aku!!" Dafa membentak Sam. Membuat pemuda berkulit putih itu mundur menjauh.
"Bunda tidak ingin membuat keributan, sayang. Bunda hanya ingin mengajakmu pulang.."
"Pulang kata anda?" Dafa tertawa sinis. "Apa anda akan mengurungku lagi dan membuat segudang kebohongan lagi, huh?!"
"Dafa, Bunda tidak pernah membohongimu! Apa yang Bunda lakukan selama ini semata-mata hanya untuk melindungimu!"
Dafa melirik lagi pada jam tangannya. "Waktuku tinggal 3 menit lagi.."
"Dafa, buka pintunya atau Bunda akan memaksa masuk!!"
__ADS_1
Dafa kembali terdiam. Matanya bergerak kesana kemari. Ekspresinya memperlihatkan sebuah kejenuhan dan keputusasaan.
"Kau harus sadar Dafa, bahwa selama ini kau telah diperalat oleh mereka!! Kau hanya dijadikan boneka oleh orang-orang licik itu!!"
Dafa kembali meradang. Ia mengambil sebongkah batu, dan melemparkannya pada seng yang ada di hadapannya.
"JANGAN PERNAH MENGHINA TEMAN-TEMAN DAN GURU-GURUKU!!"
Anindita syok bukan main. Sebab sedikit saja meleset, sudah pasti batu itu akan mengenai kepalanya.
"SEKARANG MEREKA ADALAH KELUARGAKU!! DAN CUMA MEREKA YANG AKU MILIKI!!"
"Dafa, Bunda..."
"ANDA BUKAN ORANG TUAKU!!! PERGIIII..!!"
Nafas Dafa tersengal. Tanpa sadar air matanya pun sudah mengalir membasahi pipinya yang kemerahan itu.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi -- hiks.."
"Da ---"
"Anindita.." Danu memegangi tangan isterinya itu. "Redakanlah emosimu. Lihatlah betapa tertekannya dia.."
"Selama ini -- hiks -- aku -- hiks -- cuma bisa membuat Bunda kerepotan..."
Anindita menggeleng. "Tidak, Dafa. Kau sama sekali tak pernah membuat Bunda kerepotan..."
"Aku cuma anak lemah dan cengeng yang tidak bisa melakukan apa-apa..."
"Dafa..." Anindita mencengkeram erat pilar besi gerbang sekolah. "Kau adalah anak Bunda yang paling hebat..!" Dan Anindita pun tak bisa membendung air matanya lagi.
"Aku tidak tahu apa-apa -- aku bodoh -- aku aneh -- dan aku --" Dafa lantas terdiam. Lalu ia menghapus air matanya. Mendekat pada Anindita. "Bunda ---" Dafa melempar seulas senyum.
"Dafa..."
"Maafin aku ya, kalau selama ini aku terlalu egois."
"Dafa..."
"Aku tahu kalau selama ini pasti Bunda kesepian kan? Dan karena itulah Bunda menikah sama Om Danu.."
"Dafa..."
"Selamat ya, Bunda. Semoga Bunda, Om Danu, dan Kinno bisa bahagia selamanya.."
"Dafa..."
"Oh ya Bunda, Bunda kan pernah bilang kalau aku ini cuma anak bodoh, lemah, cengeng, tidak bisa melakukan apapun, dan merepotkan --- bagaimana kalau mulai detik ini --- Bunda lupakan saja aku untuk selamanya..."
Anindita membelalak. Pun begitu dengan mantan suami dan mertuanya.
"Anggap saja, aku tidak pernah terlahir ke dunia ini. Atau --- anggap saja aku sudah meninggal denganĀ ayah dan Kak Sam dan Mas Rafa dalam kecelakaan itu.."
"Dafa, Bunda..."
"Aku tahu kok, kalau selama ini aku cuma bisa membuat Bunda malu, kan? Mangkanya Bunda terus mengurungku di dalam rumah. Aku kan cuma aib buat Bunda.."
"Dafa..."
Dafa menghela nafas pendek. "Om Danu, tolong jaga Bunda ya. Dan Bunda, selamat ya karena sekarang Kinno sudah jadi anak Bunda.." Dafa menancapkan pandangannya pada Kinno yang sedang berdiri dalam kebisuan. "Bunda pasti bahagia dan senang sekali, karena Kinno kan hebat, pintar dan tidak lemah seperti diriku. Benar begitu kan, Kinno? Hhiiihi..."
"Dafa, Bunda..." Anindita jatuh terduduk lemas.
"Sudah ya, soalnya aku mau belajar sekarang. Semoga Bunda -- Om Danu -- dan Kinno bahagia selalu. Dan satu lagi, tolong lupakan aku selamanya..."
Dafa pun berbalik dengan senyum menghiasi wajah polosnya itu.
Teman-teman, Sam, dan guru-gurunya memperhatikannya dengan perasaan bercampur aduk.
"Pak Inu..." Dafa kini berhenti persis di depan Inu. "Boleh aku meminta satu hal saja sama Pak Inu?"
Inu menelan ludah. Entah kenapa ia begitu gugup dan tak karuan sekali.
"Pak Inu mau gak jadi ayah angkatku?"
Inu tersentak. Wajahnya menegang bukan main.
"Sebab menurutku, cuma Pak Inu saja yang bisa menggantikan posisi ayah. Bukan Om Danu atau siapapun..."
"Dafa..." Suara Inu nyaris tak terdengar.
"Aku janji akan menuruti semua perintah Pak Inu. Aku juga janji akan selalu rajin belajar, supaya nilai-nilaiku bagus. Dan juga nanti aku akan giat bekerja, supaya aku bisa punya banyak uang dan kita bisa beli rumah baru..."
Inu merasa sesak luar biasa. Matanya pun kian memanas dan memerah.
"Aku gak apa-apa kok mesti setiap hari harus makan indomie dan tinggal di kosan Pak Inu yang sempit itu.."
Sebulir air mata Inu jatuh dari sudut matanya.
"Aku sudah menyelematkan sekolah ini. Aku sudah banyak memenangkan piala dan piagam. Dan aku juga sudah membuat sekolah ini dikenal dimana-mana.
Pak Inu mau yah jadi ayah tiriku. Aku mohon..."
"Dafa, saya.."
Ekspresi Dafa berubah murung kembali.
"Kenapa Pak Inu? Pak Inu gak mau, ya? Apa Pak Inu juga malu denganku? Karena aku ini aneh dan cengeng?"
"Pak Inu..." Bu Nuriyanti berucap pelan dari belakang.
"Sa -- ya..."
Dafa menghela nafas pendek. "Baiklah kalau memang Pak Inu tidak mau. Aku pun tidak akan memaksa."
"Dafa..." Inu refleks meraih tangan kurus dan pucat itu. "Saya..."
Dafa balik memegang tangan wali kelasnya itu. Lalu menyingkirkan perlahan.
"Beri aku sedikit waktu lagi ya Pak Inu. Nanti, kalau uangku sudah cukup, aku akan pergi jauh sekali. Jadi Pak Inu bisa hidup tenang kembali tanpa aku yang selalu merepotkan ini..."
"Dafa..."
Dari sudut kantin depan itulah, nenek tua itu berdiri mengamati dengan raut kesedihan mendalam. Dia mengetukkan tongkatnya sekali.
"Inilah yang kutakutkan. Mereka tidak bisa memenuhi janji yang telah mereka buat sendiri...
Sekecil apapun luka yang telah mereka torehkan, tidak akan bisa mengobatinya..."
...###### ...
__ADS_1