
"Dafaaa...!!" Eka berteriak nyaring sekali, sampai-sampai seluruh ibu-ibu yang sedang membantu Dafa mempacking makanan ke dalam dus, dibuat menoleh karena suaranya itu.
"Kok kalian sudah kesini? Kan janjiannya nanti habis ashar.."
"Mereka mau ikut membantu, Dafa.." Jawab Stevie Wallerima dengan seulas senyum lembutnya.
"Iya nih, Fa. Kita juga mau ikutan bantu.." Gabriel yang beragama kristen pun kelihatan sangat antusias sekali siang itu.
"Itu Kinno lagi ngapain?" Tanya Julian keheranan melihat Kinno yang sedang mendinginkan wajahnya di depan frezer kulkas.
"Panass!! Brengsek banget cuaca siang ini!!"
"Kinno..!!" Dafa membentak. Membuat Kinno menoleh seketika. "Kau mau puasanya batal?!"
"Hhehhee, maaf."
"Daripada mengeluh terus, mending bantuin aku, nih.."
"Capek aku, Fa. Nanti lagi kek.."
"Yaudah. Pulang aja gih, sana!"
Kinno menggeleng cepat. Bukan usaha yang mudah untuk bisa membuat dirinya bisa berada sedekat ini dengan Dafa. Dan ia tidak mau kalau Dafa sampai membencinya kembali.
"Dafa, Nenek ada sedikit uang untuk mereka."
"Yahh, Nenek Stevie.."
"Kok yah sih, Fa? Kau itu harusnya bersyukur dong, sebab Nenek Stevie mau ikut menyumbang untuk anak-anak itu." Ucap Sheila.
"Maaf ya, Nenek Stevie. Maksudku begini --- untuk sekarang ini, aku sudah buat amplop untuk masing-masing anak panti. Aku juga udah dapat uang dari teman-temanya Pak Inu, Ayah Ardiansyah, Nenek Anggita, Kak Sam, sama sumbangan teman-teman waktu itu juga.."
"Daddy dan bundaku juga loh, Fa.." Kinno menyambar.
"Iya. Mereka juga." Dafa memutar bola matanya. "Dan jumlahnya sudah sangat banyak sekali."
"Kan bisa kau simpan, Dafa.." Kata Julian.
"Benar, Dafa. Simpan saja. Siapa tahu anak-anak itu nanti membutuhkan."
"Tapi Nenek Stevie sudah banyak sekali memberi.."
"Dafa.." Stevie Wallerima setengah memaksa. "Terimalah."
"Yaudah deh, aku terima. Semoga Allah kasih umur panjang untuk Nenek Stevie. Supaya Nenek Stevie bisa lihat aku pas udah sukses nanti. Hhiihii..."
Waktu terus berjalan maju. Tanpa terasa adzan ashar pun sudah berkumandang. Dafa bergegas mandi dan menunaikan shalat ashar.
"Fa, menurut kau -- aku pakai baju koko yang putih atau yang merah?" Tanya Kinno.
Dafa memutar bola matanya. Dia jengkel sekali dengan Kinno. Sebab Kinno dan Inu sifatnya hampir sama. Melakukan apa-apa semuanya dengan lamban sekali.
"Tau ahh..! Kalau lama, aku tinggal!" Kata Dafa sambil menutup pintu kosan Inu.
Begitu tiba kembali di lantai bawah, semua teman-teman dan keluarganya juga tampak sudah siap dan rapih.
Nasi-nasi kotak dan kue-kue juga sudah diangkut ke dalam mobil blind van yang Dafa sewa dari tetangga sekitar kosan.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Inu yang sore itu tampak gagah sekali dengan balutan baju koko hitamnya itu.
__ADS_1
"Kau ikut dengan Nenek ya..." Pinta Anggita Suryatama dengan wajah memohon.
Dafa mengedarkan pandangannya. Tampak diantara orang-orang itu, ayah tirinya yang tampak segan sekali padanya.
"Pak Inu naik apa?"
"Mobilku dong pastinya.." Jawab Kinno yang akhirnya muncul juga dengan baju koko putihnya yang masih baru itu.
"Yang nyetir Pak Inu kan?"
"Emangnya kenapa kalau aku?"
"Pokoknya Pak Inu yang bawa..!"
"Kinno.." Danu bersuara juga.
"Hhhaahh..!! Iya deh! Nih kuncinya, Pak Inu!"
Rombongan itu pun memulai perjalanannya menuju panti asuhan tak bernama. Untungnya mendekati hari raya, jalanan di ibu kota ini cukup lengang. Jadi mereka bisa sampai di panti tak lebih dari satu jam lamanya.
"Oh ya, Fa. Kok kayaknya aku gak pernah lihat si Rafa sih.." Tanya Kinno di tengah perjalanan.
Dafa menatap ke arah luar. "Mas Rafa sibuk syuting sepertinya."
"Kalau aku boleh jujur nih ya Fa, aku lebih suka sama Kak Sam loh daripada Rafa."
"Hei, kenapa kau bisa-bisanya mengatakan itu?" Inu melirik dengan tatapan tajam.
"Dari awal aja aku tuh udah gak suka ngeliat wajahnya yang sombong dan angkuh itu.."
"Memangnya kau itu gak sombong dan angkuh?!" Dafa membalikkan kalimat itu pada Kinno. "Dasar kau aneh!"
"Tapi kan sekarang aku sudah berubah, Fa."
"Boleh juga! Biar aku bisa melindungi kau dari para penjahat dan orang-orang berbahaya!"
Lebih baik Dafa tidak menimpalinya lagi. Sebab kalau sudah bicara dengan Kinno, dia tahu pasti tidak akan pernah ada habisnya.
Jam 17.13, akhirnya mereka sampai juga di panti asuhan tak bernama itu. Bu Aini dan seluruh anak-anak panti, tampak sudah menunggu di teras depan dengan wajah bergembira sekali.
"KAK DAFAAAA..!!" Anak-anak itu berteriak seraya berlari menghambur pada Dafa.
"Pelan-pelan, anak-anak. Kasihan nanti Kak Dafa bisa jatuh.." Ujar Bu Aini pelan.
"Siapa yang puasanya sudah bolong?!!"
"GAK ADAA..!!" Jawab anak-anak itu kompak.
"Fa, ini kita turunin semuanya?" Tanya Sheila.
"Boleh. Kalian ikut bantu ya.."
"Asyikk...!!"
Dengan riang gembira, anak-anak panti itu membantu membawakan dus-dus makanan, kue, mainan, dan hadiah-hadiah yang memang sengaja dibawakan oleh Dafa.
"Aku mau buku gambar dong!!" Pekik Tanto.
"Aku dong, Tanto!! Kau kan kemarin sudah dapat!!" Uli tak mau kalah.
__ADS_1
"Anak-anak..." Bu Aini sampai kuwalahan melihat tingkah anak-anak panti itu.
"Ada donat bergambar!!" Ujar seorang anak panti histeris.
"Wahh banyak banget ya makanannya!! Aku sampai bingung mau makan duluan yang mana nih..."
Ruang tamu panti asuhan yang tidak terlalu lebar itu, harus muat menampung semua orang-orang itu. Anak-anak panti pun sampai harus duduk ke ruang makan bersama dengan kelima teman-teman sekolahnya Dafa.
"Teman-teman semua, aku punya kabar gembira untuk kalian.."
"Anak-anak tolong diam ya.." Bu Aini mengingatkan lagi.
Semua anak-anak panti itu pun terdiam seketika. Mereka semua kelihatan serius sekali memperhatikan Dafa.
"Besok lusa, kalian sudah bisa menempati rumah baru.."
"Rumah baru, Kak Dafa?!!" Tanto memekik.
"Apa itu artinya kami semua jadi pindah?!" Tanya Aisyah dengan mata membulat.
Dafa mengangguk. "Nenek Anggita dan Ayah Ardiansyah-lah yang sudah memberikan kalian tempat tinggal yang baru. Jadi nanti kalian tidak usah takut gelap lagi."
"Ada tv-nya gak, Kak Dafa?"
"Tentu saja ada, anak-anak.." Anggita Suryatama yang menjawab.
"Nah, nenek ini namanya Nenek Anggita Suryatama. Dan pria yang ada di sebelahnya namanya Ayah Ardiansyah. Lalu di sebelahnya itu namanya Kak Sam dan juga Tante Trinity."
"Kakak itu cakep ya, kayak artis!" Ujar seorang anak itu sambil menunjuk Sam.
"Gantengan Kak Kinno tahu!!" Aisyah sepertinya tak mau kalah.
"Anak-anak.." Bu Aini mengingatkan lagi
"Kalau wanita yang pakai kerudung merah itu adalah bundaku. Lalu di sebelahnya itu adalah Ayah Danu."
"Kak Dafa punya dua ayah ya?! Kerenn..!!" Pekik Adit polos.
"Adit..." Bu Aini tampak malu sekali.
"Kalau nenek ini, namanya Nenek Stevie. Nenek Stevie itu orang yang sangat baik padaku dan juga teman-temanku. Tanpa bantuan Nenek Stevie, mungkin aku tidak akan pernah bisa merasakan yang namanya naik pesawat.."
"Kau bisa saja, Dafa.." Stevie Wallerima tersenyum menanggapinya.
"Bu Aini --" Dafa menatap lekat-lekat wanita paruh baya berbadan bungkuk itu. "Mereka semua ini adalah keluargaku. Jika suatu saat nanti aku sudah tidak ada, jangan segan untuk meminta bantuan dari mereka.."
Seketika suasana menjadi lebih hening dan mencekam. Waktu pun seolah berhenti berputar.
Apa yang barusan dikatakan Dafa itu -- membuat mereka semua terhenyak.
"Kak Dafa memangnya mau pergi ya?" Suara polos Puteri memecah keheningan.
Dafa tersenyum lemah sambil mengangkat bahunya. "Aku juga tidak tahu, Puteri. Tapi aku tidak bisa menolak, ketika nenek tua itu harus kembali menjemputku.."
"Dafa..." Kinno menatap dalam-dalam sosok itu. Ia merasakan sesak teramat sangat.
"Pesanku, pokoknya kalian semua harus tetap rajin belajar, nurut sama Bu Aini, dan tidak boleh nakal. Oke!?"
"OKE, KAK DAFA!!"
__ADS_1
"Nanti, setelah kita buka puasa terus sholat maghrib bersama, kita coba baju baru kalian untuk lebaran besok.."
...##### ...