
Perlombaan memasak ini terdiri dari dua babak saja. Dimana pada babak pertama ini, setiap peserta dari masing-masing sekolah diharuskan membuat satu set menu hidangan yang terdiri dari makan pembuka, sup, makanan utama, sampai makanan penutup. Dan mereka harus membuat sebanyak 20 set, yang nantinya akan dicicipi oleh kedua puluh juri paling berkompeten di bidangnya itu.
Kompor-kompor mulai dinyalakan. Aroma wangi dari bahan-bahan yang dimasak pun sudah mulai menyebar ke seluruh penjuru stadion.
Tak peduli langit yang tadinya cerah, kini mendadak mendung, dengan angin dingin berhembus kencang menerpa para peserta.
Setiap ketua kelompok berteriak lantang, memberikan perintah pada tiap anak buahnya.
Ada yang bolak-balik mengambil bahan-bahan makanan pada wilayah khusus yang memang dikhususkan untuk meletakkan ratusan bahan makanan, dan tentunya dijaga ketat oleh enam panitia pengawas sekaligus.
Waktu yang terus berjalan maju, makin membakar dan memanaskan situasi yang ada di dalam arena perlombaan. Setiap peserta mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan terbaik mereka, demi membawa nama baik sekolah masing-masing.
Sebanyak 198 sekolah kejuruan dan perhotelan dari seluruh penjuru nusantara, mengikuti perlombaan memasak tahunan ini.
Dimana pada acara paling bergengsi ini, tidak hanya dihadiri oleh orang-orang biasa saja. Duta besar, tamu-tamu asing, kementerian pariwisata dan perwakilan istana pun turut hadir pada acara terbesar dan termegah di Sabtu pagi ini.
Mereka semua ingin menyaksikan bagaimana para siswa berbakat itu, menunjukkan kehebatan dan kebolehan mereka dalam mengolah bahan-bahan mentah, hingga menjadi sebuah hidangan bercita rasa tinggi.
Sementara itu di meja nomer 13, Julian tampak kualahan memberi arahan pada teman-temannya. Semua ini terjadi karena Dafa yang tiba-tiba saja diam mematung.
"Julian, ayamnya kalau sudah dicuci terus diapain?!!" Tanya Tita panik.
"Kau potong dadu, lalu kau kasih bumbu!!"
"Hah?!! Bumbunya apa aja, Julian?!!"
Julian benar-benar stres dan frustasi. Karena otaknya yang kosong, tiba-tiba harus berfikir keras, memikirkan menu-menu apa saja yang akan dibuat untuk dihidangkan kepada para dewan juri itu.
Sudah 35 menit berlalu, dan mereka masih melakukan pekerjaan sekedar mencuci daging dan sayuran. Sedangkan peserta sekolah lain, kelihatan sudah menyelesaikan satu jenis menu, dan bahkan kini sedang dalam tahap penyelesaiannya.
"Aku tidak bisa melakukannya, nenek..." Dafa menggumam pelan. Perlahan ia berjongkok sambil menutupi kedua telinganya. "Aku takut sekali.."
'Bangunlah cucuku..'
Dafa menegakkan kepalanya. "Nenek..."
'Inilah saatnya kau memperlihatkan siapa dirimu yang sesungguhnya...'
"Nenek dimana?! Nenek tolong bantu aku...! Bantu aku, nenek...!!"
'Dengarlah, Dafa --- bahwa Tuhan telah memberikan padamu sesuatu yang amat spesial -- yang tidak semua orang memilikinya..'
"Tapi aku tidak bisa, nenek..."
'Pejamkanlah matamu. Berdoalah pada-Nya. Dan lihatlah mereka yang berada di sekelilingmu. Ingatlah kalau kau tidak sedang berjuang sendiri --- selamat berjuang, cucuku. Hari-hari indah sudah menunggumu... Semoga kita bisa bertemu kembali...'
__ADS_1
"Nenek ---"
Priiittt...!!
"MEDISSS..!! MEDISSS..!!"
Seketika Dafa berdiri dari jongkoknya. Dia melihat salah satu temannya, Leon sedang ambruk tak sadarkan diri. Dengan wajah pucat sekali, serta tubuhnya yang bergemetar hebat.
Beberapa tim medis datang dengan membawa tandu. Dan saat itu juga Leon, dibawa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Dafa mendapati kini teman-temannya yang tersisa hanya tujuh orang saja, termasuk dirinya. Dan bahkan sejak awal mula perlombaan pun, mereka sudah kekurangan 3 anggota. Karena memang tidak ada satupun teman mereka yang mau ikut mewakili sekolah dalam perlombaan berskala nasional ini.
Dan kini, mereka harus kehilangan satu anggota tim mereka lagi.
"Kita tidak bisa melakukannya...!!" Tita tiba-tiba berteriak histeris dengan air mata berlinangan.
Sementara teman-temannya yang lain cuma diam dan tertunduk lesu.
"Aku menyerah..." Kata Julian sambil mencopot celemeknya. "Maafkan aku teman-teman..."
"Seharusnya kita kembali saja sejak awal..." Gabriel menimpali.
"Teman-teman.." Ujar Dafa lirih.
'Ingatlah selalu Dafa, bahwa Tuhan telah menganugerahkan padamu sebuah keajaiban. Dan sekaranglah waktunya untukmu memperlihatkan pada semua orang di dunia ini..!'
'Ayolah, Dafa...!! Yakinlah bahwa kau bisa melakukannya..!!'
WUZZZZ....!!!
Angin dingin bertiup kencang sekali. Namun untungnya tidak sampai menerbangkan dan merusak tenda juga segala perlatan memasak lainnya.
"Kita tidak akan pulang..."
Keenam remaja itu seketika menoleh pada Dafa. Mendapati temannya itu dengan raut wajah yang berbeda sekali dari sebelumnya.
Dafa menyetel waktu pada jam tangan biru muda yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Menyamakan dengan waktu yang dimiliki oleh panitia.
"Waktu kita yang tersisa cuma dua jam lebih lima menit saja. Itu artinya kita --- masih punya sedikit waktu.."
Dafa berkacak pinggang. Menatap wajah teman-temannya.
"Ketika aku kembali, kalian sudah harus membersihkan meja dan semua peralatannya!"
"Tapi, Dafa --"
__ADS_1
Dafa mengibaskan tangannya. Ia langsung mengambil dua keranjang sekaligus, dan bergegas menuju rak tempat penyimpanan bahan makanan, kemudian mengambil apa-apa saja dengan cepat sekali.
Julian dan Gabriel datang menyusul. Menawarkan bantuan untuk membawakan keranjangnya yang sudah terisi penuh oleh bahan makanan, hanya dalam waktu lima menit saja.
Sementara itu dari meja para dewan juri, kedua puluh orang ahli itu, agak terkejut juga dengan apa yang terjadi pada meja bernomer angka sial itu.
"Dia membereskan pekerjaan semua teman-temannya itu?! Apa dia sudah gila?!" Tukas Sicilia.
Stevie Wallerima menekan tombol interkom di hadapannya. Meminta pada panitia, agar menampilkan anak-anak dari SMK Ellite Rovario pada layar besar dekat panggung besar di sana itu.
"Teman-teman, meskipun saat ini kita cuma bertujuh, tapi kita pasti bisa menyelesaikan babak pertama ini."
Disanalah --- di layar besar itu, kembali Dafa dan teman-temannya muncul dengan sangat jelas sekali.
Membuat sebagian besar peserta, terpaksa menghentikan setiap pekerjaan mereka, dan melihat pada layar besar itu.
Termasuk Kinno yang sedang memasukkan satu persatu gelas tiramisu ke dalam lemari pendingin.
"Kalian tidak usah cemas. Karena dengan ini -- kalian semua akan kupinjamkan sebagian kekuatan yang kumiliki..."
Mata Kinno sontak membulat saat mendengar kalimat yang pernah ia dengar pada belasan tahun yang lalu itu.
'Kinno, karena kau itu orang yang sangat baik padaku, maka -- akan kuberikan sebagian kekuatanku padamu. Semoga kita berdua bisa sama-sama menjadi tukang masak yang hebat ya...!'
"William ---" Kinno terhenyak. Ingatannya akan sosok itu, kini telah kembali.
Hanya saja, kenapa wajah keduanya terlihat sangat berbeda sekali...?
Pikiran Kinno menerawang jauh. Wajah keduanya berbeda, ataukah dia saja yang tidak menyadarinya kalau sebenarnya...
"Dafa --- William --- apakah kalian adalah...."
"SMK ELLITE ROVARIO ADALAH YANG TERBAIK..!!"
"YEAAHHH...!!"
Kembali suara Dafa kembali terdengar melalui layar besar itu.
"SEKARANG KITA PERLIHATKAN KEPADA MEREKA SEMUA, SIAPA SEBENARNYA KITA INI...!!"
"Tidak mungkin..!!" Kinno jatuh terduduk. Wajahnya pun berubah pucat sekali. Teman-temannya dan bahkan Martin Luther yang duduk di kursi penonton pun sampai cemas dibuatnya.
"Kau kenapa, Kinno?!!"
"Kinno, kau baik-baik saja?!!"
__ADS_1
Kinno menelan ludah. Tubuhnya bergemetar kuat. Nyalinya pun menciut. "Jika dia memang William --- maka aku tidak akan bisa mengalahkannya... Tidak akan pernah bisa..."
...##### ...