GROWING

GROWING
14


__ADS_3

JREENNGGG...!!


Dafa langsung berlari ketika baru turun dari mobil yang dikemudikan oleh Pak Popo. Pagi ini sayangnya Danu tidak bisa mengantarkannya. Sebab Danu ada urusan di luar kota dengan Anindita.


"Whhooaaahh, rame banget ya! Kayak di pasar malam..!!" Tukasnya antusias.


Beberapa teman sekelasnya memanggilnya dengan semangat. Rupanya banyak juga dari teman-temannya, yang ikut serta dalam seleksi anggota baru tim memasak, pagi ini.


"Bajuku kebesaran nih. Jadinya aku kelihatan kayak pemadam kebakaran ya..?!" Ujar Dafa seperti biasanya. Penuh semangat, dan juga ekspresi polosnya.


"Dafa-Dafa, mana ada pemadam kebakaran, pakai bajunya putih-putih kayak begini.." Ujar salah satu temannya itu.


Semua siswa yang telah hadir dan ingin mengikuti tes seleksi itupun segera membentuk barisan untuk mengambil nomer urut, setelah meja pendaftaran di depan kitchen sekolah di buka.


Jika di SMA biasa, biasanya para murid cowok sangat antusias untuk masuk ke dalam tim inti basket, namun tidak dengan sekolah perhotelan milik Martin Luther ini.


Malahan para cowok yang banyak mendominasi antrian untuk ikut seleksi tim memasak, demi bisa menjadi anak buahnya Kinno.


"Kau buat apaan?"


"Aku buat kue sus, andalan ibuku."


"Kalau kau?"


"Aku sih brownies."


Dafa memperhatikan teman-temannya itu dengan wajah penuh antusias. Meski ia sendiri masih merahasiakan apa yang ada di dalam kotak bekal makanannya.


Tapi ia yakin sekali, kalau Pak Martin Luther dan semua guru-gurunya akan menyukainya, hasil karyanya.


Ia yakin sekali...!


Dafa mendapatkan nomer urut 118. Sepertinya dia baru akan kebagian saat tengah hari nanti. Tapi tak apalah, daripada dia mendapat nomer urut 300, misalnya?!


Tepat jam 7.25, Martin Luther memberikan sepatah dua patah kata sambutan untuk seluruh murid-muridnya, yang ikut serta pada penyeleksian pagi ini.


"Anak-anakku yang paling kucintai, untuk pagi ini --- sekolah kita juga kedatangan salah satu orang tamu khusus. Dia adalah teman, rekan, dan bahkan sudah kuanggap seperti anakku sendiri. Dan perlu kalian tahu, dia juga salah satu pencetus berdirinya sekolahan ini."


Dan saat pria berwajah asing itu menyusul Martin Luther ke depan, semua siswa membelalak dengan tatapan penuh takjub dan tak percaya.


"Anthony Grooberry..."


"Selamat pagi, kalian semuanya..." Sapa pria setinggi 186 senti, dengan sepasang mata biru jernihnya itu.


Semua siswa langsung memberikan tepuk tangan meriah sekali pada sosok itu. Mereka sungguh tak menyangkan kalau akan kedatangan sosok sepenting itu, pada acara penyeleksian pagi ini.


"Aduh, gawat nih!!"


"Iya, Pak Anthony itu kan terkenal sekali dengan lidahnya yang sangat sensitif.."


"Aku mundur aja, ah..."


"Memangnya dia siapa sih? Kok namanya lucu sekali, ya?" Tanya Dafa pada teman-temannya itu.


"Dafa, dia itu Anthony Groobery. Seorang chef dari Inggris, yang punya empat restoran berbintang lima di Jakarta, Bandung, dan Bali!"


"Kerenn banget ya!" Dafa berseru.


"Anak-anak semuanya ---" Anthony Grooberry kembali berbicara. "Ingatlah bahwa keberhasilan kalian, tidak ditentukan dalam tahap penyeleksian ini. Jadi, kalaupun kalian gagal -- masih banyak jalan lain untuk mencapai kesuksesan di luar sana."


"Selamat berjuang. Semoga kita bisa sama-sama terus berjuang membesarkan nama sekolah kita ini." Sambung Martin Luther, dan kemudian acara penyeleksian pun dimulai setelahnya.


Siswa kelas 11 mulai memanggil satu persatu peserta sesuai dengan nomer urut mereka. Sebanyak 5 peserta langsung memasuki kitchen, untuk selanjutnya diuji tentang hasil makanan yang telah mereka buat sendiri, dengan orang-orang paling berkompeten di sekolah itu tentunya.


Sementara itu di bawah tenda, Dafa duduk dengan gusar sekali. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam, dan memperlihatkan apa yang sudah dibuatnya dengan Mbok Parni dan Pak Popo, selama semalaman suntuk tadi.


Dengan senyum sumringah, sesekali ia mengintip kotak bekal makanannya itu.


"Dafa kau buat apa sih?" Tanya salah satu temannya.


"Rahasia dong.."


"Kita semua udah kasih tahu loh, masa cuma kau saja yang masih merahasiakannya?"


"Aku ini pokoknya bikinnya susah payah banget deh! Lihat aja nih, sampai-sampai jari tanganku keiris..."


Meski Dafa menceritakan semuanya dengan detail dan terperinci, tapi ia tetap saja merahasiakan hasil karyanya, dari teman-temannya.


Sedikit demi sedikit, langkah Dafa terus bergeser maju ke barisan terdepan. Dan hanya berselang beberapa menit, sebelum adzan dzuhur berkumandang ia sudah duduk di kursi panjang di depan kitchen. Itu artinya, cuma selangkah lagi dia akan masuk ke dalam, dan memperlihatkan hasil usaha dan jerih payahnya itu.


"Sedang apa kau disini?"

__ADS_1


Dafa menegakkan kepalanya. Ia melempar senyum pada siswa berwajah oriental yang hampir tak pernah tersenyum di dalam lingkungan sekolahnya ini.


"Tentu saja aku mau ikut seleksi, Kinno." Sahut Dafa riang. "Aku kan ingin menjadi sepertimu. Menjadi koki yang sangat hebat, supaya aku bisa berkeliling dunia.."


"Apa kau bilang, Dafa? Kau ingin bisa menjadi seperti diriku?"


Seketika suasana riuh di sekitar mereka, berubah menjadi keheningan yang mencekam. Hanya suara adzan dari masjid di seberang sekolah mereka lah yang terdengar bergemuruh hingga radius beberapa ratus meter.


"Kau jangan pernah mimpi, Dafa." Ucap Kinno ketus.


"Kenapa aku tidak boleh bermimpi, Kinno?" Dafa masih saja tetap tersenyum menanggapinya. "Karena aku sangat mengagumimu, dan aku ingin menjadi koki yang hebat juga."


Syuutt...!


Kinno merebut kotak bekal makan Dafa, "Aku akan lihat, seberapa hebatnya dirimu sampai-sampai ingin --" Seketika Kinno menghentikan kalimatnya. Ia nyaris tak berkedip saat melihat isi dari kotak bekal makan milik Dafa itu. "Ini ---"


Reaksi Kinno itu, tentu saja membuat seluruh siswa yang ada di sekitarnya, menjadi sangat penasaran sekali. Mereka bahkan sampai bergerak maju, demi bisa melihat apa yang sebenarnya ada di dalam kotak plastik berwarna biru muda itu.


"Kau ingin menyajikan sampah menjijikkan ini, kepada Pak Martin Luther dan Pak Anthony?"


Senyum Dafa perlahan mulai menghilang. Dadanya terasa sesak, namun belum sampai pada tahap menyesakkan.


"Itu bukan sampah, Kinno. Aku sendiri yang membuatnya. Sampai-sampai aku tidak tidur.." Suara Dafa terdengar pelan dan lemah sekali.


Kinno memperlihatkan isi kotak bekal itu kepada siswa lainnya. "SEKARANG KALIAN SEMUA LIHAT!! APA MUNGKIN, ORANG BODOH SEPERTI DIA ITU -- BISA MASUK KE DALAM TIM-KU?!!"


'Itu memang terlihat menjijikkan. Tapi aku rasa Kinno sangat keterlaluan.'


"JIKA KALIAN MENJADI JURI LOMBA MEMASAK, APAKAH KALIAN AKAN MENCICIPI YANG BENTUKNYA LEBIH MENJIJIKKAN DARI KOTORAN BINATANG INI?!!"


"Kinno, itu kan kue-ku.."


"Ya. Ini memang kue menjijikkan buatanmu. Dan disinilah --- seharusnya sampah itu berada..!" Tanpa perasaan berat dan bersalah sedikitpun, Kinno menjatuhkan kotak bekal makan itu ke dalam tempat sampah di depan kitchen. "Aku jelas tidak akan membiarkan Pak Martin Luther sampai sakit dan muntah-muntah, melihat makan yang penampilannya bahkan lebih buruk dari muntahan anjing di rumahku.."


"Aku sudah membuatnya dengan susah payah, Kinno..." Suara Dafa bergetar hebat. "Aku sampai teriris pisau dan terkena oven yang panas.."


"Dan satu lagi, jangan pernah kau bermimpi untuk bisa menjadi sepertiku. Karena sampai kapanpun, tidak ada satu orang pun di sekolah ini, dan sekolah manapun, yang bisa menyaingiku.."


"Kenapa kau sangat jahat padaku...?"


Kinno pun berbalik, dan berjalan kembali memasuki kitchen. "Diskualifikasi dia!" Ucapnya pada keempat temannya yang bertugas menjaga meja pendaftaran.


"Memangnya aku salah apa, Kinno...?" Sebulir air mata mulai jatuh membasahi pipinya yang kemerahan. "Apakah aku seburuk itu di matamu?"


Kaca jendela yang persis bersebelahan dengan pintu utama kitchen itu pecah. Kinno yang hanya berjarak beberapa meter dari jendela itupun, terkejut bukan main.


"KENAPA KAU JAHAT SEKALI PADAKU, KINNO?!" Dan mereka semua dikejutkan oleh teriakkan emosional dari sosok seorang siswa bermata biru, yang belum seberapa lama menginjakkan kaki di sekolah mereka ini.


Kinno pun berbalik. Bersamaan dengan keluarnya seluruh orang yang ada di dalam kitchen.


"KAU ADALAH ORANG PALING JAHAT YANG PERNAH KUTEMUI DI DUNIA INI!!" Sekali lagi Dafa berteriak. Dengan air mata yang tak bisa ia bendung lagi.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" Tanya Martin Luther.


"Aku ---"


"Kinno sudah membuang kotak bekal milik Dafa ke tempat sampah, Pak Martin.." Jawab seorang siswi dengan suara pelan namun tegas.


"Kau membuangnya?!" Mata Martin Luther terbelalak.


"Aku melakukannya, karena memang makanan itu seperti sampah, Pak Martin!! Sangat tidak layak dan menjijikkan!!"


"ITU TIDAK MENJIJIKKAN!!" Dafa masih saja berteriak emosi. Dadanya kembang kempis tak beraturan. "AKU MEMBUATNYA SENDIRI, DAN KAU BILANG KUE-KU ITU SEPERTI SAMPAH?!! KAU ITU SEPERTI MONSTER YANG JAHAT SEKALI, KINNO!!"


'Kinno itu memang hebat. Tapi aku lebih kasihan dengan Dafa.'


'Dia boleh tidak suka. Tapi aku tidak setuju dengan caranya..'


'Kupikir dia sangat keterlaluan sekali!'


Kinno diam mematung. Tadi dia kelihatan sangat mendominasi sekali. Tapi kini, seolah mulutnya itu terkunci rapat.


"AKU BERSUMPAH DEMI APAPUN, AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU --" Ucap Dafa dengan tatapan yang sangat mengerikan. "SAMPAI AKU MATI --- AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU -- KARENA KAU ADALAH ORANG PALING JAHAT -- YANG PERNAH AKU TEMUI -- DI DUNIA INI..."


Anthony Grooberry menatap wajah Dafa dengan tatapan sedih. Meski ini adalah kali pertama ia dan anak laki-laki itu bertemu, tapi ia merasa ada sebuah tali ikatan yang seolah mengikat dia dan anak laki-laki bermata biru tersebut.


"AKU AKAN MEMBALAS SEMUA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADAKU. DAN AKU BERSUMPAH --- DENGAN TANGANKU INILAH --- AKU AKAN MENGHANCURKANMU --- DAN SEKOLAHAN INI ---"


"Dafa..."


"KAU --- BRENGSEK...!!"

__ADS_1


Dafa pun berbalik, dan berlari sekencang-kencangnya, melewati gerbang sekolahannya, dan menghilang entah kemana.


Anthony mendekati tempat sampah itu. Lalu dengan tangannya, ia meraih kotak bekal makan milik Dafa.


"Tuan Anthony..." Pak Tua James, asisten pribadinya mengingatkannya.


Anthony membuka kotak bekal itu. Ekspresinya pun biasa saja. "James, sendokku."


Semua orang tersentak bukan main, saat seorang Anthony Grooberry ingin mencicipi kue yang bentuknya tidak jelas itu.


"Tapi Tuan, bagaimana jika nanti anda sakit?!"


"James!!" Suara Anthony meninggi.


Pak Tua James menyerahkan sendok kecil berwarna emas mengkilat yang sebelumnya ia bungkus dengan sehelai kain putih bersih.


"Tuan, saya cuma cemas kalau-kalau nanti anda ---"


Telat. Karena kini, satu suapan kecil kue itu, sudah berada di dalam mulut Anthony.


Semua orang terdiam. Menanti reaksi apakah yang akan diperlihatkan olehnya.


Hening...


Sampai kemudian, secara mengejutkan, sendok kecil itu jatuh terlepas dari tangannya.


'Apa yang sedang kau buat, Angela?'


'Ahh tidak. Bukan apa-apa kok, sayang.'


'Kau membuat kue? Sepertinya enak sekali..'


'Tidak, Anthony. Ini adalah kegagalanku. Aku tidak ingin kau sampai masuk rumah sakit gara-gara kueku ini..'


Sebulir air mata jatuh dari sudut matanya. Bayangan akan sosok wanita yang paling dicintainya itu, kembali menghampirinya. Setelah sekian lama ia menutup rapat lubang kepedihan itu. Kini, dengan segala kenangan indah yang tersimpan bersama di dalamnya -- lubang itu kembali terbuka.


"Angela..."


"Tuan Anthony..."


Titik-titik air mata itu, berubah menjadi sebuah tangisan tak tertahan. Anthony jatuh terduduk dengan wajah lesu sekali.


"Anda baik-baik saja, Tuan?"


"Angela, James. Aku merasa kalau baru saja --- dia --- Ya Tuhan...!!" Anthony menatap kue itu lagi. "Kenapa rasanya bisa begitu sama persis?"


Martin Luther ikutan berjongkok di dekat Anthony. "Biarkan aku juga mencicipinya.."


"Pak Martin..."


Martin Luther mengangguk. Ia menerima sebuah sendok kecil dari seorang siswa yang baru saja mengambilkannya dari dalam kitchen.


Mata Martin Luther terpejam saat mulutnya asyik mengunyah kue itu. Namun tak sampai beberapa detik, matanya kembali membuka. Membuka dengan memelotot, dan tegang sekali.


'Roti buatan Pak Martin semuanya enak! Aku yakin, kalau Pak Martin nanti bisa sukses dan jadi orang kaya!!'


'Pak Martin, ini adalah kue buatanku. Aku menamakannya kue ini seperti meteorit. Karena bentuknya bulat dan warnanya cokelat agak hitam..'


Mata Martin Luther berkaca-kaca. Ia kembali bangkit dan menutup bekal kotak makanan itu.


"Pak Martin..." Ucap Kinno lirih.


"Kalau kau tidak bisa membawanya kembali, maka bukan cuma kau saja yang dalam bahaya. Tapi kita semua ---"


"Pak Martin..."


"Kue ini memang buruk. Tapi kue ini adalah sebuah keajaiban terindah yang pernah aku nikmati, sepanjang usiaku. Dan kau, tidak akan pernah bisa membuat yang seperti ini.."


Kinno tersentak. Ia merasa ditampar keras sekali. Begitu juga dengan semua siswa yang ada di sekitar kitchen sekolah.


"Bawalah dia kembali. Kalau kau tidak ingin melihat sekolah ini hancur."


"Pak Martin..."


Sementara itu, dari gerbang sekolah megah nan tinggi menjulang itu, sesosok nenek tua dengan tongkat kayunya, berdiri bersama dengan dua kucing persianya.


Ia menengadahkan kepalanya dengan matanya yang sayu.


"Bukankah aku telah datang dan menemui mereka... Lantas, kenapa mereka malah melupakan janji yang telah mereka buat sendiri?"


Nenek tua itu mengetukkan tongkat kayunya tiga kalinya.

__ADS_1


"Terbanglah setinggi yang kau bisa, cucuku. Ketahuilah, bahwa dunia ini sangat indah dan luas sekali untuk bisa kau jelajahi... Semoga Tuhan, selalu menyertaimu..."


...###### ...


__ADS_2