GROWING

GROWING
69


__ADS_3

Meski sekolah statusnya sedang diliburkan dalam rangka puasa dan idul fitri, namun hampir semua siswa dan staff pengajar SMK Ellite Rovario datang pada acara pemakaman Dafa di Jumat pagi yang mendung ini.


Tes dna sudah dilakukan oleh Anthony Grooberry. Dan ternyata memang benar. Bahwa tulang belulang yang ditemukan itu adalah tulang belulang anak kandungnya. William Adinata, atau Dafa.


Dalam buku hariannya, Dafa sempat menuliskan sesuatu hal yang tentunya sangat mengejutkan bagi Anthony sendiri.


'Ayah Anthony, jika suatu saat nanti aku meninggal lebih dahulu, tolong kuburkan aku secara islami. Aku harap ayah Anthony paham dan mengerti.


Terima kasih karena telah memberiku banyak ilmu dan kenangan.


Aku sedih, karena Ayah Anthony tak pernah mau mengatakan semuanya. Apakah Ayah benar-benar tidak menginginkanku..?'


Dan pada akhirnya, mereka semua sepakat untuk memenuhi permintaan Dafa tersebut.


Sungguh tak terbayangkan, ada banyak sekali orang yang ikut dalam pelaksanaan sholat jenazah pagi itu. Dan ketika peti itu telah tiba di TPU dekat kediaman Anggita Suryatama, disinilah telah menunggu ratusan orang lainnya yang merasa sangat sedih dengan berita yang sangat menghentak dan mengejutkan ini.


Semua orang yang telah dipersatukannya dalam sebuah keluarga besar SMK Ellite Rovario, turun melebur menjadi satu pagi ini. Segala doa dipanjatkan, meski air mata tak ikhlas menyertai.


"Dafa udah gak ada...Ini bohong kan?" Eka tak henti-hentinya menitikkan air mata.


"Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih padanya..." Tita terus menangis dalam rangkulan orang tuanya. "Dafa sudah menolong keluarga kita -- dan aku -- Ya Allah...!!"


"Bang..." Bayu menarik jaket Julian. "Kak Dafa yang waktu itu datang dan kasih hadiah Bayu sepatu sama tas baru kan?"


Julian tak merespon sedikitpun pertanyaan adiknya. Matanya yang basah terus menatap pusara itu. Orang yang ia anggap aneh dan gak waras itu -- ternyata adalah malaikat penolong untuk nenek dan adiknya.


Namun kini, orang itu telah pergi untuk selamanya. Meninggalkan sebuah kenangan indah yang takkan pernah terlupakan.


"Saya ingat ketika Dafa pertama kali datang ke hadapan kita semua --" Bibir Bu Fatma bergemetar. "Dengan semangat dan percaya dirinya ia --- ia --- Ya Allah --- kenapa Kau ambil ia di umurnya yang masih sangat-sangat muda?"


Jika semua orang berebut untuk bisa di posisi terdepan, tidak dengan Inu. Sejak peti jenazah itu datang dan hingga sudah tertutup seluruhnya dengan tanah, dia cuma bisa terduduk di salah satu makam orang lain dengan air mata yang terus membasahi pipinya.


Segala kenangan tentang Dafa, mulai dari saat keduanya bertemu, sampai hari dimana untuk terakhir kalinya ia melihat Dafa -- seolah diputar kembali secara utuh.


'Nama paman siapa? Kalau aku Dafa..'


'Pak Inu gimana sih?! Masa bikin telor ceplok aja gosong...!!'


'Pak Inu mandinya cepetan dong!! Aku kan udah kebelet nih..!'


'Topi ini buatku?! Keren banget!! Makasih ya, Pak Inu..!'


'Aku cuma minta satu hal sama Pak Inu, maukah Pak Inu jadi ayah tiriku? Karena bagiku, cuma Pak Inu yang bisa menggantikan posisi ayah. Bukan orang lain...'


"Dafa..., saya... maafkan saya..."


Gerimis turun rintik-rintik. Namun sinar matahari hangat, tak mau kalah menyinari.


Hening menyelimuti. Mereka semua menengadahkan tangan. Mendoakan yang terbaik untuk Dafa. Seseorang yang cuma ada satu di dunia. Seseorang yang tidak akan pernah bisa, mereka temukan penggantinya.


"Kenapa kau bohong!!" Kinno terus memegangi papan nisan itu. "Kau janji padaku, bahwa kita akan terus bersama sampai kita tua nanti!!"


"Bangunlah, Kinno.." Danu berusaha membuat anaknya itu berdiri. "Ikhlaskan kepergiannya. Ayah mohon padamu.."


"Aku gak bisa ikhlas, Dad!!"


"Istighfar, Kinno..!"


"Assallamualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Mereka semua menjawab salam dari satu sosok pemuda tinggi, berkulit putih pucat dan bermata jernih itu.

__ADS_1


"Kinno, lihat siapa yang datang.." Bisik Danu.


Kinno lantas menoleh. Dia mendapati sosok itu sedang berdiri dengan seulas senyum tipis di bibirnya.


"Aku turut berduka atas --"


BUGHH..!!


"KINNO..!!" Danu refleks menarik anaknya itu.


Semua orang tak menyangka kalau Kinno akan melayangkan sebuah pukulan pada wajah Nata. Sampai-sampai, Nata jatuh tersungkur dengan sedikit darah pada sudut bibirnya.


"PERGI KAU!!"


"KINNO!!"


Julian dan Gabriel membantu Nata berdiri.


"CIHH!!" Kinno meludahi Nata. "DASAR KAU SETAN!! PUAS KAU MELIHATKU SEKARANG, HAH?!"


Danu menyeret Kinno lebih menjauh. Namun karena tenaga Kinno yang besar, ia berhasil lepas dan kali ini, ia melayangkan sebuah tendangan hingga mengenai perut Nata.


SREKKKSS...!! PLAKK..!!


Danu menyeret kasar Kinno, lalu menamparnya keras sekali.


"CUKUP!!"


"PERGI KAU!! AKU SUDAH MUAK MELIHAT WAJAHMU ITU, ANJINGG!!"


"KINNO!!"


Nata menepuk-nepuk kemeja hitamnya. Wajahnya pun tetap terlihat tenang. "Baiklah kalau itu yang kau mau, Kinno. Aku akan pergi jauh sekali."


"YA! PERGILAH KAU SAMPAI KE DASAR NERAKA!!"


"KAU SUNGGUH MEMALUKAN!! APA KAU LUPA, BAGAIMANA IA TELAH MEMBANTU DAN MENOLONGMU SELAMA INI?!"


"Mas Danu, sudahlah.."


"TIDAK ANINDITA! ANAK SEPERTI DIA, HARUS DIBERI PELAJARAN!"


"Selamat pagi Bapak dan Ibu semuanya..!"


Komandan polisi itu datang lagi dengan beberapa anak buahnya.


"Ada apalagi ini?" Anggita Suryatama yang bersuara.


"Begini Ibu Anggita -- Pak Ardiansyah. Kami datang membawa surat perintah penangkapan untuk putera anda.."


Sontak saja semua perhatian langsung tertuju pada Sam.


"Sam Ardiansyah. Anda ditangkap atas tuduhan penipuan, percobaan pembunuhan, penganiayaan, dan penggelapan surat kendaraan bermotor!"


"SAM...?!" Ardiansyah terbelalak bukan main.


"Kenapa cucuku ditangkap?! Kenapa?!"


"Ibu Anggita, Sam ini adalah tersangka utama atas meninggalnya cucu bungsu anda. Dafa."


"Sam pelakunya?!" Anindita histeris bukan main.


Kini kedua tangan pemuda itu telah terborgol. Dengan wajah setengah menunduk dan setengah pucat. Bibirnya bergemetar seperti akan mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Sam, lihat Ayah!!" Ardiansyah memegang kuat-kuat lengan anak sulungnya itu. "Kau bukan pelakunya, kan?!"


"SAM!! JAWAB DENGAN JUJUR!!" Anindita menjerit sampai urat-urat di lehernya tercetak dengan sangat jelas.


"Lalu, bagaimana dengan Rafa, Pak?" Tanya Trinity.


"Malam itu, Rafa memang terlihat di cctv minimarket dan SPBU, dengan seseorang dimobilnya. Dan sudah bisa dipastikan, kalau orang yang sedang bersamanya itu adalah Dafa. Tapi kami mendapat bukti lain --- yang memperjelas semuanya."


"Memperjelas?" Trinity masih bingung.


"Yang pasti, satu sumber kami mengatakan bahwa tujuan Rafa membawa Dafa malam itu, adalah untuk menyembunyikannya. Menyelamatkannya dari semua yang sudah direncanakan oleh tersangka."


"Jadi Rafa bukan pelakunya?!" Anggita Suryatama bersuara kembali.


"BHUAHAHAHA...!!"


Semua orang di sekitar makam Dafa tersentak dengan tawa keras Sam. Terlebih dengan wajah tegang dan mata merah memelototnya.


"AKU MEMANG YANG SUDAH MEMBUNUHNYA..!! BHUAHAHAHA...!!"


Ardiansyah refleks melepaskan tangannya. Dia juga mengambil jarak menjauh dari anaknya itu.


"DAFA -- DAFA -- DAFA TERUS YANG KALIAN URUS DAN BANGGAKAN!! MEMANGNYA APA YANG BISA ANAK CACAT ITU LAKUKAN, HAH?!"


"Sam..." Ardiansyah benar-benar kehabisan kata-kata.


"KAU LUPA SIAPA ANAKMU YA?!!" Sam memelotot pada Ardiansyah. "AKU INI ANAKMU, ARDIANSYAH!! TAPI KENAPA KAU TIDAK PERNAH MEMPERDULIKANKU?!"


"Sam istighfar..." Anggita Suryatama makin melemah. "Ya Allah, berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapi kembali cobaan dari-Mu.."


"SEKARANG DIA SUDAH MATI!! SELAMANYA!! HAHAHAH...!! AKULAH PENERUS KELUARGA SURYATAMA YANG JENIUS!! AKULAH SANG PENERUS ITU..!"


"Bawa dia ke mobil!" Perintah sang komandan pada anak buahnya.


"Siap, Komandan!"


"Dafa sudah mati ~ dia sudah jadi tulang belulang ~ kalian tidak bisa menemuinya lagi ~~~ lalala..." Sam bernyanyi layaknya orang yang sudah kehilangan akal sehatnya.


Saat melalui Kinno, Sam berhenti sejenak. "Kau lihat gundukkan itu, hah? Aku akan memberimu seratus triliun kalau kau bisa menghidupkannya kembali...!!"


"Bangsat kau..!!"


Inu meraih tubuh Kinno. Menariknya menjauh dari Sam.


"Lepasin aku, Pak Inu!! Aku harus menghabisinya!! Anjing kau, Sam!! Aku bersumpah, kau akan mati membusuk di dalam penjara!!"


"ANAK GILA ITU SUDAH PERGI ~~~ AKULAH SI JENIUS ITU...!! BERILAH AKU CIUMAN HEI...!!!"


Dari kejauhan, Nata dan Sandra masih berdiri dalam diam. Keduanya ikut menjadi saksi atas takdir Tuhan yang terus menerus menimpakan cobaannya pada keluarga kaya raya itu.


"Mereka pasti sangat sedih dan terpukul sekali.." Ucap Sandra sambil mengalungkan tangannya pada lengan Nata. "Apa kita perlu ke rumah sakit?"


Nata menoleh. "Aku baik-baik saja, Tante."


"Kau yakin?" Sandra cemas sekali. "Tadi Tante lihat Kinno menendangmu kuat sekali loh.."


Nata menghela nafas. "Tante dengar sendiri kan? Kinno ingin agar aku pergi jauh sekali."


"Nata..."


"Tante, sebaiknya kita segera berkemas."


"Berkemas? Tapi, Nata..."

__ADS_1


"Dia yang menginginkan itu. Maka aku akan mewujudkannya..."


...##### ...


__ADS_2