
Dafa kecil sedang duduk sendirian di bawah pohon rambutan rindang depan rumahnya. Menggambar dengan krayonnya, sambil mulutnya berceloteh riang bersama teman-teman imajinasinya.
"Kalau nanti aku besar, aku mau bangun istana yang sangat besar dan megah. Hhihhi..."
"Dafa, kau yakin tidak mau ikut?" Sam menyembulkan kepalanya dari jendela kamar tidurnya.
Dafa menegakkan kepalanya. Menggeleng dengan mata bulat jernihnya itu.
"Kalau kau memang tidak mau ikut, gak papa." Ardiansyah muncul dengan membawa sekotak peralatan memancingnya. "Sebentar lagi bunda sama nenek juga akan kembali.."
"Iya, ayah..."
Sam melompat keluar melalui jendela kamarnya. "Yah, Rafa kemana lagi?"
"Paling juga sama teman-temannya."
"Anak itu makin susah diatur. Apa dia gak tahu kalau kita akan pergi?"
"Kak Sam jangan marah terus ya. Kan kasihan Mas Rafa.."
Sebenarnya Sam agak cemas meninggalkan adiknya yang baru berumur 6 tahun itu seorang diri di rumah. Tapi dia percaya saja saat Dafa kecil meyakinkan kalau dia akan baik-baik saja, sebab ada teman-temannya yang akan selalu menjaganya.
"Kalau hujan, kau masuk saja ya, Dafa. Jangan lupa pintunya dikunci juga." Teriak Sam dari dalam mobil ayahnya.
Dafa melambaikan tangannya. "Jangan lupa bawakan aku gulali ya, Kak Sam...!!"
Sam tertawa saja mendengarnya. Padahal sudah berulang kali dia mengatakan, kalau dia dan ayahnya akan pergi memancing. Bukan ke pasar malam.
Dafa kembali menggambar sambil bernyanyi riang. Nyanyian yang entah ia dapat darimana liriknya itu.
Srekkkss..
Ketiga bocah itu mengamati Dafa dari balik semak-semak. Mereka terus berbisik-bisik sambil menunggu mobil kijang kuno itu menjauh pergi.
"Adikmu itu memang aneh, Rafa.." Ujar si anak gemuk dengan tompel di pipi kirinya itu.
"Masa dia bicara dengan peri pohon? Hahaha...!" Timpal si anak kurus dengan wajah dipenuhi bintik-bintik merah.
Rafa naik pitam. Ia hampir aja menonjok kedua temannya itu.
"Dia itu bukan adikku!!"
"Ohh yeah? Lalu kenapa dia ada di rumah kau? Dan sepertinya Sam memang lebih menyayangi dia daripada kau.." Ledek si anak gemuk.
Rafa tidak tahan lagi. Ia segera keluar dari persembunyiannya. Rencananya kali ini tidak boleh gagal lagi. Dia harus segera menyingkirkan anak aneh itu dari rumah dan keluarganya.
"Heh...!" Rafa memanggilnya. Namun Dafa tidak meresponnya. "Kau tuli ya!!?"
Dafa kecil masih saja asyik dengan krayon dan buku gambarnya. Sampai...
Rafa mengambil segenggam tanah merah, lalu melemparkannya pada Dafa kecil.
"Mas Rafa kenapa?"
"Kau itu tuli ya?!!"
Dafa menggeleng polos. Dia membersihkan tanah merah kering yang mengotori kepala dan buku gambarnya.
"Kak Sam sama ayah lagi pergi memancing. Mereka akan bawa banyak sekali ikan nanti.."
"Aku dan temanku mau melihat rumah peri cokelat. Apa kau mau ikut?"
Mata Dafa membulat. Memang sebelum tidur, baik ayahnya dan Sam, selalu menceritakan padanya tentang si peri cokelat.
"Memangnya Mas Rafa tahu rumahnya?"
"Tentu saja! Sebab aku ini kan anak baik!" Rafa tertawa bangga. Dia menunjukkan beberapa keping cokelat yang terbungkus kertas berwarna keemasan. "Aku dapat dari peri itu kerena aku sudah menolong anak burung yang jatuh dari sarangnya.."
Wajah Dafa kecil semakin berbinar. "Aku juga sudah menolong nenek menyiram bunga. Apa peri cokelat akan memberikanku permen juga?"
"Kalau kau mau ikut, sebaiknya kita pergi sekarang.." Rafa sudah berbalik dengan kedua temannya itu.
Dafa kecil sudah melangkah sejauh tiga langkah. Namun ia kelihatan agak ragu.
"Aku harus pergi teman-teman. Soalnya aku mau minta cokelat dan permen, sama peri cokelat."
Rafa berbalik lagi. "Kalau nanti aku punya banyak cokelat, kau tidak boleh minta!"
"Tungguin aku, Mas Rafa..." Dafa kecil akhirnya berlari menyusul kakak dan kedua temannya itu.
Dengan tali sepatunya yang terlepas, ia sampai terjatuh dua kali karena berlari mengejar Rafa.
Rafa menghentikan langkahnya. "Tapi kau harus janji, tidak boleh memberitahukan hal ini pada siapapun. Termasuk ayah dan Sam...!"
Dafa kecil mengangguk antusias. Sebelum ia merangkak masuk melewati pagar besi itu, ia mencopot satu sepatunya yang membuatnya risih karena talinya yang terlepas.
Dafa kecil terus berlari mengejar Rafa. Dia tak memperdulikan duri-duri dari tanaman liar, yang menggores tangan, kaki, juga wajahnya.
"Apa masih jauh, Mas Rafa?"
"Cepatlah!! Dasar kau lamban!"
Dafa kecil memegangi dadanya. Nafasnya tersengal tak beraturan. Dia terus masuk dan masuk ke bagian terdalam hutan larangan itu. Sampai-sampai sinar matahari pun tak bisa menembus masuk, karena rapatnya dedaunan dari pohon-pohon tinggi itu.
Rafa dan kedua temannya berjongkok di balik sebuah pohon tua besar yang sudah mati.
"Dimana rumahnya, Mas Rafa?"
"Kau lihat batu besar itu?" Rafa menunjuk pada sebuah batu besar yang tertutupi dedaunan kering. "Kau harus berdiri di atas batu itu sambil menutup mata."
Dafa kecil mengangguk-angguk seolah paham.
"Lalu kau harus mengatakan, 'peri cokelat datanglah. Aku ini anak baik yang suka menolong'. Kau harus mengatakannya sebanyak seribu kali.." Rafa berbisik-bisik.
Dafa kecil keluar dari persembunyiannya. Lalu ia menaiki batu besar itu dengan susah payah.
"Seperti ini ya, Mas Rafa?!" Teriaknya.
"KAU JANGAN TERIAK BODOH!! KAU MAU PERI COKELAT ITU TIDAK MUNCUL NANTI?!!"
__ADS_1
Dafa kecil mengangguk. Lalu ia berbalik memunggungi Rafa dan kedua temannya itu. Seperti arahan dari Rafa, Dafa kecil pun menutup kedua matanya.
"Peri cokelat datanglah sekarang. Karena aku ini anak baik yang suka menolong..."
Rafa mengepalkan kedua tangannya. Dengan mata memelotot dan merah, dia keluar dari persembunyian -- berlari menghampiri Dafa kecil -- dan mendorongnya sekuat tenaga.
Seperti ada sesuatu yang menahan, tubuh mungil Dafa yang seharusnya jatuh tercebur ke dalam rawa berair hijau pekat itu -- malah jatuh ke arah samping.
"Mas Rafa.." Dafa kecil meringis. Ia berusaha menahan sakit pada kaki dan tangannya.
Rafa mengambil sebongkah batu. Ekspresinya memperlihatkan sebuah dendam teramat. Seperti ada satu sosok iblis yang merasuki jiwa polosnya itu.
"Kau bukan adikku!!" Teriaknya sambil menghempaskan batu besar itu.
Duggh..!
Dafa kecil terhuyung. Batu itu mendarat persis di dahinya.
"Mas Rafa..." Dafa kecil mulai terisak. "Aku ---"
"Kau harus mati!! Kau harus mati..!!" Rafa mendorong dan terus mendorong tubuh Dafa, hingga akhirnya tubuh mungil itu tercebur ke dalam rawa.
Rafa mengambil lagi batu, lalu melemparkannya kepada Dafa. Dan dia terus melakukannya dengan membabi buta.
Tubuh mungil itu timbul tenggelam. Tangannya menggapai apapun, untuknya bertahan.
"PERGI KAU ANAK SETAN!! PERGILAH KAU SELAMANYA..!!"
Bruulpp.. Bruulpp..
Setelah sepuluh menit berusaha untuk tidak tenggelam, tubuh mungil itupun perlahan tenggelam. Seolah-olah rawa hitam itu menghisap habis seluruh tubuhnya.
Suasana hutan larangan itu menjadi sunyi mencekam. Bunyi-bunyian binatang liar yang sedaritadi terdengar, kini mendadak hilang tak terdengar.
DDUUUAARRTT..!!!
Bunyi kilat barusan itulah yang menyadarkan ketiga anak laki-laki itu.
"Apakah dia mati?" Kata si anak gendut dengan wajah pucat pasi.
"Bagaimana kalau nanti kita ditangkap polisi?!!" Lalu si anak kurus pun kelihatan gugup dan ketakutan sekali.
"Tidak!!" Rafa berteriak. "Kita tidak akan ditangkap polisi dan dipenjara!! Asalkan kalian tidak membocorkan masalah ini!!"
"Tapi, Rafa ---"
"Aku akan memberikan semua mainan, kue dan cokelat itu! Asalkan kalian harus merahasiakan ini!"
Sssrrttsss...
Hujan pun mengguyur dengan derasnya. Bersamaan dengan kilat yang saling menyambar.
Ketiga anak laki-laki berlari secepat kilat. Menembus guyuran hujan deras dengan perasaan tak menentu.
"Kita bisa bilang kalau Dafa diculik! Dan kita bisa aman selamanya!" Tukas Rafa sebelum berpisah dengan kedua temannya itu.
Di persimpangan jalan menuju rumahnya, Rafa melihat mobil ayahnya dikejauhan. Dia harus bisa sampai di rumah sebelum ayahnya. Dia harus menutupi semua kejadian ini sebelum ada satupun dari keluarganya itu yang mencurigainya.
Rafa cepat-cepat mengganti seluruh pakaian dan tak lupa menyembunyikan sepatunya yang berlumuran lumpur.
Din..!
Klakson mobil itu menandakan bahwa ayahnya dan Sam sudah tiba.
Rafa membuka buku pelajarannya. Dan seperti yang sudah ia duga, bahwa Sam pasti akan langsung menuju kamarnya.
"Dimana Dafa?!"
"Kau tidak bisa mengetuk ya?!! Ini kamarku, Sam!!"
Sam memeriksa setiap inci kamar tidur adiknya itu. Amarah sedang menguasainya. "Dimana kau menyembunyikannya?!!"
"Aku gak tahu apa maksudmu, Sam!!" Rafa berteriak tak kalah kencang.
Sam meraih kerah baju Rafa. "Kau beritahu aku, atau aku akan menonjok gigimu sampai rontok semuanya!"
Rafa menelan ludah. Setiap perkataan Sam bukanlah main-main. Bahkan sepuluh temannya saja tak sanggup mengalahkan Sam yang usianya cuma terpaut tiga tahun darinya.
"Hentikan, Sam!" Ardiansyah muncul. Dia langsung memisahkan kedua anaknya itu.
"Dia pasti yang melakukannya, Yah!!"
"Kau jangan asal menuduh!"
"CUKUP..!!" Teriakkan Ardiansyah bahkan terdengar hingga keluar rumah.
"Tadi Dafa masih ada di bawah pohon kan, Yah? Dan saat bunda sama nenek tiba, Dafa sudah tidak ada. Dan aku yakin sekali, kalau Rafa lah yang melakukannya!"
"Benar begitu, Rafa?" Anggita Suryatama muncul di muka pintu.
Rafa membantahnya. "Sejak tadi aku belajar di kamar, nenek!"
"Kenapa rambut kau basah, hah?!" Sam memotong.
"Aku habis mandi..." Jawab Rafa enteng.
"Kemana kau tadi, Rafa?"
Rafa menelan ludah saat neneknya menanyakan pertanyaan itu. Dia kembali duduk menghadap meja belajarnya.
"Aku sedang mempersiapkan untuk ulangan besok.."
"Sejak Nenek dan bundamu tiba, kami tidak melihat kau masuk maupun keluar dari kamar mandi.."
"Jadi nenek tidak percaya denganku?!!" Suara Rafa meninggi. "Sebenarnya cucu nenek ini aku atau Dafa sih?!!"
"Ya Allah, Rafa.. Kenapa kau harus mengatakan hal itu lagi..?"
Sam bergegas keluar. Nampaknya dia tahu dimana biasanya Rafa menyembunyikan Dafa kecil. Dia berlari di bawah guyuran hujan deras. Menuju gudang belakang rumahnya. Membuka setiap gentong dan peti di dalamnya.
__ADS_1
"Sial!! Dimana sebenarnya dia menyembunyikan Dafa!!?"
Hari pun berganti. Namun tak ada satupun tanda-tanda bahwa Dafa akan kembali. Satu hal yang bisa mereka jadikan petunjuk adalah, alat-alat menggambar Dafa yang masih tertinggal di bawah pohon depan rumah mereka.
Pak RT, Pak RW dan para tetangga sekitar pun sampai membantu melakukan pencaharian. Mereka menelusuri tiap gang dan sudut komplek perumahan. Termasuk pada rumah-rumah kosong tak berpenghuni.
Namun hingga hari ketiga, dan satuan kepolisian diturunkan, mereka masih belum juga menemukan keberadaan Dafa.
Bocah kecil itu menghilang bak ditelan bumi.
Sampai akhirnya pada hari kelima...
"Kami menemukan sepatu biru di dekat pagar hutan larangan..!" Seorang anggota kepolisian melapor pada komandannya.
Sontak saja penemuan itu membuat panik Keluarga Suryatama. Terlebih ketika mereka mendatangi lokasi penemuan itu, dan memastikan kalau sepatu yang sudah kotor oleh tanah dan lumpur itu adalah benar milik Dafa.
Pencarian pun diperluas hingga ke area dalam hutan larangan. Tak peduli hujan besar mengguyur, para polisi dan warga terus melakukan pencarian itu.
"Kami menemukan tas kecil di tepi rawa..!!"
Anindita berlari dengan tergopoh. Ia pun jatuh terduduk lemas dengan air mata berlinangan. Didekapnya erat tas selempang mungil, yang selalu dibawa Dafa kemanapun ia pergi.
Hingga malam menjelang, mereka masih tak bisa menemuka keberadaan bocah malang itu.
Keesokkan harinya, Anggita Suryatama menyuruh orang-orangnya untuk melakukan penyelaman pada rawa berair hitam pekat dan berbau tidak sedap itu. Segala cara ditempuhnya. Kalau perlu, mengeringkan seluruh bagian rawa itupun akan dilakukannya. Asalkan cucunya itu bisa ditemukan kembali.
Pada malamnya, seorang anggota dari kepolisian memberi kabar lagi. Bahwa ia menemukan sebelah pasang lagi dari sepatu milik Dafa di dalam rawa itu.
Anindita jatuh pingsan untuk kesekian kalinya. Ia tak cukup kuat untuk menerima kabar memilukan ini.
"Kerahkan sebanyak mungkin orang-orang!! Sedot habis airnya!! Keringkan rawa itu secepatnya!!" Perintah Anggita Suryatama pada anak buahnya.
Sepanjang hari Rafa terus terdiam dengan wajah pucat pasi. Ia tidak tahu kalau semua anggota keluarganya akan sangat mengkhawatirkan Dafa sampai sebegitunya.
"Dafa itu anak penurut, Yah. Ketika aku bilang kalau membunuh semut itu dosa, dia sama sekali tak pernah membunuh seekor pun semut!" Tukas Sam. "Apalagi dia harus memasuki hutan larangan itu.." Sam menoleh pada Rafa. "Dia tidak akan mungkin masuk ke dalam sana, kecuali ada seseorang yang mengajaknya.."
Jika kemarin-kemarin Rafa selalu membantah tiap perkataan yang dilontarkan oleh kakaknya itu. Namun kali ini dia tampak diam saja. Bayang-bayang akan perasaan bersalah itu, tiap malam selalu menghantuinya. Membuat tidurnya tidak bisa nyenyak. Membuat sekolah dan hari-harinya kacau balau.
Tepat di malam ketujuh, rumah Ardiansyah diketuk oleh seseorang. Begitu dibuka, ternyata Pak RT yang datang dengan banyak warga.
"Ada apa ini, Pak RT?" Tanya Anggita Suryatama.
"Bu Anggita -- Pak Ardiansyah -- Bu Anindita, ada yang ingin kedua anak ini sampaikan.."
Mata Rafa memelotot saat melihat kedua teman dekatnya itu datang dengan kedua orang tua mereka.
Belum juga berbicara, kedua anak laki-laki itu tiba-tiba menangis dengan sangat kencangnya.
"Rafa yang mendorongnya ke dalam rawa itu!! Dia juga yang menimpuk kepala Dafa denganĀ batu sampai berdarah...!!" Pekik si bocah gendut histeris.
Mendengar penuturan itu, Anindita syok bukan main. Dia jatuh terduduk lemas dengan air mata yang kembali membanjiri wajahnya.
"Benar itu, Rafa?!!" Ardiansyah mulai tak bisa mengontrol emosinya. Ditariknya lengan Rafa. "Jawab Ayah, Rafa!! Lihat mata Ayah...!!"
"Aku sudah bisa menduganya!! Kalau dia pasti pelakunya!!" Sam juga emosi kembali.
"Aku tidak mau tidur di penjara, Rafa! Kau saja sana sendirian yang dihukum!!"
"Benar! Kaulah yang membuat Dafa tenggelam!"
"DIMANA DAFA, RAFA?!!" Ardiansyah benar-benar tak bisa mengendalikan emosinya. Satu tamparan keras ia layangkan pada pipi Rafa. Membuat anak laki-laki itu jatuh terhuyung.
"Cepat hubungi mereka, Ardiansyah!! Suruh mereka untuk mencari Dafa disana!! Cepat, Ardiansyah...!!" Anggita Suryatama menjerit histeris.
Namun disaat kacau dan menegangkan seperti itu, sesuatu yang tak bisa mereka semua duga pun terjadi.
"Assallamualaikum..!! Ayah -- aku pulang..!!"
Mereka semua tentu saja langsung menoleh ke arah suara cempreng dan nyaring itu. Dan di pintu pagar itulah, sesosok bocah kurus berdiri dengan wajah polosnya.
"Dafa ---" Ardiansyah pucat bukan main. Dia langsung berlari. Memeluk erat bocah itu. "Kau darimana saja, Dafa?"
Mata Dafa mengerjap. Memperhatikan orang-orang yang memenuhi teras depan rumahnya.
"Hhhihi, Kak Sam..!!" Dafa melambai pada Sam dengan senyum cemerlangnya. "Aku habis ketemu sama peri cokelat di hutan sana..."
"Dafaa..!!" Anindita pun muncul dan langsung memeluk suami dan anak bungsunya itu. "Kau baik-baik saja kan? Kau tidak luka?"
Dafa memegang dahinya. "Kemarin Mas Rafa menimpukku dengan batu. Tapi sekarang sudah sembuh bunda. Soalnya peri itu yang menyembuhkannya.."
"Dafa, jadi benar Rafa yang mendorongmu ke rawa itu?" Tanya Sam.
Dafa mengangguk. "Tapi, pas Mas Rafa pergi, aku ditolong sama pak beruang -- ibu kelinci sama keluarga tupai." Dafa berceloteh polos.
Tentu saja tidak ada satupun dari orang-orang itu yang mempercayainya. Karena semua cerita itu, benar-benar tidak masuk akal.
Namun, mereka semua terhenyak saat Dafa mengeluarkan semua isi dari dalam tas ranselnya itu.
"Peri itu memberikanku banyak sekali cokelat, kue, dan juga permen. Hhihii..."
"Banyak sekali, Dafa.." Sam sampai nyaris tak berkedip.
"Kalau Kak Sam boleh ambil. Tapi Mas Rafa tidak boleh. Soalnya kata Peri Cokelat, Mas Rafa itu anak nakal.."
"Dafa, peri cokelat itu tidak ada.." Ujar Ardiansyah pelan sambil membelai kepala anak bungsunya itu.
"Ada ayah...!!" Suara Dafa melengking. "Peri cokelat itu tinggalnya di istana yang besar sekali. Dan tadi, mereka yang mengantarku pulang..."
"Mereka siapa?" Ardiansyah menoleh ke arah telunjuk Dafa mengarah.
"Teman-teman baruku, ayah.." Dafa melambai ke arah jalan depan rumahnya.
"Tidak ada siapa-siapa disana, Dafa.." Ujar Anindita.
Karena memang, tidak ada seorang pun dari orang-orang itu yang bisa melihat keberadaan teman-teman barunya itu.
"Besok kita main lagi ya!! Karena sekarang aku harus mengerjakan tugas sekolah dulu. Da--dah teman-teman...!!"
"Dafa..."
__ADS_1
...##### ...