GROWING

GROWING
56


__ADS_3

Enam bulan berlalu sudah. Setelah penantian panjang itulah, Dafa akhirnya bisa menginjakkan kakinya kembali di sekolah.


"Dafa..!!" Eka menyambut dengan suka cita.


Dafa melempar senyum. Meski tidak secerah dulu, namun setidaknya Dafa kini sudah menunjukkan sebuah kemajuan yang berarti.


"Bagaimana perlombaan kemarin?"


Tita langsung menarik tangan Dafa menuju ruang pertemuan. Memamerkan pada temannya itu, sebuah piala kaca yang baru saja ia dan teman-temannya menangkan pada perlombaan memasak kemarin.


Dafa tersenyum bahagia melihatnya. "Sepertinya piala itu lebih indah dari piala yang kita dapatkan di Paris ya?"


"Tapi tetap saja pengalaman luar biasa itu, tak akan pernah bisa kita lupakan. Benar kan, teman-teman?" Julian mengedik pada keempat sahabatnya.


Setelah puas melihat piala itu, mereka pun segera ke kelas. Ardiansyah dan Sam, tampak selalu menemani dengan mengekor di belakangnya.


"Ayah.." Dafa menoleh sebelum melangkah memasuki kelasnya.


"Ada apa, Dafa?" Ardiansyah membelai lembut kepala Dafa.


"Ayah sama Kak Sam pulang aja.."


"Tidak, Dafa." Sam memotong. "Aku dan ayah akan tetap disini. Ya kan, yah?"


Ardiansyah mengangguk, mengiyakan.


"Aku baik-baik aja, Kak Sam." Dafa meyakinkan. "Lagipula, kalau aku butuh sesuatu kan aku bisa bilang sama mereka ataupun Pak Inu.."


"Tapi, Dafa.."


"Ayah..."


Ardiansyah menghela nafas. "Baiklah kalau begitu." Ardiansyah mendaratkan sebuah kecupan di kepala Dafa. "Kalian, Om titip Dafa.."


"Siap, Om!" Jawab Gabriel dan Eka kompak.


"Pak Inu, tolong ya.."


"Baik, Pak Ardiansyah."


Jam pelajaran pertama pun dimulai. Teman-teman dan guru-gurunya masih agak cemas dengan kondisinya. Namun sejauh ini, Dafa masih terlihat normal dan biasa saja. Hanya saja wajahnya terlihat sangat pucat, dan ia kelihatan lesu dan lemas sekali.


Saat jam pelajaran matematika, bahkan Dafa bisa menjawab soal di papan tulis dengan sangat tepat sekali.


"Bukan begitu rumusnya, Julian." kata Dafa pada Julian yang sedang mengerjakan soal di depan kelas. "Kau harus memangkatkan dua dulu, baru setelahnya kau bagi dengan bilangan dalam kurung itu.."


Julian terkekeh kikuk. Padahal semalam ia sudah belajar mengenai rumus itu. Tapi kenapa pagi ini, dia lupa semua rumus tersebut ya?


Jam istirahat pun berlangsung. Ada sesuatu hal mengejutkan terjadi. Kinno dan beberapa temannya ikut bergabung makan di kantin SMK Ellite Rovario.


"Kau ingat cokelat payung yang sering kita makan dulu?" Kata Kinno sambil menyodorkan cokelat payung warna-warni pada Dafa.


Dafa tersenyum lebar. "Tapi Kinno, apa kau tidak takut jadi gemuk lagi?"


"Eh Dafa, emangnya dulu itu Kinno segendut apa sih?" Tanya Eka penasaran.


"Dia itu dulu kayak anak babi, Eka.."


Wajah Kinno lantas memerah padam. Ia langsung salah tingkah di hadapan teman-temannya itu.


"Kalau lari pasti dia ngos-ngosan. Udah gitu, dia paling takut sama bola."


"Wah-wah, aku gak nyangka loh -- cowok yang sekarang jago banget main basket, ternyata dulunya sangat takut sama bola.." ledek teman satu sekolahnya.


Mereka semua lantas tertawa riang. Sungguh sebuah pemandangan yang sudah lama tidak terlihat di sekolah itu. Apalagi dengan kehadiran seseorang yang amat spesial di mata mereka semua.


"Kau tidak keberatan kan, kalau sekarang aku menginap di kosannya Pak Inu?" Tanya Kinno serius.


Dafa membalas dengan dahi mengerenyit. "Aku bisa menduga, pasti kosannya Pak Inu itu makin kayak kapal pecah. Soalnya kalian berdua itu kan sama-sama pemalas."


Jam masuk sudah berbunyi. Memaksa siswa kedua sekolah itu harus menyudahi obrolan hangat di Jumat pagi yang cerah itu.


"Hari ini kita akan ujian lisan!" Ucap Bu Fatma dengan suara lantang dari muka kelas.


"Whhoooo...!!" Seketika para siswa bersorak tanda tak setuju.


"Wawo-wawo, kalian pikir kalian itu anak sapi?!" Bu Fatma memelotot dengan mimik lucu sekali. "Oke, ujian lisan kali ini adalah -- kalian harus menjelaskan dengan detail, tiga jenis resep masakan dari tiga negara berbeda yang paling kalian kuasai."


"Susah banget sih, Bu!!"


"Ekaaa..." Bu Fatma memelotot lagi. "Kenapa suara kau bisa lebih nyaring dari suara Ibu?"


"Mungkin ada toa kali bu di kerongkongannya si Eka!" Tukas Gabriel yang kemudian dilanjutkan dengan pecahnya tawa seisi kelas.


"Ibu kasih kalian waktu 10 menit. Dan nantinya, Ibu akan memanggil kalian secara acak.."


"YESS..!!" Beberapa siswa yang namanya di awali huruf 'A' bersorak kompak.


Keadaan kelas menjadi sangat hening sekali. Setiap siswa kini serius menghafal tiap resep yang mereka dapatkan dari buku catatan mereka sendiri, maupun dari mesin pencaharian google.


'KYYYAAAA...!!!'


Namun sebuah teriakkan melengking yang berasal dari luar itu, membuat semua siswa menegakkan kepala.


"Siapa sih? Ganggu aja!" Tukas Eka kesal.


Dan teriakkan itupun kembali terdengar dan terdengar kembali.


Bu Fatma pun sampai keluar. Ia melihat Pak Inu berlari tergesa dari gedung di sisi lainnya.


"Ada apa, Bu Yani?!" Tanya Bu Fatma pada rekan sesama guru yang sedang mengajar di kelas sebelah.


"Dafa, Bu!! Dafa ada di atap gedung B!!" Pekik seorang siswa dengan nafas tersengal.

__ADS_1


"DAFA..!!??" Eka dan keempat sahabatnya itu saling bertukar tatapan. Dan mereka bergegas turun menuju ke tengah lapangan.


"Bagaimana Dafa bisa ada di atas sana, Pak Inu?!!" Bu Nuriyanti panik luar biasa.


"Kalian!!" Pak Inu menatap tajam pada Eka dan keempat sahabatnya. "Kenapa kalian bisa sampai melepaskan Dafa?!!"


"Anak-anak..." Bu Fatma pun seolah ikut menyalahkan para remaja itu.


'KYAAAA...!!'


Beberapa siswi menjerit lagi, saat melihat Dafa melompat-lompat di tepian atap itu. Sedikit saja ia kehilangan keseimbangan, maka tubuhnya itu akan terjun bebas dari ketinggian puluhan meter.


"Dafa...!!" Inu berusaha memanggilnya.


"Anak-anak, tolong semuanya diam!!" Pak Junaedi, si guru olah raga berteriak lantang.


Seketika, semua siswa langsung terdiam.


"Dafa, kau dengar suara saya?"


Dafa tersenyum lebar dari atas sana. "AKU MAU MENYUSUL AYAH KE SURGA, PAK INU...!"


Inu merasa sesak luar biasa. Kenapa lagi-lagi hal ini harus terjadi pada anak muridnya itu?


Dari tembok pembatas itu, Kinno dan teman-teman serta beberapa guru, lantas ikut berdatangan.


"Kenapa kalian bisa gak tahu?!!" Kinno membentak Eka dan yang lainnya.


"Dafa cuma bilang akan ke kamar kecil, Kinno.." Ucap Sheila dengan suara bergemetar.


"Tapi kalian tahu kan kondisinya belum stabil?! Dan kalian membiarkan dia pergi sendirian?!"


"AYAH..!! AYAH...!! TUNGGU AKU...!!"


"DAFAAA...!!" Bu Nuriyanti refleks menjerit saat Dafa berdiri di ujung atap dengan tangan menggapai ke atas.


"Aku harus cari jalan ke atas.." Tukas Kinno.


"Tidak bisa!" Inu memotong. Satu-satunya akses untuk bisa ke atap adalah melalui gedung A. Dan itupun jalurnya terhalang oleh kayu-kayu dan besi."


"Kalau Dafa saja bisa kesana, pasti kita juga bisa dong, Pak Inu..!" Kinno tak mau menyerah.


"Saya sudah menghubungi Ibu Anggita. Beliau akan datang secepatnya."


"Kinno, kau cobalah untuk bicara dengannya.." Ujar Martin Luther. "Saat ini, mungkin hanya kau saja yang bisa dipercaya olehnya.."


Kinno terlihat agak ragu. Apakah ia memang bisa bicara dengan Dafa? Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika dia hanya membuat Dafa semakin marah dan emosi?


"DAFAA..!!"


Dafa melihat ke bawah. Dengan ekspresi bingung, ia menatap lekat-lekat pada Kinno.


"Pakai pengeras suara saja!" Usul seorang guru.


"Kami tidak punya.." Sahut Bu Nuriyanti.


"AKU AKAN PERGI --- TERBANG KE ATAS SANA,  DENGAN AYAH DAN BURUNG-BURUNG..!!"


Dafa masih saja bernyanyi riang sambil melompat-lompat di atas sana.


"Dafa..." Kinno telah mendapatkan pengeras suara. "Dafa, lihat aku..."


"Ehhh -- siapa ya?"


"Apa yang harus kubicarakan dengannya, Pak Martin?!"


"Apa saja, Kinno! Kalian kan berteman sejak kecil. Pasti kau sangat tahu hal-hal apa saja yang sering kalian bicarakan!"


Kinno berfikir keras. Jangan sampai, setiap perkataanya nanti malah akan membuat Dafa melakukan sesuatu hal yang bisa membahayakan dirinya.


"Saya akan mencari jalan untuk keatas. Kau alihkan terus perhatiannya.." Tukas Inu.


Bughh..!


Belum juga Inu melangkah, sebuah sepatu mendarat persis di atas kepala Kinno.


"AKU BENCI DENGANMU, KINNO!! PERGILAH..!!"


"Dafa..." Kinno pun semakin ragu untuk melanjutkan. Karena rasanya akan sia-sia saja untuk berbicara dengannya.


"Tidak apa. Kau cobalah dulu!" Tegas Martin Luther.


"Tapi..."


"Tolonglah, Kinno..." Inu memegang bahu Kinno sambil menatapnya lekat-lekat.


Di atas sana, Dafa berjalan mondar mandir sambil bernyanyi dengan riang gembira.


"Aku akan mati ~~ yeaahh ~~ sebentar lagi ada Kak Rafa dan Mas Sam ~~"


"Tolong aku, Dafa -- mereka menggangguku lagi.."


Perhatian Dafa teralihkan lagi. Ia melihat ke bawah.


"Anak-anak nakal itu mencuri cokelat dan uangku lagi.." Untuk lebih meyakinkan, Kinno sampai harus berpura-pura terjatuh dan terlihat sangat ketakutan. "Pergi kalian..!"


Dafa lantas berjongkok. "KENAPA KAU SEPERTI ORANG GILA?!"


Kinno lantas bangun dengan perasaan campur aduk.


"KAU SUNGGUH MEMALUKAN SEKALI..!HHAHAA..!!"


"Aku tidak bisa..." Kinno tertunduk menyerah.

__ADS_1


"Kinno, tolonglah..." Sheila mendekat padanya.


"Jangan menyerah, Kinno. Karena kami akan selalu ada di belakangmu.." Eka menimpali.


Kinno seperti terhenyak. "Teman-teman.." Kini ia bisa merasakan apa yang dirasakan Dafa saat itu. Sebuah dukungan kuat dari mereka yang disebut dengan, 'teman-teman'.


Kinno maju kembali. Menengadahkan kepalanya. Berusaha untuk tetap kuat menatap sosok itu.


"William -- apa kau masih ingat ketika dad janji akan membuatkan ayunan untuk kita berdua?"


"DA ---"


Danu langsung menahan tangan Anindita. Ia tidak mau karena kecerobohan isterinya itu, nanti malah akan berakibat fatal pada Dafa.


Tak lama setelah Anindita dan Danu datang, barulah Ardiansyah, ibunya, serta kedua anaknya juga turut datang. Hanya saja Sam datang dengan mobil terpisah. Karena saat itu Sam baru saja sedang dalam perjalanan menuju kampusnya.


"Dafa, cucuku..." Anggita Suryatama kembali harus dihadapkan pada sebuah masalah serius. Sepertinya Tuhan masih ingin menguji kesabarannya.


"Kau tahu kan, ayunan dari bekas ban mobil..." Hanya suara Kinno yang terdengar. "Kotak pasir. Kau juga sangat menginginkannya, bukan?"


"AKU INGIN KOTAK PASIR YANG BESAR, KINNO!! YANG ADA ISTANA SAMA LUMBA-LUMBANYA..!!"


"Iya, William. Nanti kita bisa bermain bersama lagi.."


"BAIKLAH! KALAU BEGITU, AKU TURUN SEKARANG YA...!!"


"JANGANN..!!" Kinno refleks berteriak. Pun begitu dengan orang-orang yang menyaksikan kejadian itu.


"KENAPA?! KAU TIDAK SUKA DENGANKU YA?!"


"KALAU AKU YANG NAIK KE ATAS BAGAIMANA?"


Dafa terdiam. Kepalanya mendongak. Menatap langit biru yang terik.


Satu menit.. Lima menit.. Dafa masih saja diam dengan posisi seperti itu.


"Ayah tidak datang menjemput. Semua orang tidak ada yang sayang denganku.."


"Kau mau memboncengku, William?"


"NAMAKU BUKAN WILLIAM, BRENGSEK...!!"


Dafa memelotot seram sekali. Ia menatap Kinno dengan penuh kebencian.


"WILLIAM SUDAH MATI!! DAN ITU KARENA KAU, KINNO!! KAU MEMBIARKANKU MATI DALAM KEBAKARAN ITU!! KAU TIDAK SUKA DENGANKU!!"


"Tidak, Dafa -- maksudku -- William..."


"KAU TIDAK PERNAH MENEPATI JANJIMU!! KAU SAMA SAJA SEPERTI MEREKA!!"


Detik berikutnya yang terjadi, sungguh membuat mereka semua harus menahan nafas.


Dafa mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku celana seragamnya.


"KAU TIDAK PERNAH MERASAKAN BAGAIMANA TIDAK ENAKNYA DIKURUNG SELAMA BERTAHUN-TAHUN..!!"


"Aku harus ke atas, ayah!! Aku harus melakukan sesuatu..!" Tanpa menunggu persetujuan ayahnya, Sam sudah melesat untuk mencari jalan menyusul adiknya itu.


"Aku tidak pernah mencuri permen dan biskuit punyamu -- tapi kenapa kau selalu memukulku?"


"William, aku..."


"Tidak pernah ada yang peduli denganku --"


"JANGGAANNN...!!"


Mereka semua berteriak. Namun sayang, teriakkan mereka tak dapat menghentikannya.


Dafa menggores lengan kirinya dengan pisau lipat yang dibawanya.


"Ayah dan nenek tidak pernah mengharapkan kehadiranku.."


Dan kali ini Dafa menggores dadanya dengan ujung mata pisau lipatnya yang tajam itu.


Sungguh kejadian ini adalah kejadian paling terburuk dan mengerikan yang pernah terjadi, sepanjang kedua sekolah itu berdiri.


"Lakukan sesuatu, Ardiansyah!! Cepat lakukan...!!" Air mata Anggita Suryatama sudah tak terbendung.


"AKU TIDAK PERNAH MENCURI UANG NENEK!! BUKAN AKU PELAKUNYA!!"


Sreekkss..!


Dafa kembali menggores pipinya. Yang kiri dan kanan. Tak ayal, darah segar pun mengotori seragam sekolahnya itu.


"Kenapa kalian semua membenciku? Kenapa...?"


"Seseorang -- lakukan sesuatu -- tolonglah cucuku...!!!"


Dafa mengarahkan ujung mata pisaunya pada mata kanannya.


"DAFAA...!!" Eka sampai memekik histeris. Lalu dia menutup kedua matanya. Tak kuat untuk melihat -- jika temannya itu benar-benar akan mencongkel matanya sendiri.


"Aku tidak ingin melihat kalian lagi, selamanya -- aku -- tidak --"


Syuuttt -- gdbukkk...!


Dengan sekali tarikkan, Inu berhasil membuat Dafa menjauh dari sisi atap gedung. Dan dia juga berhasil menjatuhkan pisau itu dari tangan Dafa.


Inu mendekap erat Dafa. Sangat erat sekali.


"Tenanglah, Dafa -- tenanglah -- semua sudah berakhir.."


"Pak Inu..." Air mata Dafa meleleh. Tangannya mencengkeram kemeja gurunya itu. "Jangan tinggalin aku ya, Pak.."

__ADS_1


"Tidak, Dafa. Saya -- tidak akan pernah meninggalkanmu.."


...##### ...


__ADS_2