
Keempat orang itu masih berjongkok di depan sebuah pusara yang kelihatan masih baru. Cukup lama mereka memandangi pusara itu, dengan tatapan sedih dan lesu.
Sementara langit kian gelap, dan angin berhembus kencang. Bersamaan dengan cahaya kilat yang saling susul menyusul dan bersahutan.
"Udah mau hujan nih. Balik sekarang yuk..." Kata si cewek dengan kerudung hitam yang asal dipakainya itu.
Keempat orang itu pun menyudahi acara ziarah ke makam salah satu teman dan sahabat mereka. Mereka bergegas kembali, menuju mobil yang terparkir di area depan gerbang pemakaman.
Dduuarrrtt...!!
"Allahu akbar!!" Pekik salah satu cewek histeris sekali. Bersamaan dengan itu, hujan turun dengan sangat lebatnya.
Padahal keempat orang itu, baru saja menempuh separuh perjalanan.
Mau tak mau, mereka pun meneduh di sebuah makam keluarga yang diberi atap dari asbes. Setidaknya disini lebih baik daripada harus melanjutkan perjalanan ke depan gerbang pemakaman.
"Nih, aku bawa plastik. Taruh aja hape kalian di dalamnya." Kata salah satu cewek.
Waktu terus berjalan maju. Langit semakin pekat. Selain mendung, warna langit itu juga menandakan bahwa malam sudah menjelang. Menggantikan siang yang terang benderang.
"Duhhh, apa kita nekat aja ya?"
"Yaudah deh, daripada kita disini terus. Mau sampai kapan?"
Ketiga cewek dan satu cowok itupun berlari menembus hujan, dan tanah merah kuburan yang becek dan licin.
Hanya tinggal beberapa puluh meter lagi, mereka sampai di gerbang utama pekuburan. Lalu lalang kendaraan pun sudah mulai terlihat dan terdengar riuh.
Namun saat sebuah kilat menyambar, langkah mereka terhenti seketika. Mendapati satu tubuh berseragam putih abu, tak sadarkan diri dalam posisi terlungkup.
"Kalian melihatnya kan? Dia bukan setan kan?" Kata si cewek gemuk panik.
"Roni, periksa sana gih!" Kata cewek lainnya. Memaksa teman cowok satu-satunya itu memeriksa.
Roni membalik tubuh itu. Memeriksa denyut nadinya. Dan memastikan kalau sosok itu masihlah hidup.
"Korban tawuran kali...!?"
"Atau jambret?!"
"Terus gimana sekarang?!" Roni memandangi ketiga temannya itu. "Tubuhnya dingin banget..!"
"Kita bawa ke kosan aja deh!"
"Kau yakin, Wi?!"
Cewek berambut pendek dengan sweater kuning terang itu pun mengangguk. Sebab dia tak sampai setega itu, meninggalkan sosok itu begitu saja di pemakaman yang sudah gelap gulita.
__ADS_1
"Ron, bisa cepetan dikit gak?!" Tukas Wiwik.
Roni terus memusatkan pandangannya pada jalanan di depannya. Beberapa ruas jalan menuju kosan mereka, rupanya tergenang banjir. Membuat antrian kendaraan sedikit mengular.
"Kita lewat jalan tikus aja deh..!" Usul Farida. Si cewek gemuk yang daritadi terus memperhatikan wajah pucat anak laki-laki yang tidur di pangkuannya itu.
Roni banting stir melalui gang sempit. Meski sempit, namun jalanan itu masih bisa dilalui mobil toyota agya putih milik Wiwik. Terlebih, jalanan itu nyaris selalu sepi dikarena adanya kabar burung yang mengatakan kalau gang ini adalah gang yang sangat angker dan ada penunggunya.
Setelah melewati gang sempit dan jalan raya sedikit, akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah bangunan bertingkat 4 yang dindingnya didominasi warna hijau muda itu.
Din...!
Roni menekan klakson mobilnya. Sesosok pria paruh baya, membukakan pintu pagar dengan tergopoh.
"Pak Usman, bantuin Roni ya!" Tukas Wiwik.
"Siap, Non! Pasti angkatin belanjaan kan...?" Setelah yang dilihatnya ternyata bukan plastik belanjaan, Pak Usman cuma diam saja, sambil membantu Roni membopong sosok itu ke ruang tamu.
"Handuk dong!! Atau selimut atau apa gitu kek..!!" Tukas Wiwik yang tentu saja membuat beberapa penghuni kos lain yang sedang menonton tv, berhamburan panik. Terlebih setelah mereka melihat satu sosok anak laki-laki dalam keadaan pingsan yang dibopong oleh Roni dan Pak Usman.
"Siapa nih anak, Ron?!"
"Gak tahu, Mas Her. Tadi kita nemuin dia pingsan di deket mobilnya si Wiwik!" Jelas Farida.
Heru, cowok berkepala cepak itu pun berjongkok di dekat sosok anak laki-laki itu. Dia memeriksa keadaannya, dan segera menghubungi Dokter Kemal yang dimana tempat prakteknya tidak jauh dari kosan mereka.
Wiwik menoleh dengan wajah galaknya. "Mas Inu kalau mau ngejokes lihat sikon dulu dong!"
"Hhhehe, ya maaf. Saya kan tidak tahu kalau ---" Seketika Inu terdiam. Meski sosok itu dalam keadaan pingsan, namun ia tetap tak bisa melupakannya. "Dafa ---"
Semua mata sontak terpusat padanya.
"Mas Inu kenal sama dia?"
"Dia kenapa, Wi?!" Inu malah bertanya balik.
"Gak tahu, Mas. Tadi kita nemuin anak ini pingsan di dekat mobilku..!"
"Tadi aku sudah panggil Dokter Kemal, Nu." Ujar Heru.
"Kalau begitu, bawa saja dia ke kamarku!" Inu pun membawa tubuh Dafa dengan mudah sekali. Mungkin baginya, tubuh Dafa itu cuma seperti karung beras ukuran 20 kilo saja.
Inu menidurkan Dafa di atas kasurnya. Ia tahu bahwa anak laki-laki itu bukanlah siapa-siapa dirinya. Tapi dia merasakan sebuah ikatan yang kuat, antara dia dan anak laki-laki tersebut.
Inu melepaskan baju dan celana Dafa. Lalu dia mengeringkan seluruh tubuh Dafa dengan handuk.
"Mas Nu, dibalur minyak kayu putih dulu.." Ujar Farida.
__ADS_1
"Aku bawain selimut nih!" Kata salah satu penghuni kos lain.
"Her, coba kau tolong carikan kaos dan celana sama kaos kaki di lemariku..!"Perintah Inu.
"Tapi, Nu.."
"Si Heru kelamaan!" Tukas Wiwik. Dengan sigap ia membuka lemari pakaian Inu, dan mengambil apa-apa saja yang diminta Inu barusan.
"Mas Nu, badannya dingin sekali." Kata Laras cemas. Ia terus membalur telapak tangan Dafa dengan minyak telon dan kayu putih.
"Her, Dokter Kemal masih lama gak sih?!" Tanya Ayu.
"Aku gak tahu juga sih. Katanya lima belas menitan, lagi.."
Yang dinantikan, akhirnya tiba juga. Pria berumuran 50 tahunan itu, memeriksa kondisi tubuh Dafa. Kelihatannya tidak begitu mencemaskan. Sebab reaksi Dokter Kemal biasa saja.
"Kalau sudah sadar, berikan asupan yang manis dan hangat."
"Tapi dia gak papa kan, Dok?" Tanya Wiwik.
"Anak itu tidak apa-apa. Sepertinya dia pingsan karena terlalu letih saja."
Sepeninggalnya Dokter Kemal, Inu mencari nomer telepon rumah besar berlantai empat yang bentuknya mirip kastil kuno itu.
Dia ingat kalau dia menyimpan nomer itu di handphonenya. Tapi setelah dicari-cari kenapa tidak ada juga?
Inu tidak menyerah. Dia membuka laci lemari bukunya. Dan dia menemukan secarik kertas bertuliskan sebuah nama dan nomer telepon.
"Jangan..."
Inu terkejut bukan main. Saat tangan dingin dan pucat itu menyentuh tangannya.
"Dafa..."
Satu mata Dafa terbuka. "Aku gak mau pulang, Paman --- jangan telepon bunda..."
"Mas Inu.." Ucap Laras sambil memegang kepala Dafa. "Dafa kenapa gak mau pulang.."
Bola mata Dafa bergulir pada Laras. "Kinno jahat. Aku -- gak mau -- " Mata Dafa kembali menutup. Sepertinya ia terlalu memaksakan diri.
"Kinno? Siapa dia, Mas Inu?"
Inu cuma bisa mengangkat bahu saat ditanya oleh Ayu. Lalu ia ikut duduk di sebelah Dafa.
"Hihi --" Suara Dafa kembali terdengar. Meski lirih dan pelan sekali. "Benar kan yang aku bilang --" Satu matanya kembali terbuka. "Kalau kita pasti bertemu lagi.."
...##### ...
__ADS_1