GROWING

GROWING
58


__ADS_3

Kinno tak tahu harus berbuat apa dengan amplop putih panjang di tangannya. Sebelum ia memutuskan untuk menekan bel rumah berpagar putih itu, sekali lagi ia membayangkan bagaimana perasaan orang yang akan ia berikan amplop putih ini.


Sampai tiba-tiba pintu pagar putih itu pun membuka. Sesosok pria tua berwajah angkuh itulah yang membukanya.


Sementara sesosok pria lain, tampak berdiri di teras depan rumahnya, dengan dua koper besar disisi kirinya.


"Kinno?" Pria berwajah bule itupun langsung mengerutkan dahi ketika remaja itu baru saja turun dari mobilnya.


Kinno berjalan mendekati. Dengan langkah biasa saja.


"Om mau pergi kemana?"


Pria itu mengulas senyum. Senyum yang terkesan tidak tulus. "Tidak ada gunanya juga Om disini lebih lama, Kinno.."


Kinno menggulirkan bola matanya pada Pak Tua James. Keduanya seolah sedang berbicara melalui sorot mata masing-masing.


"Kau jaga diri ya. Kau tahu kan kalau usia Pak Martin Luther semakin tua.."


Kinno menelan ludah. Ia tahu kalau ini pasti akan terasa sangat berat. Namun, apapun yang terjadi, dia tetap harus memberitahukan hal ini.


"Om Anthony..."


Anthony memandang Kinno dengan raut wajah bingung. "Ayolah, Kinno. Perpisahan ini kan tidak untuk selamanya."


Kinno menyodorkan amplop putih itu.


"Apa ini?" Dahi Anthony berkerut.


"Ini..." Kinno menelan ludah. "Hasil tes ---"


Ponsel Anthony bergetar. Memberitahu bahwa pesawat yang akan membawanya pergi jauh, akan segera berangkat.


"Hasil tes apa?!"


"Dafa --"


Anthony pun mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalam amplop itu. Rupanya dia masih tidak paham dengan isinya.


"Dafa --- memang benar --- William Adinata.." Suara Kinno terdengar bergetar. "Dan dia --- adalah --- anak kandung --- Om Anthony..."


"Jadi benar?!" Malah Pak Tua James yang menyahut. "Jadi hasil tes itu memang positif membuktikan, kalau anak bermata biru adalah anak kandung ---"


Kinno mengangguk pelan. Tentunya dia melakukan tes DNA secara diam-diam, dengan kerjasama antara dirinya dan Pak Tua James.


"Dafaa ---" Anthony masih menatap kertas putih itu. Tangannya bergemetar. Dan matanya mulai memanas.


'Tolonglah aku Paman Anthony. Aku sangat membutuhkan uang untuk menyelamatkan sekolah dan teman-temanku..'


Anthony teringat ketika Dafa mengunjungi rumahnya dalam keadaan basah kuyup karena hujan yang mengguyur deras. Meminta bantuan darinya, dan ia malah menolaknya mentah-mentah.


'Duhh, Paman bisa gak sih kalau jalan itu matanya lihat ke depan?! Mentang-mentang aku pendek jadi gak kelihatan ya?!'


"D-A-F-A..."


Anthony jatuh terduduk lemas. Rasa sedih, kalut, terluka, bercampur menguasainya.


Dan bahkan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, saat peristiwa kelam itu terjadi.


Dimana Dafa menyanyat beberapa anggota tubuhnya sendiri. Dan bahkan nyaris mencongkel bola matanya juga.


'Entahlah Anthony, kalau aku perhatikan lama-lama --- anak itu kok sepertinya mirip denganmu ya?'


"Dia anakku? Anakku..." Pecah sudah air mata kesedihan itu.


"Tuan..." Pak Tua James ikut bersedih. "Tuan harus kuat dan sabar..."


"Bagaimana aku bisa kuat dan sabar, James -- sedang kondisinya yang --- Ya Tuhan..."


...##### ...


Mobil Stevie Wallerima dan rombongan perwakilan SMK Ellite Rovario, tiba nyaris bersamaan di kediaman Keluarga Suryatama.


Jika biasanya mereka selalu bertemu dengan wajah penuh senyum cerah ceria. Namun tidak untuk siang ini. Seolah ada awan hitam yang sedang memayungi mereka semua.


"Ibu Stevie.."


Stevie Wallerima pun cuma mengulas senyum pada Bu Nuriyanti.


Saat mereka masih mengobrol ringan di halaman rumah pengusaha properti kelas kakap itu, dua buah mobil lain tiba dengan bersamaan.


"Anthony..." Stevie Wallerima agak heran melihat pria itu. "Kau..."


"Aku -- harus bertemu dengan anakku.."

__ADS_1


Stevie Wallerima kontan membelalak. Pun begitu dengan semua orang di sekitarnya.


"A -- pa maksudmu?"


"Dafa -- maksudku William Adinata, adalah anak kandung Om Anthony, Nenek Stevie." Kinno yang menyahut.


"Apa kau yakin, Kinno? Anthony?!"


"Aku yang melakukan tes DNA itu diam-diam. Dan hasilnya --- memang benar."


"Ya Tuhannn...!!" Stevie Wallerima tak bisa menutupi keterkejutannya.


"PESAWAT ROKET AKAN MENDARAT!!! SEMUANYA HARAP MENUNDUK...!!"


Disaat itulah Dafa berlari keluar sambil berteriak kencang sekali. Dia langsung bergulingan di halaman berumput hijau yang kering itu. Sambil tertawa riang sekali.


"AWASSS!!! METEOR AKAN JATUHHH...!!"


"Den Dafa, makan dulu ya ---" Ujar seorang perawat yang benar-benar kuwalahan menghadapi Dafa.


Anggita Suryatama dan Ardiansyah keluar dari dalam rumah. Dan keduanya tampak terkejut dengan kedatangan orang-orang itu.


"Maafkan jika kedatangan kami menganggu, Anggita..."


"Kau jangan berkata seperti itu, Stevie.."


"EHH LIHAT DEH, PIPISKU BANYAK SEKALI NIH...!! HHIHIHII...!"


"Dafa..." Inu seperti kehabisan kata-kata melihat perubahan drastis pada Dafa.


"Den Dafa kalau mau pipis di dalam ya.."


"COBA TANGKAP AKU KALAU BISA, DASAR SILUMAN BUAYA PUTIH...!!"


Dafa pun berlari mengelilingi halaman depan. Dengan air pipis yang masih terus mengalir keluar.


Sheila, Eka, Tita, Gabriel, dan Julian, benar-benar tak sampai hati melihat kondisi Dafa yang malah semakin memburuk itu.


Mereka berlima boleh mengeluh dan menyalahkan Tuhan atas segala masalah yang menimpa mereka. Tapi ternyata, masalah yang mereka hadapi pun tidak seberapa jika dibanding dengan apa yang kini sedang mendera teman terdekat mereka itu.


"Dafa, sekarang kita mandi dulu ya.." Sam berjongkok di hadapan Dafa.


Dafa mengerjap. Memperhatikan Sam dengan wajah tenang.


Dafa mengangguk. Senyumnya mengembang .


"Kok Pak Inu tidak datang ya? Padahal kan Pak Inu udah janji mau ngajakkin aku ke bazar malam..."


Mata Inu membulat. Padahal saat Dafa dan Sam berjalan melaluinya, jarak mereka cuma terpisah beberapa meter saja.


"Pak Inunya lagi mengajar dulu. Kita tunggu saja, oke.."


"HHHAHHA, JELEK DASAR ORANG KUTU!! ROKET MELEDAKKK...!! AWASSSS...!!"


Dafa sudah melesat kembali lari ke dalam. Ia bahkan sampai menabrak dinding, hingga membuat dahinya benjol. Untung saja dia tidak nangis. Sebab kalau dia sudah nangis dan mengamuk, satu-satunya yang bisa membuatnya tenang hanyalah suntikkan bius.


"Kenapa tidak bilang-bilang kalau mau datang?" Anggita Suryatama menyambut tamu-tamunya itu dengan hangat sekali. "Trinity, tolong buatkan minum."


"Baik, Bu Anggita.."


Ditengah-tengah obrolan mereka, terdengar suara jeritan melengking Dafa dari lantai atas. Lalu jeritan itu menjadi sebuah tangisan yang sangat memekakkan telinga.


Anthony hanya bisa duduk dalam kebisuan. Ia tidak tahu, harus melakukan apa saat ini.


"Nenek Anggita --" Kinno akhirnya buka suara juga. "Om Ardiansyah.."


"Ada apa, Kinno?"


Kinno melempar pandangannya pada Anthony. Namun pria itu tak membalas tatapannya. Kinno pun lantas menyodorkan sebuah amplop putih pada Anggita Suryatama.


"Amplop apa ini, Kinno?"


"Itu..."


"HHHUUUAAAA...!!"


Dafa berlari menuruni anak tangga. Namun kali ini, dia muncul cuma dengan mengenakan ****** ******** saja.


"HHHUUUAAAA...!!"


Dafa menangis keras. Lalu ia bersembunyi di dekat kursi Inu.


"Dafa kenapa lagi, suster?" Tanya Anggita Suryatama.

__ADS_1


"MAS RAFA MAU DORONG AKU LAGI KE RAWA!! KEPALAKU SAKIT DIPUKUL PAKAI BATU!!"


Rafa muncul dengan ekspresi wajah tenang sekali. Lalu ia mengambil kunci motornya, tanpa sedikitpun menoleh pada nenek dan ayahnya.


"DASAR ORANG JAHAT!!"


"Kau mau kemana, Rafa?" Tanya Anggita Suryatama.


Rafa masih juga tak menjawab.


"KAU TULI YA?!" Suara Sam meninggi.


Rafa pun menoleh. Ia menatap tajam kakaknya itu.


"KAU DENGAR KAN NENEK BARUSAN BERTANYA PADA KAU?!!"


"Sam, tolong pelankan suaramu.."


"AKU GAK BISA, NEK! LAMA KELAMAAN DIA MAKIN KURANG AJAR!"


"Sam.."


"Kalau bukan karena Dafa, tentu kau sudah mati..."


"SAM..!!" Ardiansyah turun tangan juga. "Bisakah kalian berdua tidak bertengkar sehari saja?!!"


Rafa menyungginkan seulas senyum menyeringai. "Asal kau tahu Sam, aku juga tak membutuhkan ginjal darinya. Kalau kalian semua mau mengambilnya kembali -- silahkan.."


"Astagfirullah, Rafa..." Anggita Suryatama sampai meremas kuat-kuat sapu tangannya.


"Dafa adalah anak kandungnya Om Anthony.." Suara Kinno meski pelan, tapi nyatanya sukses membuat keluarga itu tersentak.


"Kinno..?"


Kinno pun mengangguk. "Di dalam amplop itu adalah hasil tes DNA, nenek. Dan hasilnya memang membuktikan kalau Dafa -- William Adinata, adalah anak kandung dari Om Anthony Grooberry.."


Ardiansyah meraih amplop itu. Dia mengeluarkan isinya dengan wajah menegang pucat pasi.


Keheningan mendadak menyelimuti mereka.


"Ini..."


"Katakan sesuatu Ardiansyah..."


"Bagaimana mungkin..."


"AYAH AKHIRNYA DATANG...!!" Dafa melompat-lompat kegirangan. "BESOK AKU ULANG TAHUN...!! AYAH PASTI AKAN MEMBAWAKAN BANYAK KADO!! BANYAK KADO SEGUNUNG..!! KELINCI MELOMPAT DAN KODOK TERBANG KE PLANET BULAN..!!"


"Den Dafa pakai bajunya dulu ya.." Kata kedua suster yang sabarnya luar biasa sekali dalam merawat Dafa.


Dafa pun menurut. Ia dipakaikan kaos biru muda bergambar lumba-lumba dengan celana pendek putih.


"Besok ayahku datang bawa kado satu kapal tronton lohh..!! Aku kan besok ulang tahun..!"


"Ulang tahun..." Kinno menatap lekat-lekat Dafa. "Besok Dafa..."


"YEEE...!!! AYAHH DATANG MENJEMPUT BAWA SEPEDA BARU SAMA KAPAL ROKET!! AYAH DATANG!! AYAH ANTHONY DATANG...!!"


Mereka semua tersentak saat kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Dafa.


"Tuan, apa anda dengar itu?" Pak Tua James berkata pelan.


Dafa berlarian kesana kemari dengan tangan terbentang. "SEMUANYA AKAN DATANG TIUP LILIN..!! ADA PAK INU -- TEMAN-TEMANKU -- NENEK STEVIE MEMBAWA KADO YANG BANYAK..!! KELINCI MENGEONG MELAHIRKAN ANAK BURUNG TERBANG KE LAUT...!!"


Mata Stevie Wallerima membulat sekaligus berkaca-kaca. "Ya Tuhan -- anak itu -- baru saja menyebut namaku..."


Kinno pun lantas bangkit dari duduknya dengan wajah cerah.


"Kau mau kemana, Kinno?" Tanya Eka.


"Kalian tadi dengar kan?" Senyum Kinno semakin mengembang. "Besok itu hari ulang tahunnya Dafa. Dan sekarang, kita cuma terus duduk-duduk disini?"


"Jadi..?" Tita agaknya masih belum paham.


"Aku akan beli hadiah dan kue untuknya."


"Kalau gitu aku ikut.." Ujar Tita antusias. Yang kemudian diikuti oleh keempat sahabatnya yang lain.


"BESOK PAK INU DATANG BAWA GULALI!! ASYIIKKK...!! KINNO JUGA DATANG YA...!"


Sekali lagi mereka semua tersentak mendengarnya. Meski saat mengatakan itu, Dafa sedang lompat-lompat di atas sofa.


Namun mereka semua yakin, kalau ini adalah sebuah pertanda baik bagi Dafa. Mengingat sudah berbulan-bulan lamanya, Dafa tak pernah mengingat apalagi sampai menyebut nama orang-orang terdekatnya itu.

__ADS_1


...##### ...


__ADS_2