GROWING

GROWING
65


__ADS_3

"Pagi, tante -- Hassel.."


Sandra yang sedang mengambilkan nasi untuk anaknya, lantas menoleh. Melempar senyum pada pemuda manis, berwajah oriental itu.


"Sarapan bareng, Kinno?"


Kinno menggeleng. Menjawab dengan sopan. "Terima kasih. Tapi tadi, aku sudah sarapan di rumah."


"Peraturan di rumah ini itu, tidak boleh bohong." Celetuk Hassel.


Tak berapa lama Nata pun muncul. Namun pagi ini dia muncul dengan penampilannya yang tak biasa. Dia terlihat membawa sebuah tas ransel dan tas jinjing yang tak seberapa besar.


"Sarapan dulu aja. Aku gak mau kalau nanti kau sampai pingsan." tukas Nata tak sungguh-sungguh.


Nata duduk di sebelah Sandra. Meneguk susu hangatnya dan melahap roti bakar berselai blueberry.


"Nanti aku mau ke Bandung, tante."


Ketiga orang di dekatnya lantas menoleh. Reaksi yang mereka perlihatkan pun sepertinya sama. Sama-sama tak menyangka dengan apa yang dikatakan Nata barusan.


"Menurutmu, nanti kita enaknya naik apa?" Tanya Nata pada Kinno. "Bis aja enak sepertinya."


"Tapi kau bilang kalau hari ini ---"


Nata mengeluarkan ponselnya. Membuka beberapa notes penting yang sudah disimpannya. "Habis dari Bandung, kita akan ke Yogya, terus lanjut ke Surabaya, dan terakhir Bali."


"Kak Nata kok mau jalan-jalan gak ngajak aku sih?!"


"Kau kan lagi ulangan, Hassel."


"Emang gak bisa tungguin aku?!"


"Nata, kenapa kau mengatakannya dadakan?" Sandra menyelak. "Kalau tahu kau mau pergi, kan Tante bisa siapkan bekal untukmu."


"Gak usah, Tante." Jawabnya cepat. "Oh ya, di dalam tas jinjingku ini ada baju-baju, sama perlengkapan menulis. Nanti, kalau ada orang kesini mencariku, tolong kasihkan ya.."


Sandra mengangguk paham. Sebenarnya ia sadar kalau beberapa hari ini, tingkah Nata makin aneh. Kadang Nata itu melakukan sesuatu yang diluar kebiasaan dan nalar.


"Kenapa gak naik mobilku?"


Nata pun menoleh pada Kinno. "Kau yakin, sanggup?"


"Ehmmm --" Kinno kelihatan ragu.


"Oke. Kita naik mobilmu aja. Tapi dengan satu catatan, kalau kau capek, kita harus istirahat dulu."


Keduanya memulai perjalanan menuju Bandung di jam 8 pagi. Dan baru memasuki kawasan kota kembang di pertengahan hari. Gerimis menyambut kedatangan keduanya.


Sepanjang perjalanan, keduanya tak banyak saling berbicara. Hanya sesekali melakukan perbincangan seperlunya.


"Hmmm, kita cari hotel dulu kali ya?" Tanya Nata.


Kinno pun menoleh sambil mengangguk. "Boleh."


Mobil Kinno pun berbelok memasuki sebuah hotel berbintang. Tidak begitu besar dan mewah. Tapi Nata merasa kalau hotel ini sangat-sangat nyaman untuk di tinggali sementara, dan strategis juga posisinya.


"Kita cari makan dulu kali, ya?" Tanya Nata.


Kinno mengangguk pelan. Wajahnya kelihatan sangat lelah. Matanya pun sudah memerah.


"Aku aja yang beli. Kau istirahat aja." Sambung Nata. "Ukuran baju kau?"


Kinno tak menjawab. Ia memang sudah lelah dan ngantuk. Tapi menjaga dan mengikuti kemanapun Nata pergi, adalah merupakan tugas utamanya.


Setelah check-in dan mencuci wajah sebentar, keduanya turun lagi dan langsung menelusuri jalanan kota kembang di malam hari.


Rencana bepergian Nata ini, memang tak diketahui oleh Kinno. Yang ia tahu dari Nata adalah, bahwa dia diharuskan menyiapkan dirimya karena hari-harinya akan lebib sibuk dari biasanya.


Kinno agak berfikir tentang yang dikatakan Nata pagi tadi. Setelah ke Bandung, mereka akan melanjutkan perjalanan menuju Jogjakarta, lalu ke Semarang, Surabaya, dan Bali.


Sejujurnya, Kinno belum pernah mengendarai mobil sejauh ini. Paling jauh jarak yang ditempuhnya itu hanya sampai di kawasan puncak saja.


Kini mereka memasuki BIP. Meski bukan hari libur, tapi pusat perbelanjaan ini terbilang cukup ramai. Yang membuat Nata kaget adalah, ternyata suhu di luar mall lebih dingin daripada di dalam mall. Padahal kalau di Jakarta itu, ketika kita baru masuk mall, semburan hawa dingin begitu terasa, menggantikan hawa panas dari luar.


Nata mengambil beberapa kaos yang dirasa ukurannya sangat pas, hingga nyaman untuk dia pakai. Nata bukan seorang pemilih. Mau kaos itu harga mahal ataupun murah, asalkan nyaman dipakai, pasti ia akan membelinya.


"Kau ambil aja, Kinno. Aku kan gak tahu seleramu."


Kinno mengambil sebuah kaos berwarna putih dengan gambar anak anjing di bagian depannya.


"Cuma satu?" tanya Nata.


Kinno mengangguk. Dia keluarkan dompetnya dan dua lembar uang kertas seratus ribuan. Tapi sayangnya, Nata sudah menyelesaikan pembayaran.


"Kita ke Hypermart dulu ya.." Kata Nata.


Kinno cepat-cepat mengambil keranjang sebelum Nata yang mengambilnya. Sambil memegangi tengkuknya yang terasa berat, Kinno dengan sabar mengikuti Nata.


Disini Nata mengambil dua botol air mineral, snack, roti, dan vitamin. Setelah merasa mendapatkan semua yang dibutuhkannya, keduanya pun keluar.


"Enaknya makan apa ya?"


Kinno angkat bahu. "Kayaknya kita cari di luar aja.."

__ADS_1


Nata pun setuju. Keduanya berjalan menelusuri trotoar, mencari tukang penjual makanan. Nata kelihatan senang sekali. Sebab udara Bandung di malam hari itu sangat dingin dan segar. Apalagi terkadang karena suhunya yang sangat dingin, mulutnya sampai bisa mengeluarkan asap saat sedang berbicara.


"Pak, aku mau kwetiau rebus ada?"


"Ada, A. Silahkan."


Nata membalas senyum ramah si bapak penjual nasi goreng gerobak itu. "Kau mau makan apa, pesan aja."


Kinno memesan nasi goreng rupanya. Tanpa daun bawang dan acar. Karena memang dia tidak suka.


"Besok aku mau Trans Studio Mall. Mau lihat lokasi outlet yang nantinya akan kutempati."


Kinno agak terkejut mendengarnya. Tapi sekarang dia sudah tahu, maksud dan tujuan Nata ke kota kembang ini.


Pesanan mereka sudah jadi. Asap kuah dari kwetiau rebus yang dipesan Nata, mengepul tinggi. Menebar aroma wangi khas yang sangat menggugah selera.


Nata memberi tahu Sandra, bahwa saat ini dia sedang makan di pinggir jalan dengan Kinno. Tapi saat Hassel melihatnya, Hassel jadi iri dan mau ikut. Hassel jadi marah-marah gak jelas sendiri.


Sebenarnya salah Nata juga. Kenapa dia harus melakukan panggilan video dengan Sandra? Kenapa bukan sambungan telepon biasa?


"Aku ---" kalimat Nata terhenti saat matanya menangkap dua sosok yang sedang berjalan lesu di seberang jalan sana.


Nata menunggu. Sepertinya kedua bocah itu mau menyeberang jalan. Dan benar saja dugaannya. Ternyata mereka memang menyeberang dan ---


TINNNN....!!!


Bunyi klakson panjang mobil itu, membuat Nata menahan nafas. Satu dari dua bocah itu terjatuh. Nata tidak tahu apakah bocah itu tertabrak atau tidak. Karena pandangannya terhalang oleh sebuah angkot yang sedang berjalan pelan.


"LIHAT-LIHAT KALO MAU NYEBERANG!! TOLOL..!!"


Nata pun bangkit. Dia melihat bocah yang lebih tinggi sedang membantu bocah yang kini sedang jatuh terduduk itu.


Bocah kecil berpakaian lusuh itu jalan dengan terseok. Wajahnya pucat dan tubuh kurusnya bergetar.


Dari sekian banyak orang dan pengendara, seperti tak ada yang memperdulikan keduanya.


"Mangkanya aku kan udah bilang, kalau menyeberang itu jalannya cepetan!"


"Aku capek, Aa --"


"Ayo cepetan! Nanti kita bisa dimarahin sama bapak.."


Nata masih terus memperhatikan. Jelas keadaan bocah kurus bermata besar itu tidak baik-baik saja. Jalannya terseok pelan dan lemah. Ada luka baret juga di kaki kirinya.


Sementara si bocah yang lebih besar, tak bisa terus menggandeng bocah kecil itu. Karena kini, dia harus membawa kotak semir sepatu dan setumpuk majalah dan koran yang terbungkus plastik.


"Aa, kakiku sakit.."


"Tapi, Aa..."


Nata meraih lengan bocah kecil itu. Dan bocah itupun kelihatan kaget sekali. "Hei, kau kenapa?"


"Aa...!!" bocah kecil itu memekik. Yang dipanggil pun menoleh dan menyangka kalau adiknya itu akan diapa-apakan oleh Nata.


"Kakak siapa?!"


"Kau tidak lihat kaki adik kau ini terluka?"


"Nanti juga sembuh di kasih betadine!" Kata si bocah berambut lurus dengan jaket merah lusuhnya itu.


"Kalian sudah makan?" Tanya Nata.


Kedua bocah itu saling bertukar tatapan. Wajah dan mulut mereka memang bisa berbohong. Tapi suara perut mereka tak bisa dibohongi.


"Kita makan dulu. Habis itu, kita ke klinik untuk mengobati lukamu.."


"Aa.."


Nata sudah menggenggam tangan si bocah kecil itu. Menuntunnya menuju gerobak nasi goreng yang cuma berjarak beberapa meter saja darinya.


Saat kembali, ternyata cuma ada dua kursi yang kosong. Satu miliknya tadi. Dan satu lagi kursi yang ada di ujung meja panjang sana.


Nata mengambil kursi di ujung meja sana. Lalu meletakkannya bersebelahan dengan kursi miliknya.


"Duduk aja. Kalian mau makan apa?" tanya Nata.


Kedua bocah itu masih kelihatan ragu. Dan disaat bersamaan, satu tangan menjulur untuk mengambil kursi kosong itu.


"Gak ada yang duduk kan?" Kata cewek itu cuek.


"Ada. Mereka." Jawab Nata.


Tapi cewek itu seperti tak percaya. Dan malah memandang rendah kedua bocah kakak beradik itu.


"Udah gak papa, duduk aja sini.." Nata memaksa.


Si bapak penjual nasi goreng itu pun melihat dengan tatapan heran.


"Pak, buatkan nasi goreng untuk mereka. Biar saya yang bayar."


"Baik, A.."


Kedua bocah itu akhirnya duduk juga, meski dengan wajah malu-malu. Mereka meletakkan barang-barang mereka di kolong meja.

__ADS_1


"Kau bisa duduk di kursiku." Kinno menawari.


"Aku gak butuh, Kinno. Lagipula makanku sudah selesai." Jawab Nata. Dia menuangkan teh tawar hangat dari teko ke dalam dua gelas kecil, dan memberikannya pada kedua bocah itu. "Emangnya masih ada yang suka nyemir sepatu ya?"


"Aa mau aku semir juga?" kata bocah kecil itu dengan wajah polosnya.


Nata menyengir. "Sepatu ketsku bisa kayak zebra nanti, belang-belang."


Kedua bocah itu tersenyum malu-malu.


"Rumah kalian jauh?"


"Lumayan, Aa.."


"Ramai hari ini?"


Si bocah kecil mengeluarkan beberapa lembar uang kertas kusut dari saku celana pendeknya. "Ramai. Aku dapat tujuh ribu, Aa.."


Nata terhenyak. Bahkan harga satu porsi nasi goreng pinggir jalan aja, harganya dua belas ribu.


"Kalau kau?"


"Cuma laku empat koran aja."


"Empat koran jadi berapa?"


"Tiga ribu."


Nata menghela nafas. Ia tidak tahu bagaimana sistem bagi hasil kalau jualan koran dan majalah. Tapi di zaman sekarang, uang tiga ribu rupiah cukup untuk apa?


Dua piring nasi goreng untuk mereka pun sudah siap. Nata mengingatkan keduanya untuk berdoa lebih dahulu.


"Nata, punyamu belum habis." Ujar Kinno.


"Pak tolong dibungkus saja."


"Baik, A."


Meski masih sisa separuh piring, Nata tak segan meminta si bapak penjual untuk membungkus kwetiau miliknya yang sudah dingin.


"Orang tua kalian masih ada?"


Kedua bocah itu mengangguk. Lalu si bocah yang besar mengatakan, "bapak kerja sebagai tukang sapu di sekolah SMA. Kalau mamah, jualan gorengan di depan SD."


"Kalian sekolah?"


"Sekolah. Tapi sudah berhenti."


"Kenapa?"


"Mamah mau melahirkan dan butuh uang supaya adikku bisa keluar dari perutnya."


"Kita belikan juga ya makanan untuk bapak dan mamah kalian."


"Jangan, A! Punyaku aja dibungkus. Aku juga gak habis kok."


Nata menggeleng. "Pokoknya kalian harus habiskan. Kalau kalian mau nambah, bilang aja sama aku."


"Makasih ya, A. Aa baik banget."


Kinno tak melepaskan pandangannya dari Nata. Kejadian ini, sepertinya sudah pernah ia alami. Hanya saja dengan orang dan juga di tempat yang berbeda.


"Kenyang banget! Sampai perutku mau meledak!!" Kata si bocah kecil.


"Nah, sekarang -- aku boleh gak minta imbalan dari kalian.."


Kedua bocah itu tersentak bukan main. Begitu juga dengan Kinno, si bapak penjual nasi goreng dan beberapa pembeli lainnya yang masih makan di tempat.


"Kami tidak punya apa-apa, Aa.."


"Kalian memang tidak punya uang kan? Tapi kalian masih punya kedua tangan, hati dan mulut kan..?"


Kedua bocah itu agaknya bingung.


"Aku mau buka toko kue disini. Jadi, aku minta doa dari kalian. Semoga usahaku bisa berjalan lancar dan sukses."


Kedua bocah itu menatap Nata dengan wajah polos.


"Selain itu, tolong doakan aku selalu dalam sholat dan sujud kalian. Supaya Allah memberiku umur panjang, agar aku bisa menolong lebih banyak lagi, orang yang membutuhkan."


"Ya Allah, semoga Aa Nata diberi rezeki yang banyak dan berlimpah. Supaya bisa terus menolong orang lain. Aamiin."


"Aamiin." Si bocah kecil ikut mendoakan dengan mimik lucu sekali.


Nata mencium kepala kedua bocah itu. Tidak ada yang bisa membuatnya bahagia, selain dengan menolong dan membantu orang-orang yang sedang kesusahan dan membutuhkan.


Hati Kinno bergetar melihatnya. Sosok yang kini sedang tertawa riang dengan kedua bocah itu -- sungguh mengingatkannya pada seseorang.


Permintaan itu, senyuman bahagia itu, caranya mencium kedua bocah lusuh, kotor, dan bau itu...


"Nata -- siapakah kau sebenarnya? Kenapa kau sangat mirip sekali dengannya...?"


...##### ...

__ADS_1


__ADS_2