GROWING

GROWING
7


__ADS_3

"Aku pulang...!"


Bocah laki-laki yang sedang menonton film kartun kesukaannya itu, lantas menoleh dengan wajah cemberut.


"Abang kalau masuk kebiasaan, gak pernah ngucapin salam!" Ucapnya dengan wajah cemberut.


"Asallamualaikum..." Lantas, abangnya itu memberikan salam susulannya.


"Udah telat!" Tukas bocah itu lagi. Kemudian, kembali menatap layar televisi, yang sedang menayangkan film kartun favoritnya.


Sesosok nenek tua datang dari ruang belakang dengan membawa seember pakaian yang baru dicucinya.


"Baru pulang, Julian?" Tanya nenek tersebut, dengan suaranya yang sedikit goyah.


Cowok itu lantas bangun dan membawakan ember cucian yang kelihatannya sangat berat. Dan ternyata memang benar. Tidak seharusnya, neneknya itu membawa beban yang tidak mungkin dibawa oleh orang seusia neneknya tersebut.


Ia sebenarnya gak tega dengan apa yang dilakukan neneknya. Namun ia juga tidak bisa melakukan apa-apa, selain dengan memberikan bantuan kecil dan ala kadarnya.


"Nek, aku udah putusin buat gak usah nerusin sekolah lagi.."


"Kau jangan bicara seperti itu, Julian."


"Emangnya nenek punya uang?" Julian balik bertanya. "Untuk makan dan bayar kontrakkan saja kita sudah kesusahan." Tukasnya sambil meluruskan kakinya di depan pintu kontrakkannya yang tidak seberapa luas itu.

__ADS_1


"Pendidikkan itu sangat penting untukmu, Julian. Nanti biar Nenek yang usahakan cari uang. Yang terpenting kamu harus tetap rajin belajar, berdoa, dan berusaha."


Julian masuk ke dalam. Membasuh wajah, mencuci tangan dan kakinya, juga mengganti seragamnya.


Ia melihat ada lauk apa yang sudah disiapkan oleh neneknya itu. Ternyata tak lebih baik dari kemarin. Cuma ada sepotong tempe goreng yang sudah dingin, dan sepotong telur dadar, yang tertutupi tudung saji, di atas meja makan.


"Kau udah makan, Bay?" Tanya Julian pada adiknya.


"Udah tadi, Bang."


"Nenek?"


"Sudah, Julian. Kau makan saja sana." Ujar nenek sambil berlalu masuk kembali dengan ember cuciannya yang sudah kosong.


Julian tidak jadi makan. Ia malah tidur-tiduran di dekat adiknya. Menonton film kartun yang sama sekali tidak disukainya itu.


"Makan dulu, Julian." Nenek datang dengan membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya, dan juga segelas teh tawar hangat.


"Aku udah makan tadi, Nek. Pak Yusron yang beliin aku makan."


"Jangan terlalu sering merepotkan dia."


Julian menghela nafas. Siapa juga yang merepotkan. Orang pria itu yang membelikannya makanan, karena saat itu kondisi bengkelnya lagi ramai pengunjung.

__ADS_1


"Nek, ini upahku minggu ini."


Nenek memandangi uang kertas lusuh yang digulung dalam genggaman tangan cucunya itu.


"Kamu yang simpan saja."


"Nenek aja. Buat beli beras sama gula."


"Nenek masih punya uang, Julian."


"Bang, sepatuku udah sobek." bocah itu menyambar dengan wajah polosnya.


"Bayu, kan Nenek sudah bilang, nanti Nenek yang belikan. Sabar ya.."


"Tapi Bayu malu sama temen-temen, Nek. Sepatu Bayu bolong.."


"Iya, besok kita beli di pasar ya."


"Bener ya, Nek!! Asyikkk...!!"


Julian menyimpan kembali uangnya itu. Upahnya yang cuma dibayar sepuluh ribu perhari di bengkelnya Pak Yusron, tentu sangat tidak seberapa.


Tapi setidaknya, uang yang dia kumpulkan tersebut, masih bisa digunakan untuk menambahi bayar uang bulanan kontrakan mereka.

__ADS_1


'Seandainya aja kehidupanku berubah. Aku pasti akan membahagiakan kalian berdua.' Batin Julian.


...#####...


__ADS_2