
'Dia itu aneh, tapi aku lebih suka dia daripada Kinno!'
'Benar! Dia itu sangat ramah dan sopan! Dan dia juga hebat!'
'Kenapa sih dia baru hadir sekarang?! Kemana saja dia dari dulu!'
'Lihat!! Dia membawa sepeti telor ayam?!! Apa yang akan dia buat ya?!!'
Sebagian besar para peserta yang telah dinyatakan gugur pada babak pertama tadi, sebenarnya mereka terus saja memuji dan mendukung Dafa dan teman-temannya.
Tak henti-hentinya mereka terus melontarkan pujian takjub dan dukungan pada siswa dari sekolah yang kabarnya akan ditutup itu.
Lalu bagaimana dengan Martin Luther sendiri? Ia sendiri pun kelihatan cemas dan panik sekali. Karena apa yang ditakutkannya selama ini, akhirnya terwujud juga.
Selama ini feelingnya tidak pernah meleset. Dari awal ia memang sudah merasakan kalau Dafa bukanlah anak yang bisa dianggap remeh.
Anak itu seolah mempunyai sebuah kekuatan spesial di dalam dirinya. Kekuatan yang bahkan Kinno si anak emasnya itu, tak sanggup mengalahkannya.
Kembali ke arena pertandingan, diam-diam Kinno terus memperhatikan tiap gerak-gerik Dafa. Dari bahan-bahan yang diambil saingannya itu, ia sudah bisa menebak kalau Dafa pastilah akan membuat sebuah -- cake.
Tapi, bukankah 'cake' itu terdengar dan kelihatannya sangat biasa saja?
Setengah jam berlalu sudah. Namun apa yang dijanjikan para dewan juri itu sepertinya tak bisa dipenuhi tepat waktu.
'Kau cuma membuang-buang waktu Dafa! Dasar kau memang bodoh sekali!' Tukas Kinno dalam hati. Ia merasa sudah unggul beberapa langkah dari saingan utamanya itu.
Kliningg...!! Kliningg...!!
Seorang panita membunyikan lonceng persis di sebelah meja peserta nomer 13 itu. Lalu dia mengangkat tinggi-tinggi botol kaca dengan bubuk berwarna hijau di dalamnya itu.
Kamera langsung menyorot ke arahnya. Dan lagi-lagi, layar besar disana menampilkan sosok Dafa dan teman-temannya.
"Mereka berhasil menemukannya!! Bahan rahasia itu...!!"
Semua mata peserta terbelalak melihatnya. Ternyata bahan rahasia yang disembunyikan para dewan juri utama itu adalah...
"Luar biasa!! Dua bendera emas didapatkan lagi oleh SMK Ellite Rovario...!!"
"Ini artinya, mereka sudah mendapatkan empat bendera emas!! Dan ini adalah sebuah hal yang sangat menakjubkan!!"
"Sial...!!" Kinno menggebrak meja. "Kalau bahan rahasia itu adalah bubuk matcha, itu artinya --" ia lihat semua bahan makanan dan sebagian makanan yang sudah berhasil ia dan teman-temannya buat itu. "Berarti semua yang kita buat ini..."
Semua anggota kelompoknya sontak terdiam. Mereka sendiri seperti sudah tahu dari reaksi yang diperlihatkan oleh ketua mereka saat ini.
"Kita sudah tidak ada waktu..." Ucap Kinno pelan. Otaknya berpikir cepat. Jika ia mengganti semua menu yang sudah direncanakannya itu, maka waktunya tidak akan cukup lagi.
Namun jika ia tidak ikut menggabungkan bahan rahasia itu ke dalam bahan makanannya, maka...
"Kita rubah menu..!!"
Seorang ketua dari sekolah lain berteriak lantang. Membuyarkan lamunan Kinno.
Jika ketua dari sekolah lain saja bisa yakin akan keputusannya itu, maka tidak ada kata menyerah dalam kamus kehidupannya!
Terlebih, Dafa itu bukanlah siapa-siapa!!
Baginya, Dafa tak lebih hanyalah seorang anak laki-laki bodoh yang cuma beruntung saja pada babak pertama tadi.
Waktu terus berjalan maju. Setiap peserta makin terdesak. Mereka harus menyelesaikan babak final ini, meski mereka sendiri belum tahu siapa ke-350 orang yang akan mengisi kursi kosong yang sudah disediakan khusus oleh panitia itu.
Namun tiba-tiba dua panitia memasuki arena pertandingan, dengan dikawal oleh enam petugas dari pihak kepolisian. Dan bahkan staff khusus pengamanan istana pun sampai turut mengawal kedua panitia yang datang dengan membawa sesuatu yang ditutupi oleh kain hitam itu.
Vallentino berdiri di tempatnya. "Kepada siswa dari SMK Ellite Rovario, kami persilahkan untuk mengambilnya di meja kami. Dan kepada peserta lain, tidak tertutup kemungkinan untuk turut serta mengambilnya. Terima kasih."
Dafa bergegas berlari menghampiri meja dewan juri. Dimana para juri, dan panitia yang sedari tadi sibuk memegang kameranya, menunggu.
"Dafa..." Tatapan Stevie Wallerima begitu teduh. "Jangan kecewakan kami."
Dafa mengangguk dengan senyum mengembang lebar di wajahnya. "Pastinya, Nenek Stevie!!"
Semua orang menanti. Menanti apakah sebenarnya yang ada di balik kain hitam mengkilat dan licin itu, hingga harus dijaga oleh pengamanan super ketat.
Srressskkss..!
Dan begitu kain hitam itu disingkap, semua terbelalak nyaris tak berkedip dibuatnya. Mereka semua antara percaya dan tidak, dengan apa yang sedang mereka lihat melalui layar besar di kejauhan sana.
"Ardiansyah, bukankah itu berlian dan batu permata?" Anggita Suryatama pun sampai kehabisan kata-kata.
Dan begitupun dengan keempat guru dari SMK Ellite Rovario yang ikut mengantarkan anak muridnya pagi itu.
"Benda-benda berkilauan itu ---" Bu Fatma sampai terduduk kembali dengan wajah pucat pasi serta tubuh melemas.
__ADS_1
"Apa sebenarnya yang akan dibuat oleh Dafa..." Bu Nuriyanti tak melepaskan sedikitpun pandangannya dari layar besar itu.
Begitulah reaksi semua orang yang sangat-sangat terkejut dengan benda-benda berkilauan yang sedang dibawa Dafa dengan sebuah tray besi dan mendapat pengawalan juga tentunya.
"Teman-teman..."
"Dafa itu kan ---" Tangan Eka bergemetar saat ingin menyentuh batu permata, berlian dan pasir emas yang begitu berkilauan dengan sangat indahnya itu.
"Jika kalian ingin menyentuhnya, tolong gunakan sarung tangan.." Dafa memperingatkan teman-temannya itu.
Yang dilakukan Dafa selanjutnya, mengumpulkan beberapa meja sampai terbentuk sebuah lingkaran yang bisa dikatakan cukup besar diameternya.
"Apa segini cukup, Fa?" Tanya Gabriel.
Dafa berlari menjauh beberapa meter. "Sepertinya masih kurang lima meja lagi.."
Julian dan Gabriel pun bergegas mengambil kembali beberapa meja yang diminta oleh Dafa.
"Oke, cukup!!" Ujar Dafa.
Tik-Tok-Tik-Tok...
Dan waktu pun terus berjalan...
Dua lapisan dasar cake berwarna hijau pekat itu sudah dikeluarkan. Dan sedikit demi sedikit, semua orang yang memenuhi stadion sepertinya akan tahu --- apa yang sebenarnya akan dibuat oleh siswa-siswa dari SMK Ellite Rovario itu.
"Hei, bolehkah aku ke tempat mereka?" Tukas Sicilia seolah tak sabar dan ingin melihat lebih dekat dan secara langsung. Padahal dia sendiri yang seperti menentang dan tidak menyetujui permintaan konyol dan berlebihan Dafa tadi itu.
"Dan marilah kita sambut ke-350 audiens yang kita pilih secara acak untuk ikut memberikan penilaian keada setiap peserta...!!"
Semua peserta sontak terdiam dan memperhatikan sekerumunan orang-orang berbaju merah dan putih, yang berjalan secara rapih dan teratur --- hingga kemudian mulai menempati satu persatu kursi kosong bernomer urut itu.
"Teman-teman, kalian lihat orang-orang itu..." Eka menunjuk kearah para tamu misterius.
"Mereka..." Julian menelan ludah. "Mereka..." Lalu ia menoleh pada Dafa yang tidak terpengaruh sedikitpun kepada kedatangan juri-juri tamu tersebut.
"Mereka tidak hanya terdiri dari orang dewasa aja. Tapi mereka, dari berbagai usia..." Sheila ikut menatap pada Dafa. "Dafa, bagaimana kau bisa tahu kalau ---"
Dafa terus bekerja dan bekerja. Ia sungguh tak memperdulikan keadaan di sekitarnya. Karena baginya yang terpenting adalah, bisa menyelesaikan maha karyanya ini tepat pada waktunya.
Matahari kian tenggelam. Waktu yang tersisa untuk peserta tak lebih dari 30 menit saja. Dan Dafa kini mulai menyelesaikan tahap akhirnya. Tahap dimana semua orang dibuat tercengang oleh kelihaian tangannya itu.
"Siapakah sebenarnya anak itu..?" Stevie Wallerima tak bisa menyembunyikan rasa kagum sekaligus penasarannya.
Ketika semua orang memuji akan kehebatannya itu, Dafa tiba-tiba ambruk. Semua teman-teman, guru, dan para dewan juri jelas saja panik. Apalagi melihat Dafa yang begitu pucat dan tak bergerak sama sekali.
Tim medis pun bergerak cepat memberikan oksigen tambahan padanya.
"Kita bawa saja ke ---"
"Tidak perlu.." Dafa memegang salah satu tangan tim medis. "Berikan aku waktu tiga menit saja..."
"Dafa..."
"Aku tidak apa-apa, Sheila. Aku cuma perlu tidur sebentar..."
Mata Dafa pun menutup kedua-duanya. Dia tiduran dalam posisi terlentang dengan hanya beralaskan rumput hijau lapangan yang begitu lembut dan menggelitiknya.
"Apa Dafa baik-baik saja..." Tita bahkan sampai ikut berlutut di dekatnya. Dan begitu juga teman-temannya yang lain.
Sementara itu Bu Nuriyanti dan Inu sampai turun ke lapangan. Keduanya begitu cemas melihat kondisi Dafa yang tiba-tiba menurun dengan sangat drastis.
Meski anak-anak muridnya mengatakan kalau Dafa cuma ingin tidur sebentar, tapi keduanya tetap menunggu di pinggir batas lapangan dengan wajah cemas luar biasa.
"Sudah berapa menit, Julian?" Tanya Sheila.
"Tiga me --- nit.." Sahut Julian, dan bersamaan dengan itulah Dafa kembali bangun dan segera menaiki kursi untuk menyelesaikan titik akhir pada puncak cake-nya itu.
Semua menunggu dan menunggu. Meski sekilas cake buatan Dafa itu sudah terlihat sempurna, namun ternyata bagi Dafa itu belumlah selesai sepenuhnya.
"Sepuluh -- sembilan -- delapan --" Panitia pun mulai menghitung mundur.
"Sudah, Dafa!! Sudah cukup..!" Pekik Eka histeris.
Dafa pun melompat dari atas kursi yang dia susun menjadi dua tingkat itu. Lalu dari bawah, dia melemparkan serbuk emas itu ke seluruh bagian cakenya.
"SELESAIII...!!"
Dafa mengangkat kedua tangannya. Lalu matanya membulat dengan hidung dan dadanya yang mengembang kempis.
Akhirnya, dia telah menyelesaikan sebuah maha karya yang sangat indah dan luar biasa.
__ADS_1
Sebuah maha karya yang belum pernah dibuat oleh anak seusianya.
The Fantasy Cake, begitulah Dafa memberikan nama pada maha karyanya yang menakjubkan itu.
Sebuah birthday cake setinggi 7 lapis, dengan warna berbeda-beda di tiap lapisannya. Ditambah dengan kilauan berlian dan batu permata yang semakin mempercantik penampilan cakenya itu.
Dafa dan teman-temannya menjadi yang terakhir, meninggalkan arena pertandingan. Saat mereka berjalan menuju sudut lapangan, wartawan dan siswa-siswa dari sekolah langsung mengerubunginya.
"Kau hebat sekali..!"
"Kau juga luar biasa sekali, Dafa!"
"Aku yakin, pasti sekolah kau lah yang jadi pemenangnya.."
Dafa lantas menarik tangan teman-temannya. "Mereka inilah yang telah banyak membantuku. Tanpa bantuan mereka, mungkin aku tidak bisa menyelesaikannya."
"Dafa.." Sheila tampak malu-malu.
Dafa melambai pada guru dan juga teman-temannya yang lainnya. Dan lagi-lagi ia memperkenalkan keempat gurunya kepada orang-orang itu.
"Kabarnya SMK Ellite Rovario sudah jatuh ke tangan Martin Luther. Apa betul itu, Bu Nuriyanti?"
Dafa langsung merebut microphone itu. "Sangat tidak benar!" Jawabnya tegas. "Perlu kalian semua ketahui kalau SMK Ellite Rovario tidak akan pernah ditutup! Kalaupun Pak Martin Luther akan menutupnya, maka dia harus melangkahi mayatku dulu!"
Diantara puluhan orang yang mengerumuninya itu, juga tampak Anggita Suryatama, Ardiansyah, serta kedua anak laki-lakinya.
"Dia kelihatan sangat kelelahan sekali, Ardiansyah..." ucap Anggita Suryatama.
Ardiansyah seperti ingin maju dan menemui anaknya itu. Namun, Anggita Suryatama menahan tangannya.
"Kenapa, Bu?"
"Apa kau sudah siap untuk melukai hatinya? Dan apa kau sudah siap untuk dibenci olehnya?"
"Tapi, Bu..."
"Ardiansyah, kau pikir cuma kau saja yang ingin bertemu dan berbicara langsung dengannya?!!"
"Ibu..."
"Anak-anak, kalian diminta untuk kembali masuk ke dalam arena pertandingan.."
Perdebatan antara ibu dan anak itu seketika terputus ketika seorang panitia mendatangi Dafa dan teman-temannya.
"Ayo teman-teman, kita sudah ditunggu!!"
"Dafa pelan-pelan dong..." Kata Tita dengan nafas terengah-engah.
Sekembalinya mereka, ternyata bukan hanya para dewan juri saja yang sedang mengelilingi cake yang sangat cantik dan indah itu. Tapi beberapa warga asing dari kedutaan besar serta menteri pariwisata dan juga para pejabat yang turut hadir, tampak terkagum-kagum dengan cake itu.
"Dafa -- Dafa -- aku bisa menebak pastinya kedua orang tuamu adalah chef handal yang sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Dimanakah mereka sekarang? Mereka pasti ikut melihat kau, kan?" Tanya Sicilia penasaran.
Dafa menggeleng dengan wajah sumringah. "Bunda sedang sibuk mengurusi butiknya. Sedangkan ayah sudah meninggal ketika umurku 6 tahun.."
Semua orang dewasa itu sontak terdiam. Mereka sungguh tak menyangka dengan apa yang dikatakan Dafa barusan.
"Jadi..."
"Jadi, sekolahku yang menang kan?! Iya kan Nenek Stevie?!!"
Mata Stevie Wallerima berkaca-kaca. Sebenarnya ada yang ingin ia sampaikan. Hanya saja ia tak sanggup untuk mengatakannya.
"Maaf sekali Dafa, cake ini tidak bisa dicicipi oleh kami semua.." Ujar Vallentino.
"Kenapa memangnya, Paman?"
"Karena cake buatanmu akan langsung dibawa ke istana untuk diperlihatkan pada presiden dan juga tamu-tamu kenegaraan yang sedang berkunjung hari ini.." Joe yang menyambung.
"Berarti kalian tidak bisa tahu rasanya ya..?" Dafa kelihatan kecewa sekali.
"Dafa sayang --- bagiku kau tidak hanya sebatas juara dalam perlombaan ini. Tapi kau adalah secercah sinar yang datang menerangi kami semua. Kau adalah yang terbaik dari yang terbaik." Stevie Wallerima menguatkan hatinya. Akhirnya ia berhasil juga mengungkapan isi hatinya itu.
"Persiapkanlah diri kalian semua untuk menerima piala kemenangan di atas panggung, disana itu.." Kata Tomo dengan logat jepangnya yang masih terdengar kental.
"Kalian dengar kan, teman-teman?!! Kita akan naik ke panggung dan menerima piala kemenangan itu..!! Asiikkk...!!"
Meski Fantasy Cake buatan Dafa dan teman-temannya tidak bisa dinikmati, namun pada akhirnya mereka lah yang keluar sebagai juaranya. Mendapatkan piala kemenangan dan hadiah lain berupa uang tunai serta makan malam bersama dengan semua dewan juri utama.
Di kejauhan, nenek tua dengan kedua kucing persianya itu sedang duduk dengan wajah tersenyum penuh rasa suka cita.
'Ini barulah permulaan saja. Kalian akan lebih terkejut dengan apa yang akan dilakukannya, setelah ini...'
__ADS_1
...##### ...