
Dave sengaja berangkat pagi pagi untuk bertemu Resya,sedangkan
Resya yang baru saja datang dengan muka lesu tak bergairah akibat kecapean tadi malam,tiba tiba tangannya di tarik"Sya...tunggu,aku mau bicara"ucap Dave.
"Kakak ada apa?"tanya Resya.
"Aku telpon,kirim pesan tetapi kamu tidak membalasnya,apa kamu masih marah?,aku minta maaf"Dave memegang tangan Resya.
"Oh...iya,aku pergi jualan,ponsel ku ketinggalan di rumah,untung kakak kasih ingat"kata Resya mengambil ponselnya yang sejak kemarin ia simpan di dalam tas sekolah.
Resya yang hendak menekan tombol di ponselnya tetapi tidak menyala"ya ...baterai habis."
"Aku tidak bermaksud..."tiba tiba perkataan Dave di potong,"iya...aku tahu,aku sudah memaafkan kakak,bahkan aku sudah lupa dengan kejadian itu"kata Resya tersenyum.
Berarti kamu tidak marah lagi?"tanya Dave,Resya menggelengkan kepalanya,
Karena terlalu senang Dave mencubit pipinya.
"Kak aku bukan anak kecil lagi jangan cubit pipi,aku tidak suka..."seru Resya sambil memegang pipi.
Resya yang dari tadi melindungi pipi,dengan kedua tangannya sambil berlari ke lorong sekolah yang tampak sepi,untuk menghindar dari kejaran Dave.
Mereka berdua bercanda layaknya sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta.
Bruk...
tiba tiba seseorang berjalan berlawanan arah sengaja menabrak Dave sampai terjatuh"hai...jalan pakai mata"saut Dave, bangun mengebaskan pakaian dan tangannya yang kotor
"kamu sengaja ya"ucap Dave dengan nada kesal.
"Kalau iya kenapa?makanya kalau pacaran jangan di sini."teriak Al menantang,dan tiba tiba pukulan begitu cepat,sudah mendarat di pipi sebelah kiri Dave,darah keluar dari sudut bibirnya,Dave membalas dengan 2 kali pukulan tepat mengenai di kedua pipi Al.
Al tidak terima,ia balik memukul "buk..."tetapi Dave menangkis dengan tangan kanannya,mereka saling membalas,pertarungan semakin menegangkan.
Resya panik mencari bantuan tetapi sia sia,karena masih terlalu pagi,murid murid atau pun guru belum ada yang masuk.Al yang sangat marah karena Dave berhasil menangkis pukulannya.
Resya menarik tangan Dave sambil berteriak "kak sudah."
Dave melihat Resya yang sudah menangis,tiba-tiba bunyi b**ukk...
__ADS_1
"ach..."Resya berteriak kesakitan, dan terjatuh di lantai.
Tadinya Al ingin memukul Dave,tetapi Resya menangkisnya.
"B******n,"Dave berteriak sambil memukuli Al hingga dahinya terobek darah segar keluar.
"Dave stop Resya harus di bawa ke Rumah sakit dia pingsan."seru Bryan yang baru datang mendengar keributan itu.
"Kalau terjadi sesuatu padanya,aku akan menghajarmu,darah yang keluar dari kepalamu itu belum seberapa."seru Dave dengan nada mengancam,lalu menggendong Resya masuk ke dalam mobilnya.
Al masih mematung tidak percaya,dia bisa melakukan hal sebodoh itu,kata- kata Dave masih terngiang di telinganya."bagaiman kalau terjadi sesuatu pada Resya."
Dave yang saat itu panik mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi,sambil melirik kaca spion melihat keadaan Resya yang pingsan,seragam sekolah yang dia pakai sudah berlumuran darah, bagaimana Dave tidak kuatir,ia melihat sendiri ketika bocah itu memukul Resya membuat tubuhnya tidak seimbang sehingga kepala membentur tiang.
"Dave.. kamu mau buat kita semua jantungan,Resya sangat kuat tidak perlu kuatir dia pasti baik baik saja" seru Dewi yang dari tadi menekan kening Resya dengan kain untuk mengurangi pendarahan.
Saat itu Dewi berangkat ke sekolah bersama Bryan karena mendengar keributan di lorong sekolah,mereka berdua berlari,saat mereka datang sudah melihat Resya pingsan.
"Dave...,aku saja yang nyetir,aku masih jomblo masih ingin merasakan di cintai."teriak Bryan.
puk...
Bryan keceplosan ia memegang kepalanya yang sakit.
"Diam,berisik kalian"seru Dave,yang tidak lama sudah memarkirkan mobilnya di RS terdekat harusnya menempuh waktu 30 menit,tapi hanya 20 menit.
Dave langsung membopong Resya di ikuti kedua temannya sambil berteriak meminta suster melakukan pertolongan pertama.
Di depan Ruangan UGD,dokter yang sedang menangani Resya,"Dave...tidak capek mondar mandir seperti setrika,aku saja capek lihatnya, ayo duduk"seru Bryan menepuk kursi panjang yang masih kosong di samping nya.
2 jam kemudian.
"Kalian temannya pasien?"tanya dokter yang keluar dari ruangan.
"Iya dok, bagaimana keadaannya?"tanya Dave langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Pasien tidak apa apa,perlu beberapa jahitan di keningnya,kalian boleh masuk,pasien sudah sadar,saya permisi dulu."kata dokter.
"Iya dok terimakasih banyak"saut Dave berjalan masuk ke dalam ruangan di ikuti Bryan dan Dewi
__ADS_1
"Sya!" Dave memanggil dengan suara lirih,Resya terlihat berbaring di tempat tidur.
"Dasar cewek bodoh kenapa kamu menahan pukulan Al dengan kepala mu,apa kepala mu terbuat dari besi baja"seru Dave dengan muka yang sangat marah.
"Tidak ada yang lucu?"saut Dave melihat Resya tertawa.
"Kak jangan marah lagi,nanti cepat tua"kata Resya yang ingin bangun bersandar di tempat tidur,ingin tertawa lagi tapi dia sembunyikan takut Dave marah.
"Kak,Resya tidak apa apa cuman luka begini 2 hari nanti juga sembuh!"
"Kamu bilang tidak apa apa!,lihat!"seru Dave sambil menunjuk kening Resya yang di jahit.
"Iya iya... terserah kakak saja"seru Resya dengan lemah yang dari tadi memijat kepalanya yang terasa pusing.
"Apa ada yang lucu lagi?"tanya Dave sambil melihat Dewi dan Bryan tertawa.
"Kekuatiran mu terlalu berlebihan,kamu seperti emak emak"jawab Bryan."
"Sya syukurlah kalau kamu baek baek saja kita semua kuatir,aku heran kenapa teman mu seram sekali,Dave... apa kamu pernah menyinggung Al"kata Bryan.
"Aku ngak pernah punya musuh dan tidak pernah menyinggung siapa siapa"kata Dave dengan tegas,sambil memberi ponsel kepada Resya yang dari tadi dia simpan di saku celana.
"Ach sudahlah nanti baru ku cari tau,ada apa dengan Al,sudah siang kita pulang dulu ya "kata Dewi.
"makasih banyak"kata Resya.
*****
Resya yang sudah di pindah kan ke ruang pasien.
Di dalam ruangan itu hanya tinggal mereka berdua,yang dari tadi Dave sibuk dengan ponselnya,sedangkan Resya kesal di cuekin."Kak"panggil Resya dengan pelan.
"Hmm"jawab Dave yang masih asyik dengan ponselnya.
"Kak!"teriak Resya lagi dengan keras hingga membuat Dave hampir jatuh dari tempat duduknya
"Kakak marah dengan ku?,kok dari tadi diam"sambil memegang lengan Dave.
"Ngak,aku takut dengan aku yang banyak bicara akan membuat kepala mu pusing"jawab Dave menuntun Resya untuk duduk di samping nya.
__ADS_1