HAI STEVIE MANIS

HAI STEVIE MANIS
29."ARDIAN" Contracting Company


__ADS_3

Resya sejak dari tadi tidak melihat Dave cowok yang dia sayangi, tidak mungkin cowoknya sebagai ketua OSIS tidak mengetahui soal selebaran itu.


Resya berlari menuju ruangan OSIS, "apa kalian melihat ketua OSIS" Resya bertanya kepada salah satu teman Dave.


"Aku melihatnya, di tempat parkir" ucap Teman Dave yang lain.


"Terimakasih" Resya berlari.


Resya melihat Dave yang sedang terburu buru masuk ke dalam mobilnya,


"kak Dave...tunggu" teriak Resya.


Sekencang kencangnya Resya berteriak, tidak membuat Dave mengentikan mobilnya, dengan muka sedih Resya pergi dari tempat parkir itu.


"Sya...,kamu tidak apa-apa?" ucap seorang lelaki menghampirinya.


"Apa kak Dave sudah tidak mencintaiku lagi?" tanya Resya, kepada lelaki itu, yang tak lain adalah Al.


Al begitu terkesima mendengar pertanyaan yang Resya lontarkan kepadanya, rasanya begitu sakit, menusuk ke tulang.


"Mungkin dia ada keperluan mendadak" jawab Al, berusaha untuk menghiburnya.


Akan tetapi ini tidak biasanya, semarah marahnya dia, dan sesibuk sibuknya dia, pasti dia akan menunggunya, dan memberi kabar, Resya memberikan penjelasan kepada lelaki yang duduk di sampingnya itu.


Al terdiam tidak bisa berbuat apa apa, berusaha bertahan untuk tidak cemburu, ketika Resya curhat mengenai lelaki itu, "Apa hebatnya dia?, andai saja aku selangkah lebih maju darinya" gumam Al dalam hati.


"Tadinya aku hendak mengucapkan terimakasih kepadanya, berkat dia aku tidak mendapatkan saksi dari pihak sekolah, dan aku masih bisa tetap menerima beasiswa itu" ucap Resya.


Al mengeryitkan dahinya, " jadi Resya pikir dia yang menyebar selebaran kertas itu."


"Kamu tahu, biarpun kak Dave yang begitu angkuh, terkesan cuek, dan walaupun ucapan ucapan romantis tidak pernah keluar dari mulutnya, tetapi aku percaya dia selalu peduli, dan melindungi ku" ucap Resya yang tanpa sadar membuat hati Al sakit seperti teriris iris.


Awalnya Al mendekatinya supaya Resya bisa melupakan lelaki angkuh itu, akan tetapi semakin mereka dekat, Resya semakin menggagumi lelaki itu, dan ketika Resya dalam masalah dengan, tidak malu curhat kepadanya.


Al semakin binggung di buatnya, sudah tidak tahan lagi ketika perempuan yang dia cintai memuji lelaki lain.

__ADS_1


"Kalau menurutmu bagaimana?" tanya Resya, kepada Al yang sedang mengusap wajahnya dengan kesal.


"Pertanyaanmu sungguh sangat bodoh, kamu sendiri bukannya sudah menjawabnya, buat apa kamu menanyakannya lagi kepada ku, sengaja buat aku cemburu atau..." gumam Al, mengusap keringatnya yang menetes dari dahinya, padahal cuaca saat itu mendung.


"Aku tidak tahu Sya..., kamu yang lebih tahu dia dibandingkan aku, lebih baik kamu putus saja dengannya, kalau dia tidak bisa membahagiakan mu" tanpa sadar Al asal bicara, "aku mau kok..., jadi penggantinya" gumam Al dalam hati.


Resya terkejut ketika mendengar ucapannya barusan, "yang betul saja..., aku sudah terlanjur cinta kepadanya" saut Resya lirih, menundukkan kepalanya dengan malu, Resya tidak pernah terbuka kepada siapapun, tidak tahu kenapa hanya dengan Al Resya bisa berkata jujur akan perasaannya itu.


"Terserah kamu saja...,aku ada urusan" Al berlalu pergi meninggalkan Resya seorang diri.


"Apa aku salah bicara ya...?, sepertinya Al terlihat marah" ucap Resya, menarik nafas dalam dalam, kemudian dia hembuskan dengan sekuat tenaga untuk menghilangkan keresahannya,


"Kamu perempuan pintar, akan tetapi bodoh dalam hal percintaan" gumam Al yang sudah menjauh dari Resya.


"Sejak kapan kamu dekat dengannya?" tanya Dewi dengan nada tinggi, yang tiba tiba datang menghampiri Resya, ternyata Dewi sedari tadi melihat dirinya bersama Al.


"Maksud kamu Al?" tanya Resya lagi.


"Iya...siapa lagi,"


"Harusnya kamu tahu, Dave tidak menyukainya, berarti kamu harus bisa jaga jarak dong..." saut Dewi dengan nada ketus.


"Tahu apa kamu soal cinta..." ucap Dewi melototkan matanya, dan berlalu pergi.


Resya begitu heran dengan sahabatnya itu, sorotan matanya seakan akan sebuah peringatan yang sangat serius buat dirinya, "aku sungguh binggung..."


"ARDIAN" Contracting Company


Ardian group perusahaan yang bergerak dalam bidang arsitektur, bertempat di sebuah gedung lantai 5, yang tidak terlalu menjulang tinggi seperti gedung-gedung yang lain, akan tetapi Ardian group mampu menjadi perusahaan ternama, merintis mulai dari nol, tanpa ada dukungan, ataupun suntikan dana dari perusahaan besar manapun.


" Ardian group menjadi seperti ini, itu karena dukungan, dan kerja keras dari kalian..." itu lah perkataan yang selalu di lontarkan dari mulut direktur utama, di saat rapat.


Tidak heran banyak orang yang ingin masuk ingin menjadi karyawan di perusahaan itu, mendapatkan tunjangan, pensiun, gaji yang sangat memuaskan, dan jenjang karier.


Seorang laki laki tampan, penuh wibawa, berjalan masuk ke sebuah gedung berlantai 5, dengan matanya yang tajam seperti seekor elang yang siap memangsa.

__ADS_1


Semua karyawan bertanya tanya tumben sekali direktur kita datangnya pagi, biasanya datang siang itu pun jarang-jarang, dan kalau mengadakan rapat lewat Video call.


"Barangkali..., ada hal yang penting" ucap salah satu karyawan.


"Aku lebih semangat kerja, ketika melihat pak direktur masuk pagi" ucap karyawan yang lain, sembari membayangkan wajah tampannya.


Di dalam ruangan direktur yang tertutup "sekertaris Lee..., tolong persiapkan rapat segera, untuk membahas proyek kita yang berada di kota Saun" ucap direktur kepada sekertarisnya.


" Baek...pak" ucap sekertaris Lee, langkah kakinya terhenti, ketika direktur itu berkata


"30 menit lagi."


Menundukkan kepalanya dan pergi keluar ruangan dengan bersungut-sungut "30 menit lagi, yang benar saja pak..., ini masih terlalu pagi, belum tentu karyawan yang lain sudah masuk."


Seorang karyawan melihat sekertaris Lee dengan muka pucat bertanya "apa ada masalah sekertaris Lee?"


"30 menit lagi, kita akan meeting, tolong persiapkan."


"Apa...?, yang benar saja sekertaris Lee, ini masih terlalu pagi" saut seorang karyawan.


Tidak biasanya penguasa Ardian group datang ke kantor pagi pagi sekali, entah suasana hatinya sedang baik, atau buruk, sekertaris Lee saja tidak bisa menebaknya apalagi orang lain.


Penanggung jawab rapat bergerak dengan sigap, di bantu oleh sekertaris Lee, dan akhirnya rapat bisa diadakan dengan tepat waktu.


Rapat di hadiri oleh masing masing divisi, membawa map yang berisi laporan mengenai proyek yang berada di kota Saun, berjalan sekitar 2 bulan, akan tetapi ada suatu hambatan yang mengharuskan direktur sendiri untuk turun tangan.


Selama 2 jam rapat berjalan dengan sangat memuaskan, "terima kasih, untuk kerja kerasnya, "itulah ucapan yang biasa direktur lontarkan untuk menghargai jerih payah karyawannya, semua orang yang mengikuti rapat cukup senang dengan ucapan itu, sehingga termotivasi untuk lebih baik lagi.


"Sekertaris Lee..., butuh berapa lama untuk menuju kota Saun" tanya direktur itu sambil melihat ke luar jendela.


"Sekitar 3 jam pak..." ucap sekertaris Lee.


"Persiapkan semuanya, 30 menit lagi kita ke kota itu."


"Apa pak...?" tanya sekretaris Lee terkejut,

__ADS_1


kenapa begitu mendadak.


"Apa...aku harus mengulangi perkataan ku lagi?" saut direktur itu dengan tegas.


__ADS_2