HAI STEVIE MANIS

HAI STEVIE MANIS
3.Tersenyum


__ADS_3

"Ach..., lelah juga" ucap Resya masih rebahan, sambil memeluk bantal, berharap keberuntungan memihak kepadanya.


Kriiiinggg...


Resya bangun dari tempat tidur, untuk mengambil ponsel yang masih berada di dalam tas.


"hallo...,ya tante"


"Sya.., kamu jadi bantu Tante?" suara  Tante di balik ponselnya.


"Iya Tante jadi,Resya baru siap siap."


Tidak lama Resya sudah sampai di mana tempat tantenya berjualan,


"Tante maaf terlambat" kata Resya yang sudah berada di dalam tenda.


" iya tidak apa-apa..." saut tante Resya.


"Sya... Tante tinggal dulu ya."


"Ok...,tante."


"Sendirian..." ucap Leon penjual aksesoris yang letaknya tak jauh dari tempat di mana Resya berjualan. Leon seorang anak jalanan, bisa kuliah dengan biaya sendiri, dia termasuk mahasiswa yang pintar.


"ech...,kamu" ucap Resya.


"Kemana Leon?" tanya seorang laki-laki itu, ketika melihat barang barang Leon, masih tergeletak dengan rapi.


"Ach sudah lah biar ku tunggu di sini"


"Hai... sudah lama?" tanya Leon, berjalan menuju tempat dimana dia berjualan, melihat seorang lelaki duduk.


"Dari tadi...,kemana saja kamu?, tidak takut kecurian" saut lelaki itu.


" Mana ada..., yang mau nyuri aksesories imitasi ini" ucap Leon, yang sudah duduk di samping lelaki itu.


"Tumben kamu datang ke sini?, ada perlu apa?, orang kaya nongkrongnya di cafe, bukan di sini!", Leon mengodanya.


"Yang kaya orang tua ku..." ucap lelaki itu membulatkan kedua matanya kehadapan Leon.


sebenarnya adalah anak pengusaha kaya. Semua kebutuhan hidupnya sedari dia kecil sangat terpenuhi bahkan berlebihan.


Cuman sayang papa nya jarang berada di rumah. Sedangkan mamanya termasuk orang yang sangat sibuk mengurus perusahaan, dan kegiatan amal maupun organisasi lainnya.


Karena begitu cerdas, dan memiliki AQ sangat tinggi tak jarang lelaki itu membantu mamanya mengurus perusahaan itu.


Dan dengan usianya yang sangat muda dia memiliki sebuah perusahaan sendiri di bidang arsitektur, akan tetapi semua orang tidak mengetahuinya.


Sebenarnya lelaki itu seorang yang murah hati, serta mudah bergaul dengan teman-temannya .

__ADS_1


Karena sering kesepian sendiri di rumah nya yang besar, dan megah, maka lelaki itu mencari sahabat, maupun teman untuk berbicara di luar rumah.


Sedangkan perkenalan Leon dengannya di mulai, saat dia dicopet, dan Leonlah yang membantunya.


Sejak saat itu lelaki itu, sering berhubungan dengan Leon, Bahkan lelaki itu menganggap Leon sebagai kakaknya, karena lelaki itu tidak memiliki kakak.


Jika lelaki itu tidak disibuk dengan tugas sekolah, ataupun dia sering datang berkunjung ditempat Leon ini.


"Kita pindah di situ!" Leon menunjuk tempat yang di maksud, yang kebetulan tempat tersebut kosong.


Mereka berdua mengangkat dagangan itu, memang tempatnya lebih strategis. Suasana pasar malam yang berjejeran tenda tenda yang di sediakan oleh PEMDA kota, menjual beraneka ragam baju, maupun aksesoris, tas, sepatu, dan banyak lagi yang lainnya, semakin malam semakin ramai, apalagi malam minggu yang di padati pengunjung yang sekedar nongkrong bersama pacar, atau pun keluarga mereka.


Lelaki itu sangat suka berada di tempat ini yang kelihatan nyaman, di tengah kota terdapat sebuah taman yang di hiasi lampu lampion, ketika malam hari tiba terlihat sangat indah.


Lelaki itu melihat sekeliling, dia terkejut ketika melihat seorang cewek cantik, hidung mancung, rambutnya di biarkan jatuh di bahunya tertiup angin, yang sedang duduk sendiri melamun, lelaki itu terpesona ketika melihat pemandangan itu


"Sepertinya...aku pernah bertemu dengan dia, tetapi di mana?" ucap lelaki itu.


"Siapa yang kamu maksud?" tanya Leon dengan penasaran, melihat kearah matanya memandang.


" Re-sya..." kata lelaki itu, dan Leon bersamaan.


" Dave..." Leon memanggil lelaki itu sambil berteriak,


" Jangan menganggunya!" seru Leon ketika melihat Dave menoleh, sembari tersenyum usil.


Lamunannya buyar seketika mendengar bunyi gantungan baju yang jatuh tersenggol tangan seseorang.


Saat itu juga Resya berdiri mengambil gantungan baju yang jatuh tersebut, dan secara tidak sengaja tangan Resya bersentuhan dengan tangan seseorang.


Dia terkejut, "ech..." sambil menjauhkan tangannya, dia penasaran siapa pemilik tangan ini, sebab tubuh orang tersebut terhalang oleh pakaian yang tersusun rapi di gantungan.


Disaat dia mengangkat kepala, mata mereka bertatapan.


"Sedang apa kamu...di sini ?" tanya Resya dengan nada nyaring, sambil melepaskan gantungan baju yang tadinya dia pengang bersama dengan tangan orang tersebut yang bukan lain adalah Dave...


"Beli baju, masak beli sayur" jawab Dave dengan cuek, sembari sibuk melihat lihat baju yang tersusun rapi.


"Ini berapa?" tanyanya, menunjuk sebuah baju yang dia pegang.


"100 ribu" jawab Resya asal.


"Yang benar saja baju setipis ini, harga 100ribu mahal sekali, aku tawar 25 ribu" ucapnya.


"Tidak boleh,100 ribu pas, mau ambil silahkan, tidak mau pergi sana!, merepotkan saja" seru Resya dengan muka masam.


Dave masih berputar putar, sambil melihat lihat sambil sesekali melirik Resya yang sudah mulai bosan.


"Hei...sudah 30 menit, kamu niat beli tidak?" teriak Resya penuh ketegasan, dengan kedua tangannya di pinggang.

__ADS_1


"Ambil...1, cepat bungkus!" seru Dave, yang sudah memegang 1 kaos berwarna biru.


"Dari tadi kamu putar-putar, membongkar baju baju itu, kamu cuman beli 1, keterlaluan sekali" ucap Resya dengan sangat kesal.


"Uang ku sisa 100 ribu" kata Dave.


Resya memberikan kantong plastik beserta uang kembalian kepadanya.


"Bukanya tadi bilang harganya 100 ribu?" tanya Dave, sambil mengambil kantong plastik itu.


"Aku diskon, jadi harganya 75 ribu" saut Resya, sambil merapikan baju yang Dave bongkar tadi.


"Aku bantu..." Dave meraih baju yang berantakan itu.


"Tidak... perlu pergilah!" seru Resya, mengambil baju yang sudah di pegang oleh Dave.


"Aku bantu..." ucap Dave lagi, mengambil baju itu kembali dari tangan Resya.


"Tidak perlu..." Resya berteriak, dan Dave menyerah meninggalkan Resya sendirian.


Dave berjalan menuju tempat di mana Leon berjualan


"Sudah puas..." ucap Leon yang dari tadi melihat temannya sedang menganggu Resya.


"Belum..." ucap Dave singkat sambil membuka kantong plastik, dan memakai baju itu.


Resya melayani pembeli dengan ramah "cari apa mas?, bisa di bantu."


"Mau lihat lihat dulu mbak..., kalau cocok baru beli, buat istri saya" jawab pengunjung itu.


Resya dengan lincah memperlihatkan contoh display yang ada di gantungan baju, dia bertanya soal ukuran, berapa umur istrinya, dengan begitu ramah, dan sopan.


Tadinya pengunjung itu sekedar melihat lihat saja, dengan trik dagang yang Resya miliki, pembeli itu keluar dengan membawa beberapa kantong plastik.


"Begitu ya..., cara melayani pengunjung" ucap Dave, berjalan mendekati Resya yang saat itu sedang menghitung uang.


"Iya... pembeli adalah raja" saut Resya


"Kalau aku yang jadi pembelinya, apa kamu akan memperlakukan ku sebagai raja?" tanya Dave, berbisik di telinganya.


Resya yang merasa geli menjauh.


"Tergantung kamu menyebalkan, atau tidak" saut Resya, menghindar dari hadapan Dave.


Semakin Resya menghindar, Dave semakin di buatnya penasaran.


Malam semakin larut pengunjung sudah mulai berkurang, beberapa pedagang sudah mulai tutup, tak terkecuali Resya.


Dia hendak menunggu ojek, dia di kejutkan dengan suara seorang lelaki "Mau ojek mbk, tukang ojeknya ganteng lho...", sambil tersenyum menggodanya.

__ADS_1


__ADS_2