
Resya berlalu meninggalkan Dewi yang masih bertanya tanya,
sehingga Dewi berniat untuk mengikutinya.
Dia berjalan kaki menuju ke suatu rumah yang letaknya tak jauh dari sekolahnya.
Tidak lama dia sudah sampai di depan rumah itu, ketika dia hendak mengetuk pintu dia mengurungkan niatnya karena pintu rumah tersebut terkunci dari luar,
"apa Mona pindah rumah, kalau memang pindah rumah, kenapa tidak memberi tahu kita."
Dia berkeliling di sekitar rumah itu, berharap mendapatkan petunjuk, akan tetapi sia sia.
Resya hendak pergi dari rumah itu tiba tiba melihat bayangan di balik pohon letaknya di ujung jalan, dia memberanikan diri untuk berlari menuju pohon itu.
Setelah sampai di pohon itu, dia melihat perempuan yang sedang meringkuk melipat kakinya, dan tangannya memegang kedua kaki itu, sambil sesenggukan dengan tubuh gemetar berkeringat dingin.
"Mona..,kamu kenapa?" tanya Resya memeluk Mona yang sedang menangis.
Mona masih terdiam,dia memeluk Resya erat erat.
"Ba-wa aku... per-gi dari si-ni" kata Mona terbata bata.
"Iya aku akan membawa mu pergi" Resya menuntun Mona meninggalkan tempat itu sesekali melirik Mona yang masih sesenggukan, dan tubuhnya yang masih gemetar.
Resya yang masih binggung hendak membawa Mona kemana?
Tiba tiba mobil dari arah berlawanan datang berhenti di depan mereka.Dewi keluar dari mobilnya, "kenapa dengan Mona?" tanya Dewi mengerutkan keningnya.
Mereka bertiga masuk ke dalam mobil, Dewi yang hendak bertanya sebenarnya apa yang terjadi tetapi dia urungkan, tidak ada kata kata yang keluar dari mulut mereka.
"Kita ke ma-na?" tanya Mona dengan tubuh gemetar.
"Ke rumah ku" jawab Dewi.
"Oh..." ucap Mona
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di sebuah rumah yang sangat besar seperti istana, halaman yang sangat luas,di sebelah kiri halaman terdapat garasi yang sangat besar ada 5 jenis mobil mewah yang berjejer di situ,
"wow....,apakah ini rumahmu?" tanya Resya kepada Dewi.
"Rumah orangtua ku" jawab Dewi.
"Sama saja, ini juga rumahmu!" seru Resya,
Dewi mempersilahkan Resya, dan Mona untuk masuk.
Resya, dan Mona terkagum kagum dengan isi dalam rumahnya, semua serba mewah kalau di hitung rumah ini beserta isinya seharga milyaran, itu belum termasuk harga mobilnya.
"Siang non, tadi ada pesan kalau Tuan, dan nyonya keluar negeri beberapa Minggu lamanya" kata asisten rumah tangga.
"Aku tau, beberapa hari ini temanku akan menginap di sini, siap kan kamar untuk mereka" kata Dewi.
Mereka bertiga berjalan naik ke lantai atas masuk ke kamar Dewi, kamar yang begitu besar bahkan 6 kali lebih besar, dari kamarnya.
Di dalamnya ada sebuah ruangan khusus yang berisi barang barang pribadi milik Dewi, tentunya mahal-mahal semuanya, dan ada 1 kamar mandi ukuran besar yang sangat bersih,dan harum.
"berbeda jauh dengan kamar mandi ku" gumam Resya dalam hati.
Resya hendak turun untuk mengambil air putih, dan makanan, tetapi di halangi oleh Dewi.
"Tidak perlu turun,aku panggil kan bibi" Dewi mengambil ponsel yang di simpan dalam sakunya memencet nomor, beberapa menit kemudian bibi datang membawa air putih,jus dan makanan.
"Makasih bi...,tolong taruh di atas meja" ucap Dewi.
Resya beberapa kali memperhatikan sikap Dewi yang berbeda ketika berada di rumah dengan di sekolah sepertinya dia mempunyai kepribadian ganda, Resya yang begitu bingung memperhatikan sikap teman-temannya "sebenarnya ada apa dengan kalian berdua."
Resya tak berdaya melihat Mona, dan Dewi terdiam dengan pikirannya masing-masing, sedangkan Resya ingin membuka percakapan akan tetapi binggung mau mulai dari mana.
"Ach... sudahlah, sebentar juga mereka membuka mulutnya, tidak mungkin membisu terus" suara Resya lirih,
mengambil cemilan, dan jus yang berada di atas meja, hari yang terasa panas dia sudah menghabiskan 1 gelas jus.
__ADS_1
Pandangan Resya terhenti, ketika plastik kecil berisi beberapa butir obat terjatuh dari saku celana milik Mona, dia bangun dari tempat duduknya hendak mengambil plastik itu.
"Apa ini?" tanya Resya mengerutkan keningnya melihat dengan teliti plastik itu, sebelumnya dia tidak pernah melihat barang itu.
"Ech...,itu obat sakit perut, beberapa hari ini aku sakit perut" jawab Mona berusaha untuk meraih obat itu dari tangan Resya, tetapi Dewi sudah duluan meraihnya
"Kamu..., memakai obat ini juga?, sudah berapa lama?" tanya Dewi dengan tatapan penuh provokasi.
Mona tidak menjawab, berusaha mengambil obat itu dari tangannya, Resya baru sadar bahwa obat itu mirip yang dimilik Dewi waktu itu, yang tidak sengaja ia melihatnya di dalam mobil, ketika Dewi mengantarnya pulang.
Ternyata yang Dewi, dan Mona perebutkan adalah obat obatan terlarang.
Resya dengan gesit mengambil obat itu dari tangan Dewi.
"Ini...narkoba bukan?, sejak kapan kalian memakai ini?" tanya Resya mundur beberapa langkah menjauh dari mereka berdua agar obat itu tidak jatuh ke tangan mereka.
"Kamu tidak tau seberapa kesepiannya aku..., ketika orang tuaku hanya mencari uang uang, dan uang, buat mereka uang adalah segalanya, aku... benci dengan ini semua." teriak Dewi membanting semua barang yang ada di atas meja riasnya.
Dewi adalah anak tunggal, sejak kecil orang tuanya tidak pernah memberikan kasih sayang, akan tetapi semua yang Dewi butuhkan selalu tercukupi, mengenai materi dia tidak pernah kekurangan.
Di rumah yang besar ini dia tinggal bersama asisten rumah tangga, bahkan Dewi lebih dekat dengan asistennya itu dari pada kedua orangtuanya.
Resya melihat Dewi yang sudah menangis sesenggukan, sesekali Dewi teriak untuk melepaskan kemarahannya, Resya merasa kasihan berjalan mendekatinya, dan memeluknya.
"kamu tidak sendirian..., mulai sekarang ada kita, kamu tau..., resikonya ketika kamu menggonsumsi barang haram tersebut, secara tidak langsung barang itu akan membunuh dirimu sendiri secara perlahan lahan, setidaknya bersyukurlah atas apa yang Tuhan beri, di luar sana..., masih banyak orang yang tidak seberuntung kamu."
Resya berusaha menyadarkan Dewi sesekali dia ikut menangis juga.
Dewi yang sudah merasa tenang melepaskan pelukan Resya.
Tiba tiba ada bayangan yang mendekati tubuh Resya, dan merampas obat itu dari tangannya.
Mona berlari menuju kamar mandi dengan membawa obat itu, Resya kaget dan berteriak "Mona kembalikan...!" sembari mengejarnya,
Mona sudah masuk ke dalam kamar mandi hendak menutup pintu, tinggal beberapa centi pintu itu tertutup, Resya dengan sekuat tenaga menendang pintu itu, dan Mona tersungkur di lantai, dengan cepat Resya mengambil obat itu yang jatuh di dekat kloset.
__ADS_1
"Kamu menginginkan ini, ambillah...!" seru Resya dengan tangan kanan ke atas memegang obat itu.
Mona berjalan menghampiri Resya, mereka saling berhadapan, Mona menaikan tangan kanannya mengambil obat itu, ujung jari jemari Mona yang lentik panjang menyentuh ujung plastik obat itu, dan tiba tiba Resya melepaskan jari jarinya sehingga obat itu terjatuh.