
" Aduh... bangun pagi lagi!" seru Resya malas-malasan.
Hari ini merupakan hari pertama Resya mulai belajar di sekolah barunya.
Yang mana seminggu sebelumnya dia mengikuti MOS, atau pengenalan di sekolah tersebut.
Resya merapikan tempat tidur, serta menyapu halaman rumah.
"Resya... sudah sana cepat mandi!" seru ibunya.
"Baik bu..." sautnya, kemudian dia mengambil handuk dan pergi mandi.
Sehabis mandi Resya mengenakan seragam baru berwarna putih abu, sambil berkaca di depan cermin.
"Yah..., akhirnya aku sudah memakai pakaian ini" sautnya, sambil tersenyum dengan bangga, "dengar-dengar kata orang bahwa masa di SMA adalah masa yang terindah benar apa tidak yah..?"
"Resya coba lihat ke kamar joe..., apakah dia sudah bangun?"
"ach... dasar pemalas masa jam segini belum bangun" katanya dengan suara lirih.
Resya bergegas mengenakan sepatu, dan melangkahkan kakinya ke kamar Joe kakaknya.
"Ach... enak bener tuan besar ini belum bangun juga!" seru Resa, melihat kakaknya masih terlelap di atas tempat tidurnya.
"Tuan besar masih tidur bu..." teriak Resya dengan nada kencang.
Dia sengaja berteriak, agar Joe kakaknya bangun.
"Yah sudah biarkan kakakmu tidur, sepertinya kakakmu kecapekan" ucap ibunya.
"Huh... dasar" ujarnya dengan muka cemberut.
"Sarapan dulu...!" seru ibunya, Resya langsung mengambil tas sekolahnya, dan keluar dari rumah sambil berseru "nanti saja bu... sarapannya habis pulang sekolah."
Ibu nya hanya menggeleng kepala melihat tingkah anaknya itu.
Sambil memandang kepergian anak perempuannya itu, air mata keluar dari matanya.
"Ah seandainya dulu..." katanya lirih.
Ternyata Resya lupa membawa uang sakunya, ibunya bergegas untuk mengejar Resya di persimpangan gang rumahnya, akan tetapi bayangan Resya sudah tak terlihat lagi.
Sedangkan Resya terus melangkahkan kakinya dengan cepat, yang kebetulan sekolahnya tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Setelah dua puluh menit Resya berjalan akhirnya sampai.
Setelah sampai di gerbang sekolah, tiba tiba ada sebuah mobil sedan bagus berhenti di depan gerbang itu, tak lama keluar seorang cewek cantik dari dalamnya .
"Nah...itu kan Dewi" gumam Resya. Sebab selama seminggu saat MOS Resya tidak melihatnya.
__ADS_1
Dewi yang melihat Resya tidak jauh dari tempatnya berdiri melambaikan tangannya sambil berkata, "Resya... sini!" seru Dewi.
Resya tersenyum dan bergegas mendekatinya, "kamu... kemana saja?, kenapa saat MOS kemarin di sekolah aku tidak melihat kamu?" tanya Resya sambil berjalan di samping Dewi.
"Malas... ikut kegiatan itu" jawab Dewi singkat.
Resya sebenarnya ingin bertanya lagi, akan tetapi bel sudah berbunyi,Tetttt...
Semua murid langsung berlari menuju kelasnya masing-masing, begitu juga dengan Resya dan Dewi.
Setelah masuk dalam kelas mereka berdua memilih bangku yang paling depan.
Tak lama kemudian seorang guru wanita masuk, dan memperkenalkan diri, serta mengajak semua murid untuk maju kedepan memperkenalkan diri mereka.
Setelah itu guru tersebut memberikan jadwal pelajaran, serta kegiatan extra kurikuler yang ada di sekolah.
Tak lama kemudian terdengar bunyi bel tanda waktu istirahat.
"Sya... kamu mau ikut extra kulikuler apa?" tanya Dewi. Mereka bertiga Mona, Resya, serta Dewi sedang duduk di depan kelas, banyak anak anak cowok yang menggoda Dewi.
Bagaimana tidak tergoda dengan kecantikannya, dia seorang anak orang kaya semua barang yang dipakainya bermerek. Apalagi wajahnya yang di poles dengan make up, bagi siapa saja yang melihat nya akan berkata "seperti seorang tuan putri."
"Ngak... ada waktu" Jawab Resya yang dari tadi menundukkan kepala, sambil bermain manik-manik gelang di tangannya, dia sengaja menyibukkan diri karena risih dengan lirikan, dan godaan cowok-cowok yang berlalu lalang, sengaja bolak balik di depan kelas Resya.
"Kita ke ruang OSIS yuk...!" ajak Dewi sembari menarik tangan Resya dan Mona.
"Buat apa?" tanya Resya.
"hidupku sudah ribet, punya cowok tambah ribet" saut Resya.
"Temani kita saja..." saut Dewi, dan akhirnya Resya bersedia ikut.
Sebenarnya dia malas ke ruang OSIS, pasti bertemu dengan kakak kelas yang suka jahil, serta lelaki sombong itu, sejak kejadian pura pura pingsan tiap kali bertemu dengannya, selalu melototin Resya seperti ingin menerkamnya.
Resya yang tangannya sudah di tarik Dewi, dan Mona, akhirnya sampai di depan pintu ruangan OSIS yang di penuhi murid perempuan, entahlah apa mereka berniat sungguh sungguh untuk mendaftar, atau sengaja mencari perhatian dari kakak kelas mereka.
"Berisik sekali..., ciiih..sok kegantengan, Mon kamu masuk sana cepat, aku tunggu di luar" ucap Resya yang dari tadi melirik lelaki, yang sedang menulis dengan dikerumuni beberapa perempuan.
"Kak Dave... mau daftar masih bisa kan?" tanya Mona yang sudah berada di hadapan Dave.
"Iya...,temanmu tidak ikut?" tanya Dave sambil melirik Dewi dan Resya yang berdiri di depan pintu, Resya yang dari tadi berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada, pura- pura tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Hm..." Mona binggung mau menjawab apa.
Dewi langsung maju dan berdiri di samping Mona sambil tersenyum genit menjulurkan tangannya ke arah Dave untuk bersalaman, tetapi rupanya Dave hanya diam sambil memandang Dewi dan berkata "Ogh... ternyata kamu masuk di sekolah ini juga putri cantik,"
Mendengar panggilan itu membuat Dewi salah tingkah, "Iya..., kakak ganteng" saut Dewi dengan tersenyum genit.
"Kamu juga mau daftar?" tanya Dave kepada Dewi.
__ADS_1
"Yah... pasti dong" jawab Dewi dengan nyaring.
Dave hanya menarik nafas dan memberikan formulir pendaftaran ke arah Dewi dan Mona.
"Kalau kamu?" tanya Dave sambil melirik ke arah Resya, sedari tadi mematung di depan pintu.
Mendapat pertanyaan tersebut, Resya hanya tertunduk sambil menggelengkan kepalanya, tanda tidak mau.
"Baguslah..., disini tidak menerima cewek yang lemah" saut Dave melirik Resya lagi.
"Apa kamu bilang?, aku cewek lemah?, waktu itu aku cuman pura-pura ping..."Resya tiba tiba tidak melanjutkan kata katanya, dan menutup mulutnya dengan tangan.
"Sialan..., aku ngomong apa ini, hampir saja keceplosan" gumam Resya dalam hati yang masih berada di pintu ruangan OSIS.
"Kenapa tidak di lanjutkan?" saut Dave yang sudah memprofokasinya.
"Tidak aku tidak bilang apa-apa, sudahlah iya iya aku memang cewek lemah puas," teriak Resya,
"dari pada tambah ribet urusannya" gumamnya dalam hati.
"Aduh...,kak maaf teman ku tadi, dia memang mudah tersinggung" kata Mona dengan nada memohon.
Sedangkan Dewi sibuk memandang wajah Dave yang tampan itu.
"Ajarin dia sopan santun, kalau susah di ajar biar aku yang ngajar!" seru Dave dengan cuek, sambil melirik Resya yang berada di luar ruangan.
"he he..." Mona dan Dewi cuman tertawa, dan keluar ruangan menarik tangan Resya untuk pergi.
Bel pulang sekolah berbunyi, murid murid berhamburan keluar kelas, saat itu Resya dan Mona berjalan menuju tempat parkir.
"Sya..., kamu ngak takut dengan kejadian tadi?" tanya Dewi.
"Maksud kamu dia? kenapa mesti takut memangnya dia pemilik sekolah ini?" tanya Resya, sambil menunjuk cowok yang tak jauh dari mereka berdiri. Mona sudah tahu siapa yang di maksudnya, sedangkan Dewi yang tadinya banyak bicara sudah membisu hanya memandang Dave.
"Lihat itu Mon...!, masih ada ya...cowok sok ganteng, yang bangga menggunakan fasilitas orang tua" seru Resya, sambil melirik Dave yang sudah duduk di dalam mobil.
Sedangkan Dewi berkata "yah..., suka-suka dia dong", maksud Dewi berkata seperti itu untuk membela Dave.
Mendengar perkataan Dewi, Resya, dan Mona terdiam.
"Lagi datang bulan...?, dari tadi marah-marah tidak jelas, lagian apa urusannya dengan kamu?" jawab Dave dengan membunyikan klakson mobilnya dengan nyaring.
Saat itu mereka yang berada di depan mobilnya terkejut, dan menyingkir.
"Dasar cowok gila..., tidak punya perasaan" teriak Resya, dengan menghentakkan kakinya di tanah.
Sedangkan Dewi, serta Mona hanya tersenyum melihat tingkah Resya.
"Ternyata bisa marah juga teman kita yang satu ini" kata Dewi, sembari tertawa, diikuti Mona.Resya terdiam hatinya masih kesal.
__ADS_1
Dave melajukan mobilnya dengan tersenyum penuh kemenangan.