
Sekolah Menengah Kejuruan XY.
Seorang cowok berdiri di depan pintu pagar berjalan mondar mandir,sedang menunggu seseorang,dia pikir penantiannya sia sia ketika orang yang dia tunggu tidak kunjung datang,dia membuang nafas kesal,ketika hendak berbalik berjalan masuk sekolah,tiba tiba tersenyum"syukurlah sudah sehat".Ketika dia melihat Resya turun dari bis dan berjalan sendirian.
Cowok itu berlari menghampirinya,meminta maaf atas kejadian yang tidak dia sengaja, sehingga membuat Resya di rawat di rumah sakit,"sungguh...kamu memaafkan aku,"sambil memegang kedua bahunya.
"iya...benar,buktinya aku masih mau berbicara dengan mu,"
Mereka berjalan berdampingan,sesekali bercanda,Al yang sejak dari tadi senyum senyum melihat Resya dari samping,
mengutarakan kekagumannya,
kamu yang begitu polos,sepolos wajahmu tanpa polesan,memiliki hati yang mulia penuh dengan pengampunan,hati siapa yang tidak sejuk ketika berada di sampingmu.
"Apa tidak ada yang marah,kalau kita seperti ini?"
"maksud kamu Al"
"siapa tahu cowokmu marah,ketika kita berjalan berdua seperti ini"Al sembari memandang sekeliling,kuatir Dave yang tiba tiba datang dan memukulnya.
"aku tidak punya cowok"Resya menegaskan sembari meliriknya.
Al yang mendengar perkataan itu terkejut
apa maksud perkataan Dave kemarin yang mengaku kalau Resya adalah pacarnya.
"serius?"Al menyakinkan,
Resya menganggukan kepalanya.
Padahal Al ingin bercerita lebih banyak,tetapi bel tanda masuk pelajaran pertama berbunyi.
Dia cepat cepat mencari tempat duduk yang berdekatan dengan Resya.Tetapi Al kalah duluan,dia harus bernegosiasi dengan temannya supaya mau berpindah tempat,dengan susah payah akhirnya temannya menyetujui,itupun dengan syarat ketika pulang sekolah nanti Al mentraktirnya makan siang.
__ADS_1
Karena jam pertama,Guru tidak datang,jadi hanya memberikan tugas dan,saat itu Resya yang duduk di bangku nomer 3 dari depan,dan Al duduk di belakangnya.
"Al boleh aku pinjam bukumu?"buku Resya tertinggal di rumah.
"ambillah,aku bisa pinjam teman sebelahku"Al menyodorkan buku pada Resya,dan Al sendiri meminjam buku dari teman sebangkunya.
Resya membolak balikkan halaman buku satu persatu,mencari tugas tersebut.Secara tidak sengaja dia melihat satu halaman yang bertuliskan sebuah puisi:
Ikan di lahirkan untuk berenang
Burung di lahirkan untuk terbang
Tetapi engkau di lahirkan untuk ku cintai...
Deg...jantung Resya berdetak kencang tidak seperti biasanya,seakan akan jantung itu ingin melompat keluar,dia memutar kembali ingatannya beberapa tahun lalu ketika dia duduk di bangku SD,masa masa di mana dia pertama kali bertemu dengan seorang cowok angkuh,sok cool,awal pertemuan mereka di warnai penuh pertengkaran hanya gara gara hal yang tidak penting.
Karena cowok itu tinggal berdekatan dengan rumah Resya jadi mereka sering bertemu, seiring berjalannya waktu mereka saling mengenal satu sama lain,Resya memandang sesosok cowok itu yang cool,angkuh tetapi di balik itu semua ada 1 sifat yang Resya kagumi yaitu sebuah perhatian yang lebih dan kasih sayang kepadanya,di mana ada Resya,di situ juga cowok itu berada.
Karena perusahaan papa cowok itu bangkrut sehingga rumahnya di jual untuk melunasi hutang,cowok itu berserta keluarganya harus pindah ke kampung halaman orang tua dari mamanya,saat itu mereka masih kecil yang tidak tau apa apa,mereka yang baru mengenal cinta monyet harus berpisah,Resya maupun cowok itu belum sempat perpisahan.
"Stevie...maafkan aku,aku tidak bisa menepati janjiku"ucap cowok itu memegang tangan Resya,ya Stevie adalah panggilan cowok itu padanya.
Resya tidak bisa berkata kata,dengan wajah sedih melihat cowok masa kecilnya di tarik paksa oleh papanya untuk segera masuk ke dalam mobil,beberapa menit kemudian mobil itu berjalan menghilang jauh dari pandangannya.
Resya menangis sesenggukan,pipinya yang kering kini basah,"bukankah kamu berjanji,kamu tidak akan meninggalkan ku."
"apa ini..."Resya melihat secarik kertas yang ada di tangannya,cowok masa kecilnya itu ternyata menyempatkan waktu untuk menulis sebuah puisi.
flash back off
"Apakah mungkin?"Resya masih tidak percaya,dia melirik Al dan membandingkan wajah cowok masa kecilnya dengan Al "ach...aku sudah lupa wajah itu,yang aku ingat hanya sebuah puisi dengan sebuah lagu yang dia ciptakan khusus buat ku."
Al yang merasa aneh,ketika Resya menatapnya"Sya... kenapa kamu melihatku seperti itu"
__ADS_1
"ya..."mata Resya masih menatapnya,Al mengusap wajah Resya dengan lembut"naksir ya..."
"ach...iya ech enggak"ucap Resya gugup.
"buku ini kamu beli di mana?"tanya Resya penasaran
"ya...beli di toko buku lah."
Resya ingin bertanya lebih jauh lagi soal puisi yang ada di dalam buku itu.
Tetapi dia urungkan karena sedari tadi Al sibuk dengan teman-temannya.
Teeeettt...bunyi bel istirahat,Dave yang dari tadi menunggu Resya di luar kelasnya,disambut tidak ramah oleh Al"yang sok jadi pahlawan kesiangan,ini bukan kelas mu,buat apa kamu datang kesini."
Dengan matanya yang melotot Dave melihat Al seakan akan mau merobek mulutnya"apa urusan kamu,ini juga bukan sekolah nenek moyangmu kan?"
Emosi mereka sudah memuncak,saling mengepalkan tangan dan Al yang hendak memukul Dave duluan,untung tiba tiba Resya berteriak "tidak bisakah kalian berbicara dengan kepala dingin."
Resya mendekati mereka memandang Al dan Dave bergantian,"kalian mau sampai kapan begini terus?"
Mereka berdua saling bertatap muka,Dave malas cari keributan,dia lebih baik menyingkir meninggalkan kelas itu,Resya hendak pergi mengikuti Dave,tetapi langkah kakinya terhenti ketika Al berkata"Sya...kamu mau kemana,aku ikut ya?"
"dia tidak butuh pengawal"saut Dave yang ikut berhenti.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan di ruang OSIS"ucap Resya tersenyum,menandakan kalau dia akan baik baik saja.
"tapi aku kuatir kalau kamu bersama dengan dia!"Al melirik Dave.
"sebenarnya siapa yang memukul Resya,sampai masuk Rumah sakit?"Dave memandang Al dengan sinis.
"kamu..."Al mengangkat tangannya hendak memukul Dave.
Sebelum pukulan itu mengenainya,Dave sudah berjalan meninggalkan Al.
__ADS_1
Resya sejak dari tadi memperhatikan sikap Al yang penuh emosional,kasar,ringan tangan,"tidak mungkin,dia bukan Al dan Al bukan dia,dia jauh lebih baik dari Al"gumam Resya dalam hati
Resya semakin yakin,akhirnya dia memutuskan untuk menyimpan puisi dan kenangan kenangan manis itu,ia melipat kertas itu kembali masuk di dalam tasnya, selembar kertas puisi yang sempat ia robek diam diam dari buku Al...