HAI STEVIE MANIS

HAI STEVIE MANIS
28.Sama rata


__ADS_3

Resya bermain dengan penuh bersemangat dan lincah, Al yang berusaha mengimbanginya, sesekali mereka bercanda, saling mengejek satu sama lain seakan akan lapangan basket itu milik mereka berdua.


Mereka tidak sadar akan kehadiran seseorang dengan mata tajam, raut muka penuh amarah yang sedari tadi mengawasi gerak gerik mereka.


" Sialan...baru juga marahan sebentar, sudah berpaling ke laki laki lain " tangan Dave mengepal memukul tembok, darah segar keluar dari tangannya, sehingga menimbulkan bekas darah menempel di tembok itu.


Dave yang tidak kuasa menahan api cemburu, ketika melihatnya berduaan dengan laki laki lain, dia berlari keluar dari lapangan itu.


Tidak sengaja tiba tiba dia bertabrakan dengan seorang cewek, " aduh maaf...aku tidak sengaja, " ucap cewek itu.


Cewek itu mengatupkan kedua tangannya menunduk meminta maaf, dia melihat tangan Dave berlumuran darah, mengenai bajunya, "kenapa dengan tanganmu? "


Dave tidak menjawab pertanyaannya.


Cewek itu menarik paksa lengannya menuju ke UKS.


" Pergilah...jangan pedulikan aku " ucap Dave menjauhkan tangan cewek itu dari lengannya.


Cewek itu begitu kesal akan sikap keras kepalanya, tiba tiba " achhh...sakit " Dave berteriak kesakitan, cewek itu mencubit tangannya yang terluka.


" Jangan bersikap kekanak-kanakan, ayo...jalan " cewek itu mendorong tubuh Dave menuju ke UKS.


Dengan begitu telaten, cewek itu merawat tangannya yang terluka, meneteskan cairan berupa alkohol di kapas, lalu membersihkan sisa sisa darah yang masih menempel di tangan laki laki itu supaya tidak infeksi, Dave sesekali mendesis kesakitan, " kenapa dengan tanganmu? " pertanyaan yang sama dia lontarkan pada Dave.


Pikiran Dave saat itu sedang kacau balau, memorinya tidak bisa menghapus bayangan bayangan Resya bersama laki laki lain di lapangan basket.


" Dave...!" tegur cewek itu.


" Hmm..." sautnya tanpa bersuara.


" Dari tadi aku bertanya kepadamu, kamu baik baik saja? " kata cewek itu.


" Aku tidak apa apa "


Cewek itu mengernyitkan dahinya, " tidak mungkin kalau tidak ada apa apa, "


Ketika cewek itu membalutkan kain kasa di tangan Dave.


Seorang laki laki menghampiri mereka,


" Dewi...sedang apa kalian disini ?"


Cewek itu terkejut, kain kassa yang dia pegang terjatuh di lantai.


" Aku sedang mengobati tangannya yang terluka " melepaskan tangan Dave yang sempat dia pegang.


Dengan tatapan curiga, memandang Dewi dan Dave bergantian.


" Kenapa bukan Resya?" tanya Bryan, karena Dewi ketakutan akan tatapannya, dia terdiam.

__ADS_1


" Cewekmu sudah mencari Resya kemana mana, tetapi tidak menemukannya " Dave berkata sambil mengambil kain kassa itu di lantai yang sempat terjatuh.


Karena tangan Dave sudah terbalut kain kassa dengan sempurna, Bryan menarik tangan Dewi untuk keluar dari ruangan itu,


" Lain kali..., kamu tidak boleh berada satu ruangan dengan cowok lain termasuk dia " Bryan berkata dengan keras penuh ancaman.


Di lapangan basket


" Aku berhutang padamu...lain waktu aku akan mentraktirmu "ucap Al dengan nafas ngos ngosan, kalah bertanding dengan Resya.


Mereka berdua duduk dengan kaki di selonjorkan sambil menikmati air mineral yang sempat Al bawa tadi.


" Apa yang membuatmu suka kepada cowok itu ?" tanya Al yang tidak mau menyebutkan namanya.


" Maksud kamu ? kak Dave..." Resya berkata sembari menoleh.


Resya bercerita sembari membayangkan wajah Dave yang begitu tampan, kulitnya yang putih, hidung mancung, alis tebal, memiliki rahang muka yang kuat dan tegas, terlihat maskulin dan sexsi, tiba tiba Resya teringat kejadian sewaktu di pantai menginap satu kamar yang sama dengannya.


Resya tersenyum sembari ujung tangannya menyentuh bibirnya yang merah seperti buah cherry, dia yang sangat merindukan ciuman itu, yang begitu manis.


Al yang masih berada di sampingnya, terasa cemburu, ketika Resya begitu mengaguminya.


Dia membuang nafas penuh kekecewaan.


"Apa kamu, sangat mencintainya? " tiba tiba Al melontarkan pertanyaan itu, membuyarkan lamunannya.


" Biarpun orangnya menyebalkan, egois, menang sendiri,aku sangat mencintainya..."


" Cinta mu kepada dia...,lebih besar mana dengan cowok masa kecilmu..."


deg...


jantung Resya berdetak, kenapa tiba tiba Al mengingatkan kembali akan masa lalunya, padahal dirinya sudah melupakannya sejak kehadiran Dave disisinya


" Sama rata...,"


" Maksudmu...?" Al mengerutkan dahinya tidak tahu apa yang di ucapkannya.


" iya sama, bedanya yang satu masa lalu, yang satunya masa kini " ucap Resya tersenyum.


Ketika Resya melihat jam di ponselnya, sebentar lagi memasuki jam mata pelajaran ke 2, dia yang masih penasaran melihat baju yang ia kenakan," Al...kamu mendapatkan baju seragam ini dari mana ?"


" Itu tidak penting,ayo cepat... "Al mengajak Resya untuk masuk kelas.


Resya enggan untuk masuk ke dalam kelas, dia berniat untuk pulang ke rumah atau sekedar berjalan jalan.


Al berusaha untuk membujuknya, " sampai kapan kamu akan menghindar, di mana Resya yang dulu pantang menyerah, badai akan berlalu Sya..., hadapilah..."


" Aku...,ada urusan kamu duluan ya!" Al berlalu pergi meninggalkan Resya.

__ADS_1


Ketika Resya berjalan menuju kelasnya, dia berpapasan dengan beberapa anak yang melemparinya tadi pagi, Resya melindungi kepalanya, sembari berjalan dengan cepat, siapa tahu kejadian tadi pagi terulang kembali.


" Resya... tunggu!" suara panggilan dari orang yang dia kenal.


Resya menoleh ternyata betul dugaannya, salah satu orang yang melemparinya.


Ketika dia hendak melangkahkan kaki, tiba tiba ada yang menarik tangannya, dan berkata " Sya...aku minta maaf "


" Ech..." Resya binggung sebenarnya apa yang telah terjadi, kenapa minta maaf.


" Lihat lah ini " anak itu memberikan Resya selembar kertas.


Setiap kali Resya berjalan dan berpapasan dengan orang, pasti orang itu mengatupkan tanganya kepadanya dan berucap"maaf."


Resya di buat binggung atas sikap penghuni sekolah ini.


Karena terburu buru Resya tiba tiba menyengol seseorang yang tak lain adalah Amel, dengan tatapan penuh dendam Amel berkata " tunggu pembalasan ku, "


Resya mengernyitkan dahinya ketika melihat Amel menenteng tasnya, dan mengenakan baju olah raga milik laki laki yang kebesaran di tubuhnya.


Suasana heboh ketika satu kelas melihat Resya datang, tak terkecuali Dewi dan Mona bertanya dari tadi pagi Resya kemana saja.


Dewi memberi selembaran kertas kepada Resya," apa kamu sudah melihat?"


" ini aku memegangnya, maksudnya apa?" tanya Resya.


"Jadi kamu tidak tahu..." Mona berkata dengan menggelengkan kepalanya.


Dewi bercerita, bukti melalui selebaran kertas itu sudah kuat, bahwa Resya telah di fitnah, dan sebenarnya Amel bisa berenang.


Resya menghela nafas lega, dia melihat foto Amel yang sedang memakai pakaian renang yang sedang mengikuti lomba tingkat nasional.


" Lalu...siapa yang menyebarkan ini semua?" ucap Resya sembari menggoyangkan selebaran kertas yang dia pegang.


Dewi dan Mona menggelengkan kepalanya, "sudahlah...,yang penting Amel sudah mendapat hukuman dari pihak sekolah "


Dewi dan Mona memeluk Resya, sekarang sahabatnya itu sudah bisa tersenyum lagi.


Sepulang sekolah


Resya sejak dari tadi tidak melihat Dave cowok yang dia sayangi, tidak mungkin cowoknya sebagai ketua OSIS tidak mengetahui soal selebaran ini.


Resya berlari menuju ruangan OSIS " apa kalian melihat ketua OSIS " Resya bertanya kepada salah satu teman Dave.


" Aku melihatnya, di tempat parkir " ucap Teman Dave yang lain.


" Terimakasih " Resya berlari.


Resya melihat Dave yang sedang terburu buru masuk ke dalam mobilnya,

__ADS_1


" kak Dave...tunggu " teriak Resya.


__ADS_2