
"Pagi...tante" sapaan yang sopan, dan genit dari seorang perempuan bernama Dewi.
Mereka berdua menoleh ke arah suara tersebut, Dave terkejut ketika yang datang adalah Dewi dalam hatinya berkata "dimana Bryan?"
"Ech...anak cantik, mari sini masuk!" seru mama Dave, berdiri dan menarik tangan Dewi untuk masuk ke dalam kamar.
"Ma...bukannya tidak baik seorang perempuan masuk ke kamar laki laki" ucap Dave melirik Dewi.
Entah apa yang terjadi pada Dave, yang biasanya tidak pernah bersikap kasar terhadap perempuan terutama dengan Dewi teman kecilnya ini, akan tetapi akhir akhir ini Dave merasa kurang nyaman dengan Dewi.
Dewi melihat tatapan tajam darinya, mengigit bibir bawah, dan terdiam, mama Dave melihat Dewi dan Dave bergantian lalu berucap "nak...Dewi datang kesini untuk menengok kamu."
Dave membuang nafas kesal sembari memasang muka cemberut dan berseru "aku tidak butuh di tengok, pergilah!"
"Nak, bersikaplah yang sopan kepada perempuan."
"Oh iya cantik, bisa bantu suapin Dave, tante tinggal dulu ya..."
Ucap mama Dave berlalu pergi meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.
Dewi mendekati tempat tidur di mana Dave berbaring dan duduk di pinggir tempat tidur itu.
Dave yang kurang nyaman akan sikapnya, dia mengeser tubuhnya sembari merintih kesakitan, menjauh dari Dewi.
"Dimana kekasihmu, kenapa tidak bersamamu?" tanya Dave penuh selidik.
"Oh...Bryan, sebentar lagi dia datang."
Ketika Dave ingin mengambil bubur yang berada di atas meja, yang jauh dari jangkauan tangannya, tiba tiba tangan Dewi sudah mengambil bubur itu duluan dan menyuapinya, akan tetapi Dave menolak, terjadilah tarik menarik antara tangan Dave dengan Dewi memperebutkan piring yang berisi bubur, tiba tiba piring itu tumpah sehingga membuat baju Dave kotor akan tumpahan bubur.
"Sialan, bukannya sudah kubilang aku bisa makan sen-di-ri" teriak Dave dengan mata melotot menatap Dewi.
Dewi ketakutan, dia tidak pernah melihat Dave semarah itu, apalagi hanya gara gara hal sepele.
"Dav...maaf aku tidak sengaja" Dewi menundukan kepalanya.
Dave bangun dari tempat tidurnya, akan tetapi tiba tiba kepalanya pusing, dia kembali duduk sembari memijat dahinya.
Dewi memegang tangan lelaki itu sembari berkata "Dav...kamu tidak apa-apa?, mukamu pucat sekali."
__ADS_1
Akan tetapi Dave menepis tangannya dengan kasar.
Dewi berdiri menuju lemari yang terletak di sudut ruang, lalu memilih baju yang kira kira cocok untuk Dave.
Tidak lama Dewi memilih satu potong kaos yang berjenis bahan katun, lalu menghampirinya, Dave yang saat itu kepalanya masih terasa pusing memijit dahinya siapa tahu bisa mengurangi rasa sakit itu.
Akan tetapi Dewi tiba tiba membuka kancing baju milik Dave tanpa seijinnya, entah sejak kapan seorang perempuan berdiri di depan pintu kamar itu, melihat pemandangan di depan matanya yang sangat menjijikkan, dia mengepalkan tangannya, amarahnya tidak bisa di bendung lagi, menjatuhkan kantong plastik sambil berkata "sorry...aku mengganggu."
Mereka menoleh asal suara itu, dan terkejut ketika melihat Resya berdiri di depan pintu, sambil menatap tajam Dewi dengan Dave bergantian, lalu melihat tangan Dewi yang sedang menyentuh dada telanjang milik lelaki itu.
Dave menyingkirkan tangan Dewi, dan mengumpulkan segenap tenaganya untuk bangun berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit di perutnya untuk menghampiri Resya.
"Ini semua salah paham, tidak seperti apa yang kamu lihat" ucap Dave lirih memegang tangan Resya.
"Baru kemarin kamu mengajak ku menikah, sekarang..." ucap Resya sembari mengeleng gelengkan kepalanya, tidak percaya akan sikap kekasihnya yang sudah berkhianat dengan sahabatnya sendiri, menepis tangan Dave lalu berlari sambil menangis.
"Resya tunggu!" seru Dave ingin berlari menyusulnya, akan tetapi kepalanya terasa berat tidak mampu untuk berdiri, lalu dia memegang kuat kursi yang ada di depannya.
"Mama...,kejar dia untukku" teriak Dave yang melihat mamanya berada di lantai bawah.
Mama Dave binggung tidak tahu apa maksud perkataan anaknya itu, dia hanya terdiam melihat Resya berlari melewatinya, menuju pintu keluar, akan tetapi ketika Resya sampai di luar rumah dia di hadang oleh beberapa pelayan, Resya menatap tajam pelayan itu.
Resya menepis tangan pelayan itu lalu dia berlari dengan sekuat tenaga menuju tempat di mana motornya berada, dengan kecepatan tinggi dia melajukan motornya, pelayan itu ingin mengejarnya akan tetapi sudah terlambat.
"Nak..., sebenarnya ada apa?" membantu Dave masuk ke dalam kamarnya.
"Ma..., usir perempuan ini!" seru Dave melirik Dewi.
"Bersikaplah yang sopan terhadap perempuan!" seru mamanya lagi.
"Kalau mama tidak bisa mengusir dia, aku yang akan pergi" Dave berdiri.
"Tunggu, kamu masih sakit nak..." ucap mamanya menuntun Dave duduk di tepi tempat tidur.
Lalu dia berdiri menghampiri Dewi "gadis cantik pulanglah!, Dave butuh waktu untuk sendiri" ucap mama Dave membujuk Dewi.
"Baiklah...Tante Dewi pamit dulu, besok Dewi datang lagi" ucap Dewi dengan senyuman genitnya dan berlalu pergi, sedangkan Dave sama sekali tidak melihat wajah Dewi.
"Nak, sebenarnya siapa perempuan tadi?" mama Dave mengulangi pertanyaannya.
__ADS_1
"Dave sangat mencintainya, kita sudah berpacaran beberapa bulan ini."
"Apa?"
"Pengantar makanan itu pacar kamu?, apa tidak ada yang lebih bagus lagi?, kamu adalah Dave Albert Ardian pemilik perusahaan Ardian Contrakting Company, apa kata orang nanti?" mama Dave memegang dahinya, tidak percaya anak semata wayangnya bisa berpacaran dengan perempuan itu.
"Ma..., cukup jangan menghinanya, dia berbeda dengan perempuan perempuan di luar sana, bahkan dia lebih baik dari pada lelaki yang mama nikahi" ucap Dave tanpa melihat mamanya.
"Bukan maksud mama untuk merendahkannya, mama menikahi papa tirimu itu ada alasannya."
"Kalau begitu apa bedanya?, Dave mencintai Resya juga ada alasannya."
"Ach...sudahlah, kamu memang keras kepala" mama Dave pergi meninggalkan kamarnya.
Mama Dave menghampiri pelayan yang sedang memasak di dapur, karena majikanya tidak bisa memasak jadi dia hanya membantu memotong sayur sambil mengobrol.
"Apa bibi Ndun mengenal perempuan pengantar makanan tadi?" tiba tiba pelayan itu terkejut akan pertanyaan majikannya.
"Maksud nyonya, nona Resya?" dengan suara lirih, takut salah bicara sehingga membuat majikannya tersinggung.
"Terus..." ucap majikannya ingin mendengar tentang Resya di mata pelayan itu, akan tetapi pelayan itu terdiam binggung mau jawab apa.
"Ceritakan semua tentang dirinya!"
"Sudah 3 kali nona Resya bertamu di rumah ini nyonya..., anaknya sangat baik, sopan, pintar, cantik lagi" ucap bibi Ndun mengungkapkan kekagumannya akan Resya.
"Terus" kata majikannya yang tidak sabar mendengar ceritanya.
"Ketika Tuan Dave sakit, dengan sangat telaten non Resya merawat tuan Dave, dan dia pintar masak nyonya..." ucap bibi Ndun sambil membayangkan ketika melihat Resya memasak untuk tuan mudanya.
"Kalau saya lebih memilih non Resya, dari pada non Dewi" ucap Bibi Ndun tidak sadar dia sedang berbicara dengan majikannya.
"Tidak ada yang menyuruh kamu untuk memilih, bukannya dia hanya seorang pengantar makanan?"
"Maaf nyonya..."
"Kerjakan tugas kamu!" seru majikannya sambil menepuk bahu bibi Ndun dan berlalu meninggalkan dapur.
" Kenapa nyonya bisa berkata begitu?, kasihan sekali non Resya, padahal dia sangat baik" gumam Bibi Ndun.
__ADS_1