HAI STEVIE MANIS

HAI STEVIE MANIS
37.Kembalinya Dave ke rumah


__ADS_3

Resya melihat wajah Dave pucat dengan memegang perutnya, dia berusaha menuntun Dave masuk ke kamar, pelan pelan Resya membaringkan tubuh Dave yang lemas itu di atas tempat tidur.


Dave diatas tempat tidur memegang perut sembari merintih kesakitan, ketika Resya hendak pergi mencari obat pereda rasa nyeri tiba tiba tangannya di tarik " jangan pergi..."


"Aku hanya ingin mencari obat" ucap Resya menatap Dave, sambil mengusap lembut kepalanya.


Resya berjalan menuju ke dapur, terlihat sebuah lemari kecil, dia membuka ternyata isi nya kosong, tidak menemukan obat apapun di dalam, lalu dia berinisiatif mengambil air untuk mengompres Dave.


Tidak lama dia kembali masuk ke dalam kamar, terlihat Dave terkulai lemas di atas tempat tidur, di saat Resya mengompres, Dave mengingau menyebut nama seorang perempuan "hai...Stevie manis."


Resya terkejut sehingga menjatuhkan handuk kecil itu di lantai.


Ceklek...


suara pintu terbuka, terlihat Leon pemilik rumah ini datang terburu buru dengan membawa kantong plastik kecil.


"Sejak kapan kamu ada di sini?" Leon kaget melihat Resya di dalam kamar bersama Dave yang sudah terbaring di atas tempat tidur.


"Dari tadi, Dave sakit apa?kenapa tiba tiba dia demam?"


"Sepertinya penyakitnya kambuh lagi, aku pergi membeli obat ini" ucap Leon menunjukkan kantong plastik kepada Resya.


"Kemarikan..." Resya mengambil kantong plastik yang berisi obat.


"Kak...minum obatnya dulu" ucap Resya pelan, mengusap usap pipinya.


Dave mengernyitkan mata, ketika melihat yang di depannya ada perempuan yang dia cintai lalu berkata


"ka-mu tidak meninggalkan ku."


"Aku masih di sini, ayo minum obat!" Resya membantu Dave untuk duduk, kemudian Leon memberikan air kepada Resya.


Sehabis makan bubur, dan minum obat, Dave tidur kembali.


Tiba tiba Leon datang menghampirinya "Bagaimana keadaannya?" tanya Leon dengan berbisik.


"Suuut..." ucap Resya, menarik Leon untuk keluar dari kamar.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Dave?" tanya Resya.


"Dari tadi malam dia mengeluh sakit nyeri di perut, sepertinya dia sakit mag"


Resya menyesal kenapa dia baru tahu kalau Dave mengidap sakit mag akut, coba tadi dia tidak datang terlambat untuk mengantar makanan, dan harusnya makanan tadi untuk dia, malahan aku yang makan lebih banyak dari pada dia.


"Sudah tidak usah di sesali, kita cari cara supaya Dave mau pergi ke dokter" ucap Leon.

__ADS_1


kriiiinggg...


Ponsel Leon berdering.


"iya...hallo, baik aku akan siapkan"


tut...tuuuttt...


Sambungan telpon terputus.


"Sya... pulanglah, aku mau mengantar Dave pulang ke rumahnya."


"Aku ikut."


"Tidak perlu, pasti ibu kamu menunggu mu di rumah" ucap Leon


Padahal Resya enggan untuk pulang, dia ingin menjaga kekasihnya itu hingga sembuh, dan mengantarkannya pulang, akan tetapi betul juga perkataan Leon, pasti ibu sudah menungguku dari tadi, kalau Resya tidak pulang secepatnya bisa jadi dia diusir dari rumah.


"Baiklah..." sebelum pulang Resya masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi Dave, menyentuh lembut pipi dengan keningnya, dia bernafas lega akhirnya demamnya turun juga, mudah mudahan sebentar malam semakin membaik.


"Kak...aku pulang ya, cepat sehat biar kita bisa bermain main lagi" berbisik di telinga, lalu mencium kening Dave.


Tidak tahu kenapa perasaannya tidak ingin jauh dari nya, ketika dia berjalan keluar dari rumah itu, tiba tiba dia masuk kembali ke dalam rumah, lalu menuju ke kamar di mana Dave terbaring, memandanginya dari pintu.


"Sya...ada apa?" tanya Leon heran dengan sikap Resya.


Ketika Resya mengendarai motornya, dia berpapasan dengan sebuah mobil mewah berwarna hitam.


"Wow...mobil milik siapa itu?, masih ada ya...orang kaya mau berkunjung di kampung ini." ucap Resya terkagum dengan mobil mewah itu.


"Sya...maaf kan aku, aku telah membohongimu" ucap Leon, sebenarnya sebelum Leon pergi membeli obat, dia sudah menghubungi sekertaris Lee, mengenai kondisi kesehatan Dave, untuk membujuknya pulang ke rumah, dan yang menghubunginya tadi adalah sekertaris Lee, menyuruh Leon mengemas pakaian Dave.


Terdengar langkah kaki sepatu pantofel masuk ke dalam kamar, Dave yang mengenal suara langkah kaki itu langsung bangun, dan bertanya "siapa yang menyuruhmu datang kesini?"


"Maaf direktur, kami ingin mengajak anda untuk pulang, kami mengkuatirkan akan kondisi direktur" ucap Sekertaris Lee menundukkan kepalanya.


"Betul apa kata Leon, kondisi direktur sangat menguatirkan sekali, wajahnya sangat pucat dan lemah" gumam sekertaris Lee dalam hati, dia pikir Leon membohonginya.


"Apa kamu kira aku akan mati muda?" ucap Dave berusaha bangun untuk duduk di tepi tempat tidur, sambil meringis kesakitan menahan perutnya, selama dia hidup sendiri di rumah Leon dia jarang terurus, sering makan terlambat, sehingga penyakit lamanya kambuh.


"Yang pasti kami mendoakan anda panjang umur, Tuan Besar sudah kembali keluar negeri tadi pagi."


"Betulkah, kenapa begitu cepat, apa dia sudah menyerah?" ucap Dave tersenyum licik, akan tetapi dalam hatinya dia sangat senang mendengar papa tirinya pergi.


"Leon antar aku pulang" ucap Dave kepada Leon yang dari tadi berdiri di depan pintu.

__ADS_1


Sekertaris Lee membantu menaruh koper dan barang barangnya ke dalam bagasi, sedangkan Leon memapah Dave berjalan menuju mobil.


Di dalam perjalanan Dave masih meringis kesakitan, dan keringat dingin keluar dari keningnya.


"Dav...kamu tidak apa apa?, sekertaris Lee kita ke rumah sakit!" seru Leon, melihat Dave kondisinya semakin parah.


"Kalian berani bawa aku ke rumah sakit, aku akan memberi perhitungan kepada kalian semua" Dave menatap tajam Leon dengan sekretaris Lee bergantian.


Leon dan Sekretaris Lee tidak berani bicara menundukkan kepalanya takut akan tatapan itu.


"Oh ya...dari tadi aku tidak melihat Resya" ucap Dave


"Sebelum sekretaris Lee datang, aku menyuruhnya pulang" ucap Leon.


"Oh...syukurlah" dia kuatir seandainya Resya tahu siapa sebenarnya dia, pasti Resya akan meninggalkannya.


Ketika Dave turun di bantu Leon, terdengar panggilan seorang mama kepada anaknya yang sudah beberapa hari tidak bertemu.


"Nak...bagaimana keadaanmu?, Leon cepat bawa Dave masuk ke kamarnya" ucap mama Dave dengan sedih, air matanya seketika itu keluar, melihat muka anaknya yang pucat, meringis kesakitan, dan keringat dingin keluar dari dahinya.


"Ma...ti-dak usah kuatir, ini tidak seberapa" ucap Dave menenangkan mamanya.


"Kamu masih bilang tidak apa apa, lihat kondisimu bertambah kurus, tidak terurus" ucap mamanya dengan kesal akan sifat keras kepala anaknya.


Dave yang sudah terbaring tertidur dengan lelap di kamarnya, setelah meminum obat yang biasa dia minum ketika penyakitnya kambuh.


Dilihatnya Dave sudah agak baikan, Leon berpamitan untuk pulang, sedangkan sekretaris Lee kembali ke kantor untuk mengerjakan tugas yang tadi sempat tertunda.


Sengaja mama Dave bangun pagi, memasak bubur untuk anaknya.


Dia masuk ke kamar dengan membawa nampan beserta teh panas, membuka pintu perlahan di lihatnya anaknya masih tertidur, dia menaruh nampan tersebut, ketika dia akan berjalan keluar terdengar panggilan.


"Ma..." panggil Dave.


"Ech...kamu sudah bangun nak, apakah tadi malam tidur kamu nyenyak?" tanya mama Dave berjalan mendekat, lalu mengusap lembut kepalanya.


Mama Dave selalu memanjakan anak semata wayangnya, dia selalu memperlakukannya seperti anak kecil akan tetapi Dave tidak keberatan akan hal itu.


"iya...akan tetapi kepalaku masih sedikit pusing" ucap Dave memegang kepalanya.


"Itu pengaruh obat, yang penting kamu sudah agak mendingan."


"Jangan tinggalkan mama lagi ya..." ucap mama Dave, tidak bisa menahan kesedihannya itu tiba tiba air matanya menetes.


"Sebenarnya papa tiri kamu orangnya ba..."

__ADS_1


"Cukup ma..kalau mama menginginkan Dave tinggal di sini, berhenti membicarakan dia lagi" Dave memotong perkataan mamanya.


Kamar itu yang tadinya hening tiba tiba dikejutkan oleh suara seorang perempuan.


__ADS_2