HAI STEVIE MANIS

HAI STEVIE MANIS
7.Terjatuh.


__ADS_3

"Kamu menginginkan ini, ambillah...!" seru Resya dengan tangan kanan di atas dengan memegang obat itu.


Mona berjalan menghampiri Resya, dan mereka saling berhadapan, Mona menaikan tangan kanannya mengambil obat itu dengan gemetar, ujung jari jemari Mona yang lentik panjang sudah memegang obat itu, dan tiba tiba Resya melepaskan jari jarinya sehingga obat itu terjatuh.


Ketika obat itu terjatuh, Resya dengan cepat memencet tombol samping kloset.


Sruuut...


Suara aliran air membawa obat itu masuk kedalam lubang kloset, mata Mona menatap tajam Resya dengan penuh amarah, nafasnya yang tidak beraturan, dan keringat mengalir keluar dari tubuhnya, berusaha ingin memukul Resya, akan tetapi Resya menagkis pukulan itu.


Paaak...


satu tamparan keras mendarat di pipi Mona, karena begitu tiba tiba tubuhnya tidak seimbang, dan jatuh di lantai.


"Mona...bangun maafkan aku!" Resya berteriak sambil mengoyang goyangkan tubuhnya, akan tetapi Mona tetap tidak sadarkan diri.


Resya memegang pergelangan tangan Mona,


"Syukurlah... denyut nadinya masih bergerak."


gumamnya dalam hati.


Mereka berdua mengangkat tubuh Mona, lalu membaringkannya di atas tempat tidur, Dewi mengambil ponsel di atas sofa, untuk menghubungi dokter pribadinya.


sedangkan Resya memanggil beberapa asisten rumah tangga Dewi untuk membantu membersihkan barang barang yang berserakan di kamar.


Beberapa asisten rumah tangga terkejut, ketika melihat kamar majikannya penuh dengan pecahan kaca, dan banyak barang yang berhamburan di lantai.


Sembari menunggu dokter pribadi datang, Resya berusaha membangunkan Mona akan tetapi sia sia.


karena rumah yang begitu besar, dan jarak antara dapur dengan kamar majikannya itu terbilang jauh, semua asisten rumah tangga Dewi tidak mendengar keributan yang terjadi di kamar majikannya.


setelah menunggu beberapa jam, dokter pribadi datang masuk ke kamar Dewi, dokter memeriksa keadaan Mona yang belum sadarkan diri dengan muka pucat.


"Nona sebenarnya apa yang terjadi?" tanya dokter itu, untuk memastikan.


Dewi  menjelaskan kejadian yang temannya alami.

__ADS_1


"Dugaan saya benar, teman nona mengalami kecanduan obat obatan terlarang, saya sudah memberikan suntikan untuk menenangkannya" Dokter menjelaskan.


"Kira kira...,berapa lama dia mengonsumsi obat tersebut?" tanya Resya sembari melihat kondisi sahabatnya itu yang terbaring diatas tempat tidur.


"Dengan kondisinya yang begitu, bisa jadi sudah lama sekitar 1 tahun lebih" ucap dokter.


Dokter menyarankan untuk membawa Mona ke rumah sakit Rehabilitasi khusus pecandu narkoba supaya bisa di tangani langsung.


"Apa teman saya bisa sembuh seperti semula?" tanya Resya lagi.


"Bisa nona" jawab dokter itu.


Dokter itu berpamitan "permisi nona..., saya pulang, kalau ada apa-apa bisa hubungi saya."


Resya dan Dewi begitu binggung apa yang akan mereka perbuat, sedangkan Mona harus segera di bawa ke rumah sakit, mereka tidak mengetahui keberadaan keluarganya.


"Kita bawa dia ke rumah sakit dulu...!" seru Resya.


Dewi memanggil beberapa asisten rumah tangga untuk membantu membopong Mona masuk ke dalam mobil.


Resya sesekali meneteskan air mata melihat Mona yang sedang tertidur di pangkuannya dengan muka pucat.


Dewi melihat kejadian itu lewat kaca spion ikut meneteskan air mata.


Tidak lama mereka sudah sampai di rumah sakit, beberapa perawat datang membantu  membawa Mona masuk ke suatu ruangan khusus pecandu narkoba, diikuti Resya, dan Dewi di belakang.


Resya pergi ke ruang pendaftaran, sedangkan Dewi menunggu di luar ruangan karena perawat tidak mengizinkannya untuk masuk, mengantisipasi apabila pasien terbangun, dan mengalami sakau (kecanduan) bisa jadi melukai pengunjung, ataupun diri pasien.


Ketika Mona sadar pertama kali yang dia cari adalah obat haram itu, dia berteriak histeris ingin melukai dirinya sendiri, untungnya dengan sigap perawat mengikat kedua tangan Mona.


"Sedangkan kamu sudah berapa lama memakai barang haram itu?" tanya Resya yang sudah berada di samping Dewi.


Pertanyaan itu mengagetkan Dewi, ketika dia  melihat Mona yang begitu menderita di balik jeruji besi.


"Aku mencoba obat itu baru 2 butir saja, pertama aku memakainya ketika malam hari ketika kita bertemu di jalan."


Resya melihat kejujuran di balik mata Dewi yang berkaca kaca merasa lega, itu berarti efek obatnya tidak terlalu banyak berpengaruh pada tubuh Dewi.

__ADS_1


Berangsur angsur keadaan Mona sudah lebih tenang dengan obat yang di berikan dokter.


Hari semakin sore, Resya dan Dewi merasa lapar, mereka berdua menuju kantin rumah sakit, dari tadi siang perut mereka belum terisi nasi.


"Sehabis makan kita coba ke ruman Mona yuk..., siapa tau kita mendapatkan petunjuk tentang keluarganya" ucap Resya.


Sehabis makan mereka berdua menuju rumah Mona, tidak lama mereka sudah sampai, rumah itu terlihat masih kosong terkunci dari luar, akhirnya mereka menunggu di depan teras, sesekali Dewi bermain ponsel untuk mengurangi rasa bosannya, berbeda dengan Resya berputar menuju belakang rumah, mencoba mengintip di jendela kaca tidak juga mendapatkan apa-apa.


"Bagaimana kalau kita dobrak pintu ini?" ide gila Dewi muncul begitu saja.


"Kamu sudah gila ya..." seru Resya.


"Terus... sampai kapan kita menunggu, 4 hari yang lalu aku pernah lewat sini, banyak orang yang beraktivitas di luar rumah, tapi kenapa sekarang begitu sepi" ucap Dewi lagi sembari mengingat ingat suasana ketika dia melewati jalan ini.


"Kamu tunggu di sini...!" seru Resya kepada Dewi, akan tetapi Dewi takut sendirian.


"Dasar penakut..., aku cuman ke sebelah situ..." seru Resya, menunjuk seberang jalan rumah itu.


Dewi yang tidak mau ditinggal sendiri dia mengekor, Resya jalannya yang terlalu cepat membuat Dewi terjatuh, dan mencoba memegang tangan Resya kencang.


"Kalau kamu... memegang tangan ku seperti ini, aku tidak bisa berjalan." ucap Resya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.


"Sya... apa kamu tidak sadar sepertinya ada yang aneh dengan perumahan ini" ucap Dewi lirih sesekali kakinya gemetaran karena takut, pandangannya melihat sekeliling rumah rumah yang cukup sederhana berjejer.


Resya juga merasakan hal yang sama


padahal ini kompleks perumahan di tengah kota, kenapa terasa sepi seperti kota mati tidak ada orang yang berani keluar dari rumah.


"Nyonya...!" teriak Resya memanggil seorang perempuan paruh baya yang keluar untuk membuang sampah.


Ketika Resya menghampirinya perempuan itu ketakutan, lalu masuk ke dalam rumahnya. Dia berusaha mengetuk pintu, akan tetapi perempuan itu tidak menyaut.


"Ach... percuma saja" Resya putus asa, dan meninggalkan rumah tersebut.


Mata Resya melihat sekeliling lingkungan perumahan itu, berharap melihat seseorang warga sini.


"Kita pulang saja, kita cari informasi di sekolah" ajak Dewi, jantungnya berdetak kencang karena takut.

__ADS_1


"Ini..., alamat yang aku minta dari sekolah" kata Resya sambil menyodorkan secarik kertas, dia berusaha menghubungi tetapi di luar jangkauan.


__ADS_2