HAI STEVIE MANIS

HAI STEVIE MANIS
17.Masih belum menyerah


__ADS_3

Begitu banyak foto yang tersimpan di galeri ,tidak ada foto mama dan kakaknya,apakah sebegitu bencinya kamu dengan mereka?


"ech...apa ini?"ucap Dave lirih ketika melihat di layar ponsel itu,suatu Rekaman sebuah lagu yang berjudul "hei Stevie manis."


Dave mendengar suara orang terbatuk dari dalam ruangan,ya... ruangan di mana Resya tempati,Dave cepat cepat mematikan ponsel milik Resya dan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


cklek...


Suara pintu terbuka,Dave melihat Resya sedang berusaha mengambil air di atas meja, tetapi tangannya tak sampai sehingga Dave yang membantu mengambilkan air untuknya."Bagaimana keadaan mu?"tanya Dave.


"Sudah agak mendingan,cuman masih pusing sedikit,mungkin pengaruh obat"Jawab Resya.


Dave yang binggung bagaimana kalau dia mengetahui yang mengambil ponselnya adalah dirinya,Dave berusaha mencari akal untuk mengembalikan ponsel milik Resya ke tempat nya semula,sejak dari tadi Resya mencari ponselnya.


"Maafkan aku Sya..."gumam Dave dalam hati.


"Kak apa kamu melihat ponsel ku,tadi aku taruh di atas meja,tetapi tidak ada"ucap Resya sembari mencari di balik selimut yang membalut dirinya.


"Aku bantu cari"saut Dave menundukkan kepalanya,mencari di lorong tempat tidur,


"Ini bukan?"tanya Dave memberikan ponsel itu pada Resya.


"oh iya betul kak itu milik ku"ucap Resya heran,"padahal tadi aku taruh di atas meja,kok bisa jatuh ya?"kata Resya mengerutkan alisnya.


"Bisa saja jatuh tersenggol tangan mu,aku melihatmu tidur nyeyak sekali"kata Dave berusaha menutupi kebohongannya.


"Tidak mungkin..."perkataan Resya di potong oleh Dave"sudahlah...yang penting ponselmu sudah ketemu".


"ini cewek...orangnya sangat teliti"ucap Dave dalam hati, karena Dave tahu betul sifat Resya,dia tidak mudah di tipu.


Padahal Resya belum puas, masih bertanya tanya di dalam hatinya.


Dave berusaha mengalihkan perhatian supaya Resya tidak curiga,"apa kamu mau buah?"


Resya menyalakan ponselnya curiga,ketika dia melihat baterai di layar itu berwarna merah,padahal sebelum dia tidur masih berwarna biru"apa baterai ponsel ku harus di ganti,tadi baterai masih full kenapa sekarang sudah habis."


"Ach...masak,coba lihat"Dave mengambil ponsel itu dari tangan Resya.

__ADS_1


Dave melihat ponsel itu"pantas saja,coba lihat baterainya sudah mengembung,minta ganti"ucap Dave sembari melihatkan baterai itu kepada Resya,ponsel miliknya tergolong model lama,"iya...,kakak benar"katanya mengambil ponsel itu.


Dave merasa bersalah sudah membohongi Resya,sebenarnya bukan baterainya yang minta di ganti dan walaupun ponsel milik Resya model lama tetapi masih bagus.


"Apa kamu mau buah?"Dave bertanya lagi,yang dari tadi Resya masih melihat ponselnya.


Dave tahu apa yang ada dalam pikiran Resya"oh...iya di rumah ku ada ponsel bekas,sudah beberapa bulan aku simpan,lumayan masih bagus,bisa kamu pakai."


"Tidak usah,ponsel ini masih bisa di pakai"jawab Resya.


"Terserahlah,makanlah buah ini"kata Dave memberi buah jeruk yang tadi dia beli di toko buah depan rumah sakit.


*****


Sudah 2 hari Resya di rawat di rumah sakit,sejak itu mama ataupun kakak Resya tidak pernah mencarinya.Resya memberikan kartu asuransi pada Dave,supaya biaya perawatannya selama di rumah sakit gratis.


Saat itu Dave hendak mengurus administrasi, bertemu Al untuk ke tiga kalinya memohon untuk meminta maaf dan menjenguk Resya di rumah sakit tetapi Dave melarangnya.


Al tidak kehabisan akal,hendak menelpon Resya tetapi selalu di luar jangkauan.Dave yang melihat itu dia tersenyum penuh kemenangan,"untung aku sudah memblokir nomermu di ponsel Resya"gumam Dave dalam hati.


"Apa hak kamu melarang ku untuk bertemu dengannya?,memang kamu siapanya dia?"tanya Al dengan kesal.


"Aku cowoknya"saut Dave dengan nada setengah teriak.


Al terdiam tidak mempercayainya,sejak kapan Resya menyukai anak orang kaya, sepengetahuan ku,dia paling alergi berteman apalagi berpacaran dengan anak orang kaya,aku sebagai teman satu kelasnya saja susah mendekatinya.


"Cih...tidak mungkin"kata Al membuang ludahnya di lantai.


"Apanya yang tidak mungkin? semuanya bisa terjadi"ucap Dave lagi.


Dave sudah memperkirakan bahwa Al terbakar api cemburu,maju memukul Dave, pukulan itu mengenai ujung bibirnya,mereka tidak sadar bahwa tempat itu bukan ring tinju tetapi rumah sakit.


Banyak orang berdatangan menonton."hai kalian anak SMA berkelahi di rumah sakit, memperebutkan cewek,bikin malu saja,bubar..."teriak seorang paman yang dari tadi sudah memperhatikan gerak gerik dan pertengkaran mereka.


Al dengan wajah memerah bagi dia perkelahian itu belum berakhir,"ini belum berakhir"ucapnya dengan nada penuh ancaman.


"Dasar bocah,kalau seandainya ini bukan di rumah sakit,aku akan mengakhirinya..."saut Dave.

__ADS_1


"Apa perlu paman memanggil guru kalian?"ucap paman itu.


Al dan Dave merasa takut,kalau itu benar terjadi masalah akan panjang.


Al berjalan keluar Rumah sakit, sesekali dia memaki mengutuki Dave.


Sedangkan Dave yang sudah beres mengurus administrasi dia menuju ruangan Resya.


Dave melihat Resya yang sudah bersiap siap,"apa perlu aku bantu?"


"Tidak perlu,sisa sedikit"ucap Resya melanjutkan pekerjaannya.


"Berapa biaya semuanya?,coba aku lihat"ucap Resya mengambil lembaran kertas yang di pegang Dave.


Akan tetapi Dave tidak memberikannya,"nanti saja sampai dirumah."


Dave yang tidak mau memberitahu Resya tentang pihak rumah sakit menolak asuransinya, sehingga semua biaya rumah sakit Dave yang tanggung dengan uang pribadinya.


"Aku mau..."perkataan Resya terpotong ketika melihat luka memar di sudut bibir Dave,"kenapa ini?"Resya menyentuh luka itu.


"oh...ini tadi terjatuh di Depan pintu"jawab Dave asal.


Resya tidak percaya akan jawabannya,dia menyuruh Dave duduk di sofa,sedangkan dia sendiri mengambil es batu,yang ada di dalam lemari es yang di sediakan rumah sakit.


"Apa kakak berkelahi lagi?"saut Resya penuh curiga,sembari mengompres lukanya.


"Kenapa laki laki setiap menyelesaikan masalah selalu dengan otot,bukanya lebih baik dengan kepala dingin?"tanya Resya lagi,tetapi Dave yang di tanya tetap diam tidak menjawab,malahan Dia menikmati sentuhan demi sentuhan tangga Resya yang lembut itu.


"Ach... sakit"teriak Dave kesakitan ketika Resya menekan lukanya terlalu kuat.


Resya sengaja karena dari tadi Dave memandanginya tanpa berkedip.


"Sorry sakit ya"ucap Resya menaruh kain yang berbalut es batu di meja.


"Sepertinya perlu kompres lagi.. "ucap Dave memegang lukanya yang masih memar, berharap Resya membantunya lagi


"Itu kompres ada di atas meja."ucap Resya sembari melirik Dave.

__ADS_1


__ADS_2