HAI STEVIE MANIS

HAI STEVIE MANIS
36.Melihat kesungguhan hatinya


__ADS_3

Tadinya Dave sangat lapar, awalnya ingin menyuruh bawahannya mengantarkannya makanan, akan tetapi dia urungkan karena perjalanan antara kantor dengan rumah Leon sangatlah jauh, jadi dia memakai jasa pengantar makanan.


"Makanlah..." ucap Dave, menyodorkan kotak makanan kepada Resya.


"Bukannya, tadi kamu yang pesan" ucap Resya.


"Dengan melihatmu...aku sudah kenyang" ucap Dave melihat wajah kekasihnya dengan tersenyum.


"Ach...jangan merayuku!"


"Aku bisa makan di rumah, kamu tahu masakan ini sangat lezat lho..., ibuku yang memasaknya" Resya membuka kotak itu menyuruh Dave mencicipinya.


"Betulkah..., jadi ibu kamu punya usaha catering?" tanya Dave mencoba mencicipi makanan itu.


"Iya..."


"Hm...enak sekali" ucap Dave.


"Kita makan sama sama" ucap Dave hendak menyuapi Resya.


" Aku belum lapar, kamu makanlah...!" Resya menutup rapat rapat mulutnya.


"Kalau kamu tidak makan, aku juga tidak makan" ucap Dave menaruh sendoknya kembali.


"Kamu selalu saja memaksa, baiklah..."


Lalu mereka makan bersama sama, sesekali Dave menyuapi Resya, dan di selinggi dengan candaan.


Pulang sekolah Resya yang belum sempat istirahat dan makan siang, tiba tiba ibu Resya menyuruhnya mengantar makanan, tadinya dia menolaknya karena begitu banyak tugas sekolah yang menumpuk, dan akhirnya Resya menghiyakan karena ancaman ibunya.


Dan keberuntungan berpihak kepadanya, ternyata makanan itu untuk kekasihnya yang selama ini menghilang, coba kalau dia menolak pasti dia tidak akan bertemu dengan kekasihnya.


Tinggal beberapa Minggu lagi kenaikan kelas, membuat Resya sedikit kesusahan untuk membagi waktu antara kerja dengan mengerjakan tugas tugas sekolah yang semakin banyak, membuat dirinya minta izin kepada tantenya untuk tidak berjualan selama beberapa minggu.


Akan tetapi promosi lewat online, membuat catering ibu Resya semakin rame, biasanya kakaknya yang bertugas untuk mengantar orderan, karena ibunya melihat Resya sering berada di rumah, ibunya menyuruh dia untuk mengantar orderan.


"kak..., aku harus pulang banyak tugas sekolah yang harus aku selesaikan" ucap Resya beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu...aku ingin bicara" Dave menarik tangannya.


Resya kembali mendudukkan tubuhnya di sampingnya, sudah beberapa menit Dave tidak berkata apa-apa, membuat perempuan yang berada di sampingnya bertanya


"kak...ada apa?, kalau kamu tidak ingin bicara aku pulang."

__ADS_1


"Seterusnya kita tidak bisa bersama sama seperti dulu di sekolah..."


"Maksud kamu?, kita putus?" tanya Resya dengan muka datar.


"Kamu suka kalau kita putus?" ucap Dave dengan nada tinggi membuat dirinya beranjak berdiri.


"Bukan begitu, makanya kalau bicara yang jelas" saut Resya lagi.


Dave mengerutu kesal, kesabarannya tidak terkontrol karena dalam hidupnya yang paling dia takutkan dalam berhubungan adalah ucapan putus, maka itu setiap kali dia menghadapi masalah dia akan menghilang untuk beberapa waktu lamanya.


"Empat hari yang lalu aku mengundurkan diri dari sekolah, keluar untuk seterusnya, karena perusahan yang aku dirikan 3 tahun yang lalu lebih membutuhkan ku" Dave menjelaskan.


Karena Dave sangatlah pintar dan cerdas membuat dirinya bisa loncat kelas, seharusnya 1 tahun yang lalu dia tidak lagi berada di sekolah itu, membujuk mamanya untuk menghadap kepala sekolah supaya Dave di perbolehkan sekolah kembali, tentu saja kepala sekolah menyetujuinya, mengingat keluarga Dave mempunyai pengaruh besar di kota itu, alasannya untuk kembali di sekolah itu karena ia ingin mendekati Resya, akan tetapi semua orang tidak mengetahui hal itu.


"Apa kamu menginginkan semua karyawan ku menjadi pengangguran?" tanya Dave memandang perempuan yang berada di sampingnya.


"Oh...jadi alasannya itu, aku pikir..." Resya ingin melanjutkan perkataannya, akan tetapi Dave telah menutup mulutnya dengan ujung jari telunjuknya.


Dave tahu apa yang akan perempuan itu katakan.


Mereka saling berhadapan, perempuan itu terkejut ketika jari Dave telah menempel di bibirnya.


Dave menurunkan jarinya, sembari memandang bibir merah merona itu seperti buah cherry ketika di gigit akan terasa manis, Resya yang belum ada persiapan tiba tiba bibir Dave ******* bibirnya.


Apalagi Dave yang beberapa hari lalu keluar kota telah berperang melawan hawa nafsu, dia ingin melampiaskannya hanya dengan perempuan yang dia cintai, bukan dengan perempuan sebarangan di luar sana.


"Kak..." ucap Resya.


"Hm..." Dave mengendorkan ciumannya, ketika melihat Resya tidak bisa bernafas.


Lelaki itu memegang dagu Resya ingin melanjutkan aksinya, akan tetapi perempuan itu memalingkan mukanya.


"kalau di lanjutkan, pasti bisa terjadi sesuatu di luar batas" gumam Resya dalam hati, sejak pertama kali Dave menciumnya, dia merasa ingin, dan ingin lagi, seperti candu yang sangat mematikan untuknya, untungnya akal sehat nya berjalan normal.


Karena dia merasa di tolak, menaikan dagu Resya supaya dia bebas melihat bibir itu kembali dan berucap


" Sya menikahlah dengan ku"


"Apa?" tanya Resya dengan lantang.


" iya... menikahlah denganku" ucap Dave sambil menyentuh bibir itu dengan lembut.


"Menikah atas dasar apa?, napsu?" tanya Resya, menyingkirkan jari lelaki itu dari bibirnya.

__ADS_1


"Bukan, tetapi cinta" ucap Dave, mencium keningnya.


"Betulkah?" Resya mengernyitkan alisnya.


"Buat apa aku berbohong, aku mencintaimu sungguh sungguh, bukan nafsu."


" Aku bisa mencari perempuan lain yang lebih bagus di luar sana, akan tetapi aku selalu merindukan mu."


"Menikahlah dengan ku" pertanyaannya dia lontarkan kembali.


" Kak, kita masih muda, apalagi aku masih anak SMA, menikah bukan hanya bermodalkan cinta."


"Aku sudah siap semuanya, setelah menikah nanti aku mengijinkan mu untuk sekolah kembali" ucap Dave.


Resya melihat kesungguhan hatinya, memandang lekat lekat wajah lelaki yang dia cintai, " kak, aku belum siap untuk menikah di usia muda."


"Lalu..."


"Ya, bersabarlah suatu saat nanti kalau kita jodoh pasti Tuhan akan mempersatukankan kita." ucap Resya.


"Oh...iya, kak kok bisa berada di sini?" tanya Resya, untuk mengalihkan pembicaraan mengenai ajakannya itu


"Ini rumah Leon, aku beberapa hari nginap di rumah ini" jawab Dave.


"Boleh aku tahu, perusaahan milik kamu apa namanya, dan di mana lokasinya?" nanti kapan kapan ajak aku berkunjung ya..." seru Resya.


Dave enggan untuk memberitahukan ataupun sekedar bercerita mengenai perusahaan miliknya, tentu saja kalau Resya tahu yang sebenarnya pasti Resya akan meninggalkannya.


" Iya, pasti aku akan mengajakmu."


"Apa hari ini kak tidak pergi ke kantor?"


"Aku pulang lebih awal, beberapa hari ini aku tidak enak badan" ucap Dave.


"Oh, betulkah?" Resya menyentuh keningnya, mengernyitkan dahinya, bukannya tadi dia baik baik saja, kenapa sekarang suhu badannya tinggi sekali.


"Kak, kamu tidak apa-apa?, kita ke dokter yuk..." seru Resya dengan cemas akan kondisi Dave yang lemas sudah terduduk di sofa.


"Jangan bawa ke dokter aku tidak apa-apa."


"Tunggu disini aku panggil dokter."


"Jangan..., tetaplah tinggal di sini!" seru Dave memegang tangan Resya erat.

__ADS_1


Resya melihat wajah Dave pucat dengan memegang perutnya, dia berusaha menuntun Dave masuk ke kamar, pelan pelan Resya membaringkan tubuh Dave yang lemas itu di atas tempat tidur.


__ADS_2