
HAMIL TANPA DI SENTUH (10)
Hoekk..hoekk..
Aslan panik, Namira langsung berlari ke kamar mandi meninggalkan Aslan yang sekarang pun ikut berlari. Pintu kamar mandi di tutup rapat, di kunci dari dalam. Aslan mencoba bertanya karna namira terus saja terdengar muntah-muntah.
"Sayang, kamu kenapa? Abang masuk yah?"
Aslan sudah memegang gagang pintu, tapi niatnya urung karna Namira melarang, "Nggak usah Bang, nanti Abang ji jik liat aku muntah."
Aslan melanjutkan membuka pintu setelah mendengar alasan Namira.
"Abang!" ucap Namira dengan suara pelan dan terlihat lemas, wajahnya saat ini sudah terlihat pucat.
"Abang ngapain sih, enggak usah Bang aku malu tau gak." Kini Namira duduk bersimpu dengan menghadap closet.
Aslan tidak perduli dengan ucapan istrinya, dia pun ikut berjongkok dengan satu lutut menumpu di lantai, tangannya menelusup ke dalam hijab Namira diurutnya pelan, tangan satunya mengusap punggung.
"Sudah, hmm?" tanya Aslan setelah melihat Namira berhenti muntah.
Namira hanya mengangguk, badan terasa lemas, sampai aslan membantunya untuk berdiri.
"Abang bantu, hayu!" Aslan memapah istrinya berjalan pelan menuju tempat tidur.
Di bantunya Namira duduk, di atur nya bantal agar Namira bisa bersandar, tetapi sebelum itu Aslan berucap sesuatu,
"Emm ...." Aslan ragu karna selama menikah Aslan belum pernah sekali pun melihatnya.
Namira hanya diam, dia sudah tidak mempunyai tenaga walaupun hanya sekedar bertanya.
"Abang bantu buka hijabnya yah."
Tatapan ke duanya bertemu dan itu berhasil membuat Aslan kikuk. Jangan tanyakan bagaima kondisi jantung Aslan, jika saja tidak ada dalam tubuhnya sudah dapat di pastikan organnya itu sudah jatuh.
__ADS_1
Namira diam menunduk menahan malu, wajahnya terasa panas sampai akhirnya Namira menganggukan kepala.
"Bismillah." Aslan berucap dalam hati.
Tangan Aslan sudah memegang hijab instan yang di pakai istrinya, sedikit-sedikit mulai terangkat sedangkan Namira memejam kan mata, menahan desiran halus yang mengalir di tubuhnya, jantungnya yang kini bertalu-talu menambah sensasi yang sulit Namira artikan.
Aslan mengatupkan ke dua bibirnya, juga menahan debar jantung yang jauh lebih menyusahkan di banding beberapa menit lagu. Bagaimana tidak, lukisan Allah yang masya Allah sempurnanya untuk Aslan terpangpang nyata di hadapannya, Karya Allah yang tanpa celah.
"Masya Allah, segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kita dengan sempurna." Pujian itu lolos begitu saja dari mulut Aslan.
Namira lebih dalam lagi tertunduk, jika dia melihat wajahnya di cermin pasti sudah sangat merah seperti udang rebus. Namira sedikit memalingkan wajahnya, guna menetralisir segala rasa yang ada.
Kini yang ada alunan dari kedua jantung 2 insan yang bertalu-talu, di mana perasaan cinta ke duanya sedang di siram oleh Sang pemilik hati, yaitu Allah.
"Kamu cantik sekali sayang, jangan pernah paling kan wajah cantikmu dari Abang, izinkan Abang melihatnya." Aslan tiba-tiba berubah menjadi sang pujangga.
Rambu panjang, hitam legam, terikat, tetapi tidak mengurangi keindahannya. aroma shampoo menyeruak masuk ke rongga penciuman laki-laki yang sudah tergila-gila dengan istrinya. ingin rasanya Aslan menarik ikatan yang mengikat rambut indah Namira. Rambut itu terlihat lembut walaupun belum Aslan sentuh.
Aslan membantu sang istri tidur bersandar di tepian ranjang. Dia baru sadar jika lampu di kamarnya remang-remang, berubah menjadi syahdu. dan itu membuat Aslan sekuat mungkin menahan keinginannya. Dia juga adalah laki-laki normal, satu kamar dengan wanita cantik yang sudah halal untuk dia sentuh, bahkan lebih dari itu pun bukan lagi dosa justru akan mendatangkan pahala.
Jam menunjukan pukul setengah satu, malam ini Aslan memutuskan untuk tidur di kamarnya, tanpa meminta lagi persetujuan Mamira. Aslan hanya khawatir jika terjadi sesuatu dia akan segera bisa mengambil tindakan.
Beberapa menit lalu namira sudah tertidur, aslan yang sejak tadi duduk di sofa kembali mendekat, duduk bersila di depan Namira yang saat ini tidur dengan posisi miring menghadap Aslan.
Di tatapnya lekat wajah putih tanpa sedikit pun noda, tangannya bergerak ke belakang menarik ikat rambut milik istrinya.
"Aku pernah dengar jika rambut juga perlu bernafas di saat kita tidur, jadi aku buka ya sayang ikat rambutnya." Aslan beralasan, sambil senyum-senyum.
"Di elusnya pipi yang kemerah merahan itu dengan punggung jarinya, di sapunya lembut bibir merah muda yang belum pernah tau seperti apa rasanya, di tatapnya tanpa jenuh. Cinta aslan kembali tumbuh berkali kali lipat untuk wanita yang kini tengah tertidur pulas.
Aslan pun bangkit, setelah meninggalkan tanda cinta di kening dan pipi Namira. badannya sudah lelah menuntut untuk di istirahatkan. Aslan pun berjalan ke sofa dekat pintu kamar yang menghadap ke tempat tidur.
"Sweet dream my wife." ucapnya dari jauh.
__ADS_1
Aslan terbangun dari tidur lelapnya di karnakan kantung kemihnya terasa penuh. Aslan memaksakan diri untuk bangun dan melangkah masuk ke kamar mandi. Setelah selesai Aslan tidak lantas kembali tidur, di hampirinya istrinya yang tertidur lelap.
Wajah cantik itu di tatapnya lekat, sambil tersenyum satu tangan Aslan terurur mengelus pipi merah merona itu. Di singkirkannya anak rambut yang menutupi sebelah matany. Aslan menyelipkan rambut itu di telinga Namira.
Aslan kembali memberanikan diri kebih dekat dengan wajah istrinya.
"Cantik sekali kamu," puji Aslan.
"Abang janji akan selalu menjaga kamu, dan tidak akan meninggalkanmu dalam ke adaan apapun.
Aslan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, dirinya ingin melakukan lebih tapi dia tidak ingin memaksakan keinginannya.
"Abang tidak akan pernah memaksakan kehendak Abang sama kamu."
Tangannya terurur kembali mengelus rambut panjang istrinya, di endusnya wangi harum rambut milik Namira, sungguh sangat lelah menahan hasrat, itulah yang saat ini Aslan rasakan.
Setelah puas memandangi istrinya, Aslan kembali berjalan menuju sofa. Dibaringkannya tubuhnya, tapi sayang matanya sudah tidak lagi mengantuk.
Dirinya kembali duduk dengan kaki bersila,satu tangannya menopang dagu,kembali ia gunakan matanya untuk menatap sang istri.
huuff..
Helaan nafas panjang dia hembuskan.
"Baiknya aku ngambil wudhu lalu sholat malam. Dari pada pikiranku ke mana-mana."
Kembali dia berjalan masuk kamar mandi guna mengambil wudhu. di gelarnya sajadah, lalu mengkhusukan diri menghadap Ilahi Robbi. Setelah mengerjakan qiyamul malam, Aslan mengangkat ke dua tangannya, menengadahkan untuk memohon segala kebaikan. Untuk dirinya juga Namira.
"Ya, Allah mudahkanlah jalan kami, kuatkanlah cinta kasih kami, berikanlah selalu kebaikan dan kebahagiaan untul istri hamba."
Semua doa terbaik Aslan panjatkan untuk kebaikan rumah tangganya. Dia hanya ingin hidup bahagia bersama wanita yang di cintainya.
Aslan menoleh ke arah Namira sambil tersenyuma, dan berkata " I Love You More."
__ADS_1