HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 40


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH


Aslan benar-benar memberitahukan rencananya pada Farah dan Karim. Saat mendengar awalnya Farah tidak setuju, tetapi saat Aslan memberitahu jika Maher meminta seseorang untuk mengawasi dia dan Istrinya, Farah pun setuju.


"Lan, apa gak sebaiknya kamu beritahukan saja semuanya pada istrimu." Karim menyampaika pendapatnya.


"Kenapa Bah? Aslan takut akan berdampak tidak baik pada kandungannya. Aslan berencana akan memberitahukan semuanya jika Namira telah melahirkan," sahut Aslan.


"Aslan benar, Bah. Agak beresiko untuk menantu kita. Umi gak mau kalau sampai menantu dan cucu kita kenapa-napa," ucap Farah yang mulai terisak. Farah merasa takut sekakigus sedih memikirkan nasib menantu dan cucunya.


"Kalau memang keputusan kamu seperti itu, Abah dukung. Lalu kapan kamu mau bawa Namira," tanya Karim.


"Sebaiknya nanti malam, Bah. Lebih cepat lebih baik. Dan pastinya untuk menghindari penguntit yang di suru Maher.


"Umi mau ke mana," tanya Aslan saat melihat Farah bangkit.


"Umi mau bantu menantu Umi beres-beres. Tapi jika nanti Namira tanya tentang alasannya, Umi harus jawab apa?" Wanita tua itu menjadi urung untuk menemui Namira.


"Kalau gitu ayo kita semua menemui Namira bersama-sama," usul Karim, yang di angguki oleh Aslan dan Farah.


Waktu ke-tiga orang itu hendak ke kamar Namira, mereka malah di kejutkan oleh suara perempuan itu dari belakang. Dan ke-tiganya pun menoleh bersamaan.


"Sayang, kamu dari mana, hm?" tanya Aslan sambil berjalan mendekati istrinya.


"Jalan-jalan aja, mondar mandir," jawab perempuan itu sambil tersenyum


"Umi, Abah, sama Abang mau ke mana?" Pansangan Namira menatap ke-tiganya.


"Kita mau nemuin kamu, sayang," sahut Farah sambil merangkul menantu kesayangannya itu.


Namira menatap Farah, dengan ekapresi penuh tanda tanya.


"Ayo sayang kita ke taman depan," ajak Farah sambil mengajak Namira berjalan. Di belajang ada karim dan Aslan mengikuti.


Ke- empat orang itu sudah berada di taman. Farah mengambil duduk dekat Namira, sedang Aslan duduk di deoan istrinya dengan Karim berada di sampingnya.


Namira tidak menunggu lama, dia langsung menanyakan maksud semuanya yang ingin menemui sirinya, "Kalian kenapa ingin menemuiku?"


Farah dan Karim menatap ke arah Aslan. Aslan pun mengangguk.


"Begini sayang, tadi Abang udah membicarakan masalah ini dengan Umi dan Abah. Abang berniat bawa kamu," jelas Aslan.


Yang membuat istrinya kebingungan.


"Kenapa Abang mau bawa aku? Memangnya Abang mau bawa aku ke mana? Apa Umi dan Abah marah sama aku? Apa aku ada salah sama kalian? Namira tidak berhenti bertanya. Dengan mata berkaca-kaca.


"Namira, menantu kesayangnnya Umi. Kita gak marah sama kamu sayang. Kamu dengerin dulu yah, Aslan bicara," sahut Farah.


Perempuan dengan perut besar itu menunduk.


"Begini sayang, kehamilan kamu kan sudah besar, hanya tinggal satu bulan lagi. Kamu tau sendiri di sini jauh ke mana-mana. Jadi kita semua khawatir sayang. Kalau nanti pas kandungan kamu sembilan bulan Abang baru ajak kamu, itu malah lebih beresiko." Apa yang Aslan ucapkan tidak sepenuhnya kebohongan. Pesantren milik Karim memang sedikit jauh dari tempat yang memiliki Fasilitas kesehatan.


Namira diam, dia berfikir apa yang dikatakan barusan oleh suaminya ada benarnya.


"Aku nurut aja sama Abang. Jika itu memang yang terbaik buat aku." Akhirnya perempuan itu menyetujui usulan suaminya.


"Ayo sayang, Umi bantu packing," ajak Farah.


"Sekarang?" tanya Namira yang merasa kaget dan menatap suaminya.


"Iya, malam ini kita berangkat," berutahu Aslan.


Ke-dua perempuan itu bangkit dan melangkah meninggalkan taman.


Sementar dua laki-laki yang masih berada di taman, kembali membahas tentang kepergian Aslan malam ini.


"Memangnya kamu mau ajak Namira pergi ke mana? Jakarta, ke rumah orang tuanya?" tanya Karim yang penasaran, karna sejak tadi Aslan tidak memberitahukan apapun.


"Enggak, Bah. Kalau ke rumah Ayah, malah.mempermudah Maher untuk mendekati Namira. Aku mau ajak Namira ke rumah paman.


"Orang tua Ismi?"


"Iya, Bah. Kan cuma Paman dengan Ismi keluarga Namira.


Karim manggut-manggut. Dia baru ingat jika menantunya memang tidak ada saudaranyang lain selain Ismi dan orang tuanya.


"Kamu udah kasih kabar?"


"Sudah, Bah. Tapi aku minta pada Paman agar tidak memberitahukan Ismi tentang Namira yang akan tinggal di rumah Paman. Aku khawatir Ismi akan pulang untuk menemani Namira, dan itu akan membuat Maher tau jika Namira ada di rumah Paman," beber Aslan.


"Ya, udah sebaiknya kamu bersiap. Lepas magrib sebaiknya kalian berangkat," cetus Karim.

__ADS_1


"Gak, Bah. Aku baru berangkatbpas malam aja. Kalau habis magrib aku takut orang suruhan .aher masih mengawasi. Nanti aku akan kirim pesan ke Rio. Saat Rio sedang ada di Villa dekat dengan Villa Ranngga. Aku cuma mau memastikan kapan orang suruhan Maher itu lengah. Di waktu itulah aku akan pergi," ungkap Maher.


*******


Waktu menunjukan pukul Lima sore, seperti yang sudah di rencanakan, Maher pergi ke rumah Dion. Tetapi dia di buat kesal, ternyata sepupunya itu tidak ada di rumah.


"Lu pasti sengaja 'kan menghindar dari gue," monolog Maher.


Maher mengambil benda pilih miliknya di kantung celana. Lalu lelaki itu mencari kontak atas nama Dion.


Setelah ketemu, lantas Maher mengirim pesan, tetapi sayang hanya centang satu, yang menandakan jika pemiliknya tidak aktif. Tidak berhenti sampai di situ, Maher kembali menghubungi Dion melalui panggilan telpon. Lagi-lagi tidak dapat di hubungi.


Maher benar-benar di buat kesal oleh sepupunya itu. Padahal Maher sangat berharap jika Dion mau membantunya. Karna yang di carinya tidak ada, Maher meninggalkan rumah mewah milik Dion. Maher melajukan mobil mewahnya kembali ke rumah. Maher berencana ingin beristirahat malam ini.


"Lebih baik aku istirahat. Jika ada sesuatu tentang Namira pasti Rangga akan segera menghubungi aku."


Sesuai rencana, setelah mendapat kabar dari Rio, jika Rangga sudah kembali ke Villa sejak pukul 11 malam. Aslan pun bersiap membawa istrinya pergi.


"Bang, apa gak besok aja perginya? Ini udah malam?" tanya Namira, dia merasa heran dengan tingkah suaminya. Biasanya Aslan akan melarang Namira untuk berpergian jika sudah lewat magrib.


"Maaf ya, kebetulan besok pagi Abang ada urusan, mau ketemu investor," Aslan terpaksa berbohong.


"Memangnya calon insvestor Abang satu kota juga dengan Paman?" tanya Namira.


"Iya," jawab Aslan singkat.


"Si Mbok juga ikut kok, buat nemenin kamu di sana. Soalnya kan di rumah cuma ada paman. Ya walaupun nanti kita tinggal di paviliun, tetap aja kan kamu perlu ada yang nemani. Takutnya pas Abang gak ada di rumah, kamu butuh sesuatu," ujar Aslan.


Lalu sepasang suami istri itu keluar kamar. Di ruang tamu sudah ada Farah, Karim juga Mbok ndalem, dengan satu koper besar yang akan di bawanya.


"Sebaiknya kalian berangkat sekarang, ya." Perintah Karim.


Farah terlihat sedih. Harunya dirinya dapat mendampingi Namira saat melahirkan nanti. Tapi sekarang wanita itu harus memendam keinginannya.


"Kamu hati-hati, ya! Sering-sering kabari Umi. Mbok tolong jagain Namira baik-baik, ya. Jangan pernah ninggalin dia sensdirian," seloroh Farah, dengan mata yang sudah menheluarkan butiran bening.


Namira memeluk Ibu mertuanya yang sudah seperti orang tuanya.


"Umi juga, jaga diri baik-baik. Umi minta tolong sama santri buat bantu Umi di dapur. Abah juga ya, jaga kesehatan." Namira terisak


"Ayo, kita berangkat," ucap Aslan sambil melihat jam yang melingkar di tangannya dan waktu sudah menunjukan jam 12 tengah malam.


Lambaian tangan mengiringi kepergian mereka. Aslan malam ini meninggalkan Pesantren. Dia berharap semuanya akan berjalan lancar.


*****


Sudah beberapa hari, Aslan berada di rumah Paman istrinya. Selama itu juga Rangga tidak menaruh curiga. Dia berfikir jika Namira selalu di dalam karna kehamilannya. Mungkin perempuan hamil gampang lelah, sekiranya itu lah yang Rangga fikirkan.


Sedangkan untuk semua Santri, Ustadz, Ustazah, Karim sudah berpesan, jika ada yang menanyakan Aslan, bilang aja, jika Aslan lebih sering di rumah. Sejak kepergian anaknya, Karim memperketat Pesatren. Sementar waktu Karim tidak membebaskan saja dapat memasuki pesantren. Dirinya tidak ingin mengambil resiko


Sedangkan Rio sudah kembali ke Jakarta sesuai perintah Aslan. Sementara Aslan sesikit tenang. Dirinya yakin jika keadaan sudah aman.


"Sementar waktu aku bisa bernafas lega," ucapnya pada diri sendiri. Tapi sayang Namira mendengar ucapannya.


"Abang sakit? Abang ada asma?" Namira terlihat panik.


Aslan gelagapan melihat sikap istrinya, "Eh, gak sayang. Mana ada Abang asma, kamu ini tega banget, masa iya suami gantengmu ini ada asma," seloroh Aslan sambil tertawa pelan.


"Abang sendiri barusan bilang, bernafas lega. Itu kan seperti orang asma."


"Maksud Abang, Abang lega udah ketemu klien." Lagi-lagi Aslan terpaksa berbohong.


"Oh, kirain aku Abang ada asma," Namira tertawa.


*****


"Apa?" pekik Maher ketika di beritahu oleh Rangga, jika kemungkinan besar Namira tidak ada lagi di Pesantren.


Setelah mendapat kabar itu, Maher langsung meminta Rangga kembali ke Jakarta. Dia ingin mendengar secara langaung kronologinya.


"Si-al! Apa mungkin gue kecolongan!"


Arggghh!


Maher berteriak, sambil dia melempar benda pipih yang ada di tangannya.


"Lu, bawa ke mana Namira, Aslan! Gue pastikan ke mana pun lu bawa dia, gue pasti temukan keberadaan lu," ucap Maher dengan ke-dua tangan terkepal.


Setelah Tiga jam akhirnya Rangga sampai di kantor Maher. Tidak membuang waktu, Maher langsung mengintrogasi asistennya itu. Sebenarnya Maher sangat marah, dia merasa jika Rangga tidak becus menjalankan perintahnya.


"Dari mana kamu tau, kalau Namira tidak ada di pesantren?" tanya Laki-laki itu langsing ke inti masalah.

__ADS_1


"Saya curiga setelah Satu minggu Nona Namira tidak pernah keliatan. Lalu saya datangi Pesantren, tetapi karna perizinan masuknya sedang di perketat, saya pun menanyakan tentang keberadaan Pak Aslan lewat santri yang menjaga gerbang," beber Rangga.


"Dari santri itu saya tau, jika sudah sejak seminggu lalu Aslan juga Nona tidak ada," ungkap Rangga.


"Lalu kamu tau, ke mana mereka pergi?!"


Rangga tertunduk, ini yang di takutkannya, karna dirinya tidak berhasil mendapati tentang keberadaan Aslan.


"Maaf, Tuan. Untuk yang satu itu, saya tidak mendapatkan inaformasi apapun," jawab Rangga tertunduk.


"Bodoh kamu?!" hardik Maher.


"Saya gak mau tau, sekarang juga kamu pergi dan cari info tentang keberadaan Namira." Maher langsung berlalu meninggalkan Rangga dan kembali menduduki kusi kebesarannya.


Rangga sendiri langsung melangkah keluar, dia tidak ingin menambah kemarahan Tuannya. Tujuan pertama Rangga adalah rumah orang tuanya Namira. Rangga langsung turun ke lantai dasar, lantai parkir. Sesudah dekat dengan motor sportnya Rangga langsung naiki dan melajukan dengan kecepatan tinggi.


Setelah puluhan menit karna terhambat jalanan macet, akhirnya pria itu sampai do delan jalan rumah Ayah Namira. Rangga tidak langsung memasuki motornya ke halaman rumah, Rangga berhenti dan berfikir sebentar, untuk mencari alasan yang akan dia pakai nanti. Setelah Berfikir sebentar akhirnya Rangga mendapatkan ide. Kini pria itu kembali menghidupkan dan melajukan motornya ke halaman rumah. Keadaan sekeliling terlihat sepi. Rangga pun turun dari motornya dan berjalan mendekati pintu.


"Assalamualaikum," ucap Rangga sambil mengetuk pintu.


Tidak ada sahutan, ataupun tanda-tanda orang melangkah medekati pintu. Akhirnya Rangga memutuskan untuk menunggu dan dia berjalan mendekati kursi lalu duduk di kursi teras. Selang berapa menit kemudian terdengar bunyi pintu di buka. Rangga langsung bangkit dari duduknya, dan matanya mengarah pada pintu rumah. Setelah pintu di buka terlihat seorang laki-laki di luar dan menatap dirinya.


Assalamualaiku, dek," Rangga kembali mengucapkan salam.


Wa'alaikimsalam, cari siapa Mas?" tanya Ismi.


"Saya cari Gus Aslan?"


"Bang Aslan," tanya Ismi mengerutkan keningnya.


"Bang Aslan gak tinggal di sini, tapi dia dengan istrinya tinggal di Pesantren."


"Kamu serius," Rangga menampakkan raut wajah tidak percaya.


"Maksud Mas apa, ya? Mas kira saya berbohong," Ismi menjawab sambil menahan emosi.


"Eh, bukan .. bukan itu makssu saya. Saya udah ke sana, tapi santri sana bilang kalau Gus Aslan dan istrinya tidak ada. Mereka juga gak tau ke mana. Saya fikir mungkin mereka ke sini. Maafkan saya kalau udah buat kamu tersinggung, ya." Pria itu menjadi tak enak hati.


"Saya juga gak tau mereka ke mana, mungjin Bang Aslan nganter kak Namira cek kandungan ke Rumah sakit," jawab gadis itu sekenanya.


"Kalau gitu saya pamit. Sekali lagi saya minta maaf." Rangga terpaksa pergi dengan tangan kosong. Tapi dia berniat akan mengawasi rumah Ayah Namira.


"Maaf Mas, kalau boleh tau, nama Masnya siapa ya?


"Emm ... "


"Biar nanti saya hubungi Gus Aslan aja, assalamualaikum," Rangga langsung meninggalkan Ismi.


Rangga sengaja tidak menyebutkan nama, di gak mau jika Aslan mengetahui tentang dirinya yang sedang mencari keberadaan lelaki itu.


"Kok aneh ya? Di tanya nama seperti takut." Ismi jadi menaruh curiga.


Ismi pun kembali ke dalam, dia duduk di sofa ruang tamu. Gadis itu memegang benda pipihnya berwarna hitam. Ismi mencari kontak atas nama Aslan. Setelahnya gadis itu langsung menghubungi nama itu.


Setelah panggilan tersambung Isminlangsung mengatakan kejadian barusan. Aslan terpaksa berbohong pada adik sepupu istrinya itu, Aslan mengatakan jika dirinya sedang berada di rumah kerabat karna ada acara. Ismi pun percaya dengan ucapan Aslan dan tidak lagi bertanya.


******


"Berarti Maher sudah tau jika Namira sudah tidak ada di Pesantren. Dan sekarang dia menyuru Rangga untuk mencari keberadaanku," ucap Aslan pada diri sendiri setelah tadi di beritahu Ismi.


"Bang, lagi ngapain? Kok ngelamun," Aslan tidak menyadari kehadiran istrinya, dan terlihat sedikit terkejut.


"Lagi mikirin kamu, sayang," jawab Aslan.


"Aku kenapa?"


"Kamu kan bentar lagi melahirkan, jujur sih Abang jadi tegang."


Hahahaha!


"Abang nih, aku yang mau melahirkan kok malah Abang yang tegang sih."


"Emangnya kamu gak?" tanya laki-laki itu sambil menatap instens manik istrinya.


"Tegang sih, tapi kan kalau terlalu aku fikiran yang ada aku malah tambah stres," jawab Namira.


"Kita berdoa sama-sama ya sayang, semoga kamu dan bayi kita selalu dalam perlindunga Allah, sampai melahirkan di beri keselamatan, baik ibu juga bayinya."


"Amin, ucap ke-duanya."


Namira merasakan panas di matanya, wanita itu sangat terharu dan bahagia ketika mendengar ucapan dari suaminya 'Bayi kita'. Seperti tetesan air di tanah yang tandus, sangat menyejukan.

__ADS_1


__ADS_2