
HAMIL TANPA DISENTUH (13)
"Namira!" Aslan memanggil nama itu, tapi sayang pemiliknya bergeming.
"Assalamualaikum." Aslan mengucap salam.
Dengan langkah pelan aslan berjalan mendekati ke tiganya, Farah dan Karim berbarengan menatap Aslan, lalu kembali menatap Namira.
Tidak ada ekspresi yang Aslan perlihatkan, dia berjongkok dengan satu lutut bertumpu di tanah. Di lihatnya wajah wanita yang kini masih terisak, membuat cadar yang di pakainya sudah basah semua, sungguh pemandangan itu membuat hati Aslan sakit dan merasa bersalah.
"Ada apa Aslan, kenapa namira seperti ini?" Tanya Farah yang sejak tadi cemas melihat keadaan menantu kesayangannya.
Bagaiman tidak sejak tadi menantunya hanya bersimpuh sambil menangis tanpa berbicara.
Aslan mengusap punggung istrinya yang tengah tertunduk, dan berbisik di telinga wanita itu,
"Sayang, kita kembali ke kamar yah!"
Namira menggeleng pelan, membuat Aslan menarik nafas sebentar. Aslan dapat memahami sikap Namira seperti ini, karna ini juga kesalahan nya. Tidak seharus nya sebagai laki-laki sikapnya seperti semalam apa lagi sebagai seorang suami, di mana tanggung jawabnya, pasti saat ini namira membutuhkan suport darinya.
Aslan bangkit, setengah membungkuk, memegang ke dua bahu istrinya, untuk membantu Namira bangun. Tetapi Namira tetap diam.
"Umi, Abah!" Dengan suara parau Namira memanggil ke dua mertuanya.
Namira mendongakan kepala guna menatap manik mata ke dua orang tua yang sudah sangat baik mau menerima dirinya yang hina.
Sedang aslan yang melihatnya, menggelengkan kepala. Aslan ingin mengatakan 'jangan' tetapi mulutnya seperti keluh.
Namira kembali tertunduk, sedangkan Aslan sudah dalam posisi berdiri tetapi masih berada di samping istrinya.
"Maafkan Namira Umi, Abah. Namira bukanlah menantu dan istri yang baik untuk kalian." Namira berkata sambil sesenggukan, sesekali tangannya menyeka air mata.
__ADS_1
Aslan pun kembali menjatuhkan diri ke tanah, ikut bersimpuh, Aslan sadar istrinya saat ini tengah membutuh kan dirinya, oleh sebab itu Aslan pun melakukan hal yang sama, duduk bersimpuh.
"A-aku sangat malu, huhuhuu." Namira tidak dapat melanjut kan kalimatnya, hanya ada suara tangisan.
Dan itu membuat ke dua orang tua yang duduk di hadapan mereka menjadi sangat khawatir.
Farah mengelus lembut kepala menantu kesayangannya, memberikan ciuman di pucuk kepala berbalut kerudung hitam itu.
"Nak, dengarkan Umi dan Abah." Farah mulai mengeluarkan suara.
"Apa pun yang terjadi semua nya atas kehendak Allah, yang terpenting bagaimana kita melewati dan memaknainya, terlebih kalian berdua."
"Umi dan abah menerimamu sebagaimana aslan juga menerimamu. Yang memnedakan manusia yang satu dengan yang lainnya adalah aklaq dan ketakwaannya terhadap tuhan yang telah menciptakannya." Karim menimpali.
"Bangunlah Nak, jalani dengan baik rumah tangga kalian, apa pun ujiannya hadapi bersama, saling meberikan dukungan, dan menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Umi dan Abah akan selalu berdoa semoga kalian selalu di berikan kebahagiaan dan segera di beri momongan." ucap Farah, sambil terkekeh di akhir kalimat nya.
Deggg..
Kali ini tangis Namira pecah, rasanya tak kuasa menanggung beban ini, dia tidak ingin kembali menyakiti hati ke dua orang tua Aslan.
Farah dan Karim kaget melihat reaksi menantunya, mereka pikir jika Namira sedih atau tersinggung,
"Maafkan Umi Nak, jika kamu tersinggung?"
Namira menggeleng cepat, sekarang yang ada di pikiran Namira bagaiman caranya memberitahukan mereka jika saat ini diri nya tengah hamil, Namira tidak ingin lagi menutupi apapun tentanh dirinya pada mereka.
"Umi, Abah sebenarnya aku ham ...." ucapan Namira terputus.
Satu tangan kekar mengenggam erat tangan namira yang ada di pangkuannya. Namira melihat ke arah aslan berada, dan terlihat Aslan menggelwng samar, hanya Namira yang dapat melihat itu.
"Tidak Umi, Namira mana mungkin tersingung dengan ucapan baik Umi, itu merupakan doa terbaik untuk kami." Sambar Aslan menjawab sebelum Namira mendahului.
__ADS_1
Aslan bangkit sambil membantu Namira agar ikut banhkit, dan akhir nya namira pasrah. Farah dan karim pun ikut berdiri. di peluknya Namira dengan sayang.
Ke dua insan itu pun keluar meninggal kan Farah dan Karim. selepas kepergian mereka Farah dan Karim kembali duduk di bangku yang sama,
"Bah! harusnya tadi kita beritahukan saja yang sebenarnya jika kita dan Ayah Namira telah tau tentang namira sebelum pernikahan mereka."
"Tidak Umi, biarkan seperti ini, toh kita tidak membohongi mereka, kita hanya menjaga apa yang seharusnya kita jaga. Ini semua demi kebaikan mereka , terutama Namira. Umi bisa bayangkan bagaimana hancurnya perasaan menantu kita jika dia mengetahui bahwa Ayahnya telah tau keadaan yang sesungguhnya. dan bagimana hancurnya hati Namira jika dia tau bahwa penyebab Ayahnya anfal waktu itu karna mengetahui kebenaran tentang diri nya. cukup kita bertiga yang tau." Karim mengingat kan Farah tentang pembicaraan waktu lalu bersama hilman Ayahnya Namira.
"Umi juga taukan apa resiko yang akan Namira tanggung atas peristiwa kelam itu?" tanya Karim dengan wajah serius.
Farah menganggung, dia sangat faham apa yang karim maksudkan.
"Umi siapkan? Mau menerima apa pun nanti keadaan menantu kita?" tanya Karim dengan wajah serius.
"Insa Allah Bah, Umi siap." sahut Umi singkat.
Sementar di tempat lain?
Laki-laki itu adalah Maher Arkhana Mager, seorang laki-laki tampan, bertubuh atletis, dan lulusan luar Negri. Dia merupakan CEO dari banyak perusahaan.
Ayahnya Mahendra Mager, merupakan pengusaha kaya dan memiliki banyak perusahaan, baik di dalam maupun luar Negri.
Maher di juluki kulkas 2 pintu, fahamkan artinya apa? Iya, dia laki-laki sangat dingin di kalangan para gadis. Sampai saat ini tidak satu orang pun gadis yang mampu merebut hatinya.
Selama ini jangankan menyentuh, untuk sekedar melirik seorang wanita saja, dia seperti tidak sudi. Karna sikap dinginnya, sampai ada rumor jika Maher penyuka sesama jenis.
Tapi Maher tidak pernah memperdulikan perkataan orang lain. Dia tetap asik dengan dunianya sendiri.
Dia terlalu sibuk hanya untuk sekedar mengurusi gosip-gosip yang sudah menjadi menu dalam hidupnya setiap hari. Dia adalah pengusaha muda yang sangat sukses, tentu saja hidupnya selalu menjadi sorotan banyak orang.
Dari pada menanggapi hal tidak penting lebih baik menyibukan diri dengan pekerjaannya. Tidak mudah untuk dirinya berada di posisi sekarang, apa lagi usianya terbilang masih muda, tentu saja banyak sekali godaan uang selalu datanh dan pergi menghampirinya, apa lagi yang asalnya dari kaum hawa, yang selalu mendambakan dirinya.
__ADS_1