HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 42


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH


Farah dan Karim sudah sampai di rumah Paman Namira. Karim bertanya pada putranya tentang alasan apa yang dia pakai pada Paman istrinya itu, pasal dirinya menginap dalam kurun waktu yang lama.


"Apa kamu mengatakan alasan yang sesungguhnya pada Paman istrimu?" tanya Karim. saat ini Karim sedang duduk berdua dengan Aslan.


Aslan menggelengkan kepalanya, "Enggak, Bah. Aku belum bicara apapun."


"Kenapa? Bukankah sebaiknya kamu memberitahukan beliau? Bagaimana pun Pamannya adalah wali istrimu."


"Aslan bingung, Bah. Bagaimana cara memberitahukannya? Lalu bagaimana dengan Namira sendiri? Apa dia tidak akan marah sama aku. Karna bagaiman pun juga itu adalah aib."


"Lebih baik kamu beritahu, jangan sampai Paman merasa tidak di hargai. Dia berhak tau, pasti dia juga ingin ikut melindungi keponakan satu-satunya." Karim mengingatkan putranya.


Aslan terdiam, mencerna apa yang Abahnya katakan. Dalam hatinya dia pun sependapat, akan lebih baik jika dia berterus terang.


"Baik, Bah. Aku akan bicara dengan Paman, Insa Allah nanti malam," tutur Aslan.


Ketika sedang asik berbincang, datang Farah dan Namira dengan membawa nampan berisi kopi juga gorengan.


"Lagi ngomongin apa nih? Serius banget!" seloroh Farah.


Aslan lantas bangun dan berjalan menghampiri istri dan Uminya. Setelah dekat ke-dua tangannya terulur mengambil nampan yang di bawa wanita tua yang masih memancarkan kecantikannya.


"Aslan Mi, katanya tegang mikirin Namira yang sebentar lagi melahirkan," ujar Karim.


Farah mengusap punggung putranya setelah mereka duduk di.bangku teras. Sementar Paman sedang berada di ladang, karna dia harus mengawasi para pekerja di ladangnya.


"Bang Aslan sekarang kaya gitu, Bah. Aku liat juga jadi sering ngelamun," ucap Namira.


Mendengar perkataan Namira barusan, Aslan, Karim, juga Farah saling bertatapan. Farah dan Karim mengerti kenapa putranya sampai sering melamun, tetapi tidak dengan Namira, perempuan itu sampai saat ini tidak mengetahui perihal apapun.


"Aslan, kata kamu mau bantuin Paman?" tanya Karim, sambil mengedipkan mata seperti memberi kode pada Aslan.


Aslan yang melihat kedipan mata Karim langsung faham, walaupun sebelumnya dia mengatakan baru nanti malam akan bicara pada Paman, tetapi sepertinya Abahnya ingin dia berbicara sekarang.


Aslan pura-pura menepuk jidatnya, "Aslan lupa, untung Abah ingetin."


"Sayang, Abang ke ladang dulu, ya."


Aslan bangun di ikuti oleh istrinya. Lalu ke-duanya berjalan bersamaan. Aslan sengaja lewat pintu belakang, karna lebih dekat.


"Sayang, Abang pergi dulu, ya," Tangan Aslan terurur ke belakang kepala istrinya untuk membuka ikatan cadar.


Kini wajah cantik dan mulus Namira terlihat. Senyum terbit di mata laki-laki itu. Lalu satu tangannya terurur kembali ke wajah Namira, ke-dua jarinya mengusap lembut wajah mulus Namira. Namira membalasnya dengan senyum, dirinya sudah tidak lagi malu ikut mengekpresikan diri. Menunjukan rasa sayang dan cintanya pada suami tampannya.


Aslan mencium semua bagian wajah perempuan itu, dan mengusap bagian terakhir yang belum dia cium, bagian bibir Namira. Bibir ranum perempuan itu di usap lembut oleh Ibu jari Aslan, lalu pria itu mendekatkan wajahnya mengikis jarak. Mata Namira sudah terpejam, begitu pun dengan Aslan. Tanpa aba-aba bibir ke-duanya sudah menempel. Tidak ada pagutan, hanya kecupan singkat yang Aslan berikan. Mata ke-dua insa itu saling menatap, berusaha mencari keberadaan satu sama lain, dalam manik mata masing-masing.


Senyum mengembang menghiasi wajah suami istri itu. Senyum penuh kebahagiaan.


"Abang pergi, ya."


"Anak Abi yang pintar dan soleh, baik-baik ya di sana. Jangan nyusahin Uma, ya!" Aslan telah mengetahui jenis kelamin anak dalam kandungan Namira. Dia mengecup pereut besar istrinya. Lalu berlalu meninggalkan perempuan itu.


****


Maher telah sampai ke kota tempat Paman Namira tinggal. Lelaki itu sudah mengantongi alamat rumah Paman Namira, makanya Maher langsung meminta Rangga untuk mencari rumah yang masih satu tempat dengan Namira, agar dirinya leluasa mengambil tindakan.


"Gimana, Rangga? Aman?" tanya Maher pada laki-laki yang beberapa tahun ini menjadi abdi setianya.


"Aman, Tuan. Semuanya terpantau," sahut Rangga.


"Tapi Tuan bagaimana dengan Pak Dion?" tanya Rangga yang sudah mulai curiga dengan gerak-gerik Dion.


"Saya sudah tau. Tapi biarkan saja, saya ingin tau apa yang akan dia lakukan pada saya." Maher menjawabnya dengan sinis, dan raut wajahnya menunjukkan kemarahan.


"Mana hasil jepretanmu?" Maher meminta hasil-hasil foto yang Rangga dapatkan selama beberapa hari ke belakang.


Pria itu pun meninggalkan Maher, untuk mengambil foto-foto yang dia simpan di kamarnya.


"Ini, Tuan." Rangga menyerahkan beberapa lembar foto dengan ukuran lumayan besar.

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum saat menerima hasil foto dari Rangga, "Bagus." Maher membolak-balik foto-foto yang kesemuaanya hanya foto Namira.


"Anak papa, sabar ya sayang," seloroh Maher saat melihat perut besar Namira dalam foto.


Sedangkan Rangga, justru di buat bergidik melihat senyum Tuannya. Rangga yakin jika Tuannya akan melakukan hal yang nekad untuk mendapatlan wanita dan anak itu.


"Tuan ... " pangil Rangga.


Maher melirik dengan tatapan tidak suka. Dia tidak suka pada Rangga yang baru saja mengganggu kesenangannya. Maher hanya menatap Rangga, dan Rangga tau, arti tatapan itu. Artinya dirinya harus segera bicara.


"Saya baru dapat kabar jika Pak Dion juga datang ke kota ini."


Maher terlihat santai, jiwa lelakinya semakin keluar. Dia akan melakukan apa saja bagi orang-orang yang menghalanginya.


"Biarkan saja. Saya sudah menyusun rencana untuk Dion. Jadi biarkan dia datang dan berusaha melindungi sahabatnya itu."


"Tapi Tuan ....!


"Kenapa?!" tanya Maher yang melihat ada kegelisahan di wajah asistennya.


"Anda tidak akan melukai Pak Dion 'kan?" tanya Rangga ragu. Lelaki itu sedikit menundukkan kepalanya.


Hahahaha!


"Kamu ini lucu. Dion itu saudara saya satu-satunya. Jadi bagaiman mungkin saya akan melukai dia. Saya belum siap jadi buruan papanya Dion. Kamu tau 'kan papanya Dion seperti apa?!"


Rangga cuma manggut-manggut. Setelah urusan selesai Rangga pun pamit.


*****


"Aslan! Kok ke sini?" tanya Paman, yang sedikit kaget melihat kedatangan Aslan.


Sepanjang jalan tadi Aslan terus saja memikirkan tentang apa yang harus dia katakan tentang Namira. Dirinya bingung dan ragu memulainya dari mana.


"Sini duduk!" Paman menepuk bagian kosong di sebelahnya.


Aslan pun menuruti dan langsung duduk di bagian kosong sebelah Paman.


"Kan bisa di bicarakan nanti di rumah. Kenapa repot-repot datang ke sini. Harusnya kamu temani ssja Umi sama Abahmu. Paman malu, ada kerabat datang malah sibuk ke ladang," ujar Paman.


"Gak pa-pa Paman, Umi sama Abah juga memaklumi kesibukan Paman."


"Saya ke sini mau membicarakan sesuatu yang penting tentang Namira ... tapi sebelum saya katakan, saya ingin memberi alasannya. Saya ingin Paman membantu saya untuk melindungi Namira dan bayi kami, selain.Paman adalah Walinya.


Paman menatap wajah menantunya dengan serius.


" Ada hal serius apa? Namira dan bayinya baik-baik aja 'kan? tanya Paman menunjukan raut wajah khawatir.


"Gak Paman, mereka berdua baik-baik aja. Eeeee ... "


"Kenapa, Lan? Kenapa kamu kelihatan cemas begitu, hm," tanya Paman sambil tanggannya mengusap punggung Aslan.


"Maaf, Paman. Maaf karna baru mau mengatakannya pada Paman soal Namira."


Paman diam, dia ingin memberilan Aslan waktu dan kesempatan.


"Namira hamil ... "


Paman mengerutkan keningnya, kalimat Aslan terdengar ambigu.


"Kamu ini kok lucu, Namira memang sedang hamil, Paman juga tau itu," sahut Paman.


"Aslan!" Panggil Paman, karna melihat menantu keponakannya itu malah melamun.


"Namira memang mengandung, Paman ... tapi ... "


Paman di buat penasaran dengan kalimat Aslan yang sejak tadi tidak dirinya mengerti. Dan Aslan juga banyak mengantung ucapannya.


"Sebetulnya ada apa dengan Namira, Aslan?" Paman mulai sedikit meninggikan suaranya.


Mata Aslan terasa panas, dan mulai berembun.

__ADS_1


"Aslan, kamu kenapa, ha! Bilang sama Paman!"


"Anak dalam kandungan Namira bukan anak saya."


Duarr....!


Seperti suara petir, dan seperti sengatan listrik yang menjalar di tubuh Paman. Tubuhnya gemetar, mulutnya keluh. Matanya panas dan berair. Paman tidak menyangka bagaimana bisa menantunya yang soleh bisa berkata keji seperti itu.


Plak!


Satu tamparan di layangkan laki-laki tua itu. Dia di buat geram dengan ucapan menantunya itu. Aslan diam menerima tamparan itu, dia sangat mengerti dengan sikap Paman dari istrinya ini.


"Tega kamu Aslan! Sampai hati kamu mengataka hal keji seperti itu! Kamu mau bilang, kalau Namira adalah perempuan kotor, he!"


Aslan menggelengkan kepalanya, "Enggak .. enggak Paman."


Aslanmenggoyang-goyangkan telapan tangannya ke depan, yang artinya dia menolak tuduhan Pamannya.


"Lalu apa maksud kmu bicara seperti itu tentang Namira?!"


"Beri saya kesempatan untuk menjelaskannya Paman," pinta Aslan, dengan tatapan memohon.


Paman menarik nafas panjang, guna menetralkan sesak di dadanya. Setelah cukup tenang, Paman pun berucap pada Aslan, "Baik, Paman akan dengarkan kamu sampai selesai."


Aslan juga menarik nafas dalam, karna apa yang akan dia katakan bukanlah hal yang mudah, justru sesuatu yang akan sangat melukai dirinya sebagai seorang suami.


"Namira hamil oleh laki-laki lain." ungkap Aslan, dengan tubuh bergetar.


Paman mengeoalkan ke-dua tangannya. Dia mencoba menahan diri agar tidak lagi emosi. Dia akan berusaha mendengarkan Aslan sampai selesai.


"Namira ... dia ... dia menjadi korban pe-pelecehan." Hati Aslan bagai di cabik. Dia sendiri kini memberi garam pada lukanya sendiri.


"A-Apa maksdu kamu?" tubuh Paman sudah gemetaran, suaranya menjadi parau menahan isakan.


"Benar Paman. Ada laki-laki yang telah melecehkannya dan sekarang laki-laki itu datang lagi. Dia ingin merebut anak dalam kandungam Namira." Aslan sekuat tenaga menahan emosinya ketika kembali harus mengingat laki-laki itu.


"Ya, Allah." Paman menangis sambil menutup wajahnya dengan ke-dua telapak tangannya.


"Apa Ayahnya tau soal ini?" tanya Paman sembari menatap wajah Aslan.


Aslan mengangguk. Dan itu membuat Paman bertambah menangis.


"Tapi Namira tidak tau, jika Ayah sudah mengetahui tentang apa yang dia alami," beber Aslan.


"Maksud kamu, bagaimana?" Paman kembali bertanya sambil terisak


"Saya juga baru tau tentang kebenaran itu setelah beberapa hari menikah."


"Apa." Paman sampai memekik di sela tangisnya.


"Iya, Paman itu benar. Waktu itu Namira mengira jika Ayah tidak tau. Makanya Namira meminta pada saya untuk merahasiakan semuanya. Ternyata Namira salah. Beberapa hari sebelum kepulangan Ayah menghadap ilahi, Ayah menceritakan semunya pada saya. Dan saya mengatakan jika saya sudah tau tentang itu. Ayah tidak sengaja mendengar ketika Namira berdoa tentang dia yang mendapatkan pelecehan." Aslan mengungkapkan semuanya.


"Ya, Allah, beruntung sekali Ayah mertuamu juga Namira mendapat laki-laki sesoleh kamu," ucap Paman, sambil mengelus punggung Aslan.


"Bagaimana Umi dan Abah kamu?"


"Mereka sudah tau sebelum Aslan. Bahkan mereka telah tau sejak perjodohan kami," sahut Aslan sambil menatap Paman.


Paman diam, lelaki tua itu terharu. Bagaimana bisa ada orang-orang sebaik mereka.


"Paman tidak tau mau berkata apa, hanya ucapan syukur dan terima kasih sama kamu dan ke-dua orang tuamu. Kalian adalah orang-orang baik yang di kirim Allah untuk membantu Kakak juga ponakan Paman."


Paman memeluk Aslan erat. Paman menumpahkan segala rasa dan sesak di dada melalui air mata yang kini di tumpahkannya.


Paman melepaskan pelukannya pada menantunya itu, "Lalu apa rencana kamu sekarang?" tanya Paman.


"Kita harus menjaga dan melindungi Namira juga bayinya. Laki-laki itu bernama Maher. Seperrinya dia punya niat tidak baik."


Setelah mendengar dan di jelaskan, Paman pun bersiap. Dia juga akan melakukan sesuatu untuk melindungi ponakan juga cucunya.


Apa yang akan Aslan dan keluarganya lakukan untuk melindungi Namira juga calon anaknya?

__ADS_1


__ADS_2