HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 21


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH (20)


Pov Aslan


Sebelum adzan zuhur aku dan Namira sudah sampai di kediaman Ayah. Namira sangat sedih ketika melihat keadaan Ayah Hilman. Ayah juga tidak mau saat aku ingin membawanya kerumah sakit. dia ingin menghabiskan waktunya bersama anak dan menantunya. Ayah tidak ingin menyia-nyiakan sisa waktunya hanya dengan berdiam diri dan berbaring di rumah sakit.


"Aslan! Ayah ingin bicara sama kamu." Ayah bicara dengan suara lemahnya.


Namira saat ini sedang menyiapkn makan siang untuk kami, bersama bibi di dapur. Ayah tidak ingin anaknya mendengar pembicaraannya nanti.


"Iya Ayah, sebetulnya Ayah ingin bicara apa dengan saya?" tanyaku yang merasa bingung melihat ekspresi Ayah mertuanya.


Matanya intens menatapku, seperti ada suatu beban yang dapat kulihat di manik sayup itu.


Aku yang melihat Ayah mertua terbaring lemah merasa sangat tega tega, dengan selang oksigen di hidungnya.


"Ayah, apa tidak sebaiknya kita kerumah sakit? Saya enggak tega liat Ayah seperti ini, kasihan juga dengan Namira yah." Aslan menggenggam tangan laki-laki yang sudah beberapa minggu telah menjadi mertuanya.


Gelengen kepala yang di lakukan Ayah kembali membuatku diam, dan tidak tau harus bagaimana membujuk Ayah mertuanya itu. Aku sangat tidak tega selalu melihat namira menangis setiap kali melihat Ayahnya yang saat ini terbaring lemah.


"Aslan, ada hal penting yang ingin Ayah beritahukn padamu, tapi ayah ragu dan takut." Mata Ayah berkaca, terlihat jelas jika ada beban yang mengganggu.


Kugenggam tang keriput itu, mengusapnya lembut, "Ayah mau bicara apa? Insa Allah aslan siao mendengarkan."


"Ini tentang Namira." Mata itu kembali sayup, kesedihan amat terpancar ketika menyebut nama Namira.


"Kenapa aku jadi deg-degan, apa Ayah akan mengatakan hal yang sama seperti yang Namira katakan, tapi kan Namira sendiri yang bilang jika Ayah tidak tau pa-pa." Aku bermonolog dalam hati.


"Ayah minta maaf sama kamu Nak, sampai saat ini ayah selalu merasa bersalah. Apa kamu tau kebenaran tentang Namira?" Suara Ayah parau dan tersendat ketika menanyakan kebenaran tentang putrinya.


"Ya Ayah, aku sudah tau, Namira sudah menceritakan segalanya." Tangan tua itu tetap kugenggam, seolah aku ingin memberitahu jika aku baik-baik saja dengan kenyataan tentang putrinya.

__ADS_1


"Maafkan Ayah dan putri ayah, tidak seharusnya kami menyembunyikan kenyataan ini darimu Nak." Suara itu terdengar lebih lemah.


"Sudah Ayah ... Ayah istirahat yah. Aku takut nanti kesehatan Ayah tambah memburuk."


"Enggak Nak. Ayah tidak ingin meninggal dalam keadaan merasa bersalah, tolong kamu terima putri Ayah sepenuhnya dengan iklas dan lapang dada, Ayah tau kamu laki-laki yang sangat baik, kamu juga pasti akan selalu menjaga dan melindungi putri Ayah 'kan?" Nafas itu mulai terengah-engah.


"Boleh aku bertanya Ayah?" tanyaku ragu.


Ayah hanya mengedipkan kedua matanya,


"Namira melarangku memberitahukan Ayah tentang kebenaran dirinya, tetapi di sini justru Ayah sudah mengetahui segalanya, sejak kapan yah?" tanyaku hati-hati.


"Hari itu ketika Ayah telah mengatakan tentang perjodohan, Ayah tidak sengaja mendengar doa Namira tentang ...." Ayah diam, dan aku tau apa yang ingin dikatakannya.


Kembali kuusap tangannya dan tersenyum, agar Ayah menjadi tenang.


"Tetapi Ayah tidak berani menanyakannya langsung, Ayah takut akan lebih membuat Namira sedih, dan hatinya akan bertambah hancur." Kali ini terdengar isakan kecil dari Ayah.


"Sudah Ayah, yang terpenting saat ini aku benar-benar menerima putri Ayah dengan iklas dan mencintainya setulus hatiku, begitu pun dengan anak dalam kandunganya." jawabku berusaha meyakinkan laki-laki rapuh yang ada di hadapanku.


Terdengar suara ceklekan pintu kamar, terlihat wanita berbalut gamis merah maron berjalan anggun, sambil membawa nampan yang di atasnya ada mangkuk dan gelas.


Senyum kuukirkan di bibir untuk menyambut kekasih halalku, dan dia pun menyambutnya dengan senyuman amat manis yang dapat kulihat dari wajahnya yang sedang tidak ditutupi cadar.


"Ayah tidur?" tanya wanitaku.


"Iya sayang, baru aja, sudah taruh aja disana buburnya!" kataku menunjuk meja kecil yang ada di samping tempat tidur.


Namira berjalan dan menaruh nampan yang di pegangnya, setelahnya kembali berjalan kearah kududuk.


"Ayo Bang, makan! aku udah buatkan lauk kesukaan Abang, sop iga." senyum manis kembali terbit dari bibir yang rasanya juga sangat manis.

__ADS_1


Aku bangkit dan mengambil satu tanganya untukku genggam, lalu berjalan dan satu tanganku membuka pintu.


.


Dua cangkir berisi teh dan kopi, sudah ada diatas meja taman belakang, sore hari duduk ditaman yang menjadi saksi aku dan Namira berbicara saat aku datang menghitbah, disinilah istri cantikku memberikan syarat, yang sekarang masih tersisa satu yang belum bisa kutunaikan.


Duduk di bangku panjang berdua, bedanya saat ini aku tidak lagi mejaga jarak, kugenggam tangan putihnya, kupindahkan keatas pahaku. mata ini kugunakan hanya untuk memandang wajah cantiknya, begitupun dengan dia, ikut memandangku dengan senyum terukir wajahnya.


Walaupun taman ini dipenuhi dengan bunga-bunga, bahkan harumnya menguar memenuhi rongga hidung, tapi buatku tidak ada yang bisa mengalahkan keindahan dan keharuman istriku.


"Bang." Panggilnya dengan suara lembut yang selalu membuatku candu.


"Hmm, kenapa sayang?" jawabku sambil satu tanganku mengambil cangkir berisi kopi.


"Abang bicara apa aja sama Ayah?" tanya Namira, dengan tangan sambil mengambil cangkir satunya.


"Enggak ngomong pa-pa sayang, Ayah cuma minta abang jagain puri satu-satunya yang cantik ini." Aku menjawab sambil menoel dagu Namira.


"Emm." jawab Namira sambil manggut-manggut.


Syukur deh, Namira tidak curiga, aku juga tidak ingin Namira tau, jika ayah Hilman sebenarnya sudah mengetahui tentang dirinya. benar apa kata Ayah, Namira akan sangat sedih dan hancur. Biarlah ini menjadi rahasia aku dan Ayah. ini juga kami lakukan untuk kebahagiaan wanita yang kami cintai, Namira.


"Bang, aku bolehkan beberapa hari nginap disini?"


"Boleh sayang, kamu di sini aja sampai Ayah baikan, tapi abang enggak bisa lama-lama nemeni kamu, Abangkan harus bantu Abah, dan abang juga harus mengurus pekerjaan Abang."


Sampai saat ini aku belum memberitahukan tentang pekerjaanku, Namira hanya tau jika aku membantu Abah mengurus pesantren. Tetapi mengenai beberapa usahaku seperti cafe, restoran, dan youtube chanel, aku belum memberitahu. mungkin nanti, toh Namira juga belum menanyakan apapun perihal pekerjaanku.


Kunikmati sore ini dengan suasana syahdu, duduk bersama wanita tercinta, aku hanya ingin selalu melihatnya bahagia, bersama membangun keluarga kecil bersama istri dan calon anak kami.


Walaupun ada rasa khawatir yang selalu menghantui, pertanyaan tentang masa lalu istriku, siapa dia, seperti apa orangnya, dan yang paling membuatku takut, apakah dia akan kembali merebut Namira dan juga anakku? walau bukan milikku. Aku hanya berdoa semoga Alah senantiasa selalu melindungi kami semua.

__ADS_1


"Sayang masuk yuk! Abang takut kamu masuk angin, kasian juga loh dede utunnya." kataku sambil mengelus perut istriku yang sudah terlihat sedikit menonjol.


Namira bangkit tanpa berkata lagi, akupun menyusul dan menggenggam tangannya, membawanya berjalan bersama menuju peraduan yang akan menjadi tempat beristiraht kami.


__ADS_2