HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 19


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH (19)


"Kalian jadi pergi sekarang ke rumah Ayah?" tanya Umi saat mendekati Aslan dan Namira yang kini tengah sibuk packing.


"Iya Umi, mumpung masih pagi, masih adem, terus belum banyak polusi. Kasian Namira kalau siang, pasti panas, takutnya Namira pusing tambah mual lagi." Aslan berbicara panjang, padahal tinggal jawab iya.


Umi dan Namira tertawa berbarengan. "Liat tuh sayang suami kamu, segitu sayangnya." Farah mengelus pucuk kepala Namira yang berbalut jilbab.


"Umi! kok gitu sih sama anak sendiri." Aslan pura-pura merajuk.


Padahal dia sangat senang melihat ke dua perempuannya tertawa bahagia.


"Ayoo, lagi ngomongin apa ini? Ingat, kita tidak boleh menjelekan siapa pun!" Karim yang baru saja masuk ke kamar Aslan langsung ikut nimbrung.


"Enggaklah Bah, ini loh Umi lagi tanya sama Aslan, 'apa mau berangkat sekarang?' Abah tau enggak apa jawaban Aslan?" tanya Farah sambil senyum-senyum.


"Apa Mi?" sahut Karim sambil melirik Aslan yang wajahnya sudah mulai merah.


"Udah dong Umi, Aslankan malu ada Namira ini." Aslan melengos, tidak ingin sampai Namira melihat wajahnya.


"Sudah semua sayang?" tanya Aslan pada istrinya yang sedang mengambil beberapa keperluan.


"Udah Abang sayang." Namira merapatkan ke dua bibirnya, entah kenapa dia merasa malu saat dirinya memanggil Aslan sayang.


Sedangkan Aslan jangan di tanya, dia langsung membalikan badan, wajahnya sudah berwarna merah muda, jantungnya Jedak jedug mirip suara genderang.


Menarik nafas guna menetralkan debaran, cukup lama aslan membelakangi Namira, setelahnya Aslan berbalik lagi ke istrinya yang sudah tidak ada.


"Sayang... sayang kamu di mana?" Aslan tidak menemukan wanita itu.


Dia langsung keluar mencari keberadaan istrinya. Di turuninya anak tangga dengan langkah cepat, Aslan sangat khawatir jika sesuatu terjadi pada istri dan anaknya.


Aslan setengah berlari mencari sumber suara yang baru saja dia dengar. Suaranya berasal dari kebun belakang.


Sudah ada Farah, Mbok dalem, dan beberapa santri putri.


"Sayang, kok kamu pergi enggak bilang-bilang sih?" bisik Aslan setelah berdiri dekat Namira.


Namira tertawa renyah yang jadi candu buat Aslan, "Sayang kamu cuma boleh ketawa di depan aku aja ok." Aslan mulai kembali posesif.


"Iya, tadi waktu Abang buang muka, Umi ngajak aku, tuh bikin nasi liwet." tunjuk Namira pada ketel yang sedang ada di atas tungku.


Saat ini Farah dan yang lain sedang berada di halaman belakang dekat kebun sayur, di mana banyak santri putri sedang memetik dan memanen sayur. mereka sengaja memasak nasi liwet menggunakan dapur tradisional yang di buat dari susunan batu bata.


"Umi, kok malah masak nasi liwet sih, kan kita mau pergi?" tanya Aslan yang benar-benar tidak mengerti dengan ke dua wanitanya ini.


Aslan tidak tau aja kalau yang mau nasi liwet itu adalah istrinya yang ngidam pengen makan nasi liwet tapi masaknya harus di dapur tungku.


"Ini kemauan Ning Namira, Gus." Mbok dalem yang menyahut memberitahukan pada Aslan.


Aslan langsung menatap wajah istrinya "bener sayang, ini kamu yang mau?" Aslan hanya memastikan.


Namira mengangguk cepat, dan membuat Aslan menghela nafas panjang,


"Kamu kok enggak bilang-bilang sih sama Abang, hm? Abang jadi ngerasa tidak berguna loh sayang." Aslan merajuk membalikan badannya membelakangi Namira.


"Iihh Abang apa'an sih, enggak gitu Abang." Namira menarik tangan kekar Aslan.


Satu tarikan yang membuat tubuh Aslan langsung menghadap Namira. Aslan seperti sengaja, pura-pura marah mengerjai wanita di depannya.

__ADS_1


"Ya sudah nanti kamu makan dulu nasi liwetnya sampai kenyang! habis itu baru kita ke rumah ayah oke." Aslan menarik pelan tangan namira dan mengajaknya duduk, jangan lupa Aslan enggak pernah mau melihat istrinya kelelahan.


.


"Umi, Abah, kita berangkat dulu yah." Aslan dan Namira berpamitan pada ke duanya.


" Ya sudah Kalian berangkat kalian hati-hati ya di jalan," pesan karim pada ke duanya.


"Aslan, kamu ingat ya, jangan mengendarai mobilnya itu kencang-kencang kasihan nanti istri dan anak kamu." Kali ini Farah yang memberi pesan.


Tepat pukul setengah sembilan keduanya pun meninggalkan rumah, setelah berpamitan.


*****


Zuhur bersama semua santri dengan karim yang menjadi imam, ke Tiga tamu yang baru saja datang pun ikut sholat berjamaah, karna kumandang azan zuhur lebih dulu terdengar sebelum kaki ketiganya sampai ke rumah dalem.


Lantunan dari ayat-ayat Alquran yang keluar dari mulut Karim terdengar begitu indah dan syahdu membuat semua jamaah menjadi sangat khusyuk.


Setelah selesai melaksanakan shalat berjamaah tidak semua santri meninggalkan Masjid, ada banyak santri yang melanjutkan kegiatan seperti biasa yang mereka lakukan.


masing-masing dari mereka mengambil Qur'an atau pun kitab lainnya yang akan mereka pelajari Bersama Ustadz dan Ustadzah.


Untuk pelajaran kitab atau mengkaji kitab mereka akan langsung belajar pada Ustadz atau pun Ustadzah. Tetapi untuk mengaji semua Santri bisa melakukannya kepada santri senior mereka. Misalkan seperti kegiatan yang biasa dilakukan Semua santri setelah melaksanakan salat subuh, mereka akan melakukan sorogan bersama para santri senior, baik yang di tunjuk sebagai rohis atau pun masing-masing ketua kobong atau kamar mereka.


Sementara Karim sendiri melakukan hal yang sama, karna hari ini Karim mendapat jadwal untuk melakukan kajian kepada santri putra. Baru saja ingin memulai, ada satu santri yang menghampiri Karim,


"Assalamualaikum, yayi," ucap santri yang tadi menemui tiga orang tamu Karim. sambil mencium takzim tangan Karim.


"Wa'alaikumsalam, ada apa Nak?" tanya Karim sambil melihat wajah santri itu.


Santri itu pun memberi tahukan jika ada tiga orang tamu yang menjadi Kiayi.


Sementara itu tamu yang di maksud sudah berada di rumah dalem diantar oleh santri yang lain. Saat ini ketiganya sudah menduduki kursi yang ada di depan.


"Assalamualaikum," ucap Karim saat sudah sampai depan rumah, ketiganya langsung berdiri.


"Wa'alaikumsalam." ucap ketiganya berbarengan, sambil mencium takzim tangan Karim. Sedangkan Wulan hanya menangkuokan kedua tangannya di dada, begitu juga dengan Karim melakukan hal yang sama.


"Silahkan duduk." Karim kembali mempersilahkan ketiga tamunya itu.


Dimeja tempat mereka duduk sudah tersedia tiga minuman dan juga makanan.


Dari arah dalam muncul Mbok dalem yang sekarang berjalan menghampiri Karim dan ke tiga tamunya. Rupanya Mbok dalem sudah melihat Karim sejak baru sampai rumah.


"Ini kiayi minumnya silahkan." Mbok dalem meletakan cangkir berisi air putih di atas meja, setelahnya langsung pamit kembali ke dalam.


"Silahkan di minum!" Kiayi menawari, walaupun apa yang ditawarinya sudah terlihat berkurang.


"Sudah pak kiayi, ini tinggal setengah." Dion menjawab sambil senyum malu, tanganya menunjuk minuman dia sendiri


yang sudah tandas.


Karim tertawa kecil sambil manggut-manggut.


"Kalau saya boleh tau, ada keperluan apa, atau mungkin mau bertemu dengan siapa?" tanya Karim.


Maher menyenggol Dion, yang membuat Dion langsung menoleh, dan menaikan alisnya, seolah ingin bertanya 'kenapa'?.


Maher langsung memberi kode dengan gerakan matanya, jika dia ingin Dion yang berbicara, sementar Wulan geleng-geleng kepala melihat kelakuan ke duanya.

__ADS_1


"Sebelumnya perkenalkan saya Dion, ini istri saya, Wulan dan yang itu sepupu saya Maher." Diakhir kalimat Dion menunjuk dengan ibu jarinya ke arah Maher.


Karim tersenyum, "iya .. iya."


"Saya ini sebetulnya kenal dengan anak pak Kiayi, Gus Aslan."


"Oh ya, kalau boleh tau kenal di mana Nak Dion dengan Aslan?"


"Kami satu komunitas Pak Kiayi, komunitas bantuan bencana alam." Dion menjelaskan.


"Tujuan saya datang ke sini selain ingin bersilahturahmi dengan akan juga keluarganya, saya jug ingin menemani sepupu saya Maher, untuk mengajukan diri." Dion menjelaskan tentang tujuannya mereka.


Mendengar kata mengajukan membuat Karim bingung, 'mengajukan apa? Apa lamaran? Tapi kan aku tidak punya anak perempuan' itu lah yang Karim pikirkan.


"Saya ingin mengajukan diri untuk menjadi donatur dipesantren ini pak Kiayi." kali ini Maher sendiri yang memberitahukan niatnya.


"Subhanallah, mulia sekali kamu," puji Karim pada Maher.


"Mohon maaf kalau boleh tau, apa pekerjaanmu Nak?" Karim bertanya dengan hati-hati.


Karim menanyakan hal itu semata mata hanya ingin memastikan jika semuanya jelas dan benar, dengan kata lain semuanya halal.


"Saya membantu orang tua saya menjalakan perusahaan," jawab Maher.


"Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan kamu yang ingin berbagi sedikit dari hartamu. Tetapi saya mohon maaf, karena pesantren ini tidak menerima donatur, Pesantren ini sifatnya mandiri. adapun yang ingin berbagi bisa dengan cara memberikan santunan pada anak yatim yang ada di pesantren ini, yang setiap tahun nya dibuatkan acara khusus untuk mereka. Nanti di acara itu para tamu baik yang di undang ataupun tidak bisa menyerahkannya langsung kepada mereka. Seperti itulah sistem sumbang yang ada di pesantren ini." Karim berusaha menjelaskan nya dengan baik dan hati-hati, dia tidak ingin tamunya ini merasa tersinggung dan sakit hati karena penolakannya.


"Baik Pak Kiayi, itu pun tidak masalah, karna tujuan saya memang ingin bersedekah, bagaimana peraturannya saya akan ikut saja," ucap Maher yang tidak merasa tersinggung dengan penolakan Karim.


"Baik kalau begitu Nak Maher, nanti saya akan memberitahu kapan pelaksanaannya."


"Saya tunggu kabarnya." Maher tersenyum mendengar ucapan Karim. 'Setidaknya aku masih punya kesempatan untuk bertemu dengannya.' ucap hati Maher.


"Maaf Pak Kiayi, sedari tadi saya enggak liat aslan?" Dion yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.


"Aslan dengan istrinya pergi ke rumah orang tuanya Namira." Karim memberitahukan dion tentang kepergian Aslan.


"Memangnya dimana rumah mertua Aslan Pak kiayi?" Maher sudah tidak dapat menahan keingin tahuannya.


"Sama dengan kalian."


"Jakarta." Wulan memastikan.


"Iya benar Nak , Jakarta."


"Ya sudah kalau begitu kami pamit, saya titip salam aja untuk aslan." Dion berpamitan dan di ikuti yang lainnya.


'Jakarta.' Maher bermonolog dalam hati, sambil menyunggingkan senyum.


Ketiganya pergi meninggalkan Pesantren dan kembali Jakarta.


"Dion, lu tau enggak rumah mertuanya Gus Aslan?" tanya Maher pura-pura fokus melihat ke depan.


Kali ini Maherlah yang menjadi supir untuk Dion dan wulan. Saat ini Dion duduk di belakang menemani Wulan, awalnya Meher menolak karena dia merasa di jadikan sopir, tetapi ketika melihat Wulan memegang perutnya dan mengeluh sakit akhirnya Maher mengizinkan dia untuk menemani Wulan di belakang.


Maher pun akhirnya tidak lagi mengajak Dion berbicara karena merasa kasihan melihat Wulan yang saat ini sedang kesakitan, sepertinya perutnya kram Karena kecapean.


" On sory ganggu bentar, lu punya nomor Gus Aslankan? Nanti kirimin ya ke gue! kan lu sendiri yang bilang kalau kalian itu tergabung dalam komunitas bantuan bencana alam, ya gue juga pengen dong jadi bagian dari kalian menyumbangkan uang gue."


Dion mengangguk "ok," jawab Dion singkat.

__ADS_1


Kendaraan yang di bawa Maher pun melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan yang kiri kanannya berjejer pohon-pohon besar. karena hari sudah sore, Maher pun memperkirakan jika mereka akan sampai di Jakarta lepas magrib nanti.


__ADS_2