HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 41


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH


Dion sudah satu minggu meninggalkan rumahnya, tetapi lelaki itu selalu mendapat informasi tentang Maher juga Aslan. Bahkan Dion tau jika Aslan.sudah tidak lagi berada di pesantren. Laki-laki itu sangat senang mendengarnya. Walaupun sekaeang dia tidak mengetahui keberadaan sahabatnya itu, tetapi dia tetap senang, karna Maher tidak akan bisa mengganggu Aslan dan Namira.


"Bang, kapan kita pulang, aku gak betah nih?" tanya Wulan sambil memberikan secangkir kopi pada suaminya.


Dion menepuk kursi kosong di sebelahnya. Saat ini ke-duanya sedang menikmati suasana matahari terbenam, dengan semburat jingganya yang memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.


"Kok gak betah sih sayang? Kan ini rumah orang tua kamu." Dion menyeruput kopinya yang masih panas.


"Gak tau, pokonya aku pengen pulang, Bang," rengek Wulan.


"Iya, sayang. Abang juga udah siap kok untuk menghadapi Maher," ujar Maher.


"Kabar Gus Aslan gimana, Bang?" tanya Wulan yang tiba-tiba teringat dengan laki-laki itu.


"Kata orang suruhan Abang sih, dia udah gak tinggal di Pesantren. Aslan membawa pergi Namira. Dan pasti itu semua karna Maher."


"Bagus lah Bang, kasian Namira."


"Ya sudah kita siap-siap yu, kita packing nanti lepas magrib kita langsung pulang," ucap Aslan.


Wulan nampak kegirangan, dan langsung bangun meninggalkan Dion.


Sementara Dion masih saja memikirkan langkah apa yang harus dia lakukan pada Maher agar laki-laki itu tidak melakukan perbuatan nekad yang akan merugikan dirinya sendiri. Memang betul Maher mempunyai hak pada anaknya, tetapi bukan berarti dia juga berhak memilikinya.


Setelah Wulan selesai packing, ke -duanya berpamitan. Sebelum melajukan mobilnya Dion lebih dulu menghubungi orang kepercayaannya, Dion bermaksud ingin mengetahui keberadaan sahabatnya. Dia ingin membantu menjaga istri dari sahabatnya itu.


Setelah menempuh jarak sekian jam, akhirnya Dion sampai di kediaman mewahnya. Tetapi siapa yang menyangka jika di teras rumahnya sudah ada sosok laki-laki yang beberapa hari ino dia hindari.


Setelah keluar dari mobil, Dion berhenti sebentar di halaman. Dia menghampiri istrinya dan mengatakan jika Wulan langsung saja masuk ke dalam. Wulan pun hanya memberikan anggukan. Wulan berjalan lebih dulu, di ikuti oleh Dion. Saat berpapasan dengan Maher, Wulan merasa jengkel. Jangankan bertegur sapa, melihat wajah Maher saja dirinya merasa mual.


"Apa kabar Lan," tanya Maher pada wanita itu sambil tersenyum. Tetapi sayang Wulan malah menunjukan wajah tidak ramah.


"Baik ....!" sahut Wulan, ketus. Dan langsung berlalu meninggalkan Maher.


Melihat istri dari sepupunya itu, Aher sudah dapat menebak jik Wulan sudah tau segalanya tentang dia juga Naimira.


Maher seperti tidak sabaran, dia langsung menghampiri Dion yang masih berdiri di dekat mobilnya.


"Bilang sama gue, ke mana Aslan bawa Namira!" cetus Maher sambil menatap tajam mata Dion.


Bukannya menjawab Dion malah tersenyum smirk. Entah kenapa dia merasa senang mendapati Maher seperti orang frustasi.

__ADS_1


"Gue gak tau," jawab Dion santai, dan itu malah memancing kemarahan Maher.


Lelaki itu lebih mendekatkan dirinya pada Dion.


"Gue tau, On, gue salah. Tapi asal lu tau dengan atau tanpa bantuan lu, gua bakal ambil anak gue. Dan gue emang yakin kalau lu gak akan bantuin gue 'kan?" Maher berkata sambil menunjukan wajah geram pada Dion.


"Dan gue bakal bantu Aslan buat mencegah perbuatan Lu," seloroh Dion.


"Gue bakal cari tau ke mana Aslan membawa Namira, dan gue pastikan jika sudah ketemu, gue akan bawa Namira beserta anak gue," ancam Maher.


"Lu udah gila?!" Itu istri orang. Gue tau lu ada hak terhadap anak itu, tapi gak lantas lu ngerasa kalau lu juga boleh memiliki anak itu," dengus Dion.


"Lu lupa atau sengaja lupa?" tanya Maher dengan membalas tatapan Maher tak kalah tajam.


"Maksud Lu apa?" sahut Maher, jengkel.


Dion tersenyum sinis, "Perbuatan lu ada perempuan itu," Dion mendekatkan bibirnya ke telinga Maher.


Maher reflek langsung menatap Dion, ke-dua tangannya sudah mengepal di samping.


"Sekali lagi gue bilang, gue gak pernah ada maksud apa lagi sengaja buat nyakitin dia!" Pekik Maher, dengan rasa sesal yang langsung menyergap dirinya.


"Tetap aja semuanya terjadi. Kalau emang lu menyesal, harusnya lu bisa membiarkan Namira dan anaknya hidup bahagia bersama laki-laki 'soleh' seperti Aslan." Dion seperti sengaja memberi penekanan pada kata Soleh.


Dion tidak ingin lagi bersebat dengan Maher. Pria itu tanpa banyak bicara meninggalkan Maher sendirian di halaman. Dion langsung memasuki rumahnya tanpa menolwh sesikitpun. Maher yang melihat sikap Dion di buat kesal. Satu kakinya langsung menendang ban mobil milik sepupunya itu. Sampai menimbulkan suara.


*****


"Bagaimana, apa kamu sudah menwmukan keberadaan Namira?"tanya Maher pada sesorang di hadapannya.


"Saya sudah ada titik terang Tuan, jangan khawatir tidak lama lagi Tuan akan menemukan Nona Namira," jawab seseorang yang ternyata adalah detektif yang Maher sewa.


Maher tersenyum senang mendapatkan kabar itu, tidak sia-sia dirinya menyewa detektif mahal.


Saya minta sebelum akhir bulan, anda sudah memberi kepastian pada saya tentang keberadaan Namira. Bukan tanpa alasan Naher berkata seperti itu, jika menurut perhitungan tidak lama lagi Namira akan melahirkan, bahkan kemungkinan kurang dari satu minggu. Sudah sebulan lamanya Aslan meninggalkan Pesantren. Lelaki itu raib bak di tèlan bumi.


Diam-diam Maher jug mengawasi Dion, dia tetap tidak percaya jika sepupunya itu tidak mengetahui keberadaan Aslan. Tetapi sepanjang Naher mengawasi Dion, dia tidak melihat pergerakan yang mencurigakan dari laki-laki itu. Maher tidak mengetahui jika sebenarnya Dion sudah tau di mana keveradaan Aslan. Dion sangat berhati-hati dia tidak ingin menimbulkan kecurigaan pada Maher.


Hari itu Dion berhasil menghubungi Aslan. Dia bertanya tentang keberadaan laki-laki itu. Awalnya Aslan menolak memberi tahu, bikan karna dia tidak percaya, tetapi Aslan hanya ingin memperkecil segala kemungkinan untuk Maher. Saat itu Dion menjelaskan tentang maksud dan tujuannya. Dia ingin membantu Aslan melindingi istri dan anaknya. Dion juga memberitau Aslan tentang pergerakan Maher yang masih berusaha mencari keberadaannya. Akhirnya Aslan memberitahu Dion di mana keberadaannya. Dengan catatan tidak melakukan pergerakan apapun agar Naher tidak curiga.


*****


Detektif yang di sewa Maher langsung mengerjakan perintahnya. Maher pun langsung menghubungi rangga, agar dirinya datang ke kota yang telah di beritahu detektif tadi.

__ADS_1


"Kamu sekarang juga berangkat bersama detektif suruhan saya, ngerti! Dan untuk kali ini jangan pernah mereka lepas dari pandangan kamu!" ucap Maher melalui sambungan telpon.


Maher pun tidak tinggal diam, lelaki itu kembali menyusun rencana, dia ingin mempersiapkannya dengan matang. Dan satu yang paling penting, Maher juga tidak ingin membuat Dion menaruh curiga. Maher akan berpura-pura frustasi karna belum berhasil menemukan Namira.


Satu pesan terdengar dari ponsel Maher. Di layar ponselnya terpampang satu nama atas kontak bernama Papa.


"Besok Papa kembali ke indonesia."


Maher tersenyum, ini kesempatan Maher untuk meminta bantuan papanya. Dan dirinya yakin jika Mahendra akan dengan senang hati membantunya, apa lgi ini tentang cucunya. Keturunan selanjutnya dari keluarga mager.


Maher kembali menyusun rencanyanya, setelah detektif itu sudah pasti mengetahui keberadaan Namira maka dirinya akan langsung ke kota tempat Namira tinggal saat ini.


"Tunggu Papa, Nak. Papa akan bawa kamu," ucap Maher.


Dan di tempat lain ada sepasang suami istri yang sebentar lagi akan menjadi kakek dan Nenek, sedang sibuk mempersiapkan diri. Farah dan Karim akan menyusul Aslan, karna sebentar lagi menantu kesayangannya akan melahirkan. Farah yerlihat sangat senang, dia sudah tidak sabar ingin segera berangkat.


"Bah, memangnya kapan kita berangkat?" tanya Farah yang sedang sibuk memasukan baju-baju ke dalam koper.


"Sepertinya Umi udah gak sabaran.


Hahahah....!"


"Ih Abah, namanya juga mau dapat cucu pertama. Ya pasti seneng dong Bah," ujar Farah.


Farah dan Karim benar-benar oklas menerima keadaan dan masa lalu menantunya, hingga mereka lupa jika anak dalam kandungan Namira bukan lah cucu kandung mereka.


"Sesuai permintaan Aslan, kita akan berangkat tengah malam. Biar aman Umi," ungkap Karim.


Karim dan Farah membawa serta Fatih, karna tidak mungkin bagi Karim membawa mobil sendiri mengingat usianya dan juga penglihatannya. Setelah melaksanakan sholat isya berjamaah, Fatih menemui Karim, menanyakan tentang keberangkatan Kiayinya itu. Fatih cukup terkejut saat di beritahu jika mereka akan berangkat tengah malam nanti.


"Kenapa malam sekali, Kiayi? Bukankah jaraknya cukup jauh?" tanya Fatih.


"Aslan yang meminta, saya juga tidak tau, kenapa?" jawab Karim.


"Ustadz persiapan aja kalau sudah lebih langsung ke rumah," pinta Karim.


"Baik Kiayi," jawab Fatih singkat.


Setelah berlalu beberapa jam, akhirnya Fatih, Farah, dan Karim berangkat meninggalkan pesantren. Sebelumnya Aslan sudah meminta Dion untuk membantu keberangkatannya orang tuanya. Dia tidak ingin baik Maher atau pun orang-orang suruhannya mengetahui keberangkatan ke-dua orang tuanya.


Dion melakukan pengawasan, dia sangat hati-hati. Setelah yakin aman dan tidak satu orang pun dari Maher yang mengetahui, lantas Dion meminta Karim melakukan perjalanan.


Dion benar-benar tidak tau jika Maher sudah mendapatkan informasi tentang keberadaan Namira. Alamat rumah tempat Namira tinggali sudah dia kantongi. Dirinya pun bersiap-siap. Maher akan pergi besok pagi.

__ADS_1


Akankah Maher benar-benar berhasil menemukan Namira?


__ADS_2