
Pov Aslan dan Namira
Pagi yang indah, bahkan teramat indah untukku, kupandangi sosok wanita yang berdiri membelakangiku, seluas mata memandang hanya ada hamparan kebun sayur milik Abah yang di kelola oleh para santri.
Sengaja tidak ada pembatas dengan rumah dalem, agar memudah kan mbok dan santriwati untuk mengambil dan mengolahnya bersama.
Tidak hanya kebun sayur, para santri juga membudidayakan ternak ikan untuk kebutuhan mereka sehari-hari atau bisa juga menjualnya jika panen melimpah. Abah dan aku serta para Ustadz dan Ustazah sengaja membuka lahan untuk para santri, bertujuan untuk meringan kan para orang tua masalah kebutuhan anak-anak mereka di sini. Minimal untuk makan sehari-hari para orang tua tidak perlu khawatir.
Seulas senyum terbit dibibirku, terus berucap syukur walaupun aku tau jika istriku belum bisa menerima dan mencintaiku tapi setidaknya dia tetap mau berjalan bersamaku mengarungi biduk rumah tangga yang baru seumur jagung.
Sepertinya Namira tidak menyadari kehadiranku, tadi sebelum ke bagian belakang rumah aku semapat bertemu Umi tadi yang sedang memasak bersama mbok dalem dan bebarapa santri, aku menanyakan keberadaan Namira, dan menanyakan kenapa Namira tidak ikut memasak, padahal yang aku tau Namira sangat suka memasak. umi mengatakan jika Umi tidak mengijinkan Namira untuk turut membantu, takut cape katanya. Umi pun menyuruhku untuk menemani Namira dan mengajaknya berkeliling pondok pesantren agar terbiasa dan betah.
"Siapa tau nanti Namira berubah pikiran mau tinggal di sini temenin Umi," seperti itulah kata wanitaku tadi.
***
Baru hendak mengucap salam Namira keburu menengok ke belakang, dan tersenyum terlihat dari matanya yang sedikit minyipit. Sedangkan aku sudah sejak tadi tersenyum melihatnya.
"Assalamualaikum sayang," kulanjutkan kembali niatku yang ingin mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam," ucapnya pelan, dan sedikit memalingkan wajah.
"Ahhh..sikapmu itu semakin membuatku yakin jika belum ada benih cinta di hatimu," aku bermonolog.
Ku hampiri ke kasih halal ku yang masih betah berdiri, kucoba sedikit mengurangi jarak yang biasanya 1 meter sekarang menjadi seperempat meter. Namira diam tidak menghindar seperti biasanya.
"Kita jalan-jalan ,hmm? Keliling pesantren?
Namira hanya mengangguk, tak apalah itu juga sudah cukup.
Kami pun berjalan beriringan, sengaja mengajak Namira terlebih dulu berkeliling kebun sayur, di ujung kebun ada gazebo yang sengaja kubuat dulu untuk aku menghabiskan waktu jika sedang penat dengan rutinitasku.
__ADS_1
Aku pun berharap suasana yang tenang sedikit membantu Namira untuk bercerita apapun yang dia rasakannya selama ini.
Kuulurkan tangan ketika akan melewati jembatan karna antara kebun sayur dan gazebo di batasi kali kecil. Walau pun ragu Namira tetap menyambut tanganku. Seperti tersengat aliran listrik, tubuh ku mendadak panas, padahal cuaca sangat sejuk.
"Baru sentuhan tangan aja udah panas begini, apa lagi...?" aku membatin.
"Astagfirullahalazim," ucapku spontan.
"Kenapa bangg?" tanya Namira yang pasti mendengar ucapanku.
"Ehh..enggak kok gak pa-pa cuma kaget aja kirain tadi ada apa gitu," aku garuk-garuk tengkuk yang tak gatal.
Sesampainya di gazebo sudah tersedia minuman dan makanan ringan yang sebelumnya sudahku mintakan tolong santri putra untuk membawanya ke sini.
Suasana sepi berdua dengan kekasih halal, nikmat mana yang engkau dustakan. Sungguh menurut ku kebahagiaan yang hakiki.
Aku dan Namira duduk bersebelahan pandangan mata kami fokus ke depan, dengan berteman keheningan kami sibuk dengan fikiran masing-masing. Sampai suara itu terdengar,
**
Setelah merasa tenang dan aku siap, aku sedikit menghadap ke arah Aslan. Aslan yang menyadari gerakanku melakukan hal sama dia berbalik menatapku, dan tentu saja aku tidak berani menatapnya.
Kutarik nafas dalam-salam mencari pasokan oksigen. "Bismillah," ucapku dalam hati.
"Bang!" panggilku pelan dengan tangan yang saling bertaut guna memberi kekuatan pada diri sendiri.
Aslan diam, dengan tatapan tetap tertuju padaku, dan entah untuk yang keberapa kalinya aku menarik nafas dan menghembuskannya panjang.
"Apa abang sungguh-sungguh mencintaiku berikut kekuranganku?" tanyaku ragu, padahal Aslan pernah memberikan jawabannya.
Tapi entah kenapa hati ini mendorong mulutku untuk kembali bertanya seolah ingin memastikan sesuatu yang tentu saja tidakkan menjadi kenyataan jika Aslan tau kebenarannya.
__ADS_1
Aslan kembali tersenyum, ada yang aneh dengan senyumnya, Aslan terlihat santai seolah dia sudah tau apa yang ingin aku katakan.
"Benarkah sesungguhnya dia sudah tau, jika benar kalau kenapa waktu itu dia bertanya tentang bulan di mana dia tidak melihatku," aku bermonolog.
"Namira, sayang!" panggil Aslan dengan tangan terangkat hendak menyentuh tanganku namun urung.
Seketika dada ini kembali sesak, detik selanjut nya hanya ada tangisan dari diriku, cadar yang menutupi wajahku sudah basah saking banyaknya air mata yang tumpah. Aslan mendekat, terlihat ragu, satu tangannya di arahkan ke belakang punggungku, lalu menariknya pelan di bawa dalam pelukannya. aku pasrah, dan berusaha menekan trauma yang masih ada. Saat ini, inilah yang aku butuhkan. Satu pelukan yang mengalir hangat di tubuh dan hatiku.
Debar jantung saling beradu bagai lantunan musik yang menenangkan jiwaku.
"Ya Allah aku akan egois meminta padamu agar laki-laki ini tidak pergi dariku," pintaku dalam hati.
Tangisku bertambah pecah ketika suara lembut itu menenangkanku, " gak pa-pa sayang, kamu bisa bicara pelan-pelan saja, hmm. Aku akan sabar menunggu," katanya sambil mengusap kepalaku.
Kulepaskan diri dari pelukannya, kutatap netra hitam itu berusaha mencari diriku di sana, benarkah dia sangat mencintaiku. Aslan pun balik menatapku, ketika tangannya hendak terulur masuk ke dalam cadar, aku sedikit menoleh guna menghindar. Ekor mataku melihat wajah Aslan kecewa.
Aku balik kembali menatapnya, melihat suamiku kini menundukan kepalanya, laluku angkat ke dua tanganku ke belakang kepala membuka tali pengikat cadar,
"Bismillah, suamiku berhak melihatnya, walau belum bisa menyentuhku, setidaknya wajah ini bisa dia lihat," gumamku dalam hati.
Ketika tangan hendak membuka cadar Aslan sudah kembali melihatku, matanya motot, alisnya mengernyit, tapi aku tetap melanjutkan apa yang ingin aku lakukan.
"Ini adalah sebagian kecil hakmu, yang seharusnya sudah kamu dapat kan sejak lama." kataku menatap matanya serius.
Aslan mengernyitkan alisnya, dari wajahnya terlihat bingung, aku sendiri pun tidak tau apa yang aku lakukan benar atau tidak? Suamiku akan suka atau tidak?
Tapi mau sampai kapan aku bersikap seperti ini terus pada suamiku yang sudah banyak berkorban demi menjaga perasaanku, sungguh aku merasa jika perbuatanku ini tidaklah adil untuknya.
"Ya Allah, kuatkan hati dan tekadku, aku hanya ingin memberikan sedikit hak suamiku," ucapku dalam hati.
Aku pun ingin melakukan yang terbaik untuk rumah tanggaku, dan berusaha ingin menjadi istri yang baik bagi suamiku dengan menceritakan semua masa laluku.
__ADS_1