
HAMIL TANPA DI SENTUH (7)
Pov Author, Aslan
Lakukan segera Namira jangan kamu selalu merasa ragu, yakinkan dirimu jika semua akan baik-baik saja, tapi sesungguhnya aku sendiri tidak yakin apa benar aslan akan menerima kamu apa adanya?.
Hari ini menjadi kesempatan terbaik untuk kamu, apa kamu tidak merasa kasihan dan berdosa dengan laki-laki yang sudah mengatakan bahwa dia sangat mencintai kamu, jangan lupakan Namira, Aslan pernah mengatakan pada kamu jika cintanya sama kamu karna Allah.
Bulatkanlah tekad, belajarlah melupakan kejadian malam itu, sambutlah tangan suami kamu, dan bukalah hatimu. Aslan adalah laki-laki soleh yang dipilihkan orang tuamu, dan sebetulnya kamu pun sudah mulai mencintainya bukan? Jangan terus membohongi hatimu, kamu berhak bahagia, setidaknya setelah kamu mengatakan semuanya, hidupmu akan tenang.
Dan untuk kamu Aslan ingatlah selalu dengan kata-kata mu jika kamu akan menerima Namira dengan segala kekurangannya, jadi lah laki-laki sejati. Karna laki-laki sejati yang di pegang itu janjinya bukan kata-katanya.
Genggamlah nanti tangan istrimu, jangan biarkan dia melewatinya sendirian. Sesungnya dia pun telah mencintai kamu, rasa takutlah yang membuatnya ragu.
Aku pun akan mencoba membantu kalian agar tetap bersama, dalam mengarungi biduk rumah tanggal yang merupakan ibadah karna Allah ta'ala.
Tapi kembali lagi, semua sudah Allah tulis dalam kitabnya lauhul mahfudz, sebagai manusia kita hanya perlu berusaha. Biarlah takdir yang akan membawa kalian entah ke mana.
.
"Apa yang kamu lakukan? Hentikan Namira!" aku membuang wajah ketika tau apa yang di lakukan Namira.
"Kamu berhak atas diriku, walaupun belum seutuhnya, sebab aku..aku takut, huhuhuu," aku menangis mendengar penolakan Aslan
Aslan bergerak merayap mendekati Namira yang masih menangis dengan cadar yang tak jadi di bukanya.
"Sayangg! dengerin aku, tidak akan pernah ada paksaan apa pun dariku untukmu, berkenaan dengan hakku."
"Boleh aku tanya sesuatu?" Kutatap wajah sendu di depanku.
Namira mengganguk, dan aku kembali beringsut guna mengikis jarak.
"Apa kamu mencintaiku, sebagai mana aku mencintaimu?" tanyaku berhati-hati.
Jujur aku deg-degan menanyakan dan menantikan jawabannya, aku takut jika Namira belum bisa mencintai aku. Aku tidak ingin dia menderita menjalani rumah tangga ini.
Tangis isak masih terdengar dari balik cadarnya yang kini sudah hampir basah semua.
"Sayangg, jika kamu yakin dan juga mencintaiku, tolong katakan semua apa yang selama ini membebanimu?" ingin sekaliku genggam tangan itu menyalurkan kekuatan untuknya.
Namira kembali sesenggukan, dan hilanglah keraguan Aslan, benar-benar dikikisnya jarak dan memeluk erat wanita yang kini terlihat rapuh. Tangisnya membuat hati Aslan bagai di cabik.
"Ada apa dengan mu?" itulah yang sekarang ada di benak Aslan.
__ADS_1
"A-aku..huhuhuhu..aku kotor," pecah sudah tangisan Namira dalam pelukanku
Aku diam mencoba mencari jawaban sendiri atas apa yang baru sajaku dengar. Di lepasnya pelukan pada Namira, di tangkupnya wajah istrinya dengan ke dua tangan, diangkat nya wajah itu, kutatap manik mata coklat Namira, ada luka dan beban nampak jelas di manik itu.
"Aku bukan perempuan suci, aku telah berbohong padamu, Abah dan juga Umi."
"Harusnya aku menolak perjodohan kita, atau harusnya aku jujur padamu saat menerimanya."
Aku masih diam, kubiarkan Namira mengeluarkan segala beban di hatinya, sudahku lepas juga peganganku, agar dia mendapat ruang. Tapi wajah itu saat ini malah tertunduk.
"Tolong jangan salahkan Ayah atas kesalahanku, ayah tidak mengetahui apa pun yang terjadi denganku," Namira menangkup wajahnya dengan kedua tangan, kini tangisnya terdengar berat. kembaliku kikis jarak kami, kubuka ke dua tangan itu menggenggamnya erat, kutelusupkan tangan guna menghapus air matanya di balik cadar.
Kubenamkan kepala wanitaku, dan berkata lembut,
"Katakan sekarang hmm, kenapa kamu mengatakan dirimu kotor? Bagiku kamu adalah wanita suci."
Masih dalam pelukan, dengan suara berat hampir tak terdengar meluncur satu kalimat, yang membuatku mematung.
"Aku..aku korban pelecehan."
Seketika jantungku seperti lolos dari tempatnya, bagai petir di siang hari, bagai beribu sembilu menghujam jantung, mendengar kenyataan bidadariku...
"Ya Allah kenyataan pahit apa ini?" gumamku dalam hati.
"Maaf..maaf..maff." hanya itu yang mampuku ucapkan untuk wanitaku yang selama ini menanggung beban hidup teramat berat.
.
"Assalamualaikum Umi," ucap Aslan saat melihat Umi sedang menyiapkan makan siang.
"Wa'alaikumsalam nak, lohh Namiranya mana?" tanya farah celinhukan mencari ke keradaan menantunya.
"Ada Umi, tapi lagi istirahat. tadi selesai sholat Namira mengeluh pusing jadi Aslan suru tidur aja," jawabku beralasan.
Sejak pulang tadi tidak ada lagi obrolan, Aslan mengantar Namira ke kamarnya dan menturuhnya istirahat, untuk makan Aslan mengatakan akan membawa kan ke kamar, karna tidak mungkin juga Namira bertemu Farah dan Karim dalam kondisi seperti sekarang.
Berpuluh menit yang lalu,
Setelah mendengar kejujuran Namira, Aslan tidak mengatakan apapun, di lihatnya ke atas langit matahati sudah mulai tinggi. Aslan pun mengajak Namira untuk kembali. tidak ada sikap Aslan yang berubah, dia tetap memperhatikan setiap langkah istrinya, bahkan tetap mengulurkan tangannya ketika menyebrangi jembatan.
"Kita sholat zuhur dulu yah, habis itu kamu istirahat nanti Abang bawakan makan."
Aslan keluar dari kamar untuk memberihkan diri dan mengganti pakaiannya, setelah itu kembali ke kamar Namira.
__ADS_1
Selesai sholat, Aslan langsung membalikan badan dan mengulurkan ke dua tangannya, Aslan sadar jika saat ini pasti Namira belum memakai cadarnya kembali.
Namira yang melihat itu terkejut tapi hanya diam dan menunduk. setelah tangan Aslan di cium takzim Aslan menggeser duduknya lebih dekat dengan Namira. Di pegangnya wajah istrinya dengan kedua tangan, lalu Aslan membacakan satu doa di ubun-ubun lalu mengecup lama kening Namira. setelahnya Aslan bangkit, sedangkan Namira menahan tangis dan berubah sesenggukan setelah Aslan keluar dari kamar.
***
"Abah ke mana mi?" tanya Aslan yang tidak biasanya Abahnya belum kembali, biasanya setelah berjamaah dengan para santri Abah langsung balik ke rumah.
"Kata Ustadz Fatir sih, Abah sedang ada tamu."
"Namira mana nak?" tanya Farah celingukan.
"Namira enggak enak badan mi, katanya pusing," jawab Aslan terpaksa bohong.
"Ya udah mending kamu bawain Namira makan dulu yah, nanti dia kelaparan. Umi enggak mau loh menantu kesayangan Umi sampai tambah sakit gara-gara kamu gak perhatian," perintah Farah sambil tersenyum.
Sebenarnya Aslan pun sudah berniat melakuan itu. Aslan mengambil satu piring di isinya dengan nasi dan lauk yang lumayan banyak. Aslan sengaja melakukan itu, karna dia ingin makan berdua dengan istrinya.
Sebelum menaiki anak tangga aslan menoleh ke arah Farah, dan kebetulan Farah pun sedang memperhatikannya,
"Kenapa nak, kamu terlihat seperti orang bingung?" tanya Farah yang sejak tadi melihat raut wajah Aslan seperti cemas.
Aslan ragu bagaiman cara menyampaikan kepada kedua orang tuanya tentang Namira.
"Aslan!"
"Eh iya Umi, emm.. bisa enggak mi nanti setelah ba'da isya Aslan bicara sama Umi dan Abah?" pinta Aslan.
"Boleh nak, nanti Umi sampaikan ke Abah yah. sekarag sana, istrimu sudah nunggu."
Aslan berjalan cepat menaiki anak tangga, di ketuknya pintu kamar, setelah beberapa kali ketukan terlihat Namira yang kini sedah kembali menggunakan cadar.
Aslan masuk tanpa menungu izin Namira, dia mengambil duduk di lantai yang sudah di atas permadani, Namira pun di minta duduk, dan Namira menurut.
Setelah meletakan piring dan gelas Aslan mendekati istrinya yang sengaja menjaga jarak duduk, namira masih menunduk, hatinya berdebar dan bingung dengan sikap Aslan yang seolah tidak terjadi apa-apa. Aslan mengangkat dagu Namira dengan ke satu jarinya , di tatapnya lekat ke dua mata coklat itu, untuk sedetik mata itu bertemu, Aslan pun tersenyum.
Aslan menulurkan ke dua tangannya ke belakang kepala, dan membuka tali ikatan cadar milik Namira, Namira hanya diam pasrah.
"Subhanallah, sungguh indah ciptaan Allah," puji Aslan dengn suara yang pasti dapat di dengar Namira.
"Makan hmm?" ucap Aslan menyodorkan satu sendok nasi ke mulut istrinya.
Awalnya Namira hanya diam, entah harus menilai apa melihat sikap suaminya.
__ADS_1
Suapan itu masih menunggu di depan mulutnya, dan akhirnya Namira menyambut suapan dari tangan suaminya.