
HAMIL TANPA DISENTUH (26)
Maher duduk di depan Villanya menunggu satu pesanan lagi, disesapnya teh hijau panas dengan wajah sumringah. Sepertinya Maher sangat yakin jika hari ini dirinya akan bisa menemui wanita itu.
"Lebih baik nanti langsung aku antar aja ke pesantren, sekalian ikut sholat ashar berjamaah, pintar sekali kamu Maher," ucapnya memuji diri sendiri.
Tidak lama menunggu, pesanannya pun datang, satu mobil pickup memasuki halaman luas Villa miliknya.
Turun satu orang laki-laki mendekati Maher yang tidak juga beranjak dari duduknya.
"Maaf, dengan Pak Maher?" tanya laki-laki itu sambil melihat secarik kertas ditangannya.
Maher bangkit dari duduknya dan jalan mendekati laki-laki tadi, "Benar saya sendiri. Dari tambak ikan?" Maher balik bertanya, yang diangguki laki-laki tadi.
Maher dan laki-laki itu berjalan mendekati mobil losbak di mana bagian belakangnya sudah penuh plastik putih bergelembung yang di dalamnya banyak sekali bibit ikan.
"Sudah sesuai pesanan, kan?" Maher kembali bertanya.
"Sudah Pak, apa mau sekalian diantar ke tempat tujuan?" tanya pria tadi.
"Iya, nanti kamu ikuti saya saja, ok!" pinta Maher.
Maher kembali ke rumah untuk mengambil kunci motor sportnya, dia pun telah berganti outfit dengan memakai celana levis, kaos dan jaket kulit, tidak lupa kaca mata hitam yang sekarang sudang bertengger dihidung mancungnya.
"Ayo pak ikuti saya!" perintah Maher sebelum menaiki motor hitamnya.
"Baik Pak." Laki-laki itu pun segera masuk ke dalam mobil, dan mengikuti Maher yang sudah lebih dulu melajukan motornya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Maher dan juga mobil yang mengikutinya telah sampai di depan gerbang pondok pesantren. Santri yang melihat kedatangan Maher langsung membuka gerbang.
"Assalamualaikum Dek!" ucap Maher pada santri tadi setelah dia turun dari motornya.
"Wa'alaikumsalam Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya santri itu.
"Saya mau menyumbangkan bibit ikan, kira-kira saya harus bertemu dengan siapa ya?" ucap Maher sambil menunjukan bibit ikan yang ada di belakang mobil.
Maher sengaja tidak mencari Aslan atau pun Kiayi, dia sengaja ingin semuanya mengalir saja.
"Bisa tunggu sebentar, saya akan panggilkan Ustadz Fatih, beliau yang mengurusi perihal pemeliharaan ikan."
"Silahkan," jawab Maher sambil menganguk.
Santri itu meninggalkan Maher dan berjalan ke satu ruangan yang letaknya masih dapat dilihat dari tempat Maher berdiri saat ini.
Tidak lama santri tadi kembali bersama satu laki-laki tampan memakai baju koko, celana panjang, dan peci, keduanya berjalan beriringan menghampiri Maher yang tengah melihat ke arah mereka.
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Ustadz Fatih sambil mengulurkan tangan pada Maher.
"Wa'alaikumsalam," jawab Maher sambil menyambut uluran tangan Ustadz Fatih dan nereka berjabat tangan.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Ustad Fatih langsung menanyakan tujuan kedatangan Maher.
Maher pun kembali menyampaikan tujuannya datang, "Ini Ustadz, saya ingin menyubangkan bibit ikan untuk pesantren ini."
"Mohon maaf saya sampai lupa bertanya, dengan Bapak siapa?" tanya Ustadz Fatih merasa tidak enak hati.
"Maher.. panggil aja Maher, tidak usah pakai embel-embel Pak," sahut Maher sambil tersenyum.
"Baik pak, eh maksud saya mas Maher, saya sungkan jika hanya memanggil nama saja."
"Terserah Ustadz saja."
"Mari Ustadz saya tunjukan bibot ikannya!" ajak Maher yang lebih dulu berjalan ke arah mobil pickup.
"Masya Allah banyak sekali mas bibit ikannya," ucap Ustad Fatih dengan raut wajah menunjukan keterkejutannya.
"Maaf ya Ustadz jika bibit ikan ini tidak sesuai, saya bingung memilih bibit apa, pemilik tambaknya yang merekomendasikan ini."
"Baik Mas, saya terima, apa bisa tolong di bawa sekalian Pak?" tanya Fatih pada si sopir.
"Bisa Ustadz, harus saya antar ke mana?" tanya sopir itu.
"Aslan," ucap Maher dalam hati.
"Saya ikut Ustadz saja, sekalian saya ingin lihat cara pembibitannya, itupun jika Ustadz tidak keberatan?"
"Oh..tentu saja saya tidak keberatan, mari," ajak Fatih, sambil mengulurkan tangannya ke deoan mempersilahkan Maher jalan lebih dulu.
Maher dan Fatih berjalan sambil sesekali Fatih memberitahu tentang apa yang ada di sekelilingnya, dan menjawab setiap pertanyaan Maher.
Sedangkan mobil yang mengangkut ikan kebih dulu jalan dengan santri yang tadi ikut naik di mobil itu sebagai penunjuk jalan.
Sepanjang perjalanan menuju empang, Maher terpesona dengan pemandangan yang di lihatnya, sawah, kebun sayur, sungguh dirasa menyejukan matanya.
"Ini dia Mas, empang milik Pesantren," tunjuk Fatih setelah sampai di tempat tujuan.
"Wah, luas juga ya empangnya," sahut Maher kagum.
Seumur hidupnya Maher tidak pernah melihat yang namanya tempat memelihara ikan, dia hanya tau memakannya saja.
Mata Maher melihat ke sana ke mari, seperti berharap dapat menemukan apa yang ingin dia lihat, tapi sayang apa yang menjadi tujuannya belum dia temukan.
__ADS_1
"Mas, sebentar lagi masuk waktu ashar, mari kita ke masjid dulu, setelah itu baru kita lanjutkan," ajak Fatih, yang di angguki oleh Maher.
**
Ke duanya telah mengisi shaf paling depan, tentu saja Maher dapat melihat siapa yang menjadi imam, yaitu Kiayi Karim. Maher pun mengkhusukan diri sejenak untuk menunaikan kewajibannya sebagai umat islam, melaksanakan 4 rokaat.
Setelah selelesai sholat, zikir dan doa bersama, Fatih mengajak Maher menemui Kiayi Karim terlebih dahulu.
"Assalamualaikum, Kiayi." Fatih memberi salam sambil mencium takzim tangan Karim.
"Wa'alaikumsalam Ustadz," jawab Karim sambil tersenyum.
"Oiya Kiayi, ini ada tamu," tunjuk Fatih pada Maher yang duduk di sebelahnya.
Maher mengulurkan tangannya untuk menyalami Karim, " Pak Kiayi, mohon maaf saya tidak memberi kabar."
Fatih yang mendengar perkataan Maher merasa heran, "Sepertinya Kiayi sudah mengenal mas Maher.
"Iya Ustadz, kebetulan Nak Maher pernah datang ke rumah bersama Nak Dion, temannya Aslan."
Mendengar itu Fatih cuma manggut-manggut.
"Maaf Kiayi Gus Aslan ke mana?" tanya Fatih, yang mersa sejak tadi tidak melihat keberadaan Aslan.
Maher yang mendengar nama Aslan disebut langsung menoleh melihat Fatih, lalu langsung menormalkan ekspresinya kembali .
"Tadi Aslan satu shaf dengan kamu, mungkin Ustadz tidak lihat karna Aslan berada di paling ujung barisan. Dia sudah izin, selesai sholat langsung pulang katanya, kuatir dengan istrinya yang sedang hamil," ucap Karim sambil terkekeh.
"Namira," ucap Maher dalam hati.
"Nak Maher ada keperluan apa?" tanya Karim.
"Begini Pak Kiayi, setelah saya todak di izinkan menjadi donatur, saya kepikiran tetap ingin memberi sesuatu yang bermanfaat untuk para santri. Jadi saya membelikan beberapa jenis bibit ikan," jelas Maher.
"Bibitnya sudah saya terima Kiayi, dan sudah saya bawa ke empang, untuk nanti di sebarkan." Ustad Fatih ikut menjelaskan.
Karim terlihat manggut-manggut, "Terima kasih ya Nak Maher atas sumbangannya, Insa Allah bermanfaat untuk para santri."
Setelah pembicaraan selesai, Ustadz Fatih undur diri, dia ingin kembali ke empang fengan para santri putra, sedangkan Maher masih duduk bersama Karim.
"Mari Nak Maher ke rumah?" ajak Karim.
'Ke rumah, apa itu artinya aku bisa bertemu dengan dia, taoi apa aku sudah siap? Bagaimana jika dia mengenaliku dan histeris saat melihatku?' gumam Maher dalam hati.
"Nak Maher!" panggil Karim saat melihat Maher justru bengong setelah di tanya oleh dirinya.
__ADS_1
"Eh..iya maaf Pak Kiayi, emm... saya...." ucap Maher tersendat.
Apakah Maher akan menerima ajakkan Kiayi Karim untuk datang ke rumahnya? Dan dapatkah dia bertemu dengan wanita yang selama ini ingin dilihatnya?