HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 16


__ADS_3

HAMIL TANPA DI SENTUH (16)


pov Maher


Sampai sekarang aku masih saja ingat dengan perkataan Dion, apalagi dokter itu yang mengatakan jika aku sudah seperti seorang suami yang istrinya sedang hamil, mengalami gejala morning scikness.


"Apa mungkin gadis itu sekarang tengah hamil anakku?" Aku bermonolog.


Ini semua gara-gara mereka jika saja malam itu mereka tidak mengerjaiku dengan memasukkan zat laknat ke minumanku, mungkin semua tidak akan terjadi.


"Aku juga bodoh Kenapa waktu itu aku mau saja mengikuti kemauan Mereka kenapa aku lebih memikirkan egoku dari pada logika aku sendiri."


" padahal gara-gara alkohol aku sampai tidak bisa menemani mami di saat terakhirnya. Aku juga telah berjanji untuk tidak lagi menyentuh minuman haram itu, tetapi kenapa dengan bodohnya aku mau saja menerima tantangan mereka."


Tapi aku sadar waktu tidak akan bisa kembali lagi satu-satunya hal yang dapat dilakukan saat ini yaitu mencari hadis itu, tapi di mana bahkan namanya saja aku tidak tahu.


"Apa aku harus meminta bantuan Dion? ah tapi tidak mungkin ... tidak mungkin aku menceritakan jika aku telah ...." ponsel yang sudahku pegang untuk menghubungi Dion kembali kutaruh.


"Ya Allah hamba mohon, hamba tahu dosaku sudah terlalu besar karena hamba telah menghancurkan masa depan seorang gadis, merenggut sesuatu yang amat sangat berharga baginya secara paksa, tapi aku memohon Ya Allah aku ingin sekali menebus kesalahanku. mudahkan aku untuk menemukan perempuan itu ya Allah, aku ingin bertanggung jawab apapun keadaannya." Doaku dalam hati.


Disaat Aku ingin bangkit dari tempat tidur tiba-tiba ponsel berdering menunjukkan nama Dion di sana. Entah kenapa melihat Dion yang menelpon perasaanku langsung senang.


"Assalamualaikum Her."


"Waalaikumsalam Iya ada apa Dion? Tumben malam gini telepon gue?" tanyaku basa basi.


"Malam apaan baru juga jam 8, btw luh bisa nggak ke rumah gua bro? sepi nih."


Aku merasa heran mendengar Dion kesepian di rumah, Dionkan udah punya istri, enggak kaya aku jomblo abadi. Bukan sebab gak laku, tapi karna sedang menunggu.


" kan ada istri luh kenapa luh masih aja kesepian? aneh luh."kata ku pada Dion yang saat ini terdengar suara tawanya.


"Kalau istri gue ada ngapain gua nyuru luh ke rumah, rugi amat gue kurang kerjaan hahaha."

__ADS_1


"Si alan luh Dion, jadi sekarang luh manfaatin gue nih gara-gara istri luh nggak ada di rumah, he?" tanya ke kesal.


Dion kembali tertawa di sebrang sana,


" Ya elah kayak anak perawan aja luh bro sensi banget." Dion cekikikan.


"Udah pokoknya sekarang lu ke rumah Gue mumpung bokap lo sama bokap gue lagi pergi


ada yang mau gua kasih tahu soal Perjodohan luh."


Aku mengerutkan kening, saat Dion kembali mengingat kan tentang perjodohan. Jadi ingat apa yang papa katakan tadi pagi tentang niat nya untuk menjodohkan aku dengan putri relasi bisnisnya. Dan dengan tegas aku menolak. Papa tidak berkata apa pun tadi, karna papa langsung meninggalkan aku, tapi aku dapat melihat semburat kecewa di mata papa. Aku tidak ingin menikah hanya untuk bisnis. aku juga sudah mempunyai calon untuk aku?


"Dasar maher bodoh, ketemu aja belum," ucapku sambil memukul kepala.


Sekarang aku jadi berpikir "Apa mungkin papa meminta Dion untuk meyakinkan aku dan mau menerima perjodohan ini."


"Hallo .. hallo .. Her, luh masih hidup kan?" Teriakan dion membuat telinga ku sakit, sampai tanganku refleks menjauhkan ponsel.


Kuputus sambungan ponsel sebelah pihak dan aku yakin sekarang Dion sedang mengumpat.


Hahahaha ...."lucu rasanya kalau ingat bagaimana cara Dion mengumpat."


Aku pun langsung menyambar jaket dan kunci yang ada di kursi dan meja kamar. aku langsung melangkahkan kaki keluar menuju garasi tempat motor sport ditaruh.


Tidak membutuhkan waktu yang lama karena aku dan Dion masih tinggal dalam satu komplek. aku sudah sampai di depan gerbang rumah Dion. gerbang besi warna hitam yang lebar dan tinggi nya menutupi pandangan kerumah Dion, satpam yang berjaga sepertinya tau jika yang berada di luar pagar adalah aku, tanpaku tekan bel, satpam itu langsung membukakan pintu gerbangnya. Setelah memasuki halaman terlihat rumah bergaya Amerika style sama seperti rumahku, hanya saja rumahku lebih besar dari rumah Dion.


Rumah bercat warna krem itu nampak sepi tidak seperti biasanya, betul yang dikatakan dion aku pikir dia berbohong.


Aku pun langsung memarkirkan motor dan melangkah menuju pintu depan rumah Dion, karena sudah terbiasa aku tidak lagi mengetuk pintu melainkan langsung mendorong pintu yang kebetulan tidak dikunci. aku melangkah masuk sambil mengucapkan salam,


" Assalamualaikum Dion ... Dion!" ucapku sambil teriak memanggil Dion.


Tidak lama terlihat Dion menuruni anak tangga sambil cengengesan, "Dah nyampe aja luh bro."

__ADS_1


"Luh pikun, kalo rumah kita tetanggaan, he?" jawabku sambil memutar bola mata ,malas.


"Hahahaha..!" Dion tertawa renyah.


"Eh gue tinggal bentar yah, mau ke mini market, luh santai aja aja dulu, nanti gue suru si Mbok bikin minum buat luh." ucap Dion sambil berjalan meninggalkanku.


Aku pun berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari tangga, kujatuh kan diri mencari kenyamanan, sambil menunggu Mbok yang belum juga datang, aku iseng mencari sesuatu yang bisa kubaca.


Di kolong meja nampak beberapa susunan majalah , kubungkukan badan untuk mencari yang menarik untukku lihat.


Baru saja ingin mengambil satu majalah di bagian ke dua, mataku menatap album foto dengan sampul berwarna kuning emas, yang ada di tumpukan paling bawah.


Kuambil album foto yang lumayan tebal dan ukurannya pun besar "Sepertinya ini album foto pernikahan Dion."


Tanganku membuka lembaran pertama, teroampang satu lembar foto dion dengan stelan jas dan juga istrinya, yang memakai gaun pengantin muslim berwarna merah muda juga dengan hijab senada, Dion terlihat sangat tampan begitu pun wanita yang ada di sebelahnya sangat cantik dan mereka berdua nampak bahagia.


Tanganku terus membuka lembaran demi lembaran, sampai tangan ini berhenti saat melihat foto keluarga, ada dion, istrinya, papa dion, aku dan papaku.


Tapi tiba-tiba mataku teralihkan pada foto di sebelahnya, foto Dion, istrinya dan dua orang satu laki-laki, satu perempuan bercadar.


Ada yang membuatku tertarik dengan foto ini, oerempuan bercadar yang berdiri dekat istri nya dion, kuangkat album itu agar lebih dekat, kupicingkan mata agar lebih jelàs melihat wajahnya walau tertutup cadar.


Saat aku melihat matanya, aku seperti mengenali tatapan dan manik mata itu,


"Astahfirullahalazim, ya Allah." Aku langsung berdiri dan menjatuhkan album foto yangku pegang.


Seketika jantungku berdebar, darahku berdesir, ada yang sakit saat menatap mata perempuan dalam foto itu.


"Aku yakin ... itu pasti dia." Aku bermonolog.


"Berarti Dion mengenalnya," lanjutku berbicara sendiri.


Aku harus memastikannya pada Dion. Dan memastikan semuanya lebih dulu sebelum aku mengambil tindakan.

__ADS_1


__ADS_2