
HAMIL TANPA DISENTUH
Sudah satu minggu sejak kepulangan Aslan dari Jakarta, dirinya selalu di buat was-was setelah mengetahui sosok lelaki dari masa lalu istrinya. Laki-laki itu selalu memikirkan cara agar Maher tidak dapat bertemu dengan Namira.
"Bang," panggil Namira lembut.
Aslan dan Namira sedang berada di taman yang ada di kamar mereka.
"Eh .. kenapa sayang, maaf, ya." sahut Aslan, sambil menatap permpuan di hadapannya.
"Aku perhatikan sejak pulang dqri Jakarta, Abang banyak melamun. Kenapa Bang? Apa ada yang Abang sembunyikan dari aku?" ucap perempuan itu, matanya menatap intens pada suaminya.
"Enggak kok, sayang." sahut Aslan sembari tersenyum.
Ingin sekali dirinya berterus terang tentang oertemuannya dengan laki-laki dari masa lalu istrinya. Tetapi bagaimana jika dampaknya akan sangan buruk untuk kehamilan istrinya.
"Kata Umi, acara tujuh bulannyanya awal bulan aja? Bagaimana Bang? Umi sih terserah Abang aja?" Namira memberitahu pada suaminya, dengan mata selalu menatap ke wajah pria tampan yang ada di hadapannya.
Namira tetap merasa ada yang di sembunyikan oleh suaminya itu, makanya dia selalu menatap wajah dan mata suaminya, untuk mencari apa yang di sembunyikan lelakinya.
"Ya udah gak pa-pa sayang, Abang ikut apa kata Umi aja. Kamu juga gak keberatan 'kan?" tanya Aslan, ke Dua tangannya menggenggam tangan putih milik istrinya.
Aslan menciumi tangan itu berkali-kali seperti enggan untuk melepaskannya. Dirinya benar-benar di buat takut oleh kehadiran Maher.
"Ayo Bang, kita temui Umi. Sekalian kita bilang ke Umi masalah acara Tujuh bulanan!" ajak Namira.
Aslan bangkit dari duduknya lebih dulu, dan membantu istrinya bangkit dengan memegang bahu Namira.
"Pelan-pelan aja sayang, untung sekarang udah gak di lantai atas kalau gak..
?" Aslan menggantung kata-katanya. Dan itu membuat istrinya mengerutkan kening.
"Kalau gak, apa Bang?" Namira menghentikan langkahnya dan menatap suaminya yang cuma senyum-senyum.
"Kalau gak, Abang jadi kuatir, sayang!" ucap Aslan sembari menoel hidung mancung milik Namira.
"Kamu duduk sini dulu, sayang. Abang ambil cadarnya dulu." Aslan membantu istrinya duduk di tepian tempat tidur.
Setelah Namira memakai cadar yang di berikan Aslan, mereka berdua keluar kamar dan berjalan ke bagian dapur. Tadi mereka di beritahu si Mbok yang sempat berpapasan di ruang tengah. Kata si Mbok, Umi sedang berada di dapur.
"Assalamualaikum, Umi," salam ke Duanya.
"Wa'alaikum salam, menantu kesayangannya Umi," jawab Farah, sambil tersenyum melihat kedatangan menantunya.
"Ehem ....!" Dehem Aslan yang merasa di abaikan.
"Ini anak Umi gak di sapa gitu?" cetus Aslan, yang merasa seperti anak tiri.
"Ih kamu nih, cemburuan aja sama istri sendiri." Farah menjeqer telinga Aslan yang membuat pria itu meringis kesakitan.
Aslan mengusap telinganya yang sudah memerah, "Sayang, kok kamu diam aja sih, gak belain Abang." ujar lelaki itu.
Namira memutar mata malas. Kelakuan suaminya selalu saja seperti itu. Selalu bersikap manja. Namira malah meninggalkan Aslan dan ikut Farah pergi ke kebun belakng.
__ADS_1
"Sayangg!" Aslan melangkah lebar mentusul istri dan Uminya.
Aslan menghentikan langkahnya, dan mengambil benda pipih di kantung celananya, karna ada notif yang dia dapat.
Dari layar teroangpang nama Maher. Seketika Aslan geram, satu tangannya mengepal di samping.
@Maher
[ Saya akan datang]
Degg!
Satu pesan yang membuat dada Aslan bergemuruh. Andai saat ini Maher ada di hadapannya, sudah pasti akan dia berikan bogeman mentah pada lelaki itu.
"Astagfirullahalazim," ucap Aslan sambil mengelus dada.
"Sekarang bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Aslan diam, tangannya masih menggenggam benda pipih itu.
Aslan langsung melihat ponselnya dan mencari kontal Dion. Aslan berbalik arah, kembali ke kamar. Dia tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan dirinya bersama Dion.
Setelah panggilan terhubung, Aslan langsung menyampaikan maksudnya. Dia memberitahu tentang acara Tujuh bulanan istrinya dan meminta agar Dion tidak membawa serta Maher. Awalnya Dion merasa aneh, kenapa sahabatnya itu melarangnya untuk mengajak sepupunya itu. Tetapi setelah di beritahu jika ada satu alasan yang saat ini belum bisa Aslan sampaikan, dan Aslan pun memohon ke pada Dion, lelaki di sebrang sana pun berusaha menghargainkeinginan sahabatnya itu, dan berjanji tidak akan mengajak Maher.
Aslan sedikit lega setelah berbicara dengan Dion. Setelah itu dia keluar kamar dan kembali ke kebun belakang mencari istri dan Uminya.
****
"Wulan ... sayang!" Dion sedikit berteriak karna tidak menemika keberadaan istrinya di kamar.
"Sayang, Abang cariin juga," lontar Dion yang hanya di balas senyuman oleh wulan.
Dion mendekati istrinya dan duduk di kursi kosong sebelah Wulan.
"Tadi Aslan kasih tau Abang, katanya awal bulan ada acara Tujuh bulanan istrinya."
"Kita datang 'kan Bang? Aku udah kangen loh sama Namira."
"Pasti dong. Tapi... kita jangan kasih tau Maher ya, kalau kita mau ke Pesantren," Dion memberitahu istrinya tentang permintaan Aslan tadi.
"Loh, kenapa Bang? Kok aneh sih, apa Bang Maher ada masalah sama Gus Aslan?" tanya Wulan.
"Abang juga gak tau, tadi Aslan bilang belum bisa cerita sekarang. Dia cuma minta kita menghargai keputusannya itu."
"Iya, Abang bener. Lagian kenapa sih itu Bang Maher? Pasti dia bikin masalah deh sama Gus Aslan. Baru kenal aja udah cari maslah!" decak Wulan.
"Hey, sayang, gak boleh gitu ah. Gak boleh suuzon ya." Dion mengusap punggung tangan istrinya yang di buat kesal oleh Maher.
Seoasang suami istri itu meninggalkan teras dan berjalan ke dalam.
"Abang ke kantor dulu, ya. Sekalian mau nemuin Maher,"pamit Dion.
"Iya Bang,"jawab Wulan, sambil mencium takzim tangan suaminya.
*****
__ADS_1
"Rangga, saya mau kamu terus awasi Aslan di sana. Mengerti kamu!" ucap Maher pada asistennya yang tengah duduk di hadapannya.
"Saya dengar dari Aslan, jika Namira akan mengadakan acara Tujuh bulanan. Kamu harus cari tau kapan waktunya, saya yakin Aslan tidak akan mengizinkan saya untuk datang tapi saya tetap akan menghadiri acara itu dengan atau tanpa seizin dari dia. Itu adalah acara anak saya, jadi sya berhak untuk turut hadir," ujar Maher.
"Baik Tuan, hari ini juga saya akan berangkat ke sana dan mencari semua info yang Tuan inginkan," sahut Asisten itu dan langsung bangkit meninggalka ruangan Tuannya.
Saat Rangga membuka pintu, di saat yang sama Dion tengah berdiri di depan pintu kantor.
"Pak Dion, selamat pagi," sapa Rangga sembari menundukan kepalanya sebagai tanda hormat.
"Pagi, Rangga. Ada siapa di dalam," tanya Dion pada asisten itu.
"Tidak ada Pak. Hanya Tuan saja sendiri. Silahkan masul Pak," Rangga sedikit mundur, agar Dion bisa masuk.
Setelah Dion masuk, Rangga langsung keluar dan menutup pintu. Sementara itu Dion berjalan menghampiri Maher yangbterlihat sibuk dengan tumpukan dokumen di hadapannya.
"Sibuk, bro?" tanya Dion sembari menjatuhlan bobotnya dinkursi depan Maher.
Maher melihat sebentar ke arah sepupunya itu, lalu kembali meneruskan pekerjaannya.
"Kaya pengangguran aja lu. Pagi-pagi udah datang ke kantor gue. Gak mungkin 'kan lu ke sini cuma mau nengokin gue?!" Ucap Maher tepat sasaran.
Dion mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, dan itu membuat Maher sesikit kesal. Mau tidak mau Maher menghentikan pekerjaannya dan menatap serius ke arah sepuou satu-satunya itu.
Maher bangkit berjalan menuju sofa yang ada di sisi lain ruangannya. Dion pun menhekori Maher di belakang. Setelah ke Duanya duduk berhadapan, Maher langsung menanyakan tujuan Dion datang menemuinya.
"Lu mau ngomong apa sama gua?" tanya Maher to the point.
"Pertanyaan yang sama , lu ada urusan apa sama Aslan? Atau ada masalah apa sama tememan gua itu?" Dion menatap tajam pada sepupunya.
Maher tersenyum sinis, "Dion, dia itu cuma teman lu. Tapi gua ini sepupu lu, saudara lu. 'Satu-satunya'." Maher menekankan kata 'satu-satunya'.
"Gua tau, makanya gua nanya lu. Gua gak mau sampai slah membela orang, sekalipun itu saudara gua. Lu lebih tau sifat gua di banding siapapun," tegas Dion.
Maher diam, dia sangat tau bagaimana kerasnya sifat sepupunya itu. Dion tidak akan pandang bulu untuk memberi pelajaran pada siapapun, termasuk dirinya sendiri.
"Dah sih, gua kan udah bilang gak ada pa-pa. Malah sekarang gua yang curiga sama lu berdua! Aslan ada ngomong apa sama lu, ha! Sampai bikin lu kaya gini ke gua."
"Dia ngelarang gua buat ngajak lu datang ke Pesantrennya. Bulannya itu kedengeran aneh, ya," beber Dion.
Maher tidak kaget ketika Dion memberitahunya. Dia sudah menduga jika akan seperti ini sikap Aslan padanya. Untung saja dia sudah menuruh Rangga untuk mencari tau tentang acara itu. Jadi Maher cukup santai saat Dion berbicara seperti itu.
"Kenapa lu, senyum-senyum?" tanya Dion yang melihat aneh saat Maher tersenyum.
"Gak pa-pa. Justru gua ngerasa naeh aja sama temen lu itu. Kenapa juga dia sampai nhelarang lu buat ngajak gua ke Pesantren," sahut Maher, pura-pura tidak tau apa-apa.
"Gua harap lu hargai keputusan Aslan jangan nekad. Kalau lu sampai nekad, berarti memang ada sesuatu antara lu dan Aslan dan gua bakal cari tau itu. Kalu sampai gua tau kesalahan ada sama lu ... ? Lu tau 'kan apa yang bisa gua lakukan sama lu?" ucap Dion memandang tajam pada manik mata Maher. Tatapan tanpa senyum, wajah Dion berubah ekspresi me jadi dingin.
Setelah mengatakan itu Dion pun meninggalkan ruangan Maher. Maher menarik nafas panjang, dia sangat tau apa resiko yang akan dia dapat dari Dion.
"Gua minta maaf On. Gua emang salah, tapi gua sekarang berusaha menebus kesalahn gua. Gua mau rawat anak gua yang sekarang masih ada dalam kandungan Namira," ucap Maher pada diri sendiri.
Terima kasih buat yang sudah mau mampir ke cerita aku. Di tunggu bab selanjutnya ya 🤗
__ADS_1