HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 36


__ADS_3

HAMIL TANPA DISENTUH


Aslan terus saja memikirkan perkataan Maher. Sekarang dia benar-benar cemas, Apa mungkin, Maher adalah ... "


"Enggak..enggak! Gak mungkin Maher adalah lelaki itu. Tapi ... bagimana dia tau tentang Namira?"


"Ya, Allah, cobaan apa lagi ini? Saya mohon lindungi rumah tangga saya juga iatri dan anak saya," Aslan berdoa untuk kebaikan keluarga kecilnya.


Baru saja Aslan akan bangkit dari duduknya, terdengar notif dari benda pipih miliknya,


@Namira


[ Assalamualaikum, Abang. ]


@Aslan


[ Wa'alaikumsalam salam, sayang. ]


@Namira


[ Abang jadi 'kan balik hari ini?]


@Aslan


[ Insa Allah jadi, sayang. ]


@Namira


[ Jangan kesorean ya, Bang! ]


@Aslan


[ iya, sayang. ]


@Namira


[Ya, sudah Abang hati-hati di jalan.


Assalamualaiku. ]


Setelah menjawab salam istrinya, Aslan gegas meninggalkan penginapan bersama Fatih. Mereka menuju rumah Ayah mertua Aslan untuk menemui Ismi sekaligus berpamitan.


Sesampainya di halaman rumah, terlihat gadis muda sedang menyiram tanaman.


"Assalamualaimum, Is," ucap Aslan dan Fatih


Gadis cantik itu menolwh mendengar suara di belakangnya


"Wa'alaikumsalam, Bang, Ustadz," jawab Ismi


"Tumben, masih pagi Abang udah ke sini?" tanya Ismi, dia menghentikan kegiatan menyiramnya.


"Dusuk Bang, Ustadz," Ismi mempwrsilahka ke Duanya.


Aslan dan Fatih lembali duduk di kursi yang semalam di tempati le Duanya.


"Abang, sekalian mau pamit. Abang mau kembali ke Pesantren hari ini.


"Oh, gitu."


"Kamu gak pa-pa 'kan di tinggal?" tanya Aslan


"Enggak pa-pa Bang. Besok juga si Mabok dateng kok. Dia udah telpon Ismi." Gadis itu memberitahu tentang kedatangan si Mbok pada Aslan

__ADS_1


"Ya, sudah, Abang gak bisa lama-lama, Abang pamit, ya!" ucap Aslan.


Akhirnya Aslan dan Fatih meninggalkan rumah Ayah Namira. Tetapi Aslan tidak langsung kembali, tadi sebelum berangkat menemui Ismi dirinya sudah berkirim pesan pada Maher, untuk bertemu.


Ustadz, saya drop di restoran dulu, ya. Saya ada sedikit urusan di luar."


"Baik, Gus," jawab Fatih tanpa bertanya.


"Ustadz ... Ustadz juga kalau memang suka sama Ismi lebih baik di segerakan," seloroh Aslan sebelum pergi.


Fatih terdiam, perkataan Aslan membuat dirinya terkejut. Fatih berfikir, bagaimana Gusnya ini bisa tau tentang perasaannya pada adik sepupu dari istrinya?.


***


Setelah mengantarkan Fatih ke rstoran, Aslan kembali melajukan kendaraannya menuju tempat yang sama seperti semalam. Selang belasan menit dia sudah sampai di cafe itu. Terlihat lelaki tampan sudah duduk di tempat yang sama seperti semalam, dengan satu cangkir minuman di depannya, dari baunya jelas itu kopi.


Setelah mungucap salam, Aslan langsung duduk di hadapan Maher.


"Ada apa kamu ngajak saya ketemuan, pagi begini," tanya Maher sambil melihat arloji di tangannya.


"Saya gak akan basa-basi, saya cuma mau minta penjelasan tentang ucapan kamu semalam," tutur Aslan


"Kamu serius? Apa kamu sudah siap mendengarkan apa yang akan saya katakan?"


"Langsung saja, saya tidak punya banyak waktu. Saya harus segera kembali ke Pesantren "


"Oh, jadi hari ini kamu mau balik?"


Aslan tidak menjawab. Justru dia menatap intens pada lelaki yang di hadapannya.


"Aku tau jika anak dalam kandungam Namira bukanlah anakmu," ungakap Maher dengan wajah serius.


Mata Aslan hampir keluar mendengar apa yang baru saja diucapkan Maher.


"Pasti kamu bingung 'kan? Bagaiman aku tau kebenaran tentang istrimu?" sarkas Maher


"Jaga bicaramu, hentikan omong kosongmu," berang Aslan, ke Dua tangannya mwngepal.


"Aku tau, karna aku ...."


Aslan mengerutkan keningnya, "kamu apa?!"


"Akulah Ayah kandung anak itu!"


Aslan bangkit, kali ini emosinya sudah tidak bisa di kendalikan lagi. Bagaiman tidak, tetiba laki-laki yang ada di hadapannya mengaku sebagai Ayah biologis dari anak yang ada dalam kandungan istrinya. Berarti yang telah ... "


Aslan menghampiri Maher dan memegang kerah baju lelaki itu. Aslan mengangkatnya yang membuat Maher menjadi berdiri. Aslan memandang Maher dengan sorot mata tajam, dia tidak terima dengan ucapan Maher.


"Kemarahan kamu, tidak akan merubah keadaan, karna aku teta lah Ayah biologis anak itu," ungkap Maher. Dia tidak berniat akan melawan Aslan


Bugh!


Bugh!


Bogeman mentah di layangkan Aslan ke wajah lelaki tamoan itu. Maher tetap diam, justru dia tersenyum smirk.


"Ayo pukul saya, sampai kamu puas," Maher memekik, sambil tangannya menyeka darah di pinggir bibirnya akibat pukulan Aslan.


"Jika itu benar, berarti kamu orangnya? Dasar laki-laki jahanam!" Aslan geram


Aslan kembali melayangkan pukulannya, tetapi kali ini Maher menangkis pukulan itu, dan malah memukul balik Aslan sehingga membuat laki -laki itu tersungkur. Dan bibir Aslan pecah mengeluarkan sedikit darah.


"Cukup!" bentak Maher.

__ADS_1


Saya tau, saya salah. Tapi kesalahan itu tidak sengaja saya lakukan. Saya ingin


bertanggung jawab, saya- ... "


"Tanggung jawab?" Aslan mengulang kata-kata Maher.


"Tanggung jawab apa maksud kamu, he?! Dia adalah istriku!" pekik Aslan.


"Saya tau dia istri kamu, tapi anak itu adalah anakku. Kamu tidak bisa melarang saya yang ingin bertanggung jawab terhadap anak saya sendiri!" geram Maher


"Apa Namira tau? tentang kebenaran kamu yang telah ... " Aslan tidak berani melanjutkan kalimatnya, rasanya ingin sekali dia membunuh laki-laki yang ada di hadapannya.


Sekarang ke Duanya tersungkur ke tanah, dengan wajah lebam dan sedikit berdarah.


"Saya juga tidak tau, apa dia mengenali saya atau tidak?" ungkap Maher.


"Semiga saja dia tidak tau. Saya mohon jangan kamu ganggu Namira. Sudah cukup sia mendeeita karna ulahmu." Kali ini suara Aslan melemah, sudah tidak lagi emosi seperti tadi.


Maher terdiam, haruskah dia menuruti ucapan Aslan.


"Kamu bisa bayangkan, bagaiman jika dia sampai tau tentang kamu? Tidak mudah baginya untuk ke tahap sekarang. Saya yakin istri saya tidak pernah lupa, tapi dia berusaha menata kehidupannya demi keluarga kecilnya bersama saya. Saya harap kamu mengerti," pungkas Aslan.


Aslan berdiri hendak meninggalkan Maher, tetapi Maher pun ikut berdiri.


"Berapa usia kandungannya?" tanya Maher, yang membuat Aslan menghentikan langkahnya.


"Tujuh bulan, sebentar lagi mau ada acara Tujuh bulanan untu Namira," sahut Aslan.


"Boleh saya datang?" Maher kembali bertanya


"Gak," Aslan menjawab tegas pertanyaan Maher.


Aslan kembali berjalan dan langsung meninggalkan Maher tanpa menghiraukan lelaki itu lagi. Aslan meninggalkan Jakarta dengan membawa luka yang menganga. Kini dia sudah tau siapa laki-laki dari masa lalu istrinya. Bahkan dirinya sudah bertemu yang tidak lain adalah saudara dari sahabatnya.


Aslan telah bertekad tidak akan memberitahukan pada Namira tentang Maher. Dan Aslan berharap Maher juga melakukan hal yang sama?


Ada satu pertanyaan di benak Aslan, twntang Dion. Apakah Dion juga megetahui kebenaran tentang Maher? Apa Aslan harus


menanyakannya langsung pada Dion? Tapi bagaimana caranya dia memberitahukan kebenaran tentang istrinya pada orang lain.


Tetapi jika tidak, bagaimana dia bisa tau semua kebenaran tentang Maher?


Arggg!


Aslan mengacak rambutnya frustasi. Saat ini dia berada di taman. Aslan mengambil benda pipih miliknya, dan berkirim pesan pada Fatih, meminta agar Ustadz itu pulang lebih dulu ke Pesantren. Dan Aslan juga telah berkirim oesan oada Rio, agar mengantarkan Fatih kembali le Pesantren.


Aslan tidak ingin Fatih melihat keadaannya. Tali dia juga bingung, bagaimana dia kembali ke Pesatren dalam keadaan seperti ini? Tentu akan banyak pertanyaan dari keluarganya, terutama istrinya.


Apa yang akan dia katakan nanti.


Hal yang sangat dikhawatirkannya saat ini, adalah tentang Maher. Bagaimana jika lelaki itu nekad menemui istrinya untuk memberitahu tentang kebenaran dirinya?


Rasanya kepala Aslan mau pecah. Jika saja membunuh tidaklah berdosa , sudah sejak tadi dia lakukan itu pada Maher, orang yang telah sangat meyakiti istrinya.


Aslan berjalan menuju mobil miliknya, Aslan memutuskan tetap akan kembali ke Pesantren. Dirinya akan mencari alasan untuk semua luka yang ada di wajahnya. Yang terpenting dia segera ertemu Namira untuk dapat melindunginya. Jika perlu dia tidak akan lagi kembali ke Jakarta, agar dia tetap bisa mengawasi istrinya dari dwkat. Aslan tidak ingin kecolongan. Bisa saja Maher nekad.


"Sekarang aku mengerti maksud kedatangannya selama ini ke Pesantren, bukan untuk menyumbang, melaikan untuk memastikan tentang Namira!" Monolog Aslan


"Awas saja, kalau kamu sampai berani menyakiti istriku lagi, mungkin aku akan melupakan tentang dosa," berang Aslan tangannya memukul stir mobil.


Aslan melajukan kendaraannya langsung menuju Pesantren, dirinya sudah tidak sabar bertwmu dengan wanita tercintanya. Rasa rindu yang sudah memuncah, ingin segera di salurkannya dengan memeluk sayang wanita halalnya. Yang pasti sudah menanti dan merindukannya juga.


[ Tunggu Abang ya sayang, Abang sudah jalan pulang. ], Aslan mengiimkan pesan.

__ADS_1


__ADS_2