
HAMIL TANPA DISENTUH
Dion sudah mendapatkan kabar tentang kepergian Maher ke kota tempat tinggal Pamannya Namira. Pria itu pun segera memberitahukan pada istrinya, jika sore nanti akan berangkat menyusul Aslan.
"Abang serius? tanya Wulan.
"Iya sayang, gak pa-pa 'kan?" Dion melihat wulan yang nampak ragu.
"Jujur, Bang, yang aku fikirkan bukan boleh atau tidaknya. Tapi aku takut Abang bakal berantem sama Bang Maher. Aku tau dia salah. Tapi mau bagaimana pun dia saudara Abang satu-satunya." tutur Wulan.
"Justru karna alasan itu juga, makanya Abang mau nyusulin dia. Abang akan mencoba menasehatinya," sahut Dion.
Pasangan itu sepakat akan berangkat. Tapi jadwal keberangkatannya di rubah, menjadi siang hari. Alasannya kalau Wulan merasa lapar mereka tidak terlalu khawatir berhenti di pinggir jalan.
Sementara Wulan melakukan persiapan, Dion mengambil benda pipih miliknya untuk menghubungi orang kepercayaannya, pasalnya Dion belum mengetahui keberadaan sepupunya itu.
*******
Dion melakukan perjalanan setelah sholat zuhur. Dia pun sudah mengetahui alamat tempat tinggal Maher. Dion tidak menyangkat jika Maher bisa senekad itu, bahkan dia sampai tinggal tidak jauh dari kediaman Paman Namira. Dion merasa harus segera memberitahukan Aslan tentang Maher.
Setelah beberapa kali menghubungi Aslan, laki-laki itu tidak juga bisa di hubungi.
"Kenapa, Bang?" tanya Wulan yang saat ini duduk di sebelah suaminya sambil memegangi perut.
"Aslan... dia gak bisa di hubungi," jawab Dion, sesekali matanya melirik ke arah iatrinya.
"Sudah Bang, fokus nyetir aja dulu. Nanti setelah sampai baru Abang kasihntau Gus Aslan."
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan. Wulan terlihat lelah, kini perempuan itu menyandarkan kepalany dan mulai memejamkan mata. Dion melihat istrinya dan mengulurkan sebelah tangannya mengusap pucuk kepala wanita yang tengah mengandung anaknya.
Menempuh perjalanan cukup panjang membuat Dion kelelahan. Lelaki itu mencari tempat istirahat. Dia juga khawatir dengan kondisi istrinya juga kandungannya. Dion menghubungi seseorang dan meminta orang itu sehera mendatanginya. Dion bermaksud meminta orang kepercayaannya untuk menggantikan dirinya mengendarai mobil.
Setelah hampir satu jam, orang itu datang dan langsung menggantikan Tuannya.
"Apa kita langsung ke kediaman Pak Maher, Tuan?" tanya orang tadi.
"Iya, kita langsung ke sana saja," sahut Dion.
****
Paman memutuskan pulang ke rumah dengan Aslan, dia ingin membahas masalah keponakan satu-satunya bersama dengan keluarga besannya.
"Siapa nama laki-laki itu?" tanya Paman di sela perjalanan.
Aslan menghentikan langkahnya, dan melihat ke arah paman,
"Maher." Mulut lelaki itu seperti terbakar menyebut nama laki-laki yang telah merusak istrinya.
"Maher? Jangan bilang Maher Arkhana Mager?" Tebak Paman.
Aslan mengerutkan kening. Dia benar-benar kahet, kenapa Paman istrinya bisa mengenal nama itu.
__ADS_1
"Bagaimana Paman bisa tau nama panjang Maher? Apa hubungan Paman dengan keluarga Arkhana?" Aslan merasa heran dengan pamannya.
"Nanti Paman ceritakan. Ayo, kita pulang!" ajak Paman.
Di rumah Farah, Karim, Namira tengah berkumpul di teras depan. Namira langsung bangun dari duduknya sambil memegangi perut saat melihat suami dan Pamannya sampai di halaman.
"Udah selesai Paman?" tanya Perempuan itu sambil menghampiri ke-duanya.
"Paman merasa tidak enak sama mertua kamu, sering Paman tinggali. Makanya hari ini Paman sengaja pulang awal supaya bisa ngobrol-ngobrol," sahut Paman memberi alasan.
Aslan hanya melirik Pamannya sebentar, lalu kembali.menatap istrinya yang twngah mengulurkan tangan. Aslan oun memberikan tangannya untuk di cium oleh isttinya. Lalu ke-tiganya berjalan bersamaan.
"Pak Kiayi, Ustazah, maaf ya saya sering meninggalkan kalian berdua, saya jadi malu," ucap Paman setelah berada di depan Farah dan Karim.
Karim melihat ke arah Aslan, seolah mengerti Aslan menganggukan kepalanya. Dan Karim fajam dengan kode yang di berilan putranya.
Karim pun memberi kode pada Farah,
"Katanya Umi mau masakin menantu kesayangan Umi makanan kesukaannya?" ucap Karim sambil mengedipkan mata pada Farah.
"Eh, iya Umi sampai lupa. Untung Abah ingatkan." Farah menhikuti sandiwara suaminya.
"Ayo sayang, bantuin Umi. Hari ini Umi mau buatin kamu malanan spesial." Farah membantu Namira berjalan masuk ke dalam.
Perempuan dengan perut besar itu menuruti ucapan mertuanya dan mengikuti Farah masuk ke dalam.
Sepeninggalan Farah dan menantunya, Aslan, Paman, dan Karim berjalan ke arah luar halaman. Ke-tiga lelaki itu pergi ke saung yang ada di samping rumah Paman. Saung itu terletak di pinggir sawah milik Paman.
"Aslan... apa pria itu tau keberadaan kalian di sini?" tanya Paman membuka percakapan.
"Saya belum dapat informasi, tapi saya yakin jila dia sudah tau. Mungkin juga saat ini lelaki itu sudah berada di kota yang sama dengan kita." Aslan menceritakan kegelisahannya.
"Coba kamu hubungi, Dion?" Karim memberi usul pada putranya.
"Dion?" Paman mengulang kata-kata Karim.
"Dion sepupu satu-satunya lelaki itu. Tapi dia ada di pihak saya, kebetulan kita berdua bersahabat sebelum saya menhenal Maher.
"Apa Dion tau, masalah Namira dan Maher?"tanya Paman yang sedikit terkejut.
"Maher sudah menceritakan semuanya pada Dion, Paman," sahut Aslan.
"Sebentar saya hubungi Dion dulu."
Baru saja Aslan membuka ponselnya, sudah terpampang di depan layar ada bebarapa panggilan tidak terjawab atas nama Dion. Juga ada satu pesan yang di kirim laki-laki itu.
@Dion
[ assalamualaikum, Gus. Saya mau kasih kabar, Maher udah ada di kota ini, kamu hati-hati]
"Astagfirullahalazim," ucap Aslan setelah membaca pesan Dion, dirinya mwrasa kecolongan. Tapi tepat seperti dugaannya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Karim dan Paman bersamaan.
"Benar dugaan saya, Maher sudah ada di kota ini. Tadi Dion kasih kabar lewat pesan."
"Bagaimana ini besan?" Karim menatap
Paman dengan wajah cemas.
Bukannya menjawab Paman malah melihat Aslan, sepertinya Paman juga belum tau harus berbuat apa, pasalnya orang yang mereka hadapi bukanlah orang biasa. Dan Paman berharap jika Maher tidak akan meminta bantuan orang tuanya. Jika tidak ...."
"Tenang Paman, Abah. Kita masih ounya Allah. Kita akan berusaha melindungi Namira juga bayinya."
"Fatih sudah sampai di Pesantren ,Bah?" Aslan sampai lupa menanyakan kabar Fatih.
"Sudah, tadi sebelum kamu dan Paman pulang, Fatih sudah kasih kabar," jawab Karim.
"Alhamdulillah." ucap Aslan.
"Saya juga sudah minta Rio untuk mengawasi Aslan. Tadi saya meminta Dion untuk serlocation keberadaan Maher. Kebetulan Dion saat ini juga tinggal nersama Maher, katanya agar lebih mudah mengawasi.
"Bagus itu, seenggaknya kit tidak akan kalah star dari lelaki itu,"sahut Karim.
"Enggak besan ... yang kita hadapi saat ini bukan orang sembarangan. Kita harus tau, apakah Maher meminta bantuan pada orang tuanya atau tidak?" Paman memberikan segala kemungkinannya.
Paman belum cerita, bagaimana Paman bisa kenal dengan keluarga Mager," Aslan mengingatkan perihal kata-kata Paman di jalan menuju pulang tadi.
"Oh, ya. Besan benar-benar kenal dengan mereka?" tanya Karim yang ikut penasaran.
"Begini ceritanya." Paman memulai cerita awal perkenalannya dengan keluarga Mager.
Ternyaa di masa lalu, Paman pernah bekerja di perusahaan Mager, di mana yang menjabat CEO nya kala itu adalah Ayah dari Maher yaitu, Tuan Mahendra Arkhana Mager. Paman adalah tangan kanan dari Mahendra. Tetapi Paman memutuslan untuk berhwnti saat istrinya meninggal dunia. Dan dia tidak mungkin membiarkan putrinya Ismi tinggal seorang diri. Akhirnya Paman memutuskan untuk menjadi petani di tempat kelahirannya yang menjadi tempat dia dan putrinya tinggal sekarang.
"Apa bisa Paman bicara pada Tuan Mahendra?" Aslan seperti memiliki peluang.
"Paman tidak tau Aslan. Terlebih lagi Paman
sudah tidak lama berhubungan dengam beliau. Tuan Mahendra adalah atasan yang sangat baik, tapi dia sangat menyayangi putra satu-satunya yaitu Maher. Dia akan melakulan apa saja untuk kebahagiaan putranya sekalu pun harus menghilangkan nyawa seseorang," ungkap Paman yang membuat Aslan sedikit bergidik.
"Kalau sudah begini, kita butuh bantuan Dion?" Kata Paman.
"Maksudnya bagaimana Paman? Selama ini Dion memang sudah membantu," sahut Aslan dengan raut wajah bingung begitu juga Karim. Lelaki tua itu ikut menatap Paman.
"Minta Dion untuk meminta bantuan orang tuanya," usul Paman.
"Apa harus, Paman?" tanya Aslan sesikit ragu.
"Harus!" jawab Paman mantap.
"Ini sudah menjadi urusan keluarga. Jika masih bisa dengan cara yang baik, sebaiknya kita ambil langkah itu. Jangan sampai ada korban," usul Paman.
"Besan benar, kita coba dulu langkah itu." Karim menyetujui.
__ADS_1
"Baiklah," Aslan pun setuju.