HAMIL TANPA DISENTUH

HAMIL TANPA DISENTUH
Bab 9


__ADS_3

HAMIL TANPA DI SENTUH (9)


Ketika pintu kamar di buka satu pemandangan yang membuat Aslan menatap sendu,


"Namira!" panggil Aslan masih berdiri di depan pintu.


Namira menatap Aslan sebentar dan kembali melanjutkan memasukan pakaiannya ke dalam koper, Namira bersikap tak acuh.


Aslan mempercepat langkahnya, duduk berhadapan dengan Namira dan menahan tangan istrinya yang sedang sibuk memasukan baju-baju ke dalam koper.


"Apa yang kamu lakukan Namira?" tanya Aslan tanpa melepaskan pegangan tangannya.


"Kamu mau meninggalkan aku?" Aslan kembali bertanya, namun Namira hanya diam.


Sekarang terdengar isakan dari balik cadar itu membuat Aslan menghembuskan nafas pelan. Lalu di dorongnya koper itu ke tengah. Aslan bangkit dan kembali duduk tanpa ada jarak dengan Namira.


Namira tetap diam, menunduk, dan terisak. Aslan meraup tangan yang berlapis handsock itu menggenggamnya erat. Tak lama kembali di lepas, kini tangan aslan berpindah ke bagian belakang kepala Namira, di lepasnya tali pengikat cadar, wajah itu sudah basah.


Tangan Aslan kembali bergerak mengangkat dagu agar wajah Namira terlihat sempurna oleh Aslan. Di usapnya lembut air mata yang sudah sangat membasahi wajah mulus istrinya.


Aslan sudah tidak ragu lagi melakukan sentuhan pada namira. ke dua tangan Aslan menangkup wajah Namira, memberikan kecupan sangat lama, menyalurkan rasa sayang dan rindu yang teramat sangat. Sekarang tangisan itu telah berubah menjadi senggukan, Aslan membawa kepala Namira ke dalam pelukannya, mengelusnya sayang.


"Jangan pernah pergi meninggalkan Abang hm!"


"Jika kamu bertanya tentang perasaan Abang saat ini dimana kamu telah memberitahukan Abang tentang dirimu, Abang akan memberitahukannya."


Pelukan itu dilepas, Aslan membantu Namira bangun dan membawanya ke taman, yang ada di kamar Aslan. Sebelum Namira datang, Aslan sudah lebih dulu membuat taman khusus di area kamarnya, tujuannya agar Namira tidak bosan jika sedang berada di kamar. taman yang di tumbuhi banyak bunga menebarkan harumnya karna tiupan angin.


Kebetulan sekali suasanya langit dipenuhi bintang, bau harum dari bunga mawar dan bunga-bunga lain yang telah bermekaran menambah kesan romantis.


Aslan menggenggam tangan putih itu dan mengajaknya duduk di kursi taman, sudah tidak lagi berjarak, bahkan Aslan tidak segan untuk merangkul pinggang Namira, Aslan menyadari jika tubuh Namira sedikit gemetar. Mendadak Aslan ingat ucapan Uminya, tentang trauma. Aslan bersikap sangat lembut dan perhatian.


"Aku mencintai kamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, baik kemarin, sekarang atau pun nanti," ucap Aslan.


"Tapi aku perempuan kotor. Aku sudah tidak suci, aku tidak pantas buat Abang." Kembali Namira menangis.

__ADS_1


"Kamu cintakan sama Abang?" tanya Aslan masih dengan pandangan tertuju pada Namira.


Namira mendongak melihat keindahan langit, lalu di tatapnya mata hitam laki-laki yang ada di sebelahnya.


"Iya, aku cinta sama Abang, aku takut Abang tidak bisa menerima ku, tapi aku juga tidak boleh egois, jika Abang ingin kita berpisah, aku ikhlas."


"Astagfirullah, kamu jangan pernah bicara seperti itu, sayang."


"Dengerin Abang, kamu percayakan sama Abang?"


Namira hanya mengangguk, dan memalingkan wajahnya lurus ke depan.


"Tetaplah bersama Abang, kita jalani rumah tangga kita dengan dan lupakan kejadian itu, jangan sakiti dirimu dengan selalu mengingatnya."


"Maaf..maafkan Abang." Suara Aslan terdengar lirih.


Namira kembali menatap wajah Aslan, kini ke dua mata itu saling tatap, mengunci satu sama lain. Namira dapat melihat ada kesedihan di manik mata hitam itu. Namira mengernyitkan dahi tidak mengerti kenapa justru suaminya yang meminta maaf.


Aslan memejamkan mata, kini matanya terasa panas, kelopak matanya sudah banyak menampung air dan tanpa permisi air itu lolos jatuh ke pipi Aslan. Aslan sedikit berpaling, guna menghapus air yang menurut Aslan sungguh tidak sopan keluar tanpa izin.


"Abang hanya merasa bersalah karna tidak dapat menjagamu, Abang adalah laki-laki bodoh. Seandai nya waktu itu Abang lebih berusaha lagi untuk mencarimu, mungkin...." Aslan tidak berani melanjutkan.


"Tidak bang, ini bukanlah kesalahan Abang, sungguh aku sekarang telah ikhlas, entah ini ujian atau teguran dari Allah, aku harus belajar menerima dan memperbaiki diriku. yang aku takut kan justru abang. pa-pasti abang ji jik denganku.


Lagi dan lagi Namira menangis, Aslan langsung memeluk erat Namira, dan Namira pun berusaha membuang sedikit demi sedikit traumanya. Tangan Namira terangkat di belakang, sedikit memberikan balasan pelukan Aslan.


Tanpa Namira tau, Aslan kembali menangis, dalam hatinya dia berjanji akan selalu menjaga dan melindungi wanita yang kini telah berstatus istri.


"Bang!" panggil Namira yang masih ada dalam pelukan Aslan.


Aslan melepas kan pelukan, dan menatap wajah wanitanya,


"Bagaiman Umi, dan Abah?" Namira tertunduk.


Kini rasa takut menyelimutinya, Namira berfikir mana ada mertua yang mau menerima menantu yang sudah tidak suci lagi.

__ADS_1


Tapi di luar dugaan Namira, dia melihat Aslan tersenyum, dan itu kembali membuat Namira bingung.


"Tolong maafkan Abang, Umi dan Abah sudah mengetahui kebenaran kamu, dan alhamdulillah mereka menerima kamu, karna mereka tau semua ini adalah musibah. Ini juga ujian untuk rumah tangga kita.


Namira menatap Aslan tidak percaya, dan ingin meyakinkan diri sekali lagi,


"Abang bohongkan? Pasti Abang tidak ingin aku sedih karna penolakan Abah dan Umikan?"


"Heyy, kok istri cantik Abang jadi suuzon gini hmm."


"Gak baik sayang masa sama mertua sendiri punya fikiran seperti itu."


Namira sedikit malu, merasa tersentil dengan ucapan Aslan, bagaimana tidak Namira sendiri sangat tau jika Umi dan Abah sangat menyayangnya terlebih Umi.


"Maaf, aku hanya takut."


"Boleh aku menemui Abah dan Umi?"


"Besok aja yah sayang, sekarang Umi dan Abah pasti sudah tidur."


Benar yang di ucapkan Aslan, waktu pun sudah menunjukan jam 11 malam.


Aslan bangkit dan memegang ke dua tangan Namira, menariknya pelan dan seketika Namira pun berdiri. Aslan mengikis jarak, di tatapnya mata coklat itu, di rangkul nya pinggang Namira dengan ke dua tangannya. Namira berpaling merasakan panas di wajahnya, dia sangat yakin jika wajahnya sekarang seperti udang rebus.


Namira berusaha melepaskan tangan kekar Aslan dia merasakan tubuhnya yang tiba-tiba bergetar. Aslan pun ikut merasakan getaran tubuh Namira,


"Tenang sayang, ini aku suamimu. Tenang yah!"


Namira memejamkan mata, dan mengangguk. Berusah kembali menenangkan tubuhnya dan berusaha membiasakan setiap sentuhan dari Aslan.


"Astagfirullah apa ini, kenapa tubuhku panas dan kenapa aku merasakan ada yang menjadi keras." Aslan bermonolog dalam hati.


Merasa tidak tahan dengan sensasi yang dia rasakan Aslan memberanika diri untuk melakukan lebih dari sekedar pelukan. Namun saat akan melakukannya tiba-tiba,


Oeekkk...oeekkk..

__ADS_1


Aslan panik, Namira langsung berlari ke kamar mandi meninggalkan Aslan yang sekarang pun ikut berlari.


__ADS_2